Janji Naura

Janji Naura
Kesalahan Reino


__ADS_3

Viona nampak kebingungan mencari ponselnya, ia terus mengingat-ingat dimana ia meletakan ponsel miliknya. Pikirannya tertuju pada Kafe yang tadi ia datangi. Ia khawatir jika ponselnya teringgal disana.


Baru saja Viona hendak membuka pintu rumahnya ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah berdiri diambang pintu.


"Anda lagi" Viona menatap Reino malas dan berjalan melewatinya begitu saja.


"Cari ini?" Reino mengangkat kotak hitam panjang ditangannya. Dengan segera Viona membalikkan badannya, ia sangat terkejut.


Viona hendak mengambil ponsel ditangan Reino namun dengan cepat Reino menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Viona.


Viona terus berjinjit berusaha menggapai ponsel yang berada di atas kepala Reino.


Dalam diam Reino menikmati kecantikan wajah Viona. Matanya yang kecoklatan, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang nampak sexy dimatanya.


Pandangan Reino terhenti ketika Viona telah berhasil mengambil ponsel miliknya.


"Terima kasih" jawab Viona singkat. Reino tersenyum tipis. Entah mengapa Reino ingin sekali berlama-lama dengan gadis itu.


Tanpa mereka sadari sepasang mata telah mengamati mereka dari dalam rumah.


Ya.. Virnie telah mengamati Viona semenjak ia pulang dari kafe. Ia khawatir dengan putrinya yang akhir-akhir ini sering murung di dalam kamarnya.


Reino menggaruk tengkuknya pelan entah mengapa ia menjadi sedikit salah tingkah.


"Kalau begitu saya permisi dulu" Reino hendak melangkahkan kakinya ketika Virnie muncul dari belakang Viona.


"Oh.. ada tamu.. kamu itu.." Virnie nampak mengingat-ingat nama Reino membuat Reino segera menyebutkan namanya.


Virnie mengangguk dan menyuruh Reino untuk mengobrol di dalam. Awalnya Reino nampak ragu tapi akhirnya ia mengangguk pelan.


"Apa kabar dengan kedua orang tuamu?" tanya Virnie basa basi.


"Baik tante.." jawab Reino singkat


"Kalau nenekmu?" mendengar ucapan Virnie Reino nampak terdiam sesaat.


"Nenek sedang sakit tante, tadi beliau dilarikan kerumah sakit" mendengar ucapan Reino membuat Virnie dan Viona terkejut mengetahui keadaan Amy.


"Tapi kata dokter nenek sekarang sudah membaik" Reino tersenyum kecil.


Virnie dan Viona merasa lega.

__ADS_1


"Nak Reino, mengenai lamaran itu.." Virnie nampak menggantung kalimatnya sesekali ia melirik kearah Viona.


"Tidak apa tante.. jika om dan tante merasa keberatan saya mengerti, saya akan menjelaskan pada nenek saya ketika beliau sudah membaik" entah mengapa mendengar kata-kata itu membuat hati Reino dan Viona terasa sakit.


Viona memalingkan wajahnya dari hadapan Reino, sekuat mungkin ia menahan air mata yang hendak turun di pipinya.


"Kalau begitu saya permisi tante.. saya harus kembali ke rumah sakit untuk menemani nenek" Reino bangkit dari duduknya menyalami Virnie dan Viona tapi Viona hanya diam saja ia enggan membalas uluran tangan Reino.


Virnie yang melihat itu segera menyikut Viona pelan namun Viona tetap diam saja.


Merasa diabaikan Reino kembali menarik tangannya sambil tersenyum kaku.


Setelah kepergian Reino barulah Viona berlari kedalam kamarnya. Ia menangis tak kuasa menahan air matanya.


Virnie yang merasa khawatir segera mengikuti Viona kekamarnya.


"Ada apa sayang?" tanya Virnie pelan.


Viona hanya menunduk ia enggan menjawab pertanyaan momy nya. Melihat Viona diam saja membuat Virnie mengerti bahwa Viona sedang tidak baik-baik saja. Virnie menarik Viona kedalam pelukannya berharap Viona bisa lebih tenang.


*****


"Nek.. bangunlah Reino disini nek.." Reino menggenggam erat tangan Amy. Perlahan air matanya turun melewati pipi dan dagunya hingga menetes ditangan Amy.


Amy membuka matanya pelan. Ditatapnya wajah Reino yang sedang tertunduk sembari menciumi tangannya. Amy tersenyum, ia menggerakkan jari jemarinya mengisyaratkan bahwa dirinya telah siuman.


Reino yang menyadari bahwa neneknya sudah sadar segera memeluk Amy dengan erat.


Seketika Amy terbatuk-batuk ia memukul punggung Reino dengan keras membuat Reino merintih kesakitan.


"Aww.. sakit nek.." teriak Reino seraya mengelus punggungnya. Amy hanya mendengus kecil.


Reino kembali duduk dikursinya hatinya terasa lega melihat neneknya kembali seperti sedia kala.


"Kau yang membawaku kemari?" tanya Amy.


Reino mengangguk dengan cepat


"Orang tuamu, apa mereka sudah tau?" kali ini Reino menggeleng pelan.


"Berdamailah nak.. jangan biarkan masa lalu membayangimu" Amy menatap Reino yang masih terdiam merenung.

__ADS_1


"Entahlah nek.. biarkan waktu yang menjawab semuanya" Reino tersenyum miring.


"Oia, setelah nenek di izinkan pulang sama dokter nenek harus tinggal dirumah bersama Reino" Amy nampak terkejut namun dengan paksaan Reino akhirnya Amy menyetujuinya.


"Oia nek soal lamaran itu.. sepertinya.." Reino menghentikan ucapannya ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Kamu sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Amy penasaran.


Reino masih diam tak menjawab


Melihat ekspresi Reino membuat Amy yakin bahwa cucunya telah ditolak.


"Kamu ditolak?" Amy menatap Reino dengan penuh rasa penasaran


Reino menggelengkan kepalanya pelan.


"Reino yang membatalkannya nek.. Reino khawatir kalau dia dan keluarganya gak bisa terima Reino jadi Reino gak mau memaksanya" Amy terkejut mendengar ucapan Reino. Ia menatap Reino tak percaya.


"Dasar bodoh.. kamu belum menanyakan pendapatnya tapi malah membatalkannya secara sepihak?" Amy menggelengkan kepalanya heran.


"Lebih baik kau biarkan saja nenekmu ini sendirian sampai mati, jangan pernah kemari lagi tanpa membawa gadis itu" Amy membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan kesal ia memunggungi Reino yang masih terdiam menatapnya.


Reino memanggil neneknya dengan lirih namun Amy tetap mengabaikannya. Hati Reino terasa sakit, perlahan ia keluar dari ruangan Amy.


Reino menjambak rambutnya dengan keras. Ia berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Pikirannya sedang kalut. Lagi-lagi ia membuat kesalahan.


*****


"Darimana saja kamu, hingga larut begini baru pulang" Adit menghampiri Reino yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tamu. Reino menatapnya malas bahkan ia mengacuhkan Adit yang kini mulai terbakar emosi.


"Asisten kamu bilang beberapa hari ini kamu tidak masuk kantor, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan?" Adit menatap Reino dengan heran.


"Saya sedang mengurusi perjodohan yang anda rencanakan.. bukankah itu yang anda dan istri anda inginkan?" jawab Reino dengan kesal.


"Nenek sedang sakit, saya harap setelah nenek keluar dari rumah sakit kalian mau merawatnya" Reino bangkit dari sofanya menghiraukan Adit yang terus memanggilnya.


"Reino.. nenek kenapa?" teriak Adit kencang.


Sunyi tak ada jawaban dari Reino yang kini sudah memasuki kamarnya. Reino menggaruk-garuk kepalanya dengan keras, meninju kasurnya dengan penuh amarah.


Yaa.. Reino kesal pada dirinya yang merasa tidak berguna. Entah mengapa ini semua adalah kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2