Janji Naura

Janji Naura
Bertemu


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi aula masih terlihat ramai. Naura nampak berjalan terburu-buru sembari mengendarkan Matanya kesegala arah. Langkah Naura terhenti pada sekumpulan pria paruh baya yang tengah asik berbincang dengan para rekan-rekannya.


Perlahan Naura menghampiri mereka dan memegang pundak papanya.


"Pah.. pulang yuk" ajak Naura. Membuat Yusuf membalikkan badannya menatap Naura. Rekan Yusuf nampak memperhatikan wajah Naura yang cantik.


"Anakmu?" tanya Bram rekan kerja Yusuf. Yusuf hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Cantik ya.. tidak mirip dengan kau" ejek Tigor sambil tertawa terbahak-bahak


"Jelaslah tak sama dia perempuan Yusuf laki-laki" timpal rekan kerja Yusuf yang lainnya.


Yusuf kembali tersenyum membuat Naura jengah.


"Pah.. ayo.." Naura menyeret tubuh Yusuf agar segera keluar dari aula.


"Hei Yusuf.. jodohkan saja anak kita.. biar kita besanan" teriak Bram dari jauh setelah kepergian mereka.


"Si Yusuf itu ternyata punya anak yang cantik rupanya" ucap Tigor sembari mengusap dagunya.


"Ya.. kudengar dia sudah mendapatkan gelar sarjananya diusia yang masih muda" ucap Bram sembari menggoyangkan minumannya.


"Kalau aku masih muda sudah kudekati anak si Yusuf itu" Tigor mengambil gelas minumannya


"Ya.. sayangnya kau sudah bangkotan!!" ejek Bram membuat rekan yang lain tertawa.


"Bah.. masih muda aku nih lihat otot-otot ku besar-besar kan" pamer Tigor sembari menunjukkan otot lengannya.


"Percuma otot besar klo diranjang gak tahan lama" Bram menyunggingkan senyum tipis


"Alamaaak.. kau.. tau saja kau, aku cepat lelah" ucap Tigor sembari menepuk jidatnya


"Makanya minum rosa.. rosa.." ucap rekan kerja yang lain.


"Bah.. jadi promosi kau.." Tigor dan yang lain tertawa terbahak-bahak. Tapi tidak dengan pria yang berada tak jauh dari mereka.


Ya.. sedari tadi Dika memperhatikan Naura khawatir jika terjadi sesuatu padanya.


Apalagi setelah dia memperhatikan wajah Naura dengan jelas nampak sekali bahwa itu adalah Naura orang yang dulu pernah ia ingat.


Flashback on


Dengan bosan Dika melirik nama-nama staff dan karyawan yang berada diatas meja kerja ayahnya. Matanya menelisik satu persatu nama-nama yang tertera dalam daftar.


Tiba-tiba kedua mata Dika terhenti tepat di nama Naura Mahyra Putri. Ia nampak penasaran dengan nama itu. Dika berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dady nya menuju bagian personalia. Meminta data Naura lebih lengkap. Dika menatap detail foto Naura yang tersenyum manis. Ya.. tidak salah lagi dialah Naura yang dulu satu sekolah dengannya.


Flashback off.

__ADS_1


Dika mendengus kecil. Ia melangkahkan kakinya keluar aula untuk pulang.


Diperjalanan Naura nampak mencak-mencak memarahi papa nya yang hanya diam saja ketika bersama rekan kerjanya yang lain.


"Terus papa harus gimana?" tanya Yusuf sembari menjalankan setirnya.


"Ya.. pokonya papa jangan diem aja aku gak suka" Naura melipat kedua tangannya di dada


"Mereka memang begitu sering bercanda" Yusuf menoleh sekilas pada Naura yang masih cemberut.


"Oia.. gimana, udah ngeliat anak pak Direktur? tanya Yusuf dengan nada bercanda.


"Lebih ganteng dari kakek tua kan?" ejek Yusuf membuat Naura memicingkan kedua matanya.


"Gatau.." jawab Naura singkat membuat Yusuf terkekeh kecil.


Sebenarnya Yusuf ingin sekali menimpali omongan rekan-rekan kerjanya tapi diurungkan mengingat ia sedang berada di tempat kerjanya.


Mobil bergulir memasuki gerbang yang sudah dibuka oleh Pak Maman. Yusuf dan Naura segera masuk menuju rumahnya.


Amira yang sudah duduk manis di sofa nampak menghampiri Yusuf dan Naura.


"Ada bagusnya juga papa nebeng di mobil kamu" ucap Amira sembari tersenyum simpul


Yusuf hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa?" tanya Amira sambil menunjuk Naura penasaran. Yusuf hanya mengendikkan bahunya sembari mendudukkan dirinya di sofa.


"Mah.. diperusahaan sedang ada pengurangan karyawan, doakan ya semoga bukan papa yang kena phk" mendengar ucapan Yusuf membuat istrinya terkejut.


"Kok bisa sih pah, bukannya itu perusahaan besar?" tanya Amira lagi.


"Papa gak tau, yang jelas itu yang papa dengar dari rekan kerja papa" mendengar itu Amira hanya mengusap bahu Yusuf pelan.


"Aamiin mudah-mudahan yaa.. pah" jawab Amira


Yusuf mengangguk mengamini ucapan Amira.


*****


Pagi ini entah mengapa Naura merasa malas untuk pergi kekantor. Apalagi mengingat kejadian dimana Leo menarik tangannya yang masih terasa perih. Rasanya ia ingin mencekik Leo saat itu juga.


Naura menghembuskan nafasnya pelan. Memperhatikan sekitar kalau-kalau ada Leo bertengger disana.


Naura melangkahkan kakinya dengan cepat kedalam lobby ketika seseorang terus memanggil namanya berulang kali. Ya dia Leo yang masih saja gencar mendekati Naura.


"Ra.. tunggu Ra.." teriak Leo setengah berlari.

__ADS_1


Naura terus berjalan cepat tanpa memperdulikan teriakan Leo hingga akhirnya ia sampai di depan pintu lift. Dengan perasaan campur aduk Naura memencet tombol lift namun pintu lift masih belum terbuka juga.


"Ra.. bentar.. aku mau ngomong" Leo nampak sudah berdiri di depan Naura membuat dia kesal setengah mati.


"Apalagi sih.." geram Naura membuat Leo terdiam sesaat.


"Aku mau minta maaf soal yang semalem" Leo mencoba memegang tangan Naura. Namun dengan cepat Naura menepisnya.


"Gw gak mau Leo.. please jauhin gw" Naura mundur kearah pintu lift dengan perlahan.


"Ra.. jangan kayak gitu gw gak bisa jauh-jauh dari loe Ra.. please ngertiin perasaan gw" Leo nampak maju selangkah membuat Naura terpaksa mundur selangkah.


Ting.. suara pintu lift terbuka mengagetkan Naura seketika Naura hampir jatuh kebelakang beruntung ada seseorang yang sigap menahan tubuh Naura.


Seketika Leo menundukkan kepalanya dengan cepat. Naura yang melihat Leo menunduk mulai memutar kepalanya.


Mata mereka bertemu satu sama lain. Membuat mereka saling berpandangan beberapa saat.


"Ehemm.." deheman Leo menyadarkan Naura dan Dika yang masih terdiam membeku.


Dika refleks melepaskan tubuh Naura.


Melihat pintu lift yang masih terbuka membuat Naura meyegerakan langkahnya untuk masuk kedalam lift.


Dika yang sudah memastikan tidak ada yang masuk ke dalam lift segera memencet tombol lift agar pintu lift segera ditutup.


Leo terdiam ia hanya bisa menatap pintu lift yang sudah tertutup itu dengan nanar.


Didalam lift Naura nampak terisak kecil. Sesekali ia menghapus jejak air mata yang berlinang di pipinya.


"Lantai berapa?" tanya Dika pada Naura.


Naura menoleh kearah Dika. Sungguh ia tidak sadar bahwa dirinya tidak sendiri di dalam lift beruntung hanya ada dirinya dan Dika kalau tidak pastinya Naura akan sangat merasa malu.


"Lantai 3 pak.. bagian informasi" Jawab Naura sembari sesenggukan. Melihat itu Dika nampak menyodorkan sapu tangannya pada Naura sembari memencet tombol lift yang akan di tuju.


Awalnya Naura menolak namun dengan paksaan Dika akhirnya ia menerimanya. "Terima kasih pak" jawab Naura pelan. Dika mengangguk.


"Apa dia pacarmu?" tanya Dika hati-hati. Naura menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat Dika tersenyum tipis.


"Oia.. siapa namamu?" tanya Dika basa basi.


"Naura pak" jawab Naura singkat. Ia memasukkan sapu tangan Dika kedalam Blazernya.


"Pak.. sapu tangannya nanti saya cuci ya" ucap Naura sembari menunduk malu.


"Iya.. kalau kamu mau ambil saja" Dika menatap Naura yang kini sedang menatap balik kearahnya.

__ADS_1


"Iya pak terima kasih" Naura kembali membungkukkan badannya.


__ADS_2