Janji Naura

Janji Naura
Naura Mahyra Putri


__ADS_3

Naura Mahyra Putri


Putri pertama dari pasangan Amira dan Yusuf. Di usianya yang terbilang muda ia sudah mendapatkan gelar sarjana. Otaknya yang pintar membuat sang papa merekomendasikan dirinya sebagai staff diperusahaan papahnya bekerja.


Awalnya Naura menolak dengan alasan ingin bekerja di perusahaan yang ia pilih sendiri. Namun dengan bujukan sang mama akhirnya Naura menerimanya.


Seperti biasa hari ini Naura nampak terlihat cantik dengan blouse berwarna peach yang dipadukan dengan blazer jazz berwarna hitam. Tak lupa ia memakai rok hitam selutut memperlihatkan kaki jenjang miliknya.


Naura memoleskan makeup diwajahnya sesekali ia tersenyum manis kearah cermin menatap puas hasil riasannya.


Ia berdiri merapihkan blazzer nya yang sedikit berantakan. Berputar di depan cermin mengamati penampilannya yang dirasa sudah sempurna.


Ia mengambil tas kantor miliknya yang sudah tertata rapi di atas meja riasnya sembari berjalan keluar kamar menemui papa dan mamanya yang sudah menunggunya di meja makan.


"Pagi pa.. ma.." sapa Naura. Ia mencium pipi kedua orang tuanya. Yusuf dan Amira menjawab sapa Naura bersamaan.


"Hari ini kamu terlihat sempurna" Amira tersenyum manis pada Naura yang kini telah duduk disampingnya. Mendengar ucapan Amira membuat Naura memeluk hangat mamanya.


"Thanks mam.. you are the best" Amira tersenyum simpul membuat Yusuf menautkan kedua alisnya.


"So.. papa not the best?" ujar Yusuf sembari menyendokkan nasi kedalam mulutnya.


"Maybe" Naura terkekeh kecil. Yusuf hanya menghela napas pelan.


"Hari ini kita akan kedatangan putra pak Direktur" ucap Yusuf sembari mengelap bibirnya dengan tissue.


Awalnya Naura nampak terkejut tapi selanjutnya dia nampak santai saja memakan sandwich ditangannya.


"Kalau sudah selesai makannya papa nebeng ya di mobil kamu" Yusuf nampak tersenyum manis kearah Naura.


"Mobil papa kenapa?" tanya Naura heran


"Lagi diservice di bengkel" mendengar itu Naura menatap intens wajah Yusuf


"Sudahlah nak.. biarkan saja" Amira menaruh segelas susu disamping Naura.

__ADS_1


Akhirnya Naura mengangguk dan segera menghabiskan susunya. Ia bangkit dari kursinya sembari mencium kedua pipi mama nya.


"Naura berangkat ya mah.." pamit Naura sembari mencium kedua pipi mamanya. Tak lupa ia melambaikan tangan kearah mamanya. Amira membalas lambaian tangan Naura yang kini sudah menghilang dibalik pintu.


"Sayang, aku berangkat dulu yaa" Yusuf menghampiri istrinya dan mengecup puncak kepala Amira membuat sang istri menatapnya tajam.


"Jangan pulang malem-malem" ancam Amira membuat Yusuf terdiam. Amira tau setelah acara kantor selesai para staff dan karyawan akan mengadakan acara penyambutan anak dari orang terpenting diperusahaannya.


"Iya sayangku.. istri tercintaku.." Yusuf mengecup kedua pipi istrinya dengan gemas membuat Amira tertunduk malu.


"Yaudah sana.. Naura pasti udah nungguin" Mendengar ucapan Amira membuat Yusuf menepuk jidatnya dengan keras ia lupa bahwa dirinya akan ikut nebeng di mobil putrinya.


Yusuf melambaikan tangannya pada istri tercintanya. Sesegera mungkin ia berjalan keluar rumah menuju mobil Naura.


"Papa lama" ucap Naura yang kini sedang menyilangkan kedua tangannya di dada. Yusuf nampak menampilkan wajah kecewanya ia segera mengucapkan permintaan maafnya.


"Oke.. jangan diulangi lagi" Naura tersenyum kecil dirinya nampak seperti seorang ibu yang tengah memarahi anaknya.


Yusuf tersenyum. Ia segera mendudukkan dirinya di kursi kemudi, perlahan mobil itu menyala dan berjalan keluar gerbang.


"Kenapa, apa dia seorang kakek tua?" jawab Naura asal membuat Yusuf tertawa lebar.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" Yusuf memegang perutnya yang kini sakit akibat tawanya yang berlebihan.


"Bukannya pak Direktur itu sudah tua ya, aku melihatnya kemarin di lobby. Para staff dan karyawan pun nampak menundukkan badan ketika berpapasan dengannya" Naura memandang heran pada papanya yang semakin tertawa keras.


"Ya tuhan.. itu hanya Sopir pribadi pak Direktur" mendengar ucapan Yusuf, Naura nampak syok pasalnya ia pun melakukan hal yang sama seperti yang lainnya.


"Kenapa, kau juga membungkukkan badanmu?" ejek Yusuf. Naura tak menjawabnya wajahnya nampak memerah menahan malu. Yusuf hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


*****


Naura memasuki ruang kerjanya dengan malas. Ia mendudukkan dirinya di kursi dan menaruh tas di meja kerjanya.


"Kenapa loe, cemberut aja" tanya Mita yang kini sudah berada disampingnya. Naura tak menjawab ia hanya fokus pada komputer di depannya.

__ADS_1


"Tau gak katanya putra pak Direktur mau datang ke perusahaan kita loh" Mita nampak tersenyum kegirangan sedangkan Naura hanya ber oh ria saja.


"Jadi gak sabar nunggu entar malem" Mita merapihkan rambutnya yang sudah ia curly sebelum Naura datang.


"Paling juga muka-muka cowok yang biasa berseliweran di kantor" jawab Naura sekenanya.


"Eh.. eh.. eh.. ada yang bilang dia itu sangat tampan, gagah dan berwibawa" Mita menggoyang-goyangkan telunjuknya pada Naura yang kini memandang kearahnya.


"Memangnya kabar itu sudah ada bukti konkritnya?" ucap Naura sembari menatap Mita yang kini tersenyum kecut.


"Kalo belum ngeliat secara langsung jangan dulu memprediksi sesuatu yang belum tentu kejelasannya" Naura kembali memperhatikan layar komputernya.


Mita menggaruk lehernya yang tak gatal. Ucapan Naura ada benarnya pasalnya informasi itu masih simpang siur yang Mita dengar dari bibir ke bibir.


"Oia gimana sama Leo, dari kemarin gw liat dia ngedeketin loe terus" Mita menopang wajahnya dengan kedua tangannya, ia sungguh penasaran dengan hubungan diantara mereka.


Belum saja Naura menjawab mereka sudah dikejutkan dengan sosok Leo yang kini sudah berdiri diantara mereka.


"Ngomongin gw ya" Leo menatap Naura dan Mita bergantian. Naura diam saja sedangkan Mita nampak terkikik kecil kearah Leo.


"Ntar.. malem balik bareng gw yuk" ajak Leo


Naura tetap diam. Mita menyenggol lengan Naura pelan membuat Naura menoleh kearah Leo.


"Maaf.. gw balik bareng bokap" jawab Naura singkat. Leo nampak kecewa ia berusaha membujuk Naura lewat Mita tapi Mita hanya mengangkat kedua bahunya.


"Sorry Leo gw gak bisa bantu" ucap Mita pelan


Dengan nafas berat akhirnya Leo meninggalkan meja kerja Naura. Mita yang melihat kejadian itu nampak kasihan pada Leo.


"Ra.. kasian tuh.. jadi melehoy gitu" ucap Mita sambil menahan tawanya. Naura memandang Leo sekilas lalu kembali menatap Mita.


"Kalo kasian.. loe aja yang pergi" Mita hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Naura. ia mulai mengalihkan pandangannya pada komputer di depannya.


Dalam hati Mita sebenarnya ia pun menyukai Leo namun melihat kegigihan Leo dalam mendekati Naura membuat ia memendam cinta sepihaknya itu. Ia tak mau memaksakan perasaan cintanya untuk Leo. Karena Leo belum tentu mau menerima perasaan cintanya.

__ADS_1


Mita menggelengkan kepalanya pelan. Mengingat betapa bodohnya ia harus menyukai pria yang sedang mengejar cinta temannya itu.


__ADS_2