
Malam ini Reino sudah bersiap dengan kemeja hitamnya. Rambutnya ia tata rapi sesuai keinginan sang nenek. Bibir nya terus menggerutu merutuki dirinya yang harus meminta maaf pada perempuan yang telah menamparnya.
"Kau terlihat tampan cucuku" puji Amy yang kini telah masuk kedalam kamarnya.
Reino membalikkan badannya melihat sang nenek.
"Nenek, kenapa tidak mengetuk pintu dulu" kesal Reino. Amy hanya tersenyum lalu duduk di ranjang Reino.
"Nenek boleh bertanya?" tanya Amy pelan.
Reino mengangguk cepat.
"Berapa usiamu?" tanya Amy lagi membuat Reino malas menjawabnya.
"Nenek sudah tua, kita tidak akan pernah tau sampai kapan kita hidup" mendengar itu Reino segera menghampiri Amy dan memeluknya dengan sayang.
"Nenek ga boleh bicara gitu, umur nenek masih panjang" Reino merebahkan kepalanya di bahu Amy. Membuat Amy menitikkan air mata.
"Umur siapa yang tau.. hari ini kita sehat mungkin besok kita sakit.. hari ini kita hidup besok mungkin kita.." Amy menghentikan ucapannya ketika dirasa pundaknya basah, ia yakin Reino pasti sedang menangis sekarang.
"Jangan bicara yang aneh-aneh nek, Reino cuma punya nenek, Reino cuma sayang nenek" Reino tersendu-sendu layaknya anak kecil yang merengek.
"Boleh nenek minta satu permintaan?" ucap Amy sambari mengangkat wajah Reino. Reino mengangguk pelan.
"Menikahlah dan berikan nenek cucu" Reino terdiam. Ia sudah menebak bahwa inti dari pembicaraan ini pasti pernikahan.
Amy bangun dari duduknya dan mengelus pundak Reino pelan. Ia segera berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Reino sendiri dengan pikirannya.
*****
Viona menatap pintu rumahnya dengan bosan. Sesekali ia memainkan ponsel ditangannya.
"Mom.. mereka jadi datang gak sih, aku kekamar aja deh" mendengar Viona yang sedari tadi ngoceh membuat Virnie gemas
"Sabar.. mungkin bentar lagi" jawab Ryan santai
Viona hanya mengerucutkan bibirnya. Tak lama bel pun berbunyi.
__ADS_1
Bi Atun segera membuka pintu dan mempersilahkan para tamu untuk masuk.
Ryan segera berdiri diikuti istri dan anaknya. Menyalami para tamu satu persatu dan mengajak semuanya keruang makan.
"Nak Ryan.. Nak Virnie dan juga gadis cantik.." kami sangat berterima kasih sekali telah menerima kunjungan kami yang merepotkan ini, kami juga kesini ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan Reino, itu salah kami yang kurang memperhatikan sikapnya jadi kami mohon maafkan anak ini" Amy menendang kaki Reino dengan keras membuat si empunya meringis kesakitan.
"I..iya om.. tante saya minta maaf atas perbuatan saya kemarin" Reino memandang sekilas pada Viona yang melotot tak percaya.
"Jangan lupa pada gadis cantik disana" tunjuk nenek pada Viona membuat Viona tertunduk malu. Reino memutar matanya malas.
"Maaf.." ucap Reino pelan. Mendengar itu Viona nampak ingin mengerjai pria di depannya tersebut.
"Maaf gak denger" jawab Viona singkat. Reino mengepalkan tangannya. Viona tersenyum tipis melihat pria di depannya itu terpancing emosi.
"Maaf.. maaf.. maaf" Reino berucap sedikit keras membuat Amy dan Viona tersenyum bersamaan.
"Oke di maafkan" Viona tersenyum mengejek kearah Reino, hal ini membuat Reino semakin mempertajam tatapan matanya.
"Iya Nak Reino Sudah kami maafkan ayo semuanya kita makan dulu" Ryan mempersilahkan para tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja makan.
Semua nampak menikmati makanannya kecuali Reino yang tidak berselera makan.
"Jadi begini selain kami berkunjung kami juga datang untuk melamar gadis cantik itu untuk Reino" seketika Virnie dan Viona terbatuk-batuk membuat Ryan bergantian memberikan gelas untuk anak dan istrinya.
Viona menatap tak percaya pada Reino begitu pun dengan Reino yang kini memandang heran kearah neneknya.
"Nak siapa namamu?" tanya nenek pelan. Viona menjawabnya dengan heran.
"Nenek harap kamu mau menerima calon suamimu ini, nenek sudah tua dan ingin segera menimang cucu. Nenek harap kamu mau menerimanya dengan masak-masak" Tatapan Amy yang minta dikasihani menyentuh hati Viona tapi ia tidak yakin dengan pria didepannya ini.
"Tunggu nek.. lamaran ini sungguh mendadak kami sekeluarga harus berpikir terlebih dahulu" Virnie nampak melihat Viona khawatir. Ia tak mau anaknya diperlakukan kasar lagi oleh Reino. Cukup kejadian waktu itu membuat hatinya terasa sakit.
Amy mengangguk mengerti ia pun meyakinkan Virnie bahwa Reino tidak akan mengulang kejadian yang sama. Amy telah memberikan sanksi terhadap Reino agar ia jera dan tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Semuanya terdiam tak ada satu patah kata pun yang bicara.
"Saya tunggu kabar baiknya seminggu lagi ya" Amy menatap kedua orang tua Viona. Mereka hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
Setelah makan malam selesai seluruh keluarga Reino segera berpamitan untuk pulang tak lupa mereka mengucapkan terima kasih atas jamuannya. Keluarga Viona mengangguk pelan dan mengantar mereka sampai depan pintu rumah.
Mobil pun berjalan meninggalkan kediam Ryan.
Virnie segera memasuki rumahnya disusul Viona dan Ryan. Virnie sungguh tak habis pikir dengan ucapan neneknya Reino. Ia memijit-mijit keningnya pelan.
"Aku menolak pah.. besok kita temui keluarga bu Alina dan menjelaskan pada mereka bahwa kita menolak" Virnie menatap Ryan yang sama-sama memijit keningnya.
"Sabar dulu mom.. tenangkan dirimu" pinta Ryan membuat Virnie menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Ini masalah anak kita pah.. masa depan anak kita" ucap Virnie lagi. Viona yang masih terdiam mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Hatinya sangat terkejut mencerna apa yang terjadi hari ini.
Viona membaringkan tubuhnya yang lelah berharap ini semua yang terjadi hanyalah mimpi.
*****
"Nek.. kenapa tidak memberitahuku dulu?" Reino menjambak rambutnya yang sudah tidak karuan. Amy menatap cucunya dalam diam.
"Menunggumu sampai aku mati baru kamu bisa menikah begitu?" Amy memukulkan tongkatnya ke kaki Reino dengan keras.
"Aww.. sakit nek.." teriak Reino yang kini telah berjongkok mengusap-usap kakinya.
"Nenek lihat dia gadis yang baik dan juga cantik, kenapa kamu tidak menyukainya?" Amy sungguh heran melihat cucu satu-satunya itu.
"Jangan bilang kalau kamu.." Nenek memicingkan matanya pada Reino membuat Reino terperanjat.
"Engga lah Nek.. jangan mikir macem-macem, Reino pria normal kok, sama seperti yang lain" mendengar itu Amy nampak mengelus dadanya pelan.
"Nak.. tidak semua pasangan itu cocok dengan hati kita.. kemauan kita.. tinggal kita belajar untuk saling mengerti dan menerima kekurangan pasangan kita" Nenek berdiri menghampiri Reino.
"Tapi Reino sama sekali tidak mengenalnya nek, bahkan ini pertemuan kedua Reino dengan perempuan itu" Amy mengelus pundak Reino
"Cobalah mengenalnya lebih jauh ada peribahasa mengatakan tak kenal maka tak sayang, nenek yakin dia jodoh yang dikirim Tuhan untukmu, lagian jodoh juga tidak akan datang kalau kamu sendiri tidak mencarinya" Reino tersenyum getir mendengar ucapan neneknya.
"Kenapa nenek bisa seyakin itu?" tanya Reino
__ADS_1
"Tanyakan itu pada hatimu" Amy memegang dada Reino dan berjalan meninggalkan Reino sendirian.
Reino hanya tertawa aneh mendengar ucapan Amy. Ia pun segera melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.