
Viona membuka majalah bisnis ditangannya dengan bosan. Membolak balikkan halamannya tanpa minat. Seketika matanya terhenti ketika ia menemukan wajah yang begitu familiar dimajalah tersebut.
Bibirnya tersenyum kecut. Ia segera mengambil pena yang tergeletak diatas meja. Dengan jahilnya Viona menggambar foto pria yang ada dimajalahnya. Seketika Viona tertawa puas melihat hasil karyanya.
Bel rumah Viona berbunyi dengan segera Viona memanggil bi Atun. Merasa tak ada jawaban akhirnya Viona segera bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya.
Pintu dibuka, nampak pria dengan tinggi besar sudah berdiri diambang pintu.
"Kamu, ada apa?" tanya Viona heran. Reino nampak terdiam sesaat. Lalu mengajak Viona ikut dengannya.
"Emangnya gak bisa disini?" Viona nampak ragu mengikuti ajakan Reino. Ia khawatir jika Reino akan berbuat kasar lagi.
"Kamu gak percaya sama saya?" Reino menatap Viona yang kini tengah gusar.
"Yaudah tapi jangan lama-lama, momy ku lagi diluar bentar lagi pulang" Viona mempersilahkan Reino masuk dan menunggunya di dalam.
Seketika Reino membulatkan matanya melihat foto dirinya digambar oleh seseorang.
Viona yang menyadari tatapan mata Reino segera mengambil majalah tersebut dan berlari ke dalam kamarnya. Melihat itu Reino nampak tersenyum aneh, ia menggelengkan kepalanya.
Viona memukul pelan kepalanya berulang kali setelah menyadari kebodohannya. Rasanya ia ingin pergi ke planet yang jauh.
Viona segera mengganti bajunya dan berjalan keluar kamar. Dengan canggung Viona melangkahkan kakinya pelan. Reino yang sedang asik memainkan ponselnya menyadari kehadiran Viona, menaruh kembali ponselnya di saku celananya dan segera mengajaknya pergi.
"Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Viona yang kini sudah duduk di dalam mobil Reino. Reino tak menjawab ia masih memfokuskan matanya pada jalanan.
"Kalo ada orang ngomong tuh dijawab" gumam Viona membuat Reino menatapnya sekilas.
"Kita akan mengurus pendaftaran pernikahan kita" Viona menatap Reino tak percaya sedangkan Reino hanya santai saja sambil menyetir.
"Kamu gila ya, bahkan kamu belum menerima persetujuan dari saya dan orang tua saya" Reino nampak tak memperdulikan ucapan Viona, ia terus melajukan mobilnya.
Mobil berhenti disebuah kafe kecil yang nyaman. Reino membuka mobilnya dan berjalan memasuki kafe tersebut. Viona yang melihatnya hanya melongo heran dia tak mengerti dengan pikiran lelaki yang kini sudah keluar lagi dari kafe tersebut.
"Mau turun ga?" tanya Reino membuat Viona menatap heran kearahnya. Viona segera keluar dari mobil Reino mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Setelah di dalam kafe Reino meminta Viona memesan makanan. Awalnya Viona enggan tapi setelah Reino memaksanya akhirnya dengan berat hati Viona memesan makanan ringan.
"Ayo kita menikah" Reino menatap Viona yang sedang asik memainkan ponselnya. Tak ada jawaban seketika Reino mengambil ponsel yang masih bertengger manis di tangan Viona.
"Gak sopan banget sih" ucap Viona kesal. Reino segera mengantongi ponsel Viona disaku celananya.
"Kamu yang gak sopan, saya lagi berbicara sama kamu" Reino menatap Viona dengan sebal sedangkan Viona hanya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa mesti sama saya? kan banyak perempuan yang lebih cantik daripada saya" Viona menatap Reino dengan intens.
"Anda tampan dan kaya pasti anda bisa mendapatkan perempuan yang anda inginkan" Viona menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ya.. kamu benar.. saya bisa memilih perempuan mana saja yang saya mau tapi tidak dengan nenek. Entah mengapa dia sangat menyukai anda dan sangat mempercayai anda" Reino menyeruput kopinya yang sudah disajikan oleh pelayan kafe.
"Ayo kita menikah.. bila dalam satu tahun ini kita tidak cocok satu sama lain kita bisa berpisah?" ucap Reino lagi membuat Viona menatap tak percaya.
"Setidak berartikah pernikahan itu dimata anda, itu adalah ikatan yang sakral, sebuah janji suci yang tidak bisa anda mainkan" Viona segera berdiri dari kursinya hendak melangkahkan kakinya keluar dari kafe namun dengan gesit Reino menahannya.
"Lepas.." Viona menghentakkan tangannya dengan keras membuat Reino segera melepaskan tangan Viona.
"Jangan pernah hubungi dan temui saya lagi, silahkan cari perempuan yang bisa anda ajak kerja sama dalam pernikahan main-main anda" Viona segera keluar dari kafe, ia menyetop taksi yang kebetulan lewat didepannya.
Matanya memandang kosong keluar kafe.
Reino sudah lelah membujuk Viona yang dipikir akan menerima idenya tersebut. Tapi ternyata ia salah. Reino heran kenapa disaat banyak perempuan yang ingin bersamanya hanya Viona yang menolak dirinya.
Reino melangkahkan kakinya keluar kafe ia berjalan memasuki mobilnya dengan gusar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****
Viona nampak meninju bantal yang berada dikamarnya. Ia sungguh benci dengan pria yang begitu mudah memainkan ikrar pernikahan.
"Vio.. kamu abis darimana?" tanya Virnie dari balik pintu kamar Viona.
"Abis cari angin mah" teriak Viona membuat Virnie menganggukan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Momy boleh masuk?" mendengar ucapan momy Viona segera merapihkan kamarnya yang sedikit berantakan. Setelah dirasa rapi baru Viona membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa mom?" Viona mengajak Virnie duduk dikasurnya.
"Apa kamu menyukai Reino?" tanya Virnie tiba-tiba. Mendengar itu Viona nampak diam tertunduk. Tidak tau kenapa akhir-akhir ini Reino memang sering muncul dipikirannya. Bahkan sesaat Viona begitu bahagia ketika Reino mengajaknya untuk menikah namun akhirnya harapan itu hilang ketika Reino hanya main-main dengan pernikahannya.
"Viona gak tau mah" jawab Viona lemah.
"Kalo gak tau berarti kamu menyukainya?" Virnie membelai rambut panjang Viona.
"Pikirkan baik-baik sayang.. walaupun momy kurang setuju padanya tapi semua keputusan ada padamu. Momy ingin kamu bahagia karena Kamu yang akan menjalani pernikahan ini bersama suamimu" Viona nampak termenung sesaat hatinya bimbang, ia tidak tau harus menjawab apa.
"Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya bukan? apalagi kamu anak momy satu-satunya" Virnie mengecup kepala Viona dengan sayang membuat Viona tak kuasa menahan air matanya.
*****
Reino terdiam didepan pintu rumah yang sering ia kunjungi. Awalnya ia begitu ragu untuk masuk tapi sesaat kemudian Reino mengetuk pintunya dengan pelan. Tak ada jawaban dan pintu tidak dikunci. Akhirnya Reino segera memasuki rumah tersebut dan mencari keberadaan Amy.
Kaki Reino terhenti tepat didepan kamar Amy. Reino mengetuk pintu kamar dengan pelan. Namun tetap tak ada jawaban. Terpaksa Reino membuka pintu yang tidak terkunci itu.
Reino menatap Amy yang terbaring lemah dikasurnya. Nafasnya naik turun dengan cepat membuat Reino panik dan sedikit mengguncang tubuh Amy.
"Nek.. nenek kenapa?" teriak Reino, Amy sama sekali tak menjawab matanya begitu sayu memandang Reino.Dengan sigap Reino memboyong tubuh Amy dan membawanya kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Amy segera dibawa keruang UGD. Reino yang ingin masuk segera ditahan oleh suster disana.
"Maaf pak, harap tunggu diluar" ucap suster sembari menutup pintu ruangan tersebut.
Reino hanya bisa pasrah menunggu sang nenek tercinta di kursi yang tersedia diluar ruangan tersebut. Matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Reino terus berdoa dalam hati agar keadaan neneknya baik-baik saja. Ia akan melakukan apapun agar neneknya kembali sehat seperti sedia kala.
Akhirnya pintu ruangan terbuka, dokter yang menangani Amy segera menghampiri Reino.
"Anda keluarganya?" tanya dokter sembari menatap Reino. Reino segera mengangguk cepat.
"Bagaimana keadaan nenek saya dok?" tanya Reino dengan suaranya yang parau.
__ADS_1
"Alhamdulillah beruntung nenek anda segera dibawa kemari. Sehingga kami dapat mengatasinya dengan cepat. Sekarang beliau sedang istirahat. Dan akan dipindahkan ke ruang perawatan" mendengar ucapan dokter membuat Reino bisa bernafas dengan lega. Tak lama Amy dibawa keluar dari ruangan tersebut. Reino menatap sang nenek yang masih memejamkan matanya. Ia pun segera mengikuti langkah para suster yang membawa Amy keruang perawatan.
*****