Janji Naura

Janji Naura
Penasaran


__ADS_3

Mita mengutak atik ponselnya dengan bosan. Pasalnya setelah kakaknya pulang dari luar kota membuat ia harus mengurus segala keperluan sang kakak yang tak ingin tinggal serumah dengan mereka.


Alasannya hanya satu karena ia ingin kebebasan.


Ting bunyi pesan datang dari ponsel Mita.


'Jangan lupa cari kontrakan yang nyaman ya.. urusan cuan bisa diatur' mita membaca pesan itu dengan dongkol. Rasanya ia ingin menendang sang kakak kali ini.


'Gak bisa aku sibuk!' balas Mita ketus. sembari menyimpan ponselnya di meja. Ia memijit pelipisnya yang terasa pusing karena ulah kakaknya yang terus merengek meminta dicarikan kontrakan.


'Ayolah kau tau kan kakakmu ini butuh suasana baru' sekali lagi bunyi ponsel Mita berbunyi dengan sekali tarikan nafas Mita membalas pesan dari kakaknya tersebut.


'Ya nanti aku carikan.. jangan mengirimi pesan lagi.. ini sedang dikantor' balas Mita kesal.


Tak ada bunyi pesan lagi mungkin pesan itu sudah dibaca oleh kakaknya. Mita melirik kesamping meja tempat Naura duduk.


Hari ini Naura belum menampakkan dirinya. Apa mungkin ia tidak akan masuk kantor gara-gara kejadian semalam. Mita nampak berpikir sesaat.


Tak lama Naura memasuki ruang kerjanya dengan terburu-buru.


"Gw kira loe gak masuk" Mita menatap Naura yang tengah menghirup napas dalam-dalam.


"Pengennya sih gitu.. mana tadi ketemu Leo di lobby ish.. bikin mood makin bete" Nara menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Ya.. gw sih udah yakin kalo dia gak bakalan nyerah gitu aja" ucap Mita sembari memainkan penanya.


Naura memejamkan matanya yang lelah. Dalam hatinya ia berpikir bagaimana caranya agar bisa terlepas dari Leo.


"Pacar.. ya.. gimana klo loe sewa pacar pura-pura aja terus tunjukin sama Leo kalo loe udah punya pacar supaya Leo gak akan gangguin loe lagi" ucap Mita sembari menatap Naura dengan mata yang berbinar.


"Gak.. itu gak mungkin Leo gak akan semudah itu percaya" kini sorot mata Mita kembali meredup.


"Kalo sama temen gw mau gak, sebenernya kerja sampingannya dia jadi pacar pura-pura sih dia juga cukup berpengalaman dalam menghadapi cowok yang agresif kayak Leo" Naura menghela nafas kasar ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Mita.


"Enggak Mita.. kan gw udah bilang Leo itu orangnya keras kepala.. batu..!! " jengkel Naura


"Hmm.. ya terus Loe bakalan ngebiarin Leo wara wiri didepan loe gitu?" terang Mita membuat Naura sedikit parno.


"Ya tapi gak pake pacar pura-pura kali Mita kalo ketahuan kan berabe" Naura memijit pelipisnya.

__ADS_1


Kini mereka berdua merenung bersamaan.


"Oia dideket rumah loe ada kontrakan kosong ga?" Mita menatap wajah Naura yang hanya mengendikkan bahunya.


"Semenjak kakak gw balik dari luar kota semua jadi repot.. apa-apa gw yang ngurusin ampe nyariin tempat buat dia tinggal ya tuhan.. ribetin banget" keluh Mita sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Gw gak tau sih.. gak merhatiin juga kalo deket rumah ada kontrakan" ucap Naura merasa bersalah.


Tiba-tiba ponsel Mita berbunyi pertanda pesan masuk.


'Gw udah nemuin kontrakannya gak usah dicariin lagi ya' Mita menyunggingkan senyum sembari membaca pesan itu.


"Panjang umur" gumam Mita sembari menaruh ponselnya kembali di meja.


"Kenapa?" tanya Naura penasaran


"Kakak gw udah nemuin kontrakannya hehe.. oia pulang kerja mau gak anterin ke mall please" pinta Mita dengan penuh harap.


Belum sempat Naura menjawab tiba-tiba Leo datang menghampiri mereka berdua.


"Ya ampun" ucap Mita gereget melihat kedatangan Leo.


"Pulang kerja gw anterin ya please" Leo mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Maaf ya tapi gw gak bisa" balas Naura dengan ketus. Leo terlihat geram ia mencengkram pergelangan tangan Naura.


"Kalo gw bilang ikut ya ikut" teriak Leo membuat semua orang yang berada disitu menatap kearah mereka.


"Emang loe siapa ngatur-ngatur gw hah.." teriak Naura dengan kesal. Tangannya yang lain mencoba melepaskan cengkraman tangan Leo.


"Leo.. lepasin tangan Naura" sentak Mita penuh amarah. Namun Leo nampak menghiraukannya.


"Ehem.. ada apa ini?" tanya Dika yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka.


Naura segera menghentakkan tangannya dengan kasar membuat Leo menatapnya penuh amarah.


"Tolong hargai para karyawan yang berada disini. Ini kantor tempat untuk bekerja bukan tempat umum kalian bisa menyelesaikan urusan pribadi kalian setelah pulang kerja" Dika menatap Leo dan Naura dengan tajam.


Semua yang ada disana tertunduk termasuk Leo, Naura dan Mita.

__ADS_1


"Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi terutama untuk kamu, ikut keruangan saya" tunjuk Dika pada Leo. Leo mengernyitkan kedua alisnya.


"Dan kamu juga ikut" Naura membulatkan matanya ketika ia juga ditunjuk oleh Dika. Sungguh ia benar-benar malas untuk sekedar jalan bersama Leo.


"Ayo ikut" Naura terkejut mendengar ucapan Dika seketika Naura dan Leo mengekor dibelakang Dika.


Mereka berjalan memasuki ruangan mewah milik Dika. Leo dan Naura nampak takjub melihat ruangan yang bergaya modern itu.


"Duduk.." perintah Dika pada Leo dan Naura.


Mereka segera menduduki sofa yang terasa empuk dan lembut.


"Katakan apa permasalahan kalian sampai-sampai kalian harus membuat keributan di kantor?" tanya Dika dingin. Naura dan Leo hanya terdiam membisu.


"Jujur saya paling tidak suka yang namanya keributan" Dika menatap Leo dan Naura bergantian.


"Maaf pak.. saya tidak akan mengulangi lagi" ucap Leo dengan suara yang pelan.


Kini pandangan Dika mengarah pada Naura.


"Saya minta maaf pak saya juga berharap kalau ini yang terakhir" balas Naura sembari menatap dingin kearah Leo.


"Saya tidak suka jika salah satu dari kalian mengabaikan peringatan dari saya maka dari itu jika hal ini terjadi lagi saya tidak akan segan untuk memberi kalian sanksi" ucap Dika dengan tegas. Leo dan Naura mengangguk mengerti.


"Kalian boleh kembali ke tempat kalian masing-masing" Dika melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya.


Naura dan Leo keluar dari ruangan Dika bergantian.


Dika merebahkan dirinya disofa miliknya. Matanya menelisik pada secarik kertas yang kini berada di tangannya. CV milik seorang karyawan yang beberapa hari ini nampak berseliweran dikepalanya.


Ya.. dia adalah Naura Mahyra Putri karyawan yang bertugas dibagian informasi.


Sejak pertama bertemu dengan gadis itu entah mengapa wajahnya terasa begitu familiar. Membuat Dika penasaran dan terus mengamati setiap gerak gerik Naura.


Bahkan ia harus dipusingkan dengan masalah pribadi antara Leo dan Naura membuat Dika semakin pusing dibuatnya.


"Dasar pria lemah.. memangnya didunia ini wanita hanya satu" gumam Dika sembari menaruh CV milik Naura diatas meja.


"Hah.. kenapa juga gw mesti mikirin mereka bukan urusan gw juga" Dika menggelengkan kepalanya dengan geli.

__ADS_1


__ADS_2