Janji Naura

Janji Naura
Nenek Amy


__ADS_3

"Hai.. kakak lagi apa?" tanya gadis kecil berambut hitam panjang. Gadis kecil itu menghampiri seorang Anak lelaki yang sedang asik bermain bola. Yang ditanya hanya melirik sedikit lalu melanjutkan aktifitasnya.


"Kakak tau kalau ada seseorang yang bertanya maka harus dijawab" gumam gadis kecil itu sembari berjongkok mencabuti rumput-rumput hijau. Anak lelaki itu menatapnya tajam membuat gadis kecil itu tertawa.


"Aku tau kakak orang baik semoga setelah kita bertemu lagi kakak yang pertama menyapaku?" gadis kecil itu tersenyum manis.


"Vio.. ayo kita pulang sayang" teriak ibu muda mengagetkan kedua anak itu.


Si gadis kecil menoleh kearah ibunya dan segera berlari masuk kedalam rumah.


Anak lelaki yang sedari tadi asik bermain bola tiba-tiba menghentikan permainan bolanya dan membiarkan dirinya berbaring diatas rumput hijau.


*****


"Hari ini ada meeting bersama ibu Nadia pukul 7 malam di kafe xx" Asisten Reino yang bernama Dion membacakan agendanya.


Reino mengerutkan keningnya namun setelah itu ia mengangguk pelan.


Dion yang akan segera keluar dari ruangan di tahan oleh Reino.


"Kamu ikut dengan saya nanti malam" mendengar ucapan atasannya Dion segera mengangguk mengerti.


Hari ini Reino sungguh tak bersemangat mengingat kejadian kemarin membuat mood nya menjadi buruk. Ditambah bekas tamparan Viona yang masih terasa perih di pipinya.


Reino segera menutup laptop yang kini bertengger manis di meja kerjanya. Merutuki gadis yang semalam telah menamparnya.


"Dasar perempuan kasar, berani sekali dia menamparku" setelah mengumpat Reino dikejutkan dengan suara ponselnya yang berbunyi.


"Halo nek.." Reino mengangkat panggilan dari neneknya dengan suara pelan.


"Apa? nenek mau bertemu denganku, apa nenek sakit?" tanya Reino beruntun.


Tiba-tiba Reino menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Iya nek, Reino minta maaf" ucap Reino kemudian.

__ADS_1


"Tapi nanti malam Reino ada meeting nek" Reino kembali menjauhkan ponselnya.


"Iya..iya baik nek akan Reino usahakan" Reino merutuki neneknya dengan sebal.


Dengan terpaksa ia harus merubah jadwal meeting kali ini.


*****


Disebuah rumah yang sederhana nenek Reino bernama Amy nampak duduk menunggu cucunya. Disampingnya sudah ada Adit dan Alina.


"Bu.. apa keputusan ini sudah benar" tanya Adit


dengan pelan. Amy menoleh sekilas pada Adit.


"Anak salah tuh jangan didiemin, kalian itu orang tuanya, kalian pasti tau mana yang benar dan mana yang salah" Amy mengambil tongkat miliknya.


"Aku sudah tua, dan anak kalian sudah besar apalagi yang mesti ditunggu" Amy menatap keluar jendela.


"Kami sudah melakukan segalanya tapi Reino masih bersikeras tak mau dijodohkan, bahkan ia tak pernah membawa seorang perempuan pun kerumah untuk dikenalkan kepada kami" mendengar ucapan Adit membuat Alina mengelus tangan Adit pelan, berharap mengurangi kesedihan suaminya.


Amy menatap Adit dan Alina bergantian.


Adit dan Alina hanya bisa tertunduk diam.


Sementara itu mobil berwarna hitam mulai memasuki halam rumah Amy. Reino keluar dari mobilnya sesekali ia melirik mobil yang begitu ia kenal. Reino menghembuskan nafasnya kasar dan segera masuk kedalam rumah neneknya.


"Duduk.." perintah Amy pada Reino yang kini telah hadir diantara mereka. Reino segera mendudukan dirinya di kursi kosong sebelah Adit.


"Nenek dengar kamu bersikap Anarkis pada anak teman ayahmu" ucap Amy dingin membuat Reino terkejut dan menatap Adit dan Alina bergantian.


"Kau mabuk?" tanya Amy lagi membuat Reino menyanggah kata-kata Amy.


"Reino gak mabuk nek.. Reino cuma.." kata-kata Reino terhenti saat Amy menghentakkan tongkatnya.


"Apapun alasannya kamu telah membuat keluarga kita malu" nenek menatap Reino dengan tegas membuat Reino menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Reino minta maaf nek" ucap Reino pelan


Amy mendesis pelan membuat suasana semakin tegang.


"Bukan pada nenek tapi pada perempuan dan keluarganya" mendengar itu Reino mengangkat wajahnya dengan cepat


"Reino gak mau nek, dia juga salah dia udah nampar Reino" Reino mencoba membela diri.


Amy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nenek gak mau tau, pokoknya besok kita akan kerumahnya dan kamu harus minta maaf pada keluarganya terutama perempuan itu" Reino terdiam ia bersungut-sungut mengumpat neneknya dalam hati.


"Sekarang kalian semua pulanglah, aku mau beristirahat" Nenek berjalan memasuki kamarnya.


Reino melirik sekilas pada Adit dan Alina yang masih diam membisu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sang nenek.


Reino membanting pintu mobilnya dengan keras. Nafasnya naik turun mengingat ia harus meminta maaf pada perempuan yang menurutnya kasar itu. Dalam hati Reino berharap bahwa besok adalah pertemuan terakhir mereka. Tidak akan ada pertemuan selanjutnya.


*****


Virnie yang telah mendapat kabar dari Alina nampak gereget mendengar Reino akan berkunjung kerumahnya nanti malam.


"Kenapa mom?" tanya Viona penasaran


"Ibu Alina mau ngajakin makan malam sekeluarga" jawab Virnie singkat


"Tante Alina yang waktu itu?" Viona mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Yang anaknya ngeselin itu?" lanjut Viona menatap tak suka pada momy nya. Virnie nampak tersenyum kecut.


"Oia tangan kamu gimana sayang, masih sakit?" Viona menggelengkan kepalanya pelan.


"Syukurlah kalau begitu, yaudah momy mau lanjutin kerjaan momy.. kalau butuh apa-apa panggil momy ya" Virnie mengusap kepala Viona dengan lembut dan sayang.


"Oke mom" Viona tersenyum manis sembari mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2