Janji Naura

Janji Naura
Introvert


__ADS_3

Yusuf sedang mengetikkan beberapa dokumen yang akan dikirimkan kepada asisten Direkturnya.


Walaupun tim yang bekerja bersama Yusuf sudah banyak yang senior namun entah mengapa pekerjaan itu selalu saja dilimpahkan pada Yusuf. Yang notabenenya baru bekerja beberapa tahun di perusahaan tersebut.


Awalnya Yusuf tidak menyangka jika dirinya akan diterima diperusahaan besar. Mengingat dirinya yang dahulu hanyalah lulusan SMA saja.


Namun dengan kegigihan Yusuf yang luar biasa ia mampu membuktikan bahwa dengan bekerja keras ia mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.


Bahkan ia bisa memboyong putrinya masuk ke perusahaan besar bersama dirinya.


Setelah menyelesaikan dokumennya Yusuf berjalan keluar dari ruangannya untuk ia bawa pada asisten Direktur.


Langkah kakinya melambat ketika ia mendengar percakapan antara Dika dan Adi diruangan Direktur.


"Sudah kubilang aku tidak mau.. dady sendiri kan yang bilang akan memberikanku waktu untuk memajukan perusahaan ini?" terdengar suara Dika yang lantang dari luar ruangan Dika.


Yusuf terdiam ditempatnya ia sungguh ragu untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Asisten direkturnya mana aku harus segera memberikan dokumen ini" gumam Yusuf dengan pelan dari luar ruangan Dika.


"Ehem.. ada yang bisa saya bantu?" tanya Lena asisten Dika yang kini sudah berada dibelakang Yusuf. Yusuf tersenyum sembari memberikan dokumen itu.


"Dady tidak mau tahu.. pokoknya kamu harus temui gadis itu jika tidak, mau tidak mau kamu harus memulai semua ini dari awal lagi" Ady melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dika.


"Dad.. ayolah.." teriak Dika dengan kesal.


Lena dan Yusuf nampak terdiam membeku.


Adi berdehem menyadarkan Yusuf dan Lena yang masih terpaku ditempatnya.


"Ahh.. kalo begitu saya pamit permisi tuan Direktur dan asisten Direktur" ucap Yusuf dengan pelan


Adi dan Lena mengangguk bersamaan.


"Kalian sedang apa?" tanya Adi pada Lena.


Lena segera menunjukkan dokumen yang diberikan Yusuf kepadanya.


Adi mengangguk dan segera berjalan meninggalkan Lena. Lena mengelus dadanya dengan pelan. Ia segera mengetuk pintu ruangan Dika.


"Permisi pak ada dokumen yang harus ditandatangani" ucap Lena dari balik pintu


"Ya.. bawa masuk dan tinggalkan dokumennya diatas meja saya" jawab Dika sembari berpura-pura menyibukkan diri dengan laptopnya.


"Baik pak.. saya taruh disini" Lena menaruh dokumen itu diatas meja Dika.

__ADS_1


"Terima kasih kamu boleh pergi" perintah Dika. Lena mengangguk dan segera pergi dari ruangan Dika. Dika orang yang introvert ia tidak akan membiarkan ada orang yang mengganggu privasinya termasuk dady nya.


"Jadi ini rencana pria tua itu aahh.." Dika meremas kursi miliknya dengan gemas.


"Kita lihat saja bagaimana tanggapan gadis itu setelah bertemu denganku" ucap Dika dengan seringaian liciknya.


******


"Hore.. akhirnya kita bisa me time.. makasih yaa udah mau nemenin gw" Mita tersenyum manis kearah Naura yang hanya terdiam menikmati keindahan mall di malam hari.


"Ayolah bestie.. kita harus have fun.. lupakanlah masalah sejenak" Mita mengibaskan tangannya didepan wajah Naura.


Naura menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.


"Oke kita harus have fun" ucap Naura bersemangat. Mita tersenyum lebar mereka pun berjalan menjelajahi mall dengan hati yang riang.


Berbelanja dan memilih baju adalah hal yang paling disukai Naura terlebih baru kali ini ia pergi dengan Mita yang akhir-akhir ini menjadi akrab dengannya.


Perbawaan Mita yang ceria membuat Naura merasa nyaman untuk berteman dengannya. Ia mulai membuka diri agar lebih akrab lagi dengan Mita.


"Makan yook.. laper nih" Mita mengusap perutnya yang mulai keroncongan. Naura mengangguk akhirnya mereka pun mencari food court terdekat.


"Mau makan apa?" tanya Mita tak sabar. Naura nampak berpikir sesaat.


"Nasi goreng seafood" jawab Naura. Mita nampak tersenyum mengejek


"Yaa.. kalo ada di menu kenapa enggak?" Naura menunjukkan buku menu khas makanan indonesia. Mita terkekeh kecil.


"Nih gw mau pesen spagethhi ala indonesia" tunjuk Mita pada buku menu yang bertuliskan nama mie goreng spesial. Mereka berdua tertawa pelan. Sampai akhirnya pelayan pun datang dan menanyakan pesanan mereka.


"Saya mau yang ini dan temen saya yang ini minumannya..?" Mita melirik Naura.


"Lemon tea" jawab Naura singkat


"Lemon tea dua" sambung Mita pada pelayan food court. Setelah pelayan itu menuliskan pesanan mereka ia segera pergi.


"Ra.. itu kayak.." tunjuk Mita pada seorang lelaki yang tengah duduk manis tak jauh dari meja mereka. Naura mengikuti arah telunjuk Mita.


Nampak seorang pria tinggi tengah memakai topi hitam dan jaket levis sedang berbicara dengan seseorang.


"Itu pak Direktur yang baru kan?" tanya Mita memastikan. Naura mengagguk perlahan.


"Terus perempuan disampingnya siapa?" Mita memperhatikan wajah perempuan itu dengan seksama.


"Ya tuhan.. itu kakak gw" teriak Mita tanpa sadar. Kedua orang yang dibicarakan menoleh kearah mereka. Akhirnya mereka sama-sama terkejut.

__ADS_1


"Kalian??" ucap Dika dengan ekspresi terkejutnya. Naura dan Mita memilih diam.


"Kalian sedang apa disini?" tanya Dika penasaran.


"Maaf pak kebetulan kami juga sedang makan disini" jawab Naura pelan. Mita mengangguk dengan cepat.


Tak berapa lama pesanan Mita dan Naura telah tiba. Membuat mereka terlihat canggung.


"Pak kami makan dulu ya.. maaf kalau kehadiran kami mengganggu" ucap Mita sembari menoleh kearah kakaknya yang tertunduk malu.


"Oh.. iya silahkan" jawab Dika dengan sopan.


"Siapa?" bisik perempuan disamping Dika.


"Para pegawai di kantor" jawab Dika singkat.


"Pokoknya saya gak mau tau kamu harus kerjakan pekerjaan kamu, buat perempuan itu tidak mau bertemu lagi denganku mengerti?"


"Iya.. baik tuan" ucap perempuan itu malu-malu


"Ini bayarannya sisanya setelah kamu menyelesaikan tugasmu" Dika menyerahkan amplop yang lumayan tebal pada perempuan itu. Perempuan itu mengintip sedikit isi amplop ditangannya untuk meyakinkan bahwa didalamnya itu terisi uang bukan lembaran kertas tak berguna.


"Oke tuan.. anda bisa mempercayakan semuanya pada saya" perempuan itu memasukkan amplop tersebut kedalam tasnya.


"Kalau begitu saya pamit dulu.. ingat jangan sampai lupa tugasmu" perintah Dika. Perempuan itu mengangguk kegirangan.


"Iya.. iyaa.. saya ingat tuan" balas perempuan itu sembari mengedipkan sebelah matanya.


Dika menoleh kearah meja yang diduduki Mita dan Naura yang sedang asik mengobrol sambil mengunyah makanan mereka.


Lalu Dika segera berjalan keluar dari food court tersebut. Melihat Dika telah pergi Mita nampak memghampiri kakaknya.


"Ada urusan apa loe sama Direktur gw?" tanya Mita penasaran. Perempuan itu hanya tersenyum lebar.


"Kepo!!" jawab Amel kakak Mita. Mita membuang napasnya kasar.


"Karena gw lagi happy semua makanan loe gw yang traktir" tawa Amel sembari mengibaskan amplop berisi uang kearah Mita.


"Gak usah.. loe pikir gw pengangguran" gerutu Mita pada Amel yang kini tertawa puas.


"Jangan bilang loe jual diri?" tanya Mita sembari memicingkan matanya. Seketika Amel menjitak kepala Mita dengan keras.


"Aww.. sakit kak" teriak Mita tak terima


"Sembarangan kalo ngomong.. nih mulut kagak disaring amat" dengan gemasnya Amel mencubit bibir Mita.

__ADS_1


"Kak.. ishh.." Mita mencubit tangan kakaknya dengan keras.


"Aww.. sakit tau.." Amel mengusap tangannya yang memerah dengan hati dongkol.


__ADS_2