
Di area kantor pusat milik Surya group motor Reyna terparkir, Reyna meletakkan helm di atas jok motor lalu berjalan memasuki gedung pencakar langit itu. Begitu memasuki kantor, semua karyawan yang melihat Reyna segera menyapa dan membungkukkan badan mereka di hadapan gadis itu, tapi Reyna hanya berlalu tanpa menghiraukan sapaan dari para karyawan tersebut. Sampailah di pintu lift, tangan Reyna menekan tombol di depannya, beberapa detik kemudian pintu lift terbuka tanpa ragu dia memasukinya, begitu pintu lift kembali tertutup jari telunjuk Reyna menekan tombol nomer lima belas, maka saat itu juga lift meluncur ke atas menuju lantai lima belas, sesampainya di lantai lima belas lift berhenti dan pintu lift kembali terbuka.
Melihat pintu lift terbuka Reyna segera keluar dan berjalan menuju ruangan salah satu orang kepercayaan papahnya, ketika sudah berada di depan ruangan tangan kanannya menggenggam kenop pintu dan hendak memutarnya tiba- tiba datang seorang wanita melarangnya. " Kenapa kamu melarang aku masuk bertemu sekretaris Kim?" Dengan tatapan tidak suka.
" Maaf kan saya nona muda, saya tidak bermaksud untuk melarang nona bertemu dengan mr.Kim, akan tetapi beliau sedang ada rapat dengan klien." Menjelaskan dengan nada rendah
" Bodo amat, aku mau masuk " kembali memegang kenop pintu.
" Jangan, jangan, nona pliiiiissss " sambil merapatkan telapak tangan dan menempelkan ke dada
melihat wanita di depannya memohon hati Reyna jadi melunak.
" Huh, sok penting banget sih sekretaris Kim " berpaling dan menuju salah satu sofa.
Wanita yang melarang Reyna masuk, nampak lega ketika nona mudanya itu mau mengikuti kata-katanya, " huft, untung saja nona muda tidak masuk kalo ga bisa tamat riwayatku " gumam wanita itu.
Lalu wanita itu mendekati Reyna. " Nona mau minum apa biar saya ambilkan ", sambil membungkukkan badan. Yang di ajak bicara justru sedang asyik bermain game yang ada di ponselnya dan cuek terhadapnya. Wanita itu nampak menarik nafas pelan lalu mengeluarkannya dengan perlahan pula, kemudian mengulangi perkataanya. " Maaf nona mau minun?, Biar saya ambilkan."
" Aku mau soft drink yang dingin, jangan lupa cemilannya " jawab Reyna dengan mata yang masih tertuju ke layar ponselnya.
" Baik akan saya ambilkan pesanan nona " berjalan pergi meninggalkan Reyna yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Setelah mendapatkan semua pesanan nona mudanya, lantas wanita itu memberikannya kepada Reyna, " Terima-kasih, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu " memberi isyarat agar wanita itu meninggalkannya.
Melirik di meja ada donat dan soft drink membuat Reyna langsung meletakkan ponselnya di atas meja.
Lumayanlah buat ganjal perut, sembari nunggu sekretaris Kim.
__ADS_1
Tangannya menggapai donat di atas piring lalu melahapnya, " wah, lumer banget nih donat " sambil mengunyah
Tidak membutuhkan waktu lama semua yang terhidang di atas meja sudah ludes seketika, kelaparan apa doyan non.
Di lihatnya arloji di tangannya, " wah gila, aku udah nunggu dua puluh menit di sini, ga bisa di biarin nih " beranjak dari tempat duduk dan menemui wanita yang sedang sibuk dengan komputernya.
" Sini aku pinjam sepatumu sebentar, cukup satu saja!" Dengan muka yang kesal.
" Tapi buat apa non?", berpikir jika nona mudanya akan berbuat hal gila.
" Udahlah ga usah banyak tanya, mau di pecat" sambil mengulurkan tangan untuk bersiap menerima sepatu.
Tanpa berpikir lagi wanita itu segera memberikan sepatu highheels nya kepada Reyna. Dengan cepat Reyna menyambar sepatu itu, dan berbalik badan kemudian lari ke sudut ruangan.
Mana sih seharusnya ada di sekitar sini. Matanya di edarkan ke segala arah, " nah, itu dia " sambil menunjuk ke arah yang di tuju.
Berjalan dengan lambat sambil tersenyum mendekati sebuah benda. " Beraninya membuat Reyna menunggu rasakan ini." sambil memukul
" Ya ampun, apa yang di lakukan nona muda sih " berlari ke tempat Reyna.
" Nona kenapa memukul tombol emergency nya?, Saya bisa di pecat kalo mr. Kim tahu " dengan raut muka yang penuh ketakutan.
" Kamu lucu deh, yang mukul siapa yang ketakutan siapa,haa ..hhaa…" geleng-geleng kepala.
Tahu begini aku ga bakalan ngasih sepatuku, tamat sudah riwayatku di sini. Sambil menepuk jidat dan tertunduk lemas.
Alarm kebakaran berbunyi cukup keras membuat para karyawan berlari kalang kabut berusaha keluar dari gedung, melihat semua orang berhamburan membuat Reyna tertawa terpingkal-pingkal. Pintu ruang sekretaris Kim terbuka, keluarlah beberapa orang yang kelihatan ketakutan berlari kecil menuju tangga darurat. Reyna melihat hal itu kembali tertawa sambil memegang perutnya yang sedikit keram karena kebanyakan tertawa.
Sekretaris Kim keluar dari ruangannya begitu melihat sesosok gadis SMA yang sedang tertawa di sudut ruangan, dia langsung mendekat.
__ADS_1
" Nona, kenapa anda berada di sini?, Apa ini semua ulah nona? " Bertanya dengan muka yang datar
Reyna yang masih tertawa begitu melihat sekretaris Kim berada di hadapannya berusaha menghentikan ketawanya. " Iya, habis aku kesel ga boleh masuk hanya karena sekretaris Kim punya tamu, aku sudah berusaha sabar menunggu sampai dua puluh menit, tapi tamu itu tak kunjung keluar, yaudah aku pakek cara ini " menggigit bibir atas supaya tidak kembali tertawa.
Mendengar penjelasan Reyna, laki- laki itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil membuang nafas dengan kasar. " Apa nona tahu siapa tamu saya tadi?" Bertanya dengan nada yang tegas.
" Ga tahu, dan ga mau tahu. Itu semua ga penting buat aku." Sambil melengos masuk ke ruangan sekretaris Kim.
Sekretaris Kim adalah kaki tangannya presiden direktur Adi Hartawan yaitu papahnya Reyna, dia sangat setia terhadap papahnya Reyna dan perusahaan, itu karena papahnya Reyna yang mempunyai sifat belas kasih terhadap sesama, mau membiayai sekolah Kimdan Sentosa sampai sarjana S2 di salah satu Universitas ternama di Los Angeles. Padahal Kimdan dahulunya salah satu penghuni panti Asuhan yang sering di kunjungi oleh Ceo Surya group, oleh sebab itu untuk balas budi Kimdan mendedikasikan dirinya hanya untuk kemajuan Surya group.
" Maaf nona kemari mencari saya ada keperluan apa?"
" Aku minta kamu mencari orang yang pakek masker ini " menunjukkan foto di ponsel.
" Memangnya ada hubungan apa anda dengan orang ini?" Tanya penasaran.
" Dia sudah membunuh teman aku ralat maksudnya dia sudah membunuh adik kelas aku, pokoknya aku ga mau tahu sekretaris Kim harus bisa menemukan orang ini, kalo mau tahu lebih jelasnya silahkan datang ke sekolahku ke bagian audio di sana ada teman aku Iwan yang akan menunjukkan kronologi kejadiannya".
" Baik akan saya usahakan untuk nona "
" Beneran lo ya, awas kalo sampe gagal " dengan nada mengancam.
Sehabis mengancam sekretaris Kim
Reyna berjalan menuju pintu, ketika hendak membukanya tiba-tiba dia teringat sesuatu, " oh ya sekretaris Kim, pliiiisss….jangan kasih tahu papah ya kalo aku udah bikin kehebohan di perusahaannya." Merapatkan telapak tangan sambil kepala menunduk.
Kalo sifat nona seperti ini kelihatan menggemaskan, ih kenapa aku berpikiran seperti ini sih. Geleng kepala
" Nona muda tenang saja saya akan membereskan semuanya." Tersenyum tipis
__ADS_1
" Okelah kalo begitu aku pergi dulu sekretaris Kim, bye " sambil melambaikan tangan dan berlalu