
Siang hari di SMA Rajawali, Reyna dan gengnya sedang berkumpul di kantin.
" Serius kamu Rey?, Wah abang kamu keren langsung mengerahkan anak buahnya buat nyariin kamu." Ucap Gio dengan penuh kekaguman
" Ya gitu deh, aku kan adik kesayangannya dia, makanya aku tuh ga ridho kalo dia punya pacar, yang ada ntar aku terlupakan lagi." Dengan muka yang cemberut.
" Makanya kamu punya pacar dong, mau sampai kapan kamu ngrecokin hubungan percintaan abang kamu, kasihan tahu." Tutur Miko
Pleeeetaakkkk……
" Sakit tahu Rey, kebiasaan main jitak kepala orang, pantesan ga da cowok yang mau sama kamu, jadi cewek bar-bar sih." Sambil terus mengusap kepalanya yang sakit.
" Syukurin, wek!" Sambil menjulurkan lidah, "makanya jadi cowok mulutnya jangan licin." Dengan tatapan sinis.
" Kalian nih kayak Tom and Jerry berantem mulu, bisa jadi ntar kalian berjodoh lo." Dengan senyuman menggoda
" Ga bakalan " jawab serentak Miko dan Reyna
" Udahlah ga usah berantem lagi, Vla mana belum ikut kumpul?" Tanya Gio
" Tadi dia bilang mau ke toilet dulu sebelum ke sini, udah lah kelamaan nungguin dia kita makan aja makanan ini keburu dingin ga enak." Sambil memulai menyuapi mulutnya dengan makanan.
" Yaudahlah aku juga dah lapar " sahut Miko
" Iiiiihhhh…..jahat, pada ninggalin makan, Miko geser dikit aku mau duduk " sambil mendorong tubuh Miko
" Rese banget sih Vla main dorong aja " dengan raut muka kesal
" Kamu ke toiletnya lewat menara Eifel dulu ya?, Lama betul, ga tahu apa kita udah kelaparan nungguin kamu." Ucap Reyna ketus
" Sorry, tadi sehabis dari toilet aku ketemu sama ibu-ibu yang minta tolong buat antar dia ke ruang Kepala sekolah, ya karena aku ini anaknya baik dan tidak sombong serta rajin menabung yaudah deh aku antar ibu itu, eh tahu ga ibu itu mau daftarin anaknya di sekolahan ini lo " cerita Vla panjang lebar.
" Trus urusannya ama kita apa?, Ga penting " dengan muka cuek
" Ih kamu ga tahu si Rey, anaknya tuh cowok ganteng lagi, kalo di perhatikan mirip banget sama idola kamu sang Kapten Amerika." Dengan antusiasnya
" Emangnya kamu tahu darimana?, Kalo anaknya ganteng?" Mulai penasaran
" Ibu itu yang kasih lihat fotonya, dan tahu ga, tingginya 183 guys, abang kamu kalah tuh, selama ini yang paling tinggi kan abang Reyhan dengan 178cm sekarang udah ada rivalnya." Bercerita dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Jadi penasaran cowok itu apa benar tinggi dan tampan mirip kapten Amerika, aduh belum juga ketemu baru menghayal aja udah bikin jantungku deg..degan ., Sialan kayaknya aku termakan sama omongannya Vla.
" Ga, ga boleh " sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepala
" Reyna kamu kenapa?, Ngomong sendiri pakek acara geleng-geleng kepala lagi, jangan-jangan kamu lagi berkhayal ya?, Ayo ngaku " sambil menunjuk ke arah Reyna
" Apaan sih, siapa juga yang lagi berkhayal" tersipu malu dan membuat pipinya berubah warna jadi merah jambu.
" Bohong, itu pipi kamu jadi merah gitu " goda Gio
" Udah cukup, lebih baik kita makan aja " mencoba mengalihkan pembicaraan
" Ya benar, perutku udah konser nih " sahut Vla
Derrrttt….drrttt …
" Bentar handphone ku bunyi aku angkat dulu " beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke sudut kantin menjauhi teman-temannya.
" Itu Reyna sedang teleponan sama siapa sih?, Keliatan tegang amat " ucap Vla sambil terus memperhatikan sahabatnya itu.
" Aku kok punya firasat jelek ya " ungkap Miko
Selesai dengan urusan telepon, Reyna kembali mendekati teman-temannya.
" Memangnya mau kemana?" Tanya Vla penasaran
" Aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan, bye " sambil berlalu meninggalkan ketiga temannya dengan perasaan penuh penasaran.
" Ada apa sih sebenarnya, kita ikutin aja yuk " ajak Gio
" Ide bagus, ayo " sahut Vla antusias
" Tunggu, lebih baik kita jangan ikut campur yang ada ntar kita bisa kena amukannya, emangnya kalian mau?" Miko mencoba memperingatkan kedua temannya yang mulai di rasuki virus penasaran.
Di lain tempat Reyna mulai melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung yang di depan pintunya berdiri beberapa penjaga yang berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam juga.
" Silahkan nona, masuk " sambil membukakan pintu
" Sekretaris Kim, mana orang yang sudah membunuh Lusi?" Tanya Reyna dengan raut muka serius.
__ADS_1
Plok...plok...plok .(suara tepukan tangan)
" Bawa kesini " perintah sekretaris Kim kepada anak buahnya.
Datanglah dua orang pria berpakaian hitam dengan membawa seorang laki-laki dalam kondisi tangan terikat.
" Lepaskan ikatannya, dan tinggalkan kami berdua disini " perintah Reyna
" Baik nona muda, kalo ada apa-apa silahkan panggil kami, kami ada di luar pintu ini." Ucap sekretaris Kim
" Oke " jawab Reyna singkat
Setelah kepergian sekretaris Kim dan anak buahnya, Reyna mencoba mendekati laki-laki yang berada di hadapannya.
" Kenapa kamu mencoba membunuh Lusi, ada dendam apa kamu dengan dia?" Memulai menginterogasi
" Aku ga ada dendam terhadap Lusi, justru aku dendam terhadap kamu " dengan nada penuh penekanan
" Aku " sambil menunjuk mukanya sendiri, " hah, kenal aja kagak, jangan konyol deh " Sedikit menyeringai
" Kamu ingat dengan kak Lukman?, Dia adalah kakak aku yang sudah meninggal akibat ulah kamu " sambil berteriak
" Kak Lukman, Dia meninggal?, Bukannya dia sekarang lagi kuliah di London?" Mencoba memastikan
" Dia ga pernah kuliah, dia bunuh diri sesaat setelah kamu mempermalukan dia di depan umum " suaranya semakin menggelegar dengan sorotan mata yang penuh kebencian.
" Memalukan kak Lukman, maksud kamu apa? " Reyna merasa bingung
" Kamu ini pura-pura lupa atau sengaja melupakannya, hah?, Oke biar aku ingatkan kembali " sembari menyeringai.
" Bermula saat acara PENSI satu tahun yang lalu, tepatnya ketika kak Lukman masih kelas XII dan kamu masih kelas X, saat itu dengan susah payah dia merencanakan proses pernyataan cinta di tengah berlangsungnya acara PENSI, dia sangat yakin kalo kamu pasti menerimanya mengingat hubungan kalian dalam beberapa bulan sangat dekat, tetapi semua tidak sesuai rencana kamu menolak kak Lukman dengan cara melempar bunga di mukanya dan berlalu begitu saja tanpa memikirkan perasaan kak Lukman pada saat itu. Apa kamu sudah mengingatnya?" Sambil menunjuk ke arah Reyna
" Ga, ga mungkin, kak Lukman meninggal karena aku?" Menggerutu sambil kepala menunduk dan kaki perlahan mundur ke belakang. " Kamu pasti bohong "Berteriak
" Kamu lihat baik-baik video rekaman ini, video itu di ambil oleh kak Lukman sesaat sebelum dia mengakhiri hidupnya." Sambil menyerahkan handphone kepada Reyna
Hai Faiz, mungkin kamu lihat video ini setelah kakak sudah tidak ada di dunia ini, maafkan kakak tidak bisa menjadi seseorang yang bisa di banggakan, kakak merasa frustasi ketika orang yang kakak cintai menolak kakak begitu saja, mungkin ini sedikit naif tapi kakak benar-benar malu sudah di tolak di hadapan banyak orang, kakak merasa harga diri kakak di lecehkan tapi ya sudahlah cinta tak bisa di paksakan. Tolong kamu jaga kedua orang tua kita dengan baik dan jadilah orang yang bisa di banggakan, kakak berpesan tolong kematian kakak kamu rahasiakan dari banyak orang terutama Reyna, beritahu semua orang kalo kakak sekarang sedang melanjutkan study di London, terima kasih telah menjadi adik terbaik, bye.
" Hiks..hiks...aku ga menyangka kalo penolakanku setahun yang lalu menorehkan luka yang mendalam di hati kak Lukman." Sambil menangis sesegukan.
__ADS_1
Terima-kasih sudah membaca novel saya
Ikuti terus kelanjutannya ….