Jingga Sky

Jingga Sky
08. Kembali Bertengkar


__ADS_3

Seperti biasa, jika ada mama di rumah itu artinya akan ada keributan antara ibu dan anak ini. Tidak heran bagi Jingga ketika pulang dirinya langsung di tegur oleh mama karena mama nya mendapatkan laporan dari pihak sekolah atas kelakuannya di sekolah hari ini.


Hampir setengah jam di mulai dari Jingga memasuki rumah mama belum juga berhenti mengomel. Dan topik yang di permasalahkan pasti tentang kesalahan Jingga.


"Kamu ini anak perempuan Jingga. Apakah pantas kamu bersikap seperti itu hah?"


"Mama kerja sampai lupa jam istirahat. Kamu pikir itu semua untuk siapa? Untuk kamu Jingga."


"Kamu kenapa jadi kayak gini sekarang... Apa yang kamu inginkan sebenarnya Jingga."


Jingga sedari tadi hanya diam dan menatap ke arah lain kini menatap mama nya. Jika di tanya apa yang Jingga inginkan jawabannya adalah keluarga yang utuh dan harmonis seperti sebelumnya.


Bisakah mama nya mewujudkan hal itu.


"Apa yang aku inginkan? Aku ingin keluarga kita utuh lagi seperti dulu. Aku ingin kehidupan kita kembali lagi kayak dulu. Apakah mama bisa mewujudkan keinginan ku itu hah?" ucap Jingga. Suaranya terdengar bergetar dan tatapan mata nya begitu sayu.


"Aku enggak butuh banyak uang, mah. Aku enggak butuh semua harta mama dan papa. Yang aku butuhkan adalah waktu kalian berdua. Aku butuh mama dan papa punya waktu untuk aku dan Letta (nama adik Jingga)".


Mendengar bagaimana Jingga berteriak di hadapannya membuat hati Sandara mencelos. Bukan karena dia marah tapi karena ucapan Jingga adalah tamparan keras untuk nya.


"Apa perlu Jingga harus punya banyak uang dulu baru mama dan papa ada waktu untuk Jingga dan Letta? Apa perlu Jingga membeli waktu kalian untuk kami, mah."


"Bahkan perpisahan kalian yang secara tiba-tiba itu aku tidak tahu alasannya karena apa. Mama, papa bahkan tidak ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi pada ku saat itu."


"Apa karena itu urusan kalian dan Jingga hanya seorang anak jadi kalian tidak ingin membicarakan nya pada Jingga?"


"Jingga kamu jangan ungkit permasalahan itu. Kamu tidak mengerti akan hal itu."


Jingga tersenyum kecut. Mama selalu menghindari topik permasalahan itu. Entah mau sampai kapan mereka menutup mulut mereka tentang alasan dari perceraian mereka.


"Mama tahu... Mama dan papa itu egois."


Jingga hanya ingin tahu saja agar Jingga bisa mengerti dan menerima keadaan. Hanya itu, apakah mereka enggan untuk memberitahukan padanya.


Tanpa mengatakan apapun lagi Jingga melengos begitu saja meninggalkan mama nya sendiri di ruang tengah.


Melihat anaknya pergi dengan raut wajah kecewa Sandara hanya bisa menghela nafas berat. Sandara mengusap wajahnya yang terlihat gusar itu dengan perasaan bersalah.


"Mama tahu kamu hanya ingin tahu mengapa kami bercerai. Tapi mama takut dengan tahunya kamu itu akan membuat kamu sedih dan semakin terluka." monolog Sandara menatap tangga yang sudah tidak ada lagi Jingga di sana.


"Tunggu mama dan papa siap menjelaskannya pada mu."


...*****...


Sudah dua hari Jingga tidak mau keluar kamar dan juga pergi ke sekolah setelah bertengkar dengan mama nya. Jingga sama sama sekali tidak mau makan dan mengabaikan mama nya yang selalu memanggil namanya untuk makan.


Sudah dua hari juga Sandra tidak pergi berkerja. Kali ini bahkan Sandara sudah empat kali menyuruh Jingga untuk keluar kamar dan makan. Tapi anak itu tidak mau keluar atau menjawab panggilan dari mama nya itu.


Sandara sangat khawatir dengan kondisi Jingga saat ini yang tidak makan apapun selama dua hari ini. Ini salahnya karena sudah terlalu keras pada Jingga.


"Jingga buka dulu pintunya nak. Kamu harus makan, maafin mama yang memang tidak pernah ada waktu untuk kamu."

__ADS_1


"Tolong buka pintunya sayang. Kamu jangan menyiksa diri kayak gini."


Dari luar kamar Sandara terus membujuk putrinya untuk membuka pintu dan membiarkannya masuk untuk membawakan makanan. Jingga harus makan Sandra takut Jingga akan sakit.


"Buka pintunya Sky, mama bawakan kamu makanan. Ini mama yang buat sendiri. Mama masakin kamu makanan kesukaan kamu nak."


"Mama taruh makannya di meja makan. Kalau kamu masih ingin waktu sendiri dan enggak mau bicara sama mama, mama enggak akan maksa. Tapi kamu harus makan. Nanti kamu turun aja mama enggak akan ganggu kamu. Kalau butuh sesuatu kamu bisa panggil mama... Mama ada di kamar."


Dengan perasaan khawatir dan bersalah Sandara pergi ke lantai bawah. Dia tidak bisa memaksa Jingga lagi... Jingga masih butuh waktu untuk sendiri. Dan Sandara ingin memperbaiki semuanya sekarang.


Dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuh Jingga. Jingga menutup mata nya erat-erat. Dada nya sesak ketika mendengar bahwa mama membawakan makanan kesukaannya dan itu Mama sendiri yang memasak.


Jingga menangis dalam diam. Ketika dia turun ke lantai bawah dan melihat makanan kesukaannya memang sudah tersaji di sana.


Jingga tidak ingat kapan terakhir kali mama masak makana kesukaan nya itu. Dan hari ini Jingga kembali melihat masakan mama nya.


Dengan hati yang terasa perih Jingga menyuap makanan itu. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya yang sedikit tirus.


Rasanya masih tetap sama. Rasa makanan yang selalu Jingga inginkan rasakan. Entah bagaimana mana ceritanya Jingga malah kembali teringat kenangan masa lalu yang berputar layaknya sebuah film.


"Mah, Jingga kangen mama.." ucap Jingga dengan air mata yang berjatuhan.


Dulu Jingga adalah anak perempuan yang sangat penurut dan begitu menyayangi kedua orang tuanya. Hampir setiap hari Jingga tidak pernah melewatkan makan bersama keluarga. Dan setiap bersama dengan keluarganya adalah suatu hal yang paling Jingga nantikan.


Namun seiring berjalannya waktu semakin bertambahnya usia Jingga semuanya berubah secara perlahan-lahan. Maja makan yang semula ramai perlahan sepi hanya menyisakan Jingga dan adiknya saja yang berada di sana.


Mama dan papa memang masih makan bersama mereka tapi tidak sesering dulu. Dan yang lebih parahnya lagi dua tahun lalu keluarganya malah semakin berantakan. Semuanya berubah begitu pun dengan Jingga yang ikut berubah.


...*****...


Setelah pertengkaran mereka hari lalu membuat Sandara tersadar bahwa selama ini ia tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya.


Seperti sebuah kaset Sandara terbayang kembali pada pertengkaran nya dengan Jingga hari itu.


"Apa yang aku inginkan? Aku ingin keluarga kita utuh lagi seperti dulu. Aku ingin kehidupan kita kembali lagi kayak dulu. Apakah mama bisa mewujudkan keinginan ku itu hah?"


"Aku enggak butuh uang, mah. Aku enggak butuh semua harta mama dan papa. Yang aku butuhkan adalah waktu kalian berdua. Aku butuh mama dan papa punya waktu untuk aku dan Letta."


"Apa perlu Jingga harus punya banyak uang dulu baru mama dan papa ada waktu untuk Jingga dan Letta? Apa perlu Jingga membeli waktu kalian untuk kami, mah."


Bahkan Sandara masih bisa mendengar bagaimana Jingga berteriak menumpahkan isi hatinya. Apa yang Jingga katakan hari itu adalah sebuah tamparan yang sangat keras untuk Sandara rasakan.


Drettt~


Suara dering telpon menyadarkan Sandara dari lamunannya. Di raihnya ponsel yang terletak di meja nakas. Sandara melihat siapa gerangan yang sudah menelepon dan ternyata itu adalah Gian mantan suaminya ayah dari anak-anaknya.


"Hallo?" Sandara membuka nya dengan sapaan.


"Gimana kabar kamu, Dara?" di sembarang sana Gian bertanya.


"Aku baik-baik aja. Kamu dan Letta gimana?" jawab Sandara, suaranya sedikit bergetar. Secara fisik Sandara memang baik-baik saja tapi secara batin Sandara tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Kami baik. Tapi kenapa suara mu terdengar bergetar. Kamu seriusan baik-baik aja?" sekali lagi Gian bertanya.


Hening... Sandara tidak tahu harus apa pikirannya seketika kosong. Dan itu membuat Gian penasaran ada apa dengan mantan istrinya itu.


"Hei.. Dara...Why? Tenangkan dirimu. Kalau kamu ingin menangis, menangis saja aku tidak masalah. Aku bisa mendengar cerita mu." ucap Gian.


Entah mengapa ketika Sandara mendengar Gian bertanya lagi padanya, seketika Sandara tidak bisa lagi menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.


"Mas... Aku... Aku..."


Sandara tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya karena rasa sesak dalam dadanya begitu kuat. Seolah ada sebuah rantai yang mengikat kuat lehernya. Sandara menangis sejadi-jadinya. Dia tidak kuat lagi menahan tangisnya.


Sambungan telpon masih tersambung. Gian mendengar bagaimana tangisan Sandara. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Suara tangisnya terdengar begitu lirih.


Entah apa yang sudah terjadi pada wanita itu. Sehingga membuatnya menangis seperti ini.


"Are you okey?" Setelah di rasa Sandara cukup tenang Gian kembali bersuara.


"Apa yang terjadi? Apakah kamu bertengkar lagi dengan Jingga?"


Gian tahu bahwa hubungan mantan istrinya dan Jingga anak mereka itu tidak lah baik. Bukan hanya Sandara saja, hubungan dia juga dengan Jingga tidak baik.


"Benar.. Dua hari lalu aku dan Jingga bertengkar. Pertengkaran kami hari itu cukup besar. Sampai-sampai membuat Jingga enggan untuk bicara dengan ku lagi. Bahkan Jingga tidak ingin keluar kamar dan pergi ke sekolah selama dua hari ini." Sandara mulai menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Jingga pada Gian.


Bagaimana pun juga Sandara harus membicarakan ini dengan mantan suaminya itu. Meksipun mereka bukan lagi suami istri tapi hubungan mereka tetap baik. Layaknya seorang teman.


"Mas, aku takut jika Jingga akan semakin terluka jika dia tahu alasan kita bercerai itu karena kesalahan fatal yang telah kamu perbuat."


"Aku tahu, tapi tidak ada salahnya kita mengatakan alasannya pada Jingga. Aku sudah siap dengan konsekuensinya. Karena memang itu kesalahan aku."


Gian juga sebenarnya takut jika Jingga tahu apa yang sudah di perbuatanya dulu sehingga membuat dia dan Sandara bercerai. Gian takut Jingga akan semakin membencinya. Tapi Gian tidak bisa membiarkan Sandara ikut di benci oleh Jingga karena permasalahan mereka dulu.


"Minggu depan aku akan pulang ke tanah air untuk perjalanan bisnis ku. Letta juga akan ikut. Dan sekalian aku ingin bertemu dengan kalian. Aku akan menjelaskan nya langsung pada Jingga." ucap Gian memberitahu Sandara bahwa dia akan pulang ke tanah air.


"Tapi... Mas..."


"Enggak ada tapi tapian lagi Dara. Aku ingin semua permasalahan ini selesai. Aku yang salah jadi aku juga yang harus menyelesaikan nya. Selama ini kamu sudah cukup terbebani untuk kali ini biarkan aku juga ikut menanggung beban masa lalu."


Sambungan telah terputus. Karena Gian harus kembali meeting dengan para petinggi lainnya. Sandara hanya bisa mengiyakan saja tanpa mengatakan apapun lagi.


Rasanya Sandara seperti sedang bermimpi saja. Gian adalah pria yang baik tapi kerena kesalahannya tidak bisa di toleransi membuat Sandara tidak ingin melanjutkan pernikahan mereka.


Minggu depan pria itu akan kembali untuk menyelesaikan permasalahan keluarga mereka dulu. Sandara khawatir bahwa Jingga akan sedih nantinya. Tapi jika terus di tutupi Jingga dan Letta akan tambah terluka. Seperti apa yang dikatakan Gian sudah saatnya mereka menyelesaikan apa yang belum terselesaikan di masa lalu.


.


.


.


(Maaf jika Feel nya kurang dapet di sini)

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2