
Jingga tidak pernah menyangka bersikap baik itu melelahkan karena dia harus terus menahan setiap amarahnya jika ada orang yang membuat nya naik pitam.
Entah mengapa hari ini beberapa murid terus mengganggu nya. Seolah mereka memang menantikan hari dimana Jingga tidak bisa berbuat apa-apa selain pergi dan bersikap acuh.
Kali ini bahkan ada dua anak laki-laki yang mencoba menggodanya. Ayolah Jingga benci situasi seperti itu. Apalagi melihat bagaimana wajah kedua laki-laki menatapnya penuh dengan main-main.
"Jika kalian tidak segera menyingkir di hadapan ku aku akan---
"Akan apa?"
Belum selesai Jingga bicara laki-laki berambut kecoklatan itu sudah memotongnya. Rasanya Jingga benar-benar ingin mencekiknya sekarang.
"Aku akan membuat kalian menyesal karena berani menggangu ku." ucap Jingga balik menantang.
Keduanya tertawa seolah apa yang dikatakan Jingga itu adalah sebuah lelucon. Jingga merotasikan matanya menatap jengah kedua orang didepannya yang sedang menertawakan nya.
"Mereka sudah gila ya?" batin Jingga.
Brug..
Arghhh....
Bersamaan dengan teriakkan itu Jingga tertawa lepas dan berlari sekencang mungkin meninggalkan area rooftop. Karena Jingga menendang ************ kedua laki-laki itu secara bergantian. Habis Jingga kesal melihat mereka tertawa keras di depannya.
Jingga tidak peduli dengan suara teriakan kesakitan mereka yang memanggil namanya penuh dengan amarah. Seolah tuli Jingga terus saja berlari menuju belakang sekolah untungnya mereka tidak mengejar.
Sesampainya di belakang sekolah Jingga tidak henti-hentinya berdecak kesal. Hari ini benar-benar menyebalkan. Tidak tahukah mereka semua bahwa Jingga sudah sangat bersabar dan menahan ego untuk tidak kabur dari sekolah.
"Arghh! Keparat sialan." Umpat Jingga menendang tong sampah kosong yang kebetulan berada di dekatnya.
Dia benar-benar sangat kesal mengingat betapa brengsek nya dua cowok tadi yang berani sekali menggodanya. Apalagi ketika ia teringat tangan si brengsek itu menyentuh rambutnya. Seharusnya Jingga tadi mematahkan tangan nya juga.
"Jingga apa yang kamu lakukan di sini?"
Jingga segera melihat ke orang yang baru saja berbicara. Dan itu adalah anak OSIS yang sepertinya sedang berpatroli. Jingga lupa bahwa sekarang ini sudah memasuki jam pelajaran ke 5 dan 6, 7 dan 8.
OSIS akan melakukan patroli berkeliling di setiap pagi dan istirahat pertama dan kedua untuk mengecek apakah ada murid yang akan membolos atau tidak. Dan sejauh ini tidak ada yang berani berulah, hanya Jingga lah yang berani terang-terangan menentang aturan ketat di sana.
"Kau sudah tahu apa yang ingin aku lakukan. Haruskah bertanya lagi?"
Dan setiap tertangkap Jingga pasti akan membalas pertanyaan OSIS itu dengan pertanyaan lagi. Benar-benar tipikal orang yang suka balik bertanya.
"Ikut aku ke ruang ku, sekarang!"
Tidak mau berdebat Jingga segera menurutinya dan mengikuti anak OSIS itu di belakang dengan hati yang terus mengumpat.
"Kenapa kamu ingin bolos lagi? Padahal sejauh ini kami tidak melihat gerak gerik mu yang biasanya selalu berulah." Wakil ketua OSIS bernama Nevan itu bertanya pada Jingga yang sekarang sudah duduk berhadapan dengan nya. Kali ini dia yang akan mengurus Jingga karena ketos sedang ada tugas lain.
"Jika aku bilang bahwa sebenarnya aku tidak berniat membolos kali ini apakah kau akan percaya?" Jingga balik bertanya.
Nevan menaikan sebelah alisnya. Lagi-lagi pertanyaan di jawab dengan pertanyaan.
"Tergantung." Nevan menyahut "Jadi apa kau berniat untuk menjelaskannya terlebih dahulu atau seperti biasa lari dari masalah dan tidak mengerjakan hukumannya?"
__ADS_1
Jingga mendecih. Nevan baru saja menyindirnya. Jingga lupa bahwa anggota OSIS satu ini bermulut pedas.
"Kali ini aku akan menjelaskannya." Final Jingga, lalu menjelaskan apa yang membuatnya tadi hampir membolos dari sekolah.
Nevan sendiri dengan tenang mendengarkan penjelasan Jingga tentang bagaimana hari ini katanya dia sedang menahan diri untuk tidak berbuat onar namun ada saja murid yang ingin membuatnya kesal
"Kau tahu kedua murid yang mengganggu mu tadi itu anak kelas mena?" tanya Nevan setelah Jingga selesai menjelaskan.
"Tidak tahu." dengan santai Jingga menyahut.
Dia memang tidak tahu kedua laki-laki tadi itu siapa. Toh Jingga murid baru di sini dan juga dari pertama masuk Jingga hanya mengenal beberapa orang saja seperti, ketos, Nevan, Aksa, dan Pak Dinar. Selebihnya Jingga hanya mengenal wajah tapi tidak tahu nama. Bahkan nama guru yang mengajar di kelas pun Jingga tidak mengingat nya.
"Ya sudah tidak apa. Kali ini kamu bebas dari hukuman. Tapi ingat kau masih punya hutang hukuman Minggu lalu untuk membersihkan toilet."
Baru saja Jingga ingin bersorak senang. Perkataan Nevan selanjutnya yang mengingatkannya tentang hukuman minggu lalu yang sama sekali belum di kerjakan itu membuat nya kembali mencebik kesal.
"Itu sama saja aku tidak bebas hukuman, sialan!" Maki Jingga.
"Kau baru saja berkata kasar di hadapan ku apakah kau tidak takut ku tambah lagi hukumannya."
"Persetan dengan semua itu, aku bahkan tidak takut."
Nevan terkekeh hampir saja dia lupa dengan siapa dia berhadapan kali ini. Jingga tetaplah Jingga.
"Aku pergi. Dan jangan lupa kau harus mencari dua orang yang kurang ajar itu." ucap Jingga sebelum akhirnya berdiri dan menatap serius Nevan yang juga menatap dengan tatapan sulit di artikan. Persetan dengan itu Jingga tidak peduli. Maka setelah nya ia pun melangkah pergi meninggalkan ruangan Nevan sang wakil ketua OSIS.
"Itu pasti! Aku akan mencari mereka." Seru Nevan ketika pintu sudah tertutup rapat.
...*****...
"Ingat kali ini kamu jangan kabur lagi Jingga!"
"Apa sih pak. Kenapa harus sekarang juga sih saya bersihkan toiletnya. Kan bisa besok."
Sudah hampir 10 menit lamanya Jingga protes pada Pak Dinar yang ketika di pertigaan lorong ia di jegat dan di tagih untuk segera menjalankan hukuman minggu lalu yang belum juga di kerjakan.
"Kamu ini sudah banyak menawar dan saya juga sudah selalu memberimu toleransi. Jadi kali ini kamu tidak bisa kabur lagi dari hukuman."
Jingga menatap tajam pak Dinar yang terus saja bicara untuk jangan kabur, jangan kabur. Bagaimana dia bisa kabur orang sekarang saja dia sedang di giring untuk membersihkan toilet.
"Bapak kalau bapak terus marah-marah di situ nggak jelas mending bapak bantuin saya deh." ucap Jingga dengan tidak tahu dirinya meminta bantuan pada Pak Dinar wali kelasnya sendiri.
"Kamu ini bener-bener murid yang tidak tahu diri ya."
"Rewel banget sih. Mending bapak pulang aja deh pusing saya denger bapak ngomel terus."
"Kalau saya pulang yang ada kamu kabur lagi. Kali ini saya tidak akan tertipu lagi oleh kamu."
"Emangnya saya pernah gitu nipu bapak?"
"Ya emang nggk tapi kamu tuh terus saja lari dari masalah dan tidak mau mengerjakan hukuman yang di berikan."
"Itukan salah bapak sendiri ngapain terima saya di sini. Udah tahu saya orangnya nakal pembuat onar masih aj---"
__ADS_1
"Lama-lama saya yang pusing denger kamu ngoceh terus, Jingga."
"Aksa..."
Aksa yang kebetulan sedang lewat itupun menoleh ketika pak Dinar memanggil namanya. Aksa pun berjalan menghampiri Pak Dinar yang di depannya ada Jingga yang terlihat kesal.
"Ada apa pak?" tanya Aksa ketika sudah di dekat mereka.
"Kebetulan kamu lewat. Bapak mau minta tolong sama kamu boleh tidak?" ucap Pak Dinar dengan suara pelan dan terdengar begitu sungkan.
Berbeda sekali jika berbicara dengan Jingga yang intonasinya selalu saja marah-marah.
"Minta tolong apa memang nya pak?" tanya Aksa sesekali ekor matanya melirik ke arah Jingga yang masih memasang wajah kesalnya.
"Jingga sedang saya hukum karena saya takut kalau kabur lagi saya mau minta tolong sama kamu bisakah kamu mengawasinya?" ucap Pak Dinar sedikit sungkan.
Sebelum menjawab Aksa melihat Jingga yang ternyata masih saja terlihat kesal itu bahkan mulut gadis itu komat kamit entah menggunankan apa. Tersenyum tipis lalu Aksa mengangguk menyanggupi permintaan pak Dinar yang memintanya untuk mengawasi Jingga menjalankan hukumannya.
"Baik, saya akan mengawasinya." ucap Aksa membuat Jingga menatapnya dengan pandangan tak percaya.
What the hell?
Bahkan sampai Jingga tengah asik membersihkan toilet dia masih tidak percaya Aksa betulan mengawasinya seperti permintaan pak Dinar tadi. Untuk pak Dinar-- dia sudah pergi pulang katanya ada hal yang mesti di urus.
Suasana di sana cukup sunyi tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Jingga sibuk dengan kegiatannya dan sesekali mengumpat dalam hati. Sementara Aksa terlihat melamun dengan terus memperhatikan Jingga yang tidak minat membersihkan toilet.
"Apakah kau tidak ada kerjaan sehingga kamu mau-mau saja di minta tolong oleh pak Dinar untuk mengawasi ku?" ucap Jingga memecah keheningan.
"Aku memang tidak memiliki kerjaan apapun."
"Ah, aku lupa kau kan kaya. Tapi bagaimana dengan supir mu?"
"Aku sudah memberitahu nya untuk menjemput ku agak lambat dari biasanya." ucap Aksa.
Jingga mengangguk mengerti. Aksa itu seseorang yang bisa dikatakan memiliki segalanya apapun bisa dengan mudah ia dapatkan dan itu membuat Jingga teringat pada dirinya dimasa lalu. Dimana semuanya telah begitu indah. Tidak seperti sekarang kacau dan berantakan.
"Buruk sekali." batin nya tersenyum miris.
Suasana kembali hening. Jingga kembali fokus membersihkan toilet menyingkirkan semua pikirannya tentang masa lalu itu. Dengan Aksa yang menatap penuh harap agar Jingga mau lebih membuka diri padanya tidak seperti saat ini. Aksa dapat melihat dari raut wajah dan helaan nafas gadis itu terlihat begitu lelah dengan semua keadaan.
"Jangan terus menatapku seperti itu."
Suara dari Jingga membuat Aksa terperangah dan reflek mengernyitkan dahinya.
"Kamu menatapku dengan tatapan seolah sedang mengharapakan sesuatu." Jingga berhenti membersihkan kaca wastafel di depannya dan beralih menatap Aksa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku memang sedang mengharapakan sesuatu dari mu." perkataan Jingga tadi entah kenapa membuat Aksa berani berkata demikian.
"Apa yang kamu harapkan dari ku?" tanya Jingga sepenuhnya mengabaikan kegiatannya.
...
Bersambung...
__ADS_1