
1 tahun berlalu...
Jingga menatap datar gedung sekolah berlantai yang ada didepannya. Hari ini adalah hari pertama Jingga masuk sekolah barunya. Gadis bersurai panjang dengan rambut bawahnya yang diberi cat merah senada dengan kukunya itupun melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah SMA barunya.
Hari masih pagi dan sekolah ini masih sepi. Tidak ada murid yang terlihat selain dirinya. Bahkan guru juga belum datang hanya ada satpam sekolah saja yang terlihat sedang duduk di posnya.
Jingga terus memandang sekolah tersebut namun tetap saja semuanya terlihat biasa saja. Toh ini bukan kali pertamanya ia dipindahkan ke sekolah baru. Ini sudah sekolah ke sekian yang Jingga singgahi.
Jingga heran dengan mama yang hobi sekali untuk menyuruhnya sekolah padahal Jingga sama sekali tidak berminta untuk itu. Kenapa begitu? Sebab Jingga merasa sangat bosan karena harus mengulang kembali pelajaran yang sama tahun ini karena tahun kemarin tidak lulus ujian sekolah SMA yang lama.
Sandara yang tak lain ibu dari Jingga ini, tentunya wanita paruh baya itu sangat kecewa terhadapnya. Setelah begitu banyak pertimbangan, Sandara memutuskan untuk membawa pindah putrinya ke luar kota dan menetap serta menyekolahkan Jingga di kota baru itu.. Berharap dengan pindah ke kota baru bisa membuat perubahan yang besar untuk putrinya. Karena Sandara yakin bahwa awal yang baru, lingkungan yang baru, dapat membuat putrinya berubah.
Jingga menghentikan langkahnya di lorong kelas barunya. "Jadi ini kelas baru ku?" gumam Jingga melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba telinganya mendengar suara alunan merdu dari sebuah alat musik. Itu suara piano dan suaranya berasal dari lorong kosong di depannya. Karena suara yang merdu dan jernih itu membuat Jingga tergerak untuk mendekat.
Di tempatnya berdiri sekarang Jingga melihat ada seorang murid siswa yang sedang duduk dengan memainkan alat musik piano.
Dalam ruangan itu pemuda berseragam rapih, penampilannya juga rapih, tidak seperti dirinya yang urak-urakan. Pemuda itu dengan lihai memainkan piano dengan begitu indah dan merdu.
Namun dibalik keindahan alunan musik melodinya terdengar begitu menyedihkan. Setiap tuts yang ia takan seiring dengan irama seolah mengatakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Jingga bahkan sampai hanyut dalam melodinya. Ada perasaan getir yang ia rasakan ketika mendengar setiap bait yang di mainkan. Sampai akhirnya Jingga tersadar saat pemuda itu tidak lagi memainkan pianonya.
"Kenapa berhenti? Apakah lagu nya sudah selesai?" tanya Jingga linglung. Gadis itu bahkan tidak merasa sungkan sama sekali meksipun tertangkap basah oleh pria itu karena sudah diam-diam melihatnya bermain piano.
"Siapa kamu?" dua kata yang keluar dari mulut pria itu.
"Aku? Kamu tidak perlu tahu siapa aku."
Pria itu mengangkat sebelah alisnya bingung. Kedua maniknya menatap Jingga dari bawah hingga atas. Jingga pikir pria itu sedang menilai penampilannya yang urak-urakan hari ini.
"Ada apa? Apakah kau sedang menilai penampilan ku? Dan sekarang pasti kamu sedang mencibir ku dalam hatimu bukan?" ucap Jingga jengah di tatap sebegitu teliti. Bahkan Jingga sangat yakin bahwa dalam hati pemuda itu pasti mengolok-olok penampilannya.
Ah Jingga sudah biasa dengan itu!
"Tidak! Aku tidak mencibir mu dalam hati." sangkal nya berterus terang namun Jingga tidak gampang percaya.
"Sudahlah lupakan saja." kata Jingga acuh tak acuh. Kemudian Jingga berbalik berniat akan pergi keluar, namun langkahnya terhenti ketika laki-laki itu kembali bertanya.
"Siapa kamu? Apakah murid baru di sekolah ini?" tanyanya lagi lalu berdiri di samping piano.
Jingga menoleh kebelakang menatap balik pria yang juga menatapnya. "Aku memang murid baru di sini. Tapi kamu tidak perlu tahu siapa aku. Toh, nanti juga aku tidak akan lama disini." setelah mengatakannya Jingga melengos begitu aja dari sana.
Sementara pria itu hanya bisa memandang punggung gadis itu yang perlahan menghilang dengan banyak pertanyaan di kepalanya saat ini.
...*****...
"Silahkan kamu perkenalkan diri kamu, kepada teman-teman baru mu."
Jingga saat ini sudah ada di dalam kelas barunya. Kelas 12 IPA 3. Di sampingnya ada wali kelas yang menginterupsi untuk ia mengenalkan diri pada murid di depan sana. Sementara Jingga, gadis itu hanya diam menatap semua orang didepan yang melihatnya dengan pandangan berbeda-beda.
Ada yang melihatnya dengan tatapan antuasias, ada yang acuh tak acuh, dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan tidak suka. Well semua tatapan mereka membuat Jingga muak.
"Jingga Sky. Salam kenal." ucap Jingga singkat, membuat semua yang di sana tercengang.
Apakah itu yang di namakan memperkenalkan diri sebagai murid baru di sana? Bahkan wali kelasnya sendiri saja sampai menatap tidak percaya apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Jingga, apakah hanya itu saja perkenalannya? Kamu tidak ingin menambahkan..."
"Tidak ada. Saya sudah memperkenalkan diri saya. Dan itu sudah jelas bukan?" Jingga menyela perkataan gurunya dan itu membuat semua murid menahan napas mareka sesaat. Apakah gadis itu tidak takut berperilaku demikian di sekolah.
Sementara Pak Dinar selaku wali kelasnya hanya bisa menghela napas menghadapi sikap tidak baik murid nya kali ini. Dia sudah tahu seperti apa muridnya kali ini dari orang tua gadis itu sendiri. Semenjak Jingga di terima di sekolah ini, maka Jingga sudah menjadi tanggungjawab nya selaku guru untuk membimbingnya di sekolah.
"Baiklah jika tidak ada lagi, kamu duduk di kursi sebelah sana." ucap Pak Dinar menunjukkan bangku kosong yang letaknya di depan.
Melihat tempat duduknya diurutan depan membuat Jingga mendecih detik itu juga. Sebab mengapa? Jingga tidak suka duduk di depan.
"Pak bisakah saya duduk di belakang saja?" tolaknya, lagi-lagi membuat murid menatapnya tak percaya.
"Kenapa? Bukankah itu bagus. Banyak murid yang ingin duduk di depan agar bisa lebih fokus menangkap materi."
"Itu kan murid lain. Saya ingin duduk di belakang. Saya tidak suka duduk di depan karena itu hanya akan membuat saya tidak fokus."
Hah?
Pak Dinar kembali menghela nafasnya dalam. Lagi-lagi Jingga kembali tidak mematuhi aturan nya. Benar kata orang tua gadis ini. Jingga itu terlalu spesial, saking spesialnya bahkan anak itu mampu membuat nya pusing hanya dalam beberapa menit.
"Baiklah, kamu bisa duduk di barisan sana urutan belakang." Pungkas Pak Dinar mencoba untuk bersabar menghadapi Jingga.
"Oke." Jingga pun berjalan menuju bangkunya. Di sana murid-murid kelas itu menatapnya dengan pandangan tidak suka. Hell? Apakah ada yang salah dengan dirinya. Rasanya Jingga ingin mencolok mata mereka semua yang menatap tajam secara terang-terangan.
"Baiklah murid-murid. Karena kelas kita kedatangan murid baru, bapak minta mohon kerjasamanya untuk baik-baik lah kalian semua. Mengerti?" ucap Pak Dinar tegas.
"Mengerti, Pak." Seru semua murid serempak minus Jingga.
"Bagus. Kalau begitu saya akan keluar dan sebentar lagi guru materi pagi ini akan masuk. Ingat jangan membuat onar." ucap Pak Dinar dengan maksud terselubung. Tanpa diberitahu juga, Jingga tahu kalimat 'ingat jangan membuat onar' itu untuk siapa.
Pak Dinar sudah meninggalkan kelas. Semua murid sibuk dengan interaksi masing-masing. Jingga yang notabene nya adalah murid baru dan duduk sendiri, ia memilih untuk diam sembari menatap lapangan yang luar dari balik jendela kelas.
Jingga sama sekali tidak berminat untuk berkenalan dengan mereka atau berteman dengan mereka. Jingga yakin mereka juga tidak ingin berkenalan dengannya. So, lebih baik diam dan bersikap bodo amat itu lebih baik. Yang penting dia hidup tenang tidak di ganggu.
Beberapa menit kemudian, guru mapel pertama telah datang. Seketika semua murid diam begitu juga dengan Jingga. Ah, Jingga diam karena dia memang tidak tahu harus apa di kelas ini. Jadi anak itu hanya diam termenung sambil mendengarkan guru yang menjelaskan materi di depan sana tanpa fokus. Jingga memang mendengarkan tapi dia tidak benar-benar mendengarkan.
Hari sudah semakin siang dan bahkan menjelang sore. Sekarang kelas Jingga kedapatan pelajaran terakhir yaitu olahraga. Jadi semua murid pergi ke lapangan untuk berolahraga.
Sekarang Jingga sedang menggiring bola basket ditangannya ke arah ring. Dengan semangat yang membara Jingga membawa bola basket itu di tangannya dengan lihai.
Kali ini Jingga mengikuti pembelajaran dengan serius karena dari semua mata pelajaran yang ada di sekolah Jingga hanya menyukai pelajaran olahraga. Dimana pelajaran itu menggunakan fisik dan tenaga ya meskipun otak juga tapi tidak sebanyak mata pelajaran yang lainnya yang selalu menggunakan otak.
Ketika jarak nya dengan ring hanya beberapa meter radius lagi Jingga segera melempar bola basket ke arah ring setelah di rasa lemparan nya akan tepat sasaran.
Brug... Brug.. Brug...
Jingga tersenyum bangga melihat bolanya masuk ke ring dengan sempurna hingga jatuh kembali ke lapangan. Bersorak dalam hati ia pun menepi ke tepi lapangan berganti orang yang bermain sesuai instruksi guru olahraga.
Jingga mengambil minum dan handuk kecilnya. Dari tempatnya berdiri Jingga merasakan ada sepasang mata yang memperhatikannya. Ia pun segera mencari tahu siapa orang itu. Hingga pandangannya jatuh ke gedung lantai 3. Di sana ada lelaki yang sebelumnya ia lihat sedang berdiri melihat ke arahnya.
Jingga bertanya pada remaja laki-laki itu dengan bahasa isyarat. Dan di balas juga dengan bahasa isyarat oleh pemuda itu. Setelahnya pria itu malah pergi begitu saja. Karena Jingga penasaran gadis itu segera pergi dari lapangan untuk mengejar laki-laki yang sudah berani memperhatikannya.
"Woi!" Teriak Jingga ketika sampai di lorong lantai 3. Untung saja laki-laki itu masih ada di sekitar sana. Jadi Jingga lebih cepat menemukan dia.
"Kenapa?" tanya Laki-laki itu.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu terus memperhatikan ku ketika aku sedang bermain basket?" Jingga memang sudah menyadari ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikannya di saat sedang menggiring bola basket hingga selesai.
"Karena kamu sangat keren."
"Hah? Karen?"
"Iya, kamu keren. Kamu sangat lincah bermain basket."
Jingga terkekeh. Apa nya yang keren? Bukankah permainan dasar seperti itu memang sudah bisa di lakukan. Pasti murid-murid di sini juga sudah bisa. Rekasi laki-laki itu cukup berlebihan.
"Itu bukan sesuatu yang aneh bukan? Semua murid di sini juga pasti akan sama dengan ku. Kenapa kamu berbicara seolah kamu tidak pernah bermain boleh basket."
"Aku memang tidak pernah bermain bola basket."
Jingga berhenti tertawa. Sungguh jawaban yang tidak terduga yang ia dengar. Yang benar saja laki-laki di depannya ini tidak pernah bermain basket. Oh jangan-jangan dia adalah anak yang nakal tidak suka mengikuti pembelajaran. Sama seperti dirinya.
"Omong kosong macam apa itu? Kamu tidak pernah bermain basket sebelumnya? What the hell men!" ucap Jingga tak percaya.
"Aku berbicara jujur. Aku tidak pernah mengikuti pembelajaran olahraga. Jadi ketika melihat mu yang bersemangat saat bermain basket tadi membuat ku kagum."
"Tidak di perbolehkan mengikuti pembelajaran olahraga? Apa-apaan itu! Kamu itu seorang pria harusnya memiliki fisik yang jauh lebih kuat dari wanita. Kenapa tidak pernah mengikuti pembelajaran olahraga." ucap Jingga seketika menatap remeh pria didepannya.
"Cih, laki-laki ini memiliki tubuh yang tinggi, badan yang bagus, dada yang bidang. Lalu kenapa dia bilang tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga. Bukankah itu hanya omong kosong saja?" Dalam hati Jingga mencibirnya.
"Sepertinya kamu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Tidak masalah aku juga tidak butuh kamu percaya pada ku."
Jingga melototkan matanya. Mulut pria ini cukup tajam juga ya. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya juga.
"Aku duluan. Aku sudah terlalu lama meninggalkan kelas." katanya mulai melangkah mundur.
Kenapa harus berjalan mundur? Namun baru dua langkah dia melangkah pria itu menghentikan langkahnya.
"Nama ku Aksa Diona. Maukah kamu berteman dengan ku?"
"Tidak." tanpa ragu Jingga langsung menolak nya.
"Kenapa begitu mudah menolaknya?" tanya anak remaja itu yang ternyata bernama Aksa Diona.
"Karena tidak mau."
"Tidak masalah aku bisa menunggu mu sampai mau."
"Jangan terlalu berharap. Karena aku disini pasti tidak akan bertahan lama."
"Aku yakin kita pasti berteman. Jadi sampai jumpa teman." ucap Aksa tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum berbalik dan pergi dari sana kembali ke kelasnya.
"Aku tidak menyetujuinya dengar tidak!" Teriak Jingga. Tidak peduli apakah teriakkan nya mengganggu kelas-kelas yang dekat lorong itu atau tidak.
"Dasar pria aneh." monolog Jingga kemudian pergi dari sana ke lantai 2 dimana kelasnya berada.
*****
Bersambung...
Typo bertebaran...
__ADS_1
Salam Lyflower