
"Apanya yang tidak adil?"
Suara ini... Jingga mengenyitkan dahinya namun masih enggan membuka matanya. Kenapa suaranya terasa tidak asing di telinganya? Maka dengan segera Jingga membuka matanya melihat siapa yang sudah berbicara.
"Kamu lagi." ucap Jingga malas. Ternyata orang itu adalah Aksa. Kenapa harus bertemu dengan dia lagi, apalagi di situasi seperti ini. "Kamu seorang penguntit ya?"
"Bukan."
"Terus kenapa kita selalu bertemu? Oh jangan-jangan kamu mengikuti ku." Jingga menutup mulutnya sendiri. Bahkan mata gadis itu membulat karena tak menyangka.
Reaksinya begitu berlebihan, tapi Aksa menyukainya. Jingga terlihat lucu sekarang.
"Aku tidak mengikuti mu. Hanya saja aku tidak sengaja melihat mu duduk di sini sendirian. Awalnya aku kira aku hanya salah lihat tapi setelah aku mendekat ternyata itu beneran kamu." ucap Aksa.
"Bohong! Aku tidak percaya."
"Kenapa kamu selalu mengatakan itu jika bertemu dengan ku? Kamu selalu mencurigai ku seolah aku ini seorang pembohong." ucap Aksa terlihat kecewa.
"Jangan melihat ku dengan tatapan seolah aku ini orang jahat!" ucap Jingga.
"Tapi aku tidak bilang kamu orang jahat."
"Memang benar kamu tidak bilang. Tapi tatapan mu yang mengatakannya, bodoh." ucap Jingga mulai ketus. Berbicara dengan pria ini cukup memancing emosi juga. Akan selalu ada jawaban yang hampir membuat Jingga tidak bisa menimpali nya.
"Sudahlah aku pergi duluan." ucap Jingga bangun dari duduknya dan kembali menenteng skeatboard nya. Aksa hanya terdiam menatap kepergian Jingga yang sudah menjauh dari taman dan bergabung dengan orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan.
"Sampai jumpa." monolog Aksa. Meskipun dia tahu tidak akan ada balasan dari gadis itu. Tetapi Aksa tetap akan menunggu Jingga mau berteman dengannya.
"Ayo pulang pak." ucap Aksa kembali masuk kedalam mobilnya.
"Baik mas."
Mobil sedan berwarna hitam itupun pergi melaju dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Aksa terus melihat pedestarian yang bergerak dengan cepat dari balik kaca mobil.
Setibanya di rumah Aksa segera keluar dari mobil masuk ke dalam rumah dengan membawa dua kantong keresek berisi kebutuhan sekolahnya.
"Kenapa lama sekali pergi membeli alat tulis yang kamu butuhkan?" seorang wanita berusia sekitar 32 tahun itu menghampiri Aksa yang baru saja masuk rumah. Beliau adalah Bunda Aksa.
"Tadi sempat mampir ke taman dulu, Bun." jawab Aksa.
Diana (nama bunda Aksa) mengangguk dan mengusuk surai milik putranya sayang. Meskipun Aksa lebih tinggi darinya, Diana masih bisa mengelus rambut putranya itu dengan sedikit berjinjit.
"Tidak apa. Sekarang masuk kamar bersih-bersih lalu turun ke bawah lagi untuk makan. Bunda sudah menyiapkannya." titah Diana pada putra semata wayangnya.
Aksa mengangguk lalu pergi ke lantai atas dimana kamarnya berada. Di setiap langkahnya menuju kamar Aksa terus teringat dengan Jingga. Tentang kenapa gadis itu ketika di taman dan terpejam, wajah nya terlihat sangat sedih. Apakah Jingga sedang bersedih maka dari itu dia berada di taman untuk menenangkan diri.
Aksa tidak bisa bertanya mengenai hal itu, karena hubungan mereka bahkan belum sampai ke pertemanan. Saat ini mereka masih orang asing yang saling mengenal saja. Aksa juga tidak bisa memaksa Jingga untuk menjadi temannya. Atau ia yang terus mendekati Jingga hingga membuat gadis itu risih.
Aksa tidak mau itu!
Biarlah mereka mengikuti alur yang akan kemana membawa hubungan mereka ini. Aksa sangat berharap ia bisa berteman dengan Jingga. Gadis itu menurutnya cukup spesial.
Diana yang sedari tadi memperhatikan putranya menaiki tangga sempat bingung. Putranya itu melamun di sepanjang jalannya menuju kamar. Dalam hati Diana bertanya 'Apa yang sedang di pikirkan Aksa?'
Bahkan sampai makan malam tiba pun anaknya ini makan sambil terus diam. Seolah ada suatu hal yang sangat membebani pikiran nya. Ini tidak seperti biasanya, Aksa diam seperti ini. Biasanya Aksa akan banyak bicara mengenai sekolahnya. Kali ini anak itu benar-benar diam.
"Ayah belum pulang Bun?"
__ADS_1
Diana terperanjat ketika Aksa bertanya. Aksa baru sadar kah bahwa ayahnya belum pulang? Benar-benar ada hal yang sedang di pikirkan anak itu.
"Ayah masih di rumah sakit. Masih mengurusi pasiennya." ucap Diana.
Berprofesi sebagai dokter Alan suami Diana ayah dari Aksa itu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Meskipun begitu, Alan masih terus meluangkan waktu untuk keluarganya. Terlebih pada putranya, Alan selalu berusaha untuk menjaga putranya dengan baik.
"Aku kira sudah pulang." ucap Aksa menaruh sendok dan garpu nya di piring.
"Ada apa? Kenapa berhenti makan." tanya Diana. Makanan Aksa belum habis tapi kenapa dia berhenti makan. "Apakah masakan bunda tidak enak?"
Aksa menggeleng. "Masakan bunda selalu enak. Tapi aku sudah kenyang."
"Sudah kenyang. Tapi kamu baru makan sedikit."
Aksa tersenyum menatap wajah ibunya yang terlihat heran. "Aku sudah selesai makan. Aku duluan. Selamat malam Bun." ucap Aksa sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan bundanya di ruang makan.
"Bi Isah." seru Diana memanggil art nya ketika Aksa sudah benar-benar tak terlihat lagi.
"Iya, nyonya?" tanya bi Isah.
"Panggil ilman untuk menghadap saya." perintah Diana.
"Baik nyonya." Bi Isah pun pergi memanggil Ilman supir yang selalu mengantar jemput Aksa.
"Ada yang tidak beres dengan Aksa. Sampai-sampai anak itu hanya makan sedikit." gumam Diana memikirkan Aksa yang menurutnya aneh setelah pulang membeli alat sekolah.
...*****...
Malam semakin larut Jingga masih enggan untuk kembali ke rumah. Tidak tahu bahwa Sandara sangat menghawatirkan nya sekarang. Apalagi gadis remaja itu tidak membawa ponsel nya malah meninggalkan benda itu di dalam kamar.
Jingga bukan tidak ingin pulang hanya saja iya masih butuh waktu untuk sendirian tanpa di ganggu oleh siapapun. Yang bisa Jingga lakukan hanyalah berjalan-jalan di malam hari sampai dirinya berkeinginan pulang.
Di sana sepi karena malam yang larut orang-orang sudah kembali ke rumah. Maka tidak mau suatu hal terjadi di depan matanya. Jingga segera berlari kearah sana untuk manarik orang tersebut menepi kembali.
"Pak Awas!" Pekik Jingga dari arah kiri menarik pria dewasa itu agar menepi kembali.
"Aduh." ringis Jingga yang kehilangan keseimbangan setelah menarik orang itu. Dan akhirnya Jingga terjatuh ke aspal.
"Astaga nak. Maaf, saya tidak memperhatikan jalan tadi. Kamu nggak apa-apa kan?" ucap pria itu menyadari bahwa dirinya hampir saja keserempet jika saja gadis remaja itu tidak menariknya.
"Nggak apa-apa, pak. Bapak nggak kenapa-kenapa juga kan?" ucap Jingga berdiri kembali dengan dibantu oleh pria itu.
"Saya nggak pa-pa. Makasih ya udah nolangin saya. Hampir aja saya keserempet karena tidak memperhatikan jalan."
"Sama-sama pak." Jingga sedikit meringis ketika merasakan perih di lengannya. Sepertinya lengannya terluka akibat tergores aspal.
"Kayaknya kamu luka deh. Coba saya lihat dulu tangan kamu."
Benar saja saat di lihat tangan sebelah kanan Jingga bagian lengan mengeluarkan darah akibat luka goresan tadi saat terjatuh.
"Kamu luka. Ayo ikut saya ke sana, untuk mengobati luka kamu."
"Eh... nggak usah pak. Luka kecil doang nanti biar saya sendiri aja."
"Nggak bisa gitu! Kamu luka kayak gini kan karena saya. Luka nya emang kecil tapi kalau dibiarin terlalu lama bisa infeksi." ucap pria paruh baya itu.
Jingga jelas kalah telak dengan perkataan si bapak itu. Maka Jingga hanya bisa pasrah mengikuti bapak itu yang pergi mengarah ke mobilnya terparkir.
__ADS_1
Jingga duduk di tepian jalan menunggu bapak-bapak tadi sedang mengambil kotak P3K nya yang ada di dalam mobil.
"Tahan sebentar ya, ini agak perih." ucap bapak itu ketika akan memberi alkohol pada lukanya.
"Iya."
Dengan telaten bapak itu mengobati luka Jingga. Kalau di perhatikan dengan teliti kenapa Jingga merasa bahwa wajah orang ini mirip dengan seseorang yang akhir-akhir ini selalu muncul di depannya.
"Nah selesai."
Jingga melihat bagaimana hasil bebatan luka yang sudah di obati semuanya terlihat rapih. Sepertinya orang ini cukup mahir dalam hal mengobati seperti ini.
"Keren banget! Bebatan nya rapih. Persis kayak perawat atau dokter." dengan polos Jingga berkomentar.
"Oh kebetulan saya memang seorang dokter."
Jingga membulatkan matanya. Pantas saja rapih. Toh! orang itu berprofesi sebagai dokter.
"Bapak seorang dokter. Wah keren-keren.."
"Kayaknya saya udah kelihatan tua ya? Sampai-sampai di panggil bapak. Eh, tapi saya emang udah tua, sih, udah punya isteri sama anak satu."
"Oh nggak kok, bapak nggak tua-tua amat. Kalau gitu gimana kalau saya panggilnya itu 'paman dokter'? " celetuk Jingga. Orang itu memang tidak terlihat tua malah terlihat muda dan gagah, padahal katanya sudah punya istri dan satu anak.
"Terserah kamu aja."
"Siap paman dokter."
"Oh ya kenapa anak gadis seperti kamu jam segini masih di luar?" tanya paman dokter sambil membereskan alat-alat yang telah digunakannya untuk mengobati luka Jingga.
"Oh itu paman, saya masih ingin menikmati suasana malam. Bosen di rumah terus." alibi Jingga. Tidak mungkinkan dia berkata jujur pad orang asing bahwa dia tidak pulang ke rumah karena bertengkar dengan mama nya.
"Cepatlah kembali ke rumah mu. Pasti ibu mu sedang mengkhawatirkan mu di rumah. Jangan terlalu lama di luar nggak baik. Apalagi kamu itu perempuan." ucap paman dokter menasehati Jingga.
Apa yang di katakan paman dokter memang benar-benar. Terlalu bahaya untuk gadis seumurannya masih di luar ketika malam sudah larut. Apakah Jingga harus pulang?
Setelah memikirkannya sebentar Jingga mengehela nafasnya dan mengangguk.
"Iya paman bentar lagi aku pulang." ucap Jingga tersenyum simpul.
"Seperti itu lebih baik. Mau saya antar?"
"Nggak usah paman. Saya bisa pulang sendiri." ucap Jingga menolak. Dia sangat sungkan terlebih Jingga adalah orang yang tidak pernah ingin merepotkan orang lain.
"Kamu yakin?"
"Yakin paman."
"Ya sudah kalau gitu saya duluan. Kamu hati-hati di jalan. Sekali lagi terimakasih karena sudah menolong saya." ucap paman dokter kembali mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih kembali, paman." balas Jingga sedikit membungkuk sebagai tanda terimakasih karena telah mengobati lukanya.
Paman dokter mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya. Sedikit membuka kaca mobilnya dan mengucapakan sampai jumpa pada Jingga. Setelahnya mobil sedan berwarna putih itupun telah pergi.
Jingga menatap lukanya lalu beralih menatap langit yang hanya ada bulan saja di sana. Malam ini bulan bersinar sendirian tidak ada bintang yang menemani. Sama seperti dirinya saat ini. Sendirian dan tidak ada yang menemani.
"Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja."
__ADS_1
*****
Bersambung...