
Hari sudah berganti saja, rasanya Jingga baru saja memejamkan matanya. Jingga meraih alarm yang ada di meja nakas nya dan melihat sekarang ini sudah jam berapa.
"What the hell?!" pekik nya langsung terduduk ketika melihat jam alarm nya sudah menunjukkan pukul 9:00.
Bukankah ini artinya sekolah sudah di mulai sejak satu jam lalu. Dia kesiangan. Kenapa tidak ada yang membangunkannya? Ah, Jingga lupa, dia kan sendirian di rumah. Mama pasti tidak pulang karena lembur dikantornya. Di rumahnya juga tidak ada art, semalam saja Jingga baru pulang saat pukul 23:15.
Tidak ada yang memarahinya dan juga tidak ada yang memperhatikannya. Ah betapa bebasnya hidupnya ini.
Jingga segera memanjat pagar belakang sekolah. Persetan dengan dirinya yang sudah terlambat tapi dia tetap harus datang ke sekolah. Ia malas berada di rumah, lebih baik ke sini mencari makanan yang bisa membuat perutnya kenyang.
"Bukankah sangat dilarang untuk seorang murid yang terlambat datang ke sini dengan cara seperti ini."
Baru saja Jingga menapakkan kakinya ke tanah setelah tadi memanjat pagar dan lompat ke bawah. Dia sudah kena tegur oleh pak satpam sekolah.
"****, ternyata ada satpam yang berpatroli." umpatnya dalam hati. Jingga sekarang menyadari bahwa ternyata mama nya menyekolahkannya di sekolah elit dimana sekolah tersebut memiliki aturan serta pengawasan yang ketat.
"Saya tahu, kok, pak. Tapi saya tidak mungkin lewat depan. Bukankah jika saya lewat depan, bapak pasti tidak akan membukakan gerbangnya untuk saya?" ucap Jingga.
"Jika kamu tahu kenapa masih datang terlambat?"
Jingga merotasikan matanya. Cerewet sekali pak satpam ini. Tidak tahukah dirinya ini sedang lapar ingin makan di kantin.
"Begini saja bagaimana jika hari ini bapak membiarkan saya masuk. Saya sudah lapar ingin pergi ke kantin."
Pak satpam melihat Jingga dari atas hingga bawah. Dan itu membuat Jingga mendengus. Kenapa setiap orang yang bertemu dengannya selalu melihat penampilannya terlebih dahulu, apakah itu penting untuk mereka lihat?
"Bukankah kamu murid baru yang kemarin masuk ke sekolah ini ya?" ucap Pak satpam setelah melihat-lihat Jingga.
Jingga mengangguk dua kali.
"Baiklah kali ini kamu saya biarkan masuk. Saya akan memakluminya karena kamu adalah murid baru yang belum paham betul tentang aturan sekolah ini." pungkas pak satpam.
Kenapa tidak dari tadi saja pak satpam membiarkannya lolos. Rasanya Jingga ingin sekali mencibirnya namun ia urungkan bagaimanapun juga dia sudah membiarkannya lolos kali ini.
Dengan langkah yang begitu santai seolah tidak ada beban. Jingga menyusuri koridor lantai satu yang menuju kantin. Setibanya di kantin Jingga melihat ada seorang anak laki-laki seusianya yang kemarin mengajaknya berteman namun ia tolak.
"Kenapa harus bertemu dia lagi?" batinnya.
Bersikap bodo amat, Jingga duduk di bangku samping pemuda itu setelah tadi memesan satu porsi mie ayam dan segelas es teh manis.
"Wah tidak di sangka. Kamu ini orang nya nakal juga ya." ucap Jingga membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya. Kalau Jingga tidak salah ingat laki-laki ini bernama Aksa.
"Kamu..." Aksa menatap Jingga dengan ekspresi wajah terkejut. "Kenapa ada di sini?"
"Tentu saja sama seperti mu membolos pelajaran dan pergi makan ke sini." dengan santai Jingga menjawab.
"Aku tidak membolos pelajaran." Aksa melarat.
"Wah, sudah begini saja masih bilang tidak membolos. Hei, apakah kamu pikir aku ini anak kecil yang bisa kamu bodohi?!" cibir Jingga.
"Aku memang sedang tidak membolos. Aku di sini sudah izin terlebih dahulu pada guru. Perut ku sakit karena aku melupakan sarapan ku." ucap Aksa menjelaskan kenapa dia ada di kantin di saat jam pelajaran.
"Benarkah? Kok aku tidak percaya, ya?" ucap Jingga menatap curiga Aksa.
"Kalau kamu tidak percaya ya sudah. Lalu kenapa kamu ada di sini?" ucap Aksa balik bertanya. "Kamu membolos?"
"Anggap saja begitu" katanya lalu menyuap mie ayamnya yang sudah di hidangkan.
"Kenapa membolos?"
__ADS_1
"Terserah ku lah."
"Kamu tidak takut di hukum karena membolos?"
Mendengar itu seketika Jingga ingin tertawa keras. Jika saja di mulutnya sedang tidak ada makanan mungkin ia sudah tertawa.
"Untuk apa takut? Bukankah aturan di buat untuk di langgar." ucap Jingga setelah menelan makanannya.
Meskipun ada pepatah yang mengatakan hal seperti itu. Tapi itu tidak harus di lakukan juga bukan di kehidupan nyata? Kenapa gadis ini malah melakukannya.
"Kamu aneh."
Jingga kembali terkekeh. "Sudah tahu aku aneh. Jadi... jangan berteman dengan ku."
"Tapi aku malah tambah ingin berteman dengan mu."
"Sayangnya aku yang tidak ingin."
"Tidak masalah aku bisa menunggu mu sampai mau berteman dengan ku."
"Itu tidak akan terjadi. Baik sekarang maupun nanti."
"Aku ini selalu berpikir optimis. Jadi aku yakin bahwa pasti kita akan berteman nanti."
Jingga meneguk teh manis nya hingga tanda. Lalu menatap serius laki-laki di depannya ini. Sungguh percaya diri sekali orang ini. Batinnya.
"Baiklah itu terserah mu." ucap Jingga lalu berdiri berniat untuk pergi dari kantin karena dia sudah selesai makan.
"Oh ya, kelihatannya kamu anak teladan. Perkataan ku sebelumnya jangan kamu ikuti juga. Ingat itu anak teladan!" ucap Jingga sempat memperingati Aksa untuk tidak mengikuti kelakuannya.
Aksa mengangguk. Tanpa di peringati juga Aksa tidak akan melakukannya. Aksa tahu yang dimaksud Jingga itu adalah 'Aturan dibuat untuk dilanggar.' Tentu saja Aksa tidak akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri.
"Bagus." ucap Jingga menepuk pelan bahu Aksa membuat pria itu terhenyak untuk sesaat.
"Tentu aku akan mengingatnya." gumam Aksa ketika Jingga sudah tidak ada lagi di kantin.
"Jingga Sky. Langit Jingga. Nama yang bagus dan unik." monolognya lalu ikut pergi meninggalkan kantin untuk kembali mengikuti jam pelajaran selanjutnya.
...*****...
Pukul 16:45 Jingga sudah sampai di rumah. Hari ini Jingga hanya mengikuti 2 mata pelajaran saja di sekolah, selebihnya ia membolos tidak peduli dengan jam kelas. Dan ketika semua murid sudah bubar barulah Jingga kembali lagi ke sekolah untuk mengambil tas nya yang sempat di tinggal.
"Jingga!"
Jingga yang sudah akan masuk ke dalam kamarnya seketika tidak jadi karena ia mendengar suara yang sangat ia kenali memanggil namanya dengan nada penuh penekan.
Suara itu milik Sandara (Mama Jingga)
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang?" Mama bertanya dengan bersedekap dada.
"Sekolah." jawab Jingga singkat.
"Bohong! Mama dapat laporan dari wali kelas kamu. Beliau bilang kamu hanya mengikuti dua mata pelajaran saja. Jam ke satu, ke dua, dan ke lima, enam, kamu tidak ada. Kamu kemana aja?" tanya Sandara dengan nada tegas menatap putrinya dengan pandangan marah.
Dan Jingga benci tatapan itu!
"Mama sudah tahu aku membolos jadi kenapa bertanya lagi aku pergi kemana?" ucap Jingga balik menatap datar mama nya.
"Jingga!"
__ADS_1
"Apa?!" sahut Jingga ikut meninggikan suaranya.
"Kamu..." Rasanya sangat sulit untuk Sandara melanjutkan kalimatnya lagi. Melihat putrinya yang sama sekali tidak ada gentarnya menghadapinya setiap kali dia marah padanya.
"Mama tanya sekali lagi, kamu pergi bolos kemana?" ucap Sandara kembali tenang. Sandara tidak ingin memperkeruh suasana.
"Main billiar. Mama puas?" ucap Jingga masih dengan tatapan datarnya. Lalu masuk ke dalam kamar begitu saja, menutup pintunya dengan keras hingga berdentum membuat Sandara terperanjat.
"Jingga! Mama belum selesai bicara!" ucap Sandara mencoba untuk tetap tenang.
"Tapi aku sudah selesai. Jangan ganggu aku. Mama pergi saja lanjutkan perkejaan mu jangan mengurusi ku." Teriak Jingga dalam kamarnya.
Jingga tidak menyangka bahwa Mama nya akan ada di rumah sore ini. Dia pikir Mama nya tidak akan pulang lagi. Kalau tahu begini, harusnya dia tidak usah pulang saja tadi.
"Jingga..."
"Aku tidak ingin di ganggu!" Teriak Jingga sekali lagi.
Sandara menghela nafasnya nya lagi dan lagi. Tangan kanannya memijat pelipisnya ketika merasakan pusing di kepalanya. Lagi-lagi Jingga bersikap semaunya. Dan sekarang hubungan nya dengan putrinya kembali memanas.
"Kamu belum makan. Turun lah ke bawah untuk makan. Di meja makan sudah ada makanan. Kamu tinggal memakannya saja." ucap Sandara, namun tidak di jawab oleh Jingga.
Sandara tidak bisa menyalahkan Jingga sepenuhnya ini juga salahnya karena tidak terlalu memperhatikan putrinya ini.
Dengan perasaan kecewa dan marah pada dirinya sendiri karena tidak becus mengurusi putrinya. Sandara pergi ke kamarnya yang berada di lantai bawah.
"Selalu saja begitu."gerutu Jingga membenamkan wajahnya di kasur.
"Kalau kayak gini mending aku nggak usah pulang aja tadi." katanya masih dengan wajah di tekuk.
"Cih, hari yang menyebalkan!" pekiknya pelan.
Setelah menggerutu sendiri, Jingga bangun dari posisi tengkurap nya untuk bergegas mandi. Kali ini Jingga berencana untuk pergi ke luar. Pergi ke manapun asalkan membuat hatinya tenang dan senang.
Selepas mandi dan bersiap Jingga keluar dari kamarnya dengan membawa skeatboard nya lagi. Sepertinya kembali berjalan-jalan dengan skeatboard pada sore menjalang malam akan mengasyikan.
Namun ketika sudah sampai di anak tangga yang terakhir, suara mama kembali menginterupsinya. Menoleh ke kanan, Jingga menemukan mama yang sedang duduk di meja makan.
"Mau kemana udah mau malam gini? Sini makan dulu." ucap Mama meminta Jingga untuk duduk dan makan bersama nya. Sandara sepenuhnya melupakan kejadian tadi diantara mereka.
"Pergi kemanapun asalkan membuat ku happy." ucap Jingga melengos begitu saja tanpa menoleh ke belakang lagi meskipun Sandara memanggil-manggil namanya.
Jingga mengendalikan skeatboard nya dengan lihai. Membawanya untuk terus berjalan melewati jalanan kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Lampu jalan satu persatu menyala karena hari sudah mulai menggelap.
Jingga menghentikan skeatboard nya di tepi jalan dekat taman. Di tenteng skeatboard tersebut lalu ia pergi memasuki taman yang perlahan mulai sepi pengunjung.
"Ah, sudah lama sekali aku tidak pergi ke taman." katanya mendudukkan diri di salah satu bangku taman.
"Tenang sekali di sini."
Jingga memejamkan matanya ketika merasakan hembusan angin membelai kulitnya. Sejuk namun menenangkan. Jingga suka bagaimana angin menyapa nya.
Di saat-saat seperti ini Jingga merasa semua hal yang terjadi hari ini perlahan-lahan berangsur ia lupakan. Namun tidak untuk kejadian dimana ia dan mama bertengkar lagi.
Jingga tahu kalau apa yang dia lakukan itu suatu hal kesalahan. Tapi jika ia bilang bahwa dirinya lelah dengan semua hal apakah mama akan mengerti. Yang Jingga inginkan sebenarnya bukan ini. Tapi semuanya sudah terlanjur seperti ini. Kekacauan dimasa lalu membuat hidupnya menjadi tak terarah seperti ini.
"Kenapa semuanya terkesan tidak adil." monolog Jingga masih dengan mata terpejam.
"Apanya yang tidak adil?"
__ADS_1
.....
Bersambung...