
Jingga menatap papan tulis yang penuh dengan tulisan rumus kimia dengan tatapan malas. Melihat banyak rumus seperti itu seketika membuat matanya sakit dan kepalanya pusing.
Belum lagi pak Dinar yang terus mondar mandir mengecek murid di kelasnya apakah mereka mengerjakan tugasnya atau tidak. Dan itu membuat Jingga tambah tertekan.
"Situasi macam apa ini!" gerutunya dalam hati.
Jingga sama sekali tidak berniat untuk sekolah hari ini. Tapi tadi pagi mama masih ada di rumah belum pergi kerja. Mungkin mama takut Jingga tidak pergi ke sekolah lagi.
"Jingga! Kerjakan tugasnya! Kamu jangan melamun di saat pembelajaran berlangsung!" tiba-tiba saja pak Dinar berada di samping dan langsung menegurnya.
"Pak saya melamun begini karena saya sedang memikirkan tugas-tugas yang bapak berikan hari ini." ucap Jingga. Tentunya itu hanya alibinya saja.
"Benarkah? Apakah tugas yang saya berikan sesulit itu sampai kamu memikirkannya?"
"Sangat sulit, sampai-sampai rasanya saya ingin pingsan." ucap Jingga berlebihan.
"Tapi saya melihat murid yang lainnya fine fine aja tuh. Hanya kamu saja yang terlalu memikirkannya."
Jingga menatap malas orang-orang yang ada di kelasnya. Itu kan mereka si paling pintar. Jingga cukup sadar diri saja bahwa kapasitas otaknya itu rendah.
"Sudahlah kamu lanjut kerjakan tugas nya." ucap Pak Dinar kembali berjalan melihat-lihat muridnya.
Sementara Jingga hanya pasrah melanjutkan catatannya meksipun minatnya kurang setidaknya dia sudah patuh kali ini dan tidak membuat onar.
Tapi Jingga tidak bisa menjanjikan bahwa dia akan benar-benar patuh hari ini. Siapa tahu dia kembali khilaf dan kabur lagi dari sekolah.
Untuk saat ini biarlah dia menjadi anak yang patuh dulu. Bahkan ketika istirahat pertama pun Jingga masih berada di sekolah. Itu artinya dia sudah mengikuti 4 mata pelajaran hari ini. Ya walaupun dengan minat yang sedikit.
Sekarang gadis bersurai merah itu terlihat berjalan ke arah ruang musik. Saat pertama menginjakkan kaki di sekolah ini. Hal yang membuatnya tertarik hanya ruang musik itu saja. Dan di sana juga dia bertemu dengan cowok bernama Aksa Diona.
Kali ini Jingga sedang penasaran apakah cowok itu kembali bermain piano atau tidak. Ditambah lagi sejauh ini Jingga tidak menemukan eksistensi cowok itu berkeliaran di sekolah ini.
"Apa dia nggak masuk sekolah ya hari ini?" katanya sudah berada di dalam ruang musik. Di sana sepi tidak ada siapapun. Sepertinya anak-anak kesenian juga jarang berkunjung jika di hari biasa kecuali di hari libur, mungkin.
"Eh... Kenapa jadi kepikiran dia." monolog Jingga tersadar bahwa ia baru saja memikirkan Aksa.
"Sadar Jingga sadar! Dia bukan siapa-siapa, dan itu nggak penting buat kamu. Mau dia sekolah atau nggak ya itu urusan dia." ucap Jingga menyadarkan diri sendiri.
"Hah! Kalau udah gini kan jadi bosen enak nya ngapain ya." Jingga mengetukkan telunjuk nya di dagu. Mencoba berpikir kira-kira apa yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan rasa bosannya itu. Tidak mungkin juga Jingga melarikan diri dari sekolah. Yang ada mama kembali memarahinya.
Jingga malas mendengar ocehan mama.
"Dulu papa sering ajarin aku main piano waktu aku masih kecil." Jingga menatap piano berwarna putih.
Melihat itu seketika Jingga menjadi ingat tentang masa lalu. Dimana papa nya mengajarinya bermain piano. Dengan perasaan getir, Jingga duduk di bangku depan piano.
Tangannya mulai terangkat untuk menekan tuts tuts piano tersebut menjadi sebuah alunan melodi. Entahlah apakah Jingga masih bisa bermain alat musik itu atau sudah lupa. Yang jelas Jingga ingat satu lagu bernada minor yang pernah di ajari oleh papa ketika ia masih berusia 9 tahun.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti tangan Jingga mulai menekan tuts piano dari nada ke nada. Seiring dengan permainan pianonya, Jingga terbayang masa lalu.
Entah bagaimana ceritanya dia bisa melihat masa kecilnya dulu berputar-putar seolah film yang sedang di putar.
Dalam ingatan itu, Jingga melihat dirinya yang masih kecil sedang tersenyum penuh dengan kebahagiaan menatap papa yang berada di sampingnya.
"Papa!" Bahkan Jingga dapat mendengar suaranya dulu memanggil papa dengan riang.
"Papa, permainan piano ini seru tapi Jingga kesulitan menekan tuts nya."
Kala itu papa tertawa mendengar keluhan Jingga yang kesulitan menekan tuts pianonya untuk berganti-ganti nada.
"Sky, sayang. Itu karena kamu baru mempelajarinya. Maka dari itu kamu masih belum bisa memainkannya dengan nyaman."
"Lalu aku harus gimana?"
Jingga kecil bertanya dengan wajah polos nya. Dia harus bagaimana agar bisa bermain piano dengan nyaman.
"Nanti, Sky harus belajar lagi yang rajin oke? Biar lancar main nya."
"Oke siap papa."
Dan ketika dirinya berkedip semua gambaran itu menghilang begitu saja, berganti gambaran dimana semuanya berubah.
Dulu ketika masih kecil, Jingga cukup dekat dengan kedua orang tuanya. Terutama papa.. Papa hampir setiap hari menemani di rumah. Untuk mama. Bisakah Jingga menyampingkan kisah mama dulu?
Tapi hati Jingga terlanjur merasakan sakit.
"Papa, Jingga sekarang udah bisa main piano. Tapi kenapa hati Jingga sakit ketika memainkan nya?"
"Papa bilang kalau Jingga sudah lancar bermain pianonya. Jingga akan memainkan itu dengan nyaman. Tapi yang Jingga rasakan malah kesedihan."
Jingga menundukkan kepalanya.
"Aku merindukan kalian semua." monolognya dengan terpejam. Berharap semua ingatan itu berhenti berputar dalam pikirannya.
...*****...
Sesuai perkataan kakek pemilik toko barang antik. Jingga pergi ke sana lagi untuk mengambil kameranya yang mungkin sudah selesai di perbaiki.
Dengan langkah yang ringan Jingga memasuki toko tersebut. Dapat di lihat bahwa kakek itu sedang membersihkan barang-barang antik nya yang sedikit berdebu dengan kemoceng.
"Selamat sore, Kek." Jingga menyapa sang kakek. Mendengar ada yang menyapa kakek tua pun melihat ke arahnya.
"Selamat sore, anak muda." sahut kakek lalu berjalan ke arah kasir nya.
"Kamu ingin mengambil kamera mu kan. Kakek sudah selesai memperbaikinya. Tunggu sebentar ya kakek ambil kameranya dulu." sambung sang kakek lalu berjalan masuk entah kemana. Mungkin pergi ke ruangannya.
__ADS_1
Sementara Jingga mendudukkan dirinya di bangku depan kasir menunggu kakek pemilik toko mengambil kameranya yang sudah di perbaiki. Bagus lah untung kameranya masih bisa di perbaiki.
"Ini kamera kamu. Coba kamu lihat dulu hasil perbaikannya, anak muda." kakek tua sudah kembali dan menyerahkan kamera milik Jingga.
Jingga mengecek kameranya yang sudah diperbaiki itu dengan senyum yang mengembang. "Sebentar saya coba dulu, kek." ucap Jingga berjalan keluar dari toko dan berdiri di depan toko tersebut. Jingga mulai memposisikan kameranya untuk memotret sesuatu yang menarik untuk ia potret di area luar toko.
"Wow, lensanya bagus kek. Jernih dan tajam. Hasil potret saya juga menjadi lebih bagus." ucap Jingga kembali berderap ke dalam toko. Jingga sangat puas ketika ia berhasil mengambil potret jalanan depan toko antik itu. Dan gambarnya begitu indah.
"Kakek hebat. Saya puas dengan hasilnya." Sekali lagi Jingga tersenyum dengan puas. Kamera nya sekarang sudah di perbaiki dan hasil potretannya juga lebih bagus dari sebelumnya. Tidak sia-sia dia datang ke toko ini tempo lalu untuk memperbaiki kameranya.
"Baguslah jika kamu puas dengan hasil kerja saya. Anak muda jagalah baik-baik kamera mu oke?" ucap sang kakek ikut senang jika ada orang yang senang dengan hasil kerjanya.
"Tentu! Saya akan menjaga baik-baik kamera saya ini. Hehehe sekali lagi terimakasih telah memperbaiki kamera saya ini." ucap Jingga tertawa kecil. Gadis itu terlihat sangat bahagia sore ini.
"Sama-sama anak muda."
"Eumm, kakek selalu memanggil saya anak muda. Nama saya Jingga. Kakek panggil saya Jingga saja mulai sekarang."
"Baiklah saya akan memanggil kamu, Jingga."
"Hah bagus seperti itu. Saya tahu saya ini masih muda tapi aslinya saya sudah dewasa." ucap Jingga yang ternyata sedikit tidak suka di sebut anak muda. Bagi Jingga , dirinya ini udah sudah besar dan dewasa. Hmm lebih tepatnya berumur ya meksipun masih berusia 18 tahun Jingga sudah menganggap dirinya seperti orang-orang dewasa lainnya.
Mendengar Jingga berkata demikian membuat kakek tertawa hingga menampilkan gigi nya yang sudah ompong di beberapa bagian. Dan itu membuat Jingga bingung.
"Kenapa kakek tertawa? Apakah ada yang lucu?"
"Hahah. Kamu ini sangat lucu, nak."
"Hah?"
"Kamu berkata bahwa kamu sudah dewasa? Coba lihat kelakukan mu." ucap Kakek. Dia tergugu ketika Jingga berkata bahwa ia itu sudah dewasa. Tapi tingkah gadis itu masih lah ke kanak-kanak.
"Kamu memang sudah besar tapi pikiran mu masih kekanak-kanakan." Kakek tidak bermaksud menyindir atau berkata tidak baik terhadap Jingga. Hanya saja kelakuan anak itu cukup membuat nya tertegun.
"Kenapa ucapan kakek sama seperti orang tua ku? Mereka juga bilang begitu. Katanya aku ini masih kekanak-kanakan."
Apakah benar ya dirinya ini masih kekanak-kanakan?
"Kamu tahu kan. Dewasa itu bukan dilihat dari usia. Melainkan dari pemikiran, tindakan dan tingkah laku." Jingga mengangguk dan kakek tersenyum. "Jadi kakek harap kamu segera menemukan jati diri kamu yang sebenarnya" sambung sang kakek.
Hah...
.
.
.
__ADS_1