Jingga Sky

Jingga Sky
02. I'm Not Okey


__ADS_3

Setelah pulang sekolah Jingga tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke suatu toko bergaya klasik yang sempat ia lihat saat berangkat sekolah tadi.


Kaki jenjangnya langsung memasuki toko. Di sana ada seorang pria tua yang menjaga toko tersebut. Kemungkinan besar kakek itu adalah sang pemilik toko.


"Permisi Kek. Apakah kakek bisa membetulkan kamera?" ucap Jingga berdiri di depan kasir.


Tujuan Jingga datang ke toko barang antik ini untuk memperbaiki kameranya yang sudah mulai rusak. Lensanya perlu diganti agar hasil tangkapan fotonya terlihat bagus dan jelas.


"Coba kakek lihat dulu kameranya." pinta kakek pemilik toko.


Jingga mengambil kamera dalam tasnya dan segera menyerahkannya pada kakek tersebut untuk dilihat apakah masih bisa diperbaiki atau tidak. Karena selain lensanya, kamera milik nya juga sudah usang. Maklum itu adalah kamera berbentuk kotak versi lama hadiah ulang tahun dari papa beberapa tahun silam.


"Anak muda, kamera milik mu seperti sudah lama tidak dipakai ya? Terlihat di beberapa bagian ada yang sudah berkarat. Kamera ini juga kamera versi lama. Apakah kamu tidak berniat menjualnya?" tanya Kakek itu sambil melihat-lihat kamera milik Jingga.


"Iya saya sudah lama tidak memakainya. Tapi sekarang saya ingin memakai nya kembali. Maaf kek tapi saya tidak berniat menjual kamera itu. Jadi apakah masih bisa di perbaiki atau tidak, kek?"


"Masih bisa diperbaiki. Tapi tidak bisa selesai hari ini. Karena di lihat dari versi kamera ini dan kerusakan juga cukup banyak. Mungkin dua atau tiga hari kemera ini selesai diperbaiki." jelas kakek pemilik toko itu dengan rinci.


"Ah begitu ya? Baiklah tidak masalah. Nanti saya akan kembali lagi ke sini dua hari lagi untuk mengambil kameranya." ucap Jingga. "Dan ini untuk uang muka perbaikan nya." sambung nya memberikan beberapa lembar uang receh sebagai Depe nya.


"Kalau begitu sampai jumpa nanti, kek." katanya sedikit membungkuk dan melambaikan tangannya kemudian keluar dari toko tersebut.


Sang kakek pemilik toko tersenyum teduh melihat kelakuan Jingga yang begitu ramah. Penampilan anak itu memang tidak begitu baik. Seragam nya di keluarkan sebelah, dasi juga tidak terpasang dengan benar, belum lagi rambut anak itu di beri cat merah yang di padukan hitam dan kuku-kuku nya terlihat panjang dengan warna senada rambut.


Tapi ketika mendengar Jingga berbicara, kakek pemilik toko sangat yakin bahwa anak muda itu sebenernya baik dan sopan entah karena apa anak itu bisa berpenampilan begitu. Seperti kata pepatah jangan melihat buku dari sampulnya. Dan begitulah kakek pemilik toko melihat Jingga di pertemuan pertama mereka.


"Bagaimana mas, apakah kita pulang atau masih ingin pergi ke suatu tempat lagi?"


"Tidak perlu. Kita pulang saja, Bunda pasti sudah menunggu."


"Baik."


Mereka adalah Aksa dan sopirnya. Pulang sekolah tadi Aksa tidak sengaja melihat Jingga yang berjalan kaki sendirian. Niat awal Aksa ingin menawari gadis itu tumpangan, tapi melihat kejadian tadi di sekolah sepertinya dia akan menolaknya. Jadi Aksa memutuskan untuk menyuruh supirnya diam-diam mengikuti kemana Jingga akan pergi.


Tidak di sangka, Jingga pergi ke toko barang antik. Dari kejauhan Aksa melihat interaksi antara Jingga dan pemilik toko itu terlihat baik. Saat Jingga keluar dari toko saja bahwa wajah terlihat ceria seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan balon.


Diam-diam Aksa mengangumi nya. Gadis yang menurutnya tidak biasa telah membuat nya yakin untuk menjadi teman gadis itu. Meskipun tadi sempat di tolak secara gamblang. Aksa yakin pasti mereka akan berteman.


"Mas Aksa, yang perempuan tadi itu pacarnya mas Aksa ya?" ucap pak Ilman (Supir) yang melihat tuan muda nya senyum-senyum sendiri di jok belakang setelah tadi meninggalkan toko.

__ADS_1


"Bukan pacar saya."


"Oh, temen nya mas Aksa?"


"Bukan juga."


"Lah terus siapanya mas Aksa? Saya perhatikan dari tadi mas Aksa cukup memperhatikan gadis itu."


"Dia murid baru di sekolah, pak. Saya sebenarnya ingin berteman dengan dia. Tapi dia menolaknya." ucap Aksa mengingat kejadian dimana gadis itu menolak pertemanan nya dengan mudah.


"Kenapa menolaknya?"


"Saya juga tidak tahu. Saat pertama kali bertemu dengan dia saya sudah sangat ingin mengenal nya lebih jauh." Aksa kembali teringat pertemuan mereka di ruang musik. Saat itu dia sedang bermain piano bernada minor dan tanpa sadar gadis itu diam-diam melihatnya bermain piano.


"Tapi Mas, penampilan gadis itu... " tanya Pak Ilman. Pria paruh baya itu. Awalnya ia mengira bahwa Jingga itu bukan anak sekolahan dimana Aksa sekolah ternyata satu sekolah.


"Saya mengerti. Tapi menurut saya dia adalah gadis yang baik. Penampilannya itu seperti sebuah warna yang mengaburkan warna asli dalam dirinya.


Pak Ilman mengangguk mengerti. Dia juga pernah muda jadi mengerti apa yang sedang tuan muda nya rasakan. Tapi sepertinya Mas Aksa nya itu masih belum tahu perasaan nya sendiri.


...*****...


"Aku pulang." Jingga memasuki rumahnya yang terlihat gelap.


Jingga menyalakan semua lampu dan setiap ruangan pun kembali terang tidak seperti tadi di dera kegelapan. Usai menyalakan lampu, Jingga pergi ke kamarnya. Setibanya di sana ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


"Ah, hari ini sungguh melelahkan." Keluh nya.


Jingga mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memainkannya. Melihat-lihat apa saya yang bisa ia di semua akun sosial media.


"Tidak ada yang menarik." katanya melempar ponselnya ke samping. Semua yang muncul hanya postingan-postingan yang tidak menarik.


Drett~


Ketika akan memejamkan matanya tiba-tiba saja ponselnya berdering bertanda ada yang menelponnya. Menoleh kesamping dan menilik siapa yang sudah menelponnya. Di layar nya tertera nama 'Papa'.. Tahu siapa yang menelponnya adalah papa dengan segera Jingga mengangkatnya.


"Hallo, papa." serunya dengan senyum manisnya di bibir. Mendapat telpon dari Papa adalah yang paling Jingga nantikan.


"Bagaimana kabar mu, My Little Sky nya Papa?"

__ADS_1


"I'm not okey, pap." kata Jingga dengan wajah yang di tekuk.


"Why?"


Jingga menghela nafasnya untuk sesaat sebelum menjawab. "Mama kembali memasukkan ku ke sekolah baru.


"Itu bagus sayang. Itu artinya Mama ingin masa depan kamu baik." Gian selaku orang tuanya juga tentu saja akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mantan istrinya terhadap putri mereka.


"Kalau kalian ingin masa depan ku baik kenapa kalian memilih untuk berpisah?" ucap Jingga dengan kekehan kecil.


Sementara di seberang sana Gian terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab perkataan putri nya kali ini. Dia juga belum bisa menjelaskan alasan kenapa ia memilih untuk berpisah dengan Sandara.


"Papa nggak bisa jawab kan pertanyaan aku kali ini."


"Jingga..."


"It's oke, pah. Aku paham kok." ucap Jingga menyeka air matanya yang sempat menetes tanpa Gian ketahui.


"Aku tutup telponnya, ya pah. Aku capek, aku ingin istirahat. Jingga sayang Papa Gian." kata Jingga segera mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari papa nya.


Sambungan telpon sudah terputus sepihak. Jingga melempar ponselnya untuk menjauh darinya. Mood nya yang sedari tidak baik menjadi semakin buruk. Hatinya sakit mengingat bagaimana keluarga nya tidak lagi utuh.


Mama sibuk berkerja, Papa dan adiknya berada di luar negeri dan Jingga hanya seorang diri seorang. Rasa kesepian kian hari kian bertambah. Dan itu membuat Jingga semakin menutup diri dari orang-orang.


Jingga tidak ingin percaya pada siapa pun lagi jika pada akhirnya orang yang ia percaya pergi meninggalkan nya sendirian.


Bangkit dari tidurnya Jingga berjalan ke arah meja rias nya. Ditatapnya pantulan diri di cermin. Menyedihkan. Satu kata yang mampu Jingga lontarkan. Dirinya ini memang menyedihkan. Sangat menyedihkan.


"Sama seperti fajar, warna jingga nya senja akan selalu berakhir sendirian." monolog terkekeh pada diri sendiri.


"Tidak ada gunanya juga aku seperti ini. Kesedihan hanya akan membuat ku gila." sekali lagi Jingga menertawakan dirinya sendiri yang terlihat menyedihkan ini.


"Tidak ada siapapun di samping ku. Aku sendirian. Aku hidup dengan bebas, apapun bisa aku lakukan." Jingga mulai menguatkan diri. Bahkan ekspresi gadis itu berubah drastis. Senyum miring mulai tercetak di bibirnya.


"Benar. Aku ini Jingga Sky yang tidak tahu apa itu aturan. Jadi nikmati saja hidup ini dengan semau ku." katanya lalu bergegas pergi mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih santai. Setelahnya, Jingga, segera keluar dari kamar dengan membawa skeatboard nya.


Malam ini Jingga tidak ingin bersedih ataupun meratapi nasibnya yang terkesan kelabu. Hidup tetaplah hidup. Selamanya dia hanya akan menjalani dan menikmati hidupnya sesuai keinginannya.


Sama seperti dirinya yang sedang berjalan di atas skeatboard nya menikmati suasana malam hari tanpa memikirkan banyak hal. Biarlah langkahnya ini mau membawanya kemana. Jingga akan selalu menikmati hidupnya.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2