
Satu hari berlalu Jingga bertingkah menjadi murid yang patuh di sekolah itu bukan gaya Jingga sekali. Pagi ini Mama kembali tidak pulang ke rumah. Dan Jingga sudah terbiasa dengan hal semacam itu.
Seperti biasa, Jingga kembali ke siangan. Tidak mau ambil pusing Jingga segera pergi mandi dan bersiap untuk menghibur diri.
Tidak peduli dengan ia yang harus sekolah. Jingga sama sekali tidak peduli akan hal itu. Kemarin dia sudah begitu patuh di sekolah tidak ada salahnya hari ini tidak sekolah, bukan.
Setelah mandi dan bersiap dengan pakaian santainya, Jingga pergi ke dapur untuk membuat sarapan terlebih dahulu. Hari ini dia akan pergi bersenang-senang tentunya perut perlu di isi.
"Apakah ada yang bisa aku makan pagi ini?" Jingga memperhatikan sekeliling dapur. Di maja makan tidak ada makanan. Karena di rumah tidak ada siapapun tentu saja meja itu akan kosong. Dan sudah lama tidak ada yang duduk di meja makan itu.
Mata Jingga mengarah ke arah kulkas. Berpikir apakah ada makanan atau tidak di sana. Karena rumah ini memang sangat jarang membeli bahan masakan ataupun makanan ringan lainnya. Tangannya terulur membuka pintu kulkas.
"Sereal dan Susu. Memang tidak ada pilihan lain lagi selain sarapan dengan ini." ucap Jingga menghela nafas. Sebenarnya Jingga bosan harus sarapan dengan itu. Jingga tidak punya waktu untuk membeli makanan di luar. Jadi dia akan makan itu pagi ini.
Jingga menuangkan serial dan susu yang ia ambil dari dalam kulkas nya ke dalam mangkuk berukuran sedang. Kemudian Jingga langsung melahapnya dengan tenang.
Hari ini cuaca cukup mendung. Sebagian langit diselimuti awan hitam begitupun dengan matahari yang tertutup awan. Vibe seperti ini membuat emosi Jingga tidak menentu. Ada perasaan yang sulit di jelaskan dari dalam hatinya.
Jingga saat ini sudah berada di tempat billiar. Sudah lama dia tidak bermain terakhir kali bermain adalah hari kedua masuk sekolah. Setelahnya tidak main lagi.
"Kali ini apa yang akan kau taruhkan?"
Jingga yang sedang memakai sarung tangan sontak menatap laki-laki yang usianya lebih tua darinya dengan pandangan remeh.
"Jam tangan ini yang akan jadi taruhannya." ucap Jingga melemparkan jam tangan berwarna silver ke arah pria itu dan langsung di tangkap olehnya.
"Wow! Luar biasa! Ini adalah jam tangan mahal yang bulan lalu baru di launching kan." ucap pria itu antusias ketika melihat tipe jam tangan yang kali ini Jingga taruhkan.
"Bagaimana dengan rules taruhan ini?" ucap pria itu lagi melihat Jingga yang sudah berada di samping meja billiar.
"Jika kau memang, kau bisa memiliki jam tangan jtu"
"Lalu jika aku kalah?"
"Kau tetap akan memiliki jam tangannya. Bagaimana apakah menarik?"
"Are you seriously?" pria itu tercengang dengan rules taruhan nya. Yang benar saja menang ataupun kalah nya dia tetap bisa memiliki jam tangan mahal ini. Bagaimana tidak menarik! "Tentu saja ini sangat menarik!"
"Baiklah ayo mulai bermain."
Dan keduanya pun mulai bermain billiar. Jingga menghabiskan separuh waktu nya untuk bermain biliar sampai dirinya puas sendiri. Hingga ketika langit sudah berganti menjadi petang barulah Jingga akan pergi meninggalkan tempat billiar itu.
__ADS_1
"Datanglah lagi ke sini kapan-kapan."
"Aku tidak bisa janji. Kalau begitu sampai jumpa." Jingga melambaikan tangannya dan pergi dari sana.
.
.
.
.
.
Sembari berjalan di trotoar Jingga melihat-lihat pemandangan jalan yang mulai ramai oleh orang yang berlalu lalang. Ini sudah petang tentunya banyak pejalan kaki dan pekerja akan pulang ke rumah masing-masing.
Jingga mengeluarkan kamera dari dalam tas mini nya dan mulai mengambil gambar yang menurutnya bagus untuk ia potret. Pemandangan sore ini sangat bagus dan Jingga ingin mengabadikan itu.
Gambar pertama Jingga adalah potret seorang pejalan kaki yang sedang membeli buah di pinggir jalan. Gambar kedua yang Jingga dapatkan yaitu dua anak remaja sekolah yang baru saja pulang dari les mereka. Dan ketika Jingga akan menangkap gambar nya yang ke tiga, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengganggu fokus nya.
"Kamu lagi..." ucap Jingga setelah tahu bahwa seseorang itu adalah Aksa yang akhir-akhir ini selalu muncul secara tiba-tiba seperti setan saja.
"Kamu tertarik dengan fotografer?"
"Daripada itu kenapa kamu ada di sini? Kamu mengikuti ku?"
"Tidak. Aku tidak mengikuti mu. Kamu kenapa selalu menuduh ku yang tidak baik-baik. Apakah aku seperti penjahat dimata mu?"
"Lebih tepatnya seperti hantu." jawab Jingga.
"Hantu?"
Sebelum menjawab Jingga mendudukkan dirinya di bangku semen yang ada di pinggir jalan. Omong-omong kaki Jingga pegal jadi dia memutuskan untuk duduk saja.
"Iya. Kamu selalu muncul tiba-tiba. Bukankah kamu sudah persis seperti hantu?" ucap Jingga sedikit mendongak menatap Aksa yang berdiri di sampingnya. Detik berikutnya Jingga mengenyit ketika melihat Aksa tertawa kecil.
"Apakah ada yang lucu?" tanya Jingga dengan wajah polosnya.
"Kamu yang lucu." ucap Aksa balik menatap Jingga. Membuat pandangan mereka bertemu. Dan hal itu membuat Jingga gugup. Karena gugup Jingga segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hei ada apa?"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa."
"Kamu selalu pergi jalan seperti ini ya?" Aksa ikut duduk di samping Jingga.
"Hanya terkadang." balas Jingga singkat. Dan keheningan menyelimuti mereka.
Aksa tidak tahu harus berkata apa lagi karena sepertinya hubungan mereka masih sebatas orang asing yang saling mengenal. Begitu juga dengan Jingga, sampai detik ini dia masih enggan untuk menerima orang lain masuk dalam hidupnya meskipun hanya taman.
"Mas Aksa, sudah saat nya pulang." suara dari pak Ilman supir Aksa akhirnya memecah keheningan diantara mereka.
Jingga baru menyadari ternyata laki-laki ini tidak sendiri di sini. Tapi bersama dengan pria paruh baya itu yang sedari tadi menunggu di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari arah mereka duduk.
"Sudah waktunya pulang ya." ucap Aksa terkesan kecewa meskipun Jingga melihat senyum simpul di bibir pemuda itu tapi Aksa jelas terlihat sedih.
"Baiklah ayo kita pulang." ucap Aksa berdiri.
"Kamu tidak ingin pulang juga?" tanya Aksa sebelum benar-benar pergi.
"Aku masih ingin di sini." Aksa mengangguk lalu setelahnya ia pun pergi dari sana bersama supirnya tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
"Mas Aksa tidak menawarinya untuk pulang bersama?" tanya Pak Ilman ketika sudah berada di dalam mobil.
"Saya tahu pasti dia akan menolak nya."
Apa yang dikatakan Aksa memang ada benarnya. Jika tadi Aksa menawari Jingga untuk pulang bersama pasti gadis itu akan dengan spontan menolak tawaran itu. Jadi Aksa cukup tahu batasan karena mereka bukanlah siapa-siapa.
"Mas Aksa terlihat pucat. Mas Aksa baik-baik saja kan" pak Ilman melihat wajah Aksa yang memucat dari kaca depannya.
"Saya baik-baik aja. Bapak tidak perlu khawatir. Mungkin karena saya merasa lelah."
"Kalau gitu mas Aksa istirahat saja."
"Iya."
Aksa memejamkan matanya ketika pusing di kepalanya terasa menusuk. Dalam hati Aksa selalu mengumpati diri sendiri yang terlihat lemah ini. Tapi Aksa sadar bahwa ini sudah takdirnya. Yang hanya bisa dilakukan hanyalah pasrah dan terima kenyataan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...