
Pagi-pagi sekali Jingga sudah bangun dan bersiap untuk ke sekolah setelah dua hari tidak masuk. Pagi ini Jingga sengaja berusaha bangun pagi karena ingin berubah.
Iya.. Jingga sudah membuat keputusan bahwa dia akan merubah kebiasaan buruknya menjadi baik. Bukan karena Jingga ingin dapat perhatian mama tapi karena Jingga telah menyadari kesalahannya dan membuat orang tuanya bersedih terutama mama nya.
Semalaman penuh Jingga tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian kemarin dimana Jingga mendengar mama menangis pada papa lewat telepon. Jingga baru bisa tidur ketika pukul 2 dini hari dan bangun pukul 5 subuh.
Pukul 06:00 Jingga sudah berangkat sekolah. Jingga berangkat jam segitu juga karena malu untuk bertemu mama dia tidak tahu harus gimana memulai pembicaraan dengan mama. Jadi sebelum berangkat Jingga hanya meninggalkan secarik note yang ia letakkan di meja makan. Karena Jingga tahu bahwa mama pasti akan duduk di sana dan melihat note itu.
"Pagi-pagi gini udah harus ketemu cewe modelan kayak gini." Jingga menatap datar ketiga murid perempuan yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya seperti setan dan menghalangi jalannya.
Mula nya Jingga sedang asik berjalan ringan memasuki sekolah yang terlihat masih sepi itu dan berjalan menyusuri koridor menuju kelas. Tapi ketika di pertengahan jalan tepatnya lantai dua koridor anak 12 IPS 1 tiba-tiba saja muncul tiga murid perempuan yang sering kali ingin mengajak Jingga untuk war.
Ini bukan sekali dua kali nya mereka bertiga menghampiri Jingga dengan tampang mengajak war. Tapi Jingga sama sekali tidak pernah meladeni mereka dan terus menghindar. Bukan karena Jingga takut pada mereka! Tapi karena Jingga malas untuk meladeni hama seperti mereka itu.
"Kalian bertiga kalau mau nyari ribut sama gua mending nggak usah deh... karena gua lagi males ribut." ucap Jingga dengan bahasa yang tidak lagi baku. Untuk apa menggunakan kata aku kamu kalau berhadapan sama mereka mending Jingga lupakan tutur kata yang baik jika dengan mereka.
"Bilang aja lo takut sama kita." salah satu dari mereka menyahut dengan wajah sok nya.
"Takut?" Jingga tertawa, detik berikutnya Jingga berhenti tertawa "Buat apa gua takut sama kalian. Hei! gua sama sekali nggak takut sama kalian."
Jingga menurunkan tangannya yang semula ia silangkan di dada. "Lo tahu kan seperti apa gua? Yakin mau berurusan dengan gua?" bisik Jingga pada salah tahu dari mereka. Jingga menarik diri ke posisi awal untuk melihat bagaimana reaksi cewe yang sepertinya boss dua orang itu.
"Lo..."
"Jingga."
Perkataan cewe tadi terhenti begitu saja ketika ada seseorang yang memanggil Jingga. Suara nya terdengar tidak asing lagi di telinga Jingga. Saat Jingga menoleh ke belakang melihat siapa gerangan yang sudah memanggil nya itu dan ternyata dia adalah Aksa-- si anak teladan.
__ADS_1
"Kalian lagi ngapain pagi-pagi di sini?" dengan wajah penasaran Aksa bertanya dan berdiri di samping Jingga.
Jingga yang tidak ingin meladeni tiga anak cewe itu pun memanfaatkan ke hadiran Aksa yang tiba-tiba muncul itu.
"Oh, kami nggak lagi ngapa-ngapain kok. Cuma kebetulan papasan aja." ucap Jingga dengan segera menarik pelan tangan Aksa sok akrab.
"Udah yuk kita pergi dari sini." ajak Jingga lagi-lagi sokab (sok akrab)
Aksa yang tidak mengerti apapun hanya bisa pasrah ketika Jingga benar-benar membawanya pergi dari lorong kelas 12 IPS 1 menyusuri lorong lantai dua itu dengan jemari yang bertautan.
Sementara ketiga gadis yang tadi menghadang Jingga menatap kepergiaan mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Mereka terlihat bingung dengan kedekatan Aksa dan Jingga yang seperti sudah sangat akrab dan dekat.
Bukankah kedua orang itu murid yang sangat-sangat kontras perbedaannya. Aksa adalah murid yang teladan, cerdas, cekatan, meskipun memiliki fisik yang lemah tapi tetap saja tubuh laki-laki itu terlihat bagus. Sedangkan, Jingga, adalah murid yang suka membuat onar, pergi membolos adalah hal yang sangat sering di lakukan gadis itu. Mereka juga tahu bahwa Jingga bukanlah anak yang cerdas. Lalu kenapa keduanya terlihat cukup dekat.
Aksa yang notabene nya tidak pernah dekat dengan siapapun kini terlihat sangat dekat dengan Jingga. Bahkan ketika mereka sedang berjalan bersama lebih tepatnya Jingga yang membawa Aksa pergi ke kantin itu, tidak lepas dari perhatian beberapa murid yang sudah datang dan berpapasan dengan mereka.
"Heran kenapa mereka malah terus melihat ke arah sini, sih.." oceh Jingga merasa risih dengan murid yang setiap berpapasan dengannya terus melihat ke arah dia dan Aksa yang sedang berjalan itu.
Astaga, Jingga lupa bahwa dia akan bersama Aksa sekarang. Dengan segera Jingga menoleh ke belakang melihat Aksa yang jaraknya hanya beberapa centi saja dengan dia.
"Ada apa?" tanya Aksa ketika Jingga berhenti berjalan dan malah menatapnya dengan dahi mengernyit.
"Ya Ampun..." pekik Jingga pelan. Dia terkejut ketika menyadari bahwa sedari tadi mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Dan hal itu dilakukan oleh Jingga awalnya.
"Maaf." kata Jingga segera melepaskan tautan tangan itu.
Aksa yang tahu reaksi Jingga itupun perlahan bibirnya mengulas senyum cukup tipis.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku tahu kamu tadi refleks bukan karena tidak suka berhadapan dengan mereka tadi."
Mereka yang Aksa maksud tentu saja ketiga gadis yang menghadang Jingga. Dari gelagat ketiga gadis itu yang menatap nyalang Jingga membuat Aksa paham bahwa di antara Jingga dan mereka ada yang tidak beres. Terlebih ketiga gadis itu bukanlah anak yang baik. Mereka kerap kali melabrak murid di sekolah ini yang menurut mereka cukup mengganggu.
"Benar. Mereka itu menyebalkan. Aku males berurusan dengan mereka yang tidak penting." ucap Jingga.
Toh Aksa sudah tahu kalau dia tidak suka pada ketiga gadis tadi. Jadi tidak masalah kalau sekarang dia terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan nya itu.
"Oh ya, kelas mu di lantai tiga bukan?" tanya Jingga, Aksa mengangguk. "Oke kalau gitu kamu pergilah ke kelas mu karena aku juga akan pergi ke kantin."
Sekarang mereka berdua berada di lantai dua lebih tepatnya pertigaan. Dimana jika lurus adalah lorong menuju kantin, belok kanan lorong menuju lantai tiga dan belok kiri menuju lantai satu. Jadi sekarang posisi mereka berada di tengah-tengah.
Jingga bukan mengusir Aksa. Karena kan sedari awal Jingga hanya refleks membawa nya ikut bersamanya. Jadi ketika sudah berada di pertigaan koridor Jingga menawarkan Aksa untuk pergi ke kelas nya saja karena Jingga akan pergi ke kantin.
"Baiklah, sampai jumpa." ucap Aksa, Jingga mengangguk dan keduanya pun berjalan ke arah yang berbeda.
Dalam hati Aksa terus bertanya-tanya, bahkan sampai detik ini, mereka tetap mengambil jalan yang berbeda. Kapan mereka akan berjalan bersama dengan tujuan yang sama. Aksa hanya ingin memiliki teman karena selama ini dia tidak memiliki satupun teman.
Dan Aksa ingin berteman dengan Jingga. Namun, gadis itu selalu memberinya batasan. Batasan yang setiap kali mereka dekat berakhir Jingga akan kembali menjauh. Seolah Jingga memang tidak ingin di dekati oleh siapapun.
Entah apa yang membuat gadis itu begitu berhati-hati dengan orang-orang. Aksa yakin Jingga memiliki alasan yang tentunya tidak di ketahui banyak orang.
*****
Bersambung...
.......
__ADS_1
Yo What up guys. Sorry, baru update lagi, di karena saya sibuk beberapa hari lalu dan juga kemungkinan beberapa hari ke depan juga, mohon di maklumi ya jika keterlambatan update 🙏
Salam hangat LilyFlwrs 🍂