
"Aksa, ayo cepetan kita harus segera pergi ke rumah sakit. Ayah sudah menunggu."
Aksa yang baru saja menuruni tangga segera menghampiri Diana-- bundanya yang sudah berdiri di dekat tangga menunggu nya sedari tadi.
"Iya.. Ayo kita berangka, Bun." ucap Aksa. Ibu dan anak itupun berjalan berdampingan pergi meninggalkan rumah mereka.
Hari ini adalah jadwal Aksa untuk check up ke rumah sakit. Melakukan rutinitas pengobatan yang harus Aksa jalanin selama hampir 18 tahun.
"Bunda..." seru Aksa.
"Kenapa sayang?"
"Maaf ya." ucap Aksa.
Diana mengernyitkan dahinya menatap sang putra bingung.
"Maaf? Untuk?"
"Maaf karena Aksa selalu nyusahin bunda sama ayah."
"Kenapa minta maaf.. Aksa jangan bicara kayak gitu. Kamu enggak nyusahin bunda sama ayah."
"Tapi karena Aksa yang lemah ini kalian jadi repot. Kalian harus selalu menemani Aksa. Sekarang aja Aksa nyusahin Bunda. Harusnya Bunda hari ini pergi ke butik bukan? Karena Aksa bunda jadi harus nemenin Aksa ke rumah sakit untuk check up."
Aksa tahu hari ini seharusnya bundanya pergi ke butik untuk melihat data Minggu lalu yang belum di cek. Karena tadi Ayah menelpon dan mengatakan bahwa jadwal check up Aksa di majukan jadi hari ini, membuat bundanya membatalkan rencananya yang akan pergi ke butik menjadi mengantar Aksa.
"Aksa dengerin Bunda." Diana meraih tangan putranya yang terasa hangat itu. Suhu tubuh Aksa sering tidak menentu. Dan itu membuat Diana harus ekstra merawat anaknya lagi.
"Bunda sama ayah sama sekali enggak pernah merasa direpotkan sama kamu. Kamu jangan bicara bahwa kamu ini lemah. Aksa Diona putranya bunda ini anak yang kuat kok." ucap Diana tersenyum meyakinkan Aksa.
Diana menyadari akhir-akhir ini emosi Aksa sedang tidak stabil. Terkadang Aksa akan diam sepanjang hari, terkadang dia juga murung, tidak mau makan, sering menggerutu, dan terkadang juga begitu sensitif. Dan hari ini juga Aksa terlihat sedih. Itu jelas membuat Diana khawatir. Tapi sebisa mungkin Diana harus membuat Aksa semangat lagi
__ADS_1
"Kamu jangan bicara yang enggak-enggak. Kamu anak ayah sama bunda, dan yang bunda lakukan ini adalah bentuk kewajiban bunda sebagai orang tua kamu. Begitu juga dengan ayah."
Aksa tahu itu... Tapi Aksa merasa sudah sangat merepotkan keduanya.
"Kamu jangan banyak memikirkan apapun. Kamu baik-baik aja itu udah sangat cukup untuk membuat bunda dan ayah bahagia. Kamu mengerti?" ucap Diana dan Aksa mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil. Melihat pemandangan jalan dari balik kaca itu.
Sebagai anak laki-laki remaja tidak seharusnya Aksa masih di manja oleh orang tua nya. Aksa senang karena memiliki orang tua yang sangat sayang padanya. Tapi ada kalanya Aksa merasa bahwa kasih sayang yang mereka itu sangat banyak sampai-sampai Aksa tidak tahu bagaimana cara membalas semua itu.
Sementara Diana dan Alan, selalu berpikir bahwa apa yang mereka lakukan untuk putranya itu tidaklah cukup. Sebisa mungkin keduanya menghabiskan waktu sebanyak yang mereka bisa untuk menemani Aksa.
Terkadang Diana dan suaminya sering merasa takut dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi menghampiri keluarga mereka. Diana dan Alan selaku orang tua Aksa ingin yang terbaik untuk
*****
Jingga segera berlari masuk ke kamarnya lagi ketika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mama di telpon bersama papa. Awalnya Jingga ingin menemui mama dan minta maaf atas sikap kurang ajarnya kemarin. Namun Jingga urungkan karena mama sedang bertelpon.
Jingga mendengar mama nya mengeluh dan menangis tersedu-sedu pada papa. Dan itu membuat hati Jingga sakit. Ternyata selama ini mama selalu menangis di belakang Jingga.
Rasa ingin memeluk dan meminta maaf pada mama semakin banyak tapi entah kenapa langkah Jingga memberat ketika akan melakukannya. Terlebih ketika ia mendengar bahwa mama tidak ingin memberitahu alasan mama dan papa bercerai itu karena takut ia dan Letta akan terluka dan sedih.
"Jadi selama ini mama menutupi suatu kesalahan yang papa perbuat di masa lalu karena tidak ingin aku dan adik terluka." Jingga menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
"Papa... Kesalahan apa yang telah papa lakukan.. Kenapa papa membuat semuanya jadi seperti ini." gumam Jingga, menutup wajahnya dengan tangan.
Selama ini Jingga pikir semua kekacauan ini di sebabkan karena keegoisan mama. Karena Jingga sangat dekat dengan papa alih-alih mama. Jadi Jingga lebih tahu papa ketibang mama. Jingga tidak pernah menyangka ternyata papa yang melakukan kesalahan terlebih dahulu.
Mama memang selalu sibuk tidak pernah punya banyak waktu untuk keluarganya. Berbeda dengan papa, meskipun sama-sama sibuk nya dengan mama tapi papa masih bisa meluangkan waktu untuk anak-anaknya.
Maka dari itu Jingga selalu menyalahkan mama atas kehancuran keluarga mereka karena mama yang sangat sibuk tidak pernah ada waktu untuk keluarga. Jadi papa memutuskan untuk bercerai.
Tapi ketika tadi Jingga mendengar mama bicara dengan papa lewat telepon mama bilang itu adalah kesalahan fatal yang papa perbuat sehingga mereka bercerai.
__ADS_1
Jingga meremas rambutnya karena kepalanya pusing terlalu banyak hal yang di pikirkan dua hari ini. Kesalahan Jingga pada mama terlalu banyak entah bagaimana caranya untuk menebus kesalahan itu pada mama.
Sore ini Jingga kembali mengurung diri sendiri dan termenung memikirkan segala kesalahan yang sudah di perbuatanya.
Mengabaikan banyak hal Jingga hanya memikirkan bagaimana dia memperbaiki semuanya.
Cukup lama termenung di depan cermin, Jingga beranjak dari sana bergerak melangkah ke arah jendela. Di buka nya jendela kamar dan terlihat dari balik kaca langit sudah hampir menggelap.
"Ternyata ini sudah hampir malam." Jingga baru sadar bahwa hari sudah petang dan akan berganti malam.
"Langit nya terlihat indah karena di hiasi oleh warna Jingga di beberapa bagian." Sudut-sudut bibir Jingga terangkat kala melihat senja menampakan dirinya kali ini.
"Entah kapan terakhir kali aku melihat senja. Sekarang aku dapat melihatnya lagi."
Jingga sangat menyukai senja karena sama seperti senja Jingga juga hanya bisa menampakan keindahannya untuk sesaat. Senja yang selalu di nantikan kehadirannya tapi berbeda dengan Jingga yang tidak pernah di inginkan orang-orang.
Jingga bukan gadis yang baik, dia juga bukan anak yang penurut. Jingga hanya seorang gadis pembangkang yang kesepian dan berbuat semaunya untuk mencari kesenangannya sendiri.
Tidak ada yang mau dekat dengannya dan tidak ada yang mau berteman dengannya. Itu adalah hal yang wajar karena Jingga tidak pantas untuk di dekati dan di temani. Ada banyak perilaku buruk pada diri Jingga yang dapat membuat semua orang menjauhinya.
Jadi daripada di jauhi oleh banyak orang lebih baik Jingga yang menjauhi banyak orang itu. Setidaknya itu lebih baik dari pada harus mengalami hal yang menyakitkan karena di tinggalkan banyak orang yang di sayangi untuk kesekian kalinya.
"Haruskah aku merubah diri ku?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...