
Jingga kembali memasuki gedung sekolah setelah kemarin libur akhir pekan. Hari ini hari Senin dan seperti biasa sekolah akan melaksanakan rutinitas upacara hari Senin.
Jingga baru saja tiba ketika upacara sudah berlangsung lima belas menit. Itupun Jingga datang ke sekolah tidak dengan melewati gerbang depan melainkan jalan belakang sekolah.
Berakhir dia tertangkap basah oleh anak OSIS yang berpatroli. Sekarang Jingga sedang di iring ke ruang ketua OSIS untuk di beri sangsi.
"Kamu tahukan pelanggaran apa saja yang telah kamu langgar."
Jingga menatap jengah siswa sebayanya yang berjabat sebagai ketua OSIS menatap dirinya dengan begitu tajam. Apakah Jingga takut? oh tentu saja tidak!
"Terlambat, tidak mengikuti upacara, juga masuk dengan melompat tembok belakang sekolah." dengan malas Jingga menyebutkan apa saja yang sudah dilanggar hari ini.
"Baik sebagai konsekuensi dari semua aturan sudah kamu langgar. Kamu akan di hukum mencabuti rumput yang sudah memanjang di taman sekolah. Dan juga buat pertanyaan bahwa 'Saya tidak akan melakukannya untuk keduakalinya' dengan tulisan tangan sebayak 2 lembar kertas polio."
"Apakah hanya itu?" tanya Jingga. Dia sama sekali tidak terkejut dengan hukuman itu. Toh di sekolah sebelumnya juga dia sudah sangat sering di beri sangsi semacam itu.
"Kamu boleh pergi sekarang dan kerjakan hukumannya!" ketua OSIS itu tidak mengindahkan pertanyaan Jingga sama sekali. Sebab dia tahu bahwa yang sedang berhadapan dengan nya adalah siswa bermasalah.
"Tanpa kamu suruh juga aku akan pergi dengan sendirinya." Jingga beranjak dari sana pergi ke arah pintu keluar. Pintu sudah dalam keadaan terbuka, tapi Jingga malah diam di ambang pintu. Membuat ketua OSIS menatapnya bingung.
"Oh ya satu lagi. Kamu tahu, kan, aku ini sama sekali tidak akan mengerjakan hukuman itu." katanya lalu tanpa basa lagi dia kembali berjalan menutup pintu dengan keras. Tidak peduli dengan ketua OSIS itu akan marah atau tidak karena pintu ruangannya telah di banting.
Di sepanjang perjalanan menuju taman sekolah Jingga tidak henti-hentinya menyumpah serapahi ketua OSIS yang sudah beraninya mengadu pada Pak Dinar.
Akhirnya dia kan harus berhadapan langsung dengan wali kelasnya. Karena tidak mau beradu mulut dengan pak Dinar. Dengan amat sangat terpaksa Jingga akan mengerjakan hukumannya untuk mencabuti rumput di taman.
Ya meskipun Jingga tidak tahu setelah di sana dia akan benar-benar mencabuti rumput nya atau tidak.
Ketika sudah di taman Jingga menemukan eksistensi Aksa yang sedang duduk di bangku taman. Duduk diam dengan pandangan kosong mengarah depan.
"Ada apa dengan si anak teladan itu. Apakah dia juga di hukum tapi tidak mengerjakannya malah duduk di situ." Jingga mempercepat langkahnya dan menghampiri Aksa.
"Ternyata anak teladan seperti mu bisa nakal juga ya." ucap Jingga membuat Aksa menoleh ke arahnya. "Bagus... hidup memang harus seperti itu. Sesekali membuat kesalahan tidak masalah bukan agar hidup ini tidak terasa membosankan" lanjut Jingga dengan begitu bangga.
Apa yang sesekali membuat kesalahan? Bahkan Jingga hampir setiap hari membuat kesalahan dalam hidupnya.
"Kamu kenapa ada di sini?"
"Kamu juga kenapa ada di sini?"
Pertanyaan di jawab dengan pertanyaan. Apakah itu adalah sebuah jawaban. Sepertinya Jingga hobi sekali menjawab pertanyaan Aksa dengan pertanyaan lagi.
"Aku? Karena bosan di kelas menunggu yang lain selesai upacara."
"What? Kamu nggak ikut upacara memangnya nggak di hukum? Dan malah bilang bosan menunggu di kelas?"
"Aku sakit. Semua yang ada di sekolah ini tahu. Jadi guru-guru pun menginzinkan aku untuk tidak upacara."
"Sakit? Memangnya kamu sakit apa?" tanya Jingga. Ikut duduk di samping Aksa.
"Aku sakit jantung sejak lahir. Aku tidak boleh terlalu kelelahan dan melakukan banyak aktivitas."
__ADS_1
Jingga tertegun mendengar pengakuan dari Aksa. Ternyata laki-laki itu memiliki masalah pada kesehatan nya. Dan penyakit yang di deritanya bukan penyakit yang sepele. Jingga cukup terkejut karena itu.
"Jadi itu alasan kamu mengatakan aku keren ketika bermain basket?"
Aksa menggeleng dan juga mengangguk. Kelakuannya itu membuat Jingga bingung.
"Bicaralah yang benar aku tidak mengerti bahasa isyarat."
Aksa sedikit tersenyum kecil. Melihat wajah kesal Jingga itu terlihat menyenangkan. Karena pada saat itu wajah gadis di sampingnya ini terlihat lucu.
"Jawabannya bisa tidak bisa iya."
"Hah?"
"Aku mengatakan kamu keren karena memang kamu keren. Kamu berbeda dengan gadis lainya. Aku memang kagum pada mu. Tapi lebih dari itu aku memiliki rasa iri pada mu."
"Iri pada ku?" Aksa mengangguk.
Jingga baru kali ini mendengar ada seseorang yang iri dengan hidup nya. Hidupnya bahkan tidak ada yang spesial tapi kenapa Aksa bisa iri pada nya.
"Alasannya kamu iri pada ku itu apa?"
"Aku iri dengan mu karena kamu itu bisa menjali hidup dengan bebas. Sementara aku... hidupku saja hanya berkisar antara rumah, sekolah, dan rumah sakit."
Mendengar semua itu seketika membuat Jingga merasa iba. Meskipun Jingga tidak begitu paham apa yang di rasakan Aksa. Tapi Jingga sedikit mengerti bagaimana rasanya menjadi Aksa. Yang kehidupannya tidak sebebas orang-orang.
"Aku..."
"Jingga Sky"
"Kamu ngapain duduk di situ? Bukannya kamu sedang di hukum suruh mencabuti rumput taman ini. Kenapa malah leha-leha di sini?" ucap Pak Dinar bersungut-sungut. Jingga sampai pusing mendengar nya.
"Sekarang kalian berdua ikut ke ruangan saya."
Merekapun dibawa oleh pak Dinar ke ruangannya untuk ditanyai beberapa pertanyaan. Seperti biasa dalam hati Jingga selalu mengumpati pak Dinar yang tidak pernah ada bosannya mengomel.
...*****...
"Jingga kamu sedang di hukum tapi kenapa kamu malah duduk santai di taman bersama Aksa. Bukannya mengerjakan hukuman kamu." ucap pak Dinar yang sudah duduk di kursinya menatap dua murid dihadapannya yang saling bertolakbelakang.
"Bapak pasti sudah tahu jawaban saya bukan. Jadi kenapa harus bertanya lagi." ucap Jingga acuh tak acuh dan itu membuat pak Dinar mengehela nafasnya begitu kasar.
"Kamu Aksa... Ngapain kamu duduk di sana juga? Bukannya kamu harusnya berada di dalam kelas?" Pak Dinar mengesampingkan Jingga dulu dan menanyai Aksa.
"Saya hanya duduk di sana karena saya bosan menunggu di dalam kelas. Saya butuh udara segar." Terang Aksa.
"Baiklah saya percaya sama kamu."
Mendengar apa yang dikatakan pak Dinar pada Aksa membuat Jingga mendengus. Giliran ke anak teladan aja langsung percaya nggak di kasih hukuman.
"Jingga... Karena kamu kembali melanggar aturan di sini. Hukuman kamu saya tambah. Seminggu dari sekarang kamu harus membersihkan toilet setiap pulang sekolah."
__ADS_1
"Baik. Tapi ... bapak tahu kan kalau saya tidak akan menjalankan hukuman saya itu?"
"Kalau begitu hukuman kamu akan saya tambahkan lagi menjadi dua Minggu."
"Kenapa nggak sekalian keluarin saya aja pak?"
"Karena mengeluarkan murid seperti kamu itu adalah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi saya tidak ingin mengeluarkan kamu dadi sekolah ini dengan mudah."
Jingga mendecih. Pak Dinar ini cukup percaya diri juga bisa mempertahankan dia sekolah ini.
"Kalau begitu bapak harus lihat apa yang akan saya lakukan untuk sekolah ini."
"Baiklah... Saya jadi tidak sabar dengan apa yang akan kamu lakukan nanti." tantang pak Dinar.
"Saya akan pergi mengajar... Kalian berdua kembali lah." sambung pak Dinar lalu beranjak dari sana meninggalkan Aksa dan Jingga di ruangan.
Jingga menyandarkan punggungnya dengan kasar pada sandaran kursi yang di duduknya. Sekarang dia sangat kesal karena pak Dinar sangat begitu yakin ingin mempertahankan murid sepertinya.
"Jingga." seru Aksa.
"Hmm?"
"Kamu ingin sekali ya di drop out dari sekolah ini." tanya Aksa. Aksa cukup terkejut mendengar argumentasi antara pak Dinar dan Jingga yang saling bertentangan itu. Terlebih Jingga yang begitu ingin di keluarkan dari sekolah ini.
"Iya memang nya kenapa?" Aksa hanya diam.
"Kamu lihat dokumen itu. Itu semua adalah data tentang ku di sekolah sebelumnya." Aksa mengangguk. Dia sudah melihat dan bahkan membaca dokumen yang tergeletak di meja pak Dinar.
"Kamu lebih sering membolos."
"Bukan lebih sering lagi tapi setiap hari aku membolos. Data itu sedikit tidak valid. Di sana di mereka sedikit membaik-baikkan sikap ku saat di sekolah." ucap Jingga kemudian menilik bagaimana reaksi Aksa tentang itu.
"Setiap hari?" Aksa cukup terkejut mendengar nya.
"Jadi bagaimana apakah kamu masih ingin menjadi teman ku?" tanya Jingga dan tidak menyangka akan diangguki oleh Aksa.
"Aku semakin yakin ingin menjadi teman mu." jawab Aksa begitu yakin.
"Kamu cukup percaya diri juga ya." ucap Jingga dengan kekehan kecilnya.
"Tentu aku sangat percaya bahwa kita pasti akan berteman." sekali lagi Aksa membuat Jingga tidak menyangka akan hal itu.
"Sudahlah. Aku ingin kembali ke kelas." Jingga mengalihkan topik. Dia sangat tidak ingin topik pembicaraan mereka terus berlanjut entah dimana ujung.
Jingga berangsung pergi dari sana begitu juga dengan Aksa. Dalam diam Aksa merasa senang karena kali ini mereka banyak berbincang. Meskipun dialog tanpa tema itu mengarah pada hal-hal mengenai hidup mereka.
Itu artinya Aksa dan Jingga tanpa mereka sadari telah menceritakan hidup mereka sedikit satu sama lain. Ini jelas peningkatan untuk kedekatan mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...