
"Darsih?" panggilnya lembut.
"Eh, Mas Wiranto," sahut Darsih dengan senyuman yang mengembang. Menampilkan deretan gigi yang putih dan rapih.
"Kamu mau kemana, Sih?"
"Mau pulang, Mas," jawabnya.
"Memangnya kamu darimana?"
"Saya baru bertemu teman lama. Karena keasyikan mengobrol, ternyata hari sudah malam," jawab Darsih sambil terkekeh.
"Iya, sudah. Bagaimana kalau Mas antarkan pulang," ujar Wiranto.
"Nggak usah, Mas. Darsih nggak mau merepotkan Mas Wiranto,"
"Nggak kok. Kamu nggak merepotkan. Mau kan Mas antarkan pulang? Lagian rumahmu kan cukup jauh. Sudah malam begini, sudah nggak ada kendaraan!" paksa Wiranto, Darsih nampak berfikir.
"Sekarang kamu cantik sekali, Sih!" batin Wiranto memuji kecantikan Darsih.
"Tapi beneran nggak ngrepotin Mas Wiranto?" ucapnya lagi.
"Sama sekali nggak merepotkan, Sih!" jawab Wiranto, "Ayo naik!" Darsih pun duduk dibocengan motor mantan suaminya.
Wiranto sangat senang. Senyum mengembang di bibir laki-laki itu. Tangan Wiranto menjangkau tangan Darsih agar memeluk pinggangnya dengan erat.
Sampai di depan rumah, Darsih turun dari boncengan motor Wiranto. Dia mengucapkan terima kasih kepada mantan suaminya. Seperti mendapat angin segar, Wiranto meminta nomor ponsel Darsih. Darsih tidak akan menolak, karena memang dia memiliki niat terselubung pada mantan suaminya itu.
"Nanti kalau Mas kangen, Mas telepon kamu ya, Sih!" ucap Wiranto.
"Memangnya Mas Wiranto nggak takut jika Mawar tahu Mas Wiranto masih menghubungi Darsih!" tanya Darsih.
"Sebenarnya Mas masih sayang sama kamu, Sih. Kamu selalu ada di hati Mas. Mas menikahi wanita itu supaya Mas bisa hidup enak," ujar Wiranto.
"Kalau begitu, kenapa nggak ditinggalkan saja, Mas? Mas ambil semua hartanya, dan Mas kembali sama aku," gelak Darsih.
"Memangnya kamu masih mau sama Mas?"
"Akan aku pertimbangkan," ujarnya.
"Lalu suami kamu?"
"Ah, itu gampang," ucapnya mengulas senyum, "Mas mau masuk?" tawar Kadarsih.
"Memangnya suami kamu nggak marah, Sih?"
"Nggak, dia menginap di rumah anaknya," jawab Darsih.
"Wah, aku beruntung. Ketiban durian runtuh," batin Wiranto.
__ADS_1
"Baiklah, Mas, masuk ya!" dijawab anggukan oleh Kadarsih.
Wiranto nampak memperhatikan rumah yang dihuni oleh mantan istrinya. Rumah yang sangat besar, bergaya Jawa kuno. Berdinding kayu, beratap gendeng. Meja dan kursinya juga terbuat dari kayu. Dengan lampu dian ditengahnya. Bau melati menyeruak di indera penciuman Wiranto.
...Lampu dian biasa disebut sebagai semprongan atau cemprong. Semprongan biasanya berbentuk wadah dengan penutup api kaca yang berbentuk bulat memanjang ke atas. Wadah sebagai tempat minyak tanah digunakan sebagai bahan bakarnya....
"Aneh," batin Wiranto. Tapi, dia menepis pikiran buruknya.
"Mas, minumlah!" Darsih keluar dari suatu ruangan dengan membawa nampan berisi air minum. Tapi, anehnya wanita cantik itu keluar dengan baju Jawa warna coklat, dan rambut yang disanggul. Terlihat sangat cantik sekali.
"Apa ini, Sih?" cara bicaranya membuat Wiranto tersihir.
"Teh khas dari perkebunan suamiku. Minumlah, Mas. Rasanya sangat enak, kamu pasti suka!" ujarnya tersenyum.
"Baiklah,"
Wiranto menyeruput air yang berwarna hitam itu. Rasanya sangat aneh. Namun raganya menuruti apa yang dikatakan Kadarsih.
Kadarsih duduk di samping Wiranto. Jari-jari lentik Darsih menyentuh kerah baju Wiranto. Ada getaran aneh didalam hati pria yang tengah dimabuk asmara. Rasa bahagia menyelimuti perasaannya. Wiranto terus memandangi wajah ayu mantan istrinya.
"Kamu cantik sekali, Sih?" puji Wiranto.
"Kamu juga tampan, Mas!" sahutnya.
Darsih menuntun mantan suaminya ke sebuah kamar. Kamar yang gelap, tidak ada pencahayaan apapun. Tiba-tiba pintu kamar tertutup. Entah angin atau apa, Wiranto tidak mau tahu. Maniknya hanya ingin menatap wajah sang mantan istri. Sangat cantik, kata-kata itu yang sudah terpatri di hati dan otaknya.
Tentu saja Wiranto tidak mau melepaskan kesempatan yang bagus ini. Dia langsung melucuti pakaian atasnya, hingga hanya menyisakan celana boxernya saja. Di dalam ruangan yang gelap, mereka pun memadu kasih, saling memuja dan memuji, mengatasnamakan cinta.
Wiranto mencumbui tubuh sang istri dengan rakus. Bau aroma melati di tubuh istrinya, berubah menjadi bau anyir, dan kemudian berubah menjadi bau bangkai yang sangat busuk. Muka Kadarsih berubah menjadi makhluk besar berwarna putih. Raut mukanya sangat menyeramkan.
"Po-cong!" teriak Wiranto hendak berlari. Namun kaki dan tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Makhluk itu terbang tepat diatasnya, Wiranto ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Kakinya sangat lemas, dia pun jatuh ambruk tidak sadarkan diri.
"Eh, kamu tadi lihat nggak?" salah satu seorang warga yang melihat Wiranto memboncengkan seseorang.
"Siapa?" tanya temannya.
"Pak Wiranto,"
"Pak Wiranto, bukannya suami Bu Mawar?"
"Iya, yang itu,"
"Kenapa memangnya?"
"Ih, serem," ujarnya.
"Serem gimana?"
__ADS_1
"Tadi aku lihat, dia membocengkan Po-cong," ujarnya bergidik ngeri.
"Ah, jangan mengada-ada!"
"Sungguh. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri," ujarnya.
"Ih, sereeem. Kok bisa sih?"
"Tahu tuh,"
Keesokkan paginya, dua orang penggali makam heran, Karena menemukan seorang pria pingsan di TPU kebon karet. Dan, wajah pria itu tidak asing.
"Eh, bukannya ini Pak Wiranto. Suami Bu Mawar. Kok bisa sampai disini?" tanya Wawan, salah satu penggali makam.
"Iya, itu Pak Wiranto. Suaminya Bu Mawar," ujar Kardi, temannya.
"Pak? Pak?" Wawan menggoyangkan tubuh pria itu.
"Pak Wiranto?" panggil Kardi.
"Heum," Wiranto nampak mengerjapkan matanya. Dia bingung dengan dirinya yang sedang dibangunkan oleh dua orang pria.
"Saya ada dimana?" tanyanya.
"Bapak ada di pemakaman," jawab Kardi.
"Kok saya bisa ada disini?"
"Justru saya yang seharusnya bertanya seperti itu kepada Pak Wiranto!" ujarnya, "Bagaimana bisa Bapak ada di sini dalam keadaan pingsan?"
Wiranto nampak kebingungan. Dia teringat dengan kejadian tadi malam. Dia berada dirumah besar, rumah adat Jawa. Dan bersama dengan seorang wanita cantik.
"Aaaaaaahh!" Wiranto mengacak rambutnya sendiri.
"Maaf, Saya harus pergi! Tolong masalah ini jangan sampai ada orang yang tahu!" ujarnya dengan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya, dan memberikannya kepada dua orang itu.
"Baik, Pak. Bapak tenang saja!" ucap mereka serentak.
Wiranto bergegas pergi dari sana. Dia memakai pakaiannya kembali di toilet umum. Disepanjang perjalanan, dia nampak sangat kebingungan. Bagaimana bisa, tiba-tiba dia berada di TPU. Padahal sangat jelas, dia bersama dengan Kadarsih.
"Tunggu, tadi malam tiba-tiba Kadarsih berubah menjadi pocong. Jadi, apakah wanita yang aku temui dijalan bukan Kadarsih, melainkan pocong!" heran Wiranto bergidik ngeri.
"Aneh juga sih, jika, Kadarsih bisa sampai ke kota. Karena jarak antara desa dan kota cukup jauh. Dan, mana mungkin Kadarsih ke kota. Dia tidak memiliki keluarga di kota," ucap Wiranto bermonolog sendiri.
Tiiiiiiiiiiiiit ...
"Hey, Jangan melamun kalau mengendarai motor!" teriak sopir truk pembawa muatan. Karena, banyak memikirkan Kadarsih, Wiranto tidak berkonsentrasi mengendarai motornya.
"Ma-af, Pak!" sahutnya dengan melambaikan tangan.
__ADS_1
to be continued ...