
Wiranto berjalan mengikuti suara yang terus terngiang di telinganya. Dia ingin bertemu dengan kekasih pujaan hatinya. Dia terus berjalan, tidak perduli dengan telapak kakinya yang lecet akibat perjalanan yang jauh dari kota ke desa.
Wiranto seperti orang linglung. Seperti orang pikun. Diotaknya hanya ada nama Kadarsih. Dia terus berjalan jauh, dan cukup jauh.
Saat ingin menyeberang, Wiranto tidak menoleh ke arah kanan dan kiri. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi suara-suara bisikan setan, menuntunnya ke suatu tempat.
Chiiiiiiiiiiiiittttt ...
Brukkkk ...
BRAKK ...
Tubuh Wiranto terpental jauh dari mobil yang menabraknya. Dari mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan darah. Namun dia masih sanggup untuk berdiri. Dengan tertatih Wiranto menyeret kakinya. Jalannya terseok-seok. Namun keinginan untuk bertemu dengan pujaan hati tidak bisa dia bendung.
Dia terus berjalan tanpa menengok kiri dan kanan. Semua pengendara sudah memperingatkan bahkan ada yang memakinya gila, namun Wiranto hanya mengacuhkan saja. Hingga sebuah truk bermuatan kayu gelondong menabrak dirinya, Dia terjatuh tidak berdaya. Dari arah belakang nampak truk gandeng melindas Wiranto hingga dia meninggal ditempat.
Tubuh Wiranto remuk. Semua jeroannya keluar. Darah berceceran dimana-mana. Pengendara berkerumun menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut. Hingga mereka tidak sanggup untuk melihat dan mendekati.
Disiang hari yang sedikit mendung, jalanan yang dipadati pengendara lalu lintas menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang mengerikan.
Rasa dendam di hati Kadarsih terbayar sudah dengan kematian mantan suaminya. Dia sangat puas. Dia mengulas senyum saat makhluk tak kasat mata membisikkan sesuatu.
"Wiranto. Kau pantas mendapatkan kemalangan ini. Kau pantas mati mengenaskan. Disaat istrimu mencampakkan mu!" monolog Kadarsih meremas foto yang ada ditangannya. Dia kembali membaca mantra, dan membakar kemenyan di depannya.
Kadarsih keluar dari kamar pribadinya. Kala dia mendengar, suara derap langkah menjauh. Matanya nyalang menatap ke segala arah. Dia tidak menemukan apapun.
"Siapa yang berani mengintip ku?" Darsih mengepal erat tangannya. Maniknya seperti mata elang, menyorot tajam ke segala arah. Namun tidak ada hal yang mencurigakan, hingga akhirnya Dia kembali masuk ke rumah.
Mirna berlari tunggang langgang. Tubuhnya bergetar hebat. Kakinya sangat lemas. Ingin rasanya dia cepat sampai di rumah, namun kakinya tidak bisa berlari cepat.
Jarak rumah Mirna dengan ayahnya memang tidak terlalu jauh. Beda RT saja. Dengan berjalan sekitar sepuluh menit saja, dia sudah sampai.
Mirna memasuki rumahnya dengan rasa takut yang luar biasa. Dia langsung menutup pintu rumahnya dengan keras. Menimbulkan bunyi yang keras, dan membuat Toni suami Mirna kaget.
"Ada apa sih, Mir?" tanya Tony.
"Mas, Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Darsih."
"Ibu tiri kamu itu," ujarnya.
"Iya, Mas. Sepertinya ada yang tidak wajar dengannya!"
"Maksud kamu?"
"Niatnya aku mau bertemu dengan Ayah. Aku ingin pinjam uang, Mas. Saat aku masuk, rumah tidak dikunci. Dan aku masuk. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Darsih sedang melakukan sesuatu yang aneh disebuah ruangan yang gelap!"
"Sesuatu aneh apa?"
"Aku melihat Darsih tersenyum dan berbicara sendiri. Dan diruangan yang gelap itu, Dia seperti sedang melakukan ritual. Seperti ilmu hitam!"
"Ah, masa sih!"
"Iya Mas. Aku nggak bohong! Pokoknya ngeri banget Mas!" Mirna bergidik ngeri.
"Jika memang dia menggunakan ilmu hitam, ilmu hitam apa yang dia gunakan?"
"Entahlah, Mirna nggak tahu. Apa mungkin santet, Mas?"
"Hush, jangan sembarangan ngomong! Kita selidiki dulu!"
"Mas mau menyelidikinya!"
"Iya, Kita harus selidiki,"
"Bagaimana caranya?"
"Akan aku pikirkan."
Keesokkan paginya, Mirna dan Tony sengaja datang ke rumah Kadarsih. Dia ingin bertemu dengan ayahnya. Cukup lama juga mereka tidak datang untuk sekedar menjenguk sang ayah.
Tok ... Tok ... Tok
"Assalamualaikum!" terdengar derap langkah seseorang mendekati pintu dan membukanya.
"Mirna, Tony!" heran Darsih mengerutkan keningnya.
"Ibu," kejut Mirna.
"Ada apa?"
"Kami datang kesini ingin menjenguk Ayah," jawab Tony.
"Oh, menjenguk! Ayo masuk!"
"Terimakasih, Bu,"
"Kalian duduk dulu. Aku panggilkan ayah dulu,"
"I-ya, Bu!"
Lima detik kemudian, Rokhim keluar dari kamar. Darsih memapah tubuh suaminya supaya duduk di sofa. Tubuh Rokhim semakin kurus. Garis-garis penuaan sudah nampak jelas di dahi dan di pipinya. Rambut Rokhim terlihat banyak beruban. Mirna sampai tidak mengenali pria yang berdiri di depannya.
"Ayah?" Mirna mencium punggung tangan Rokhim, begitu juga Tony.
"Bagaimana kabar Ayah?" Rokhim tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.
"Kabar Ayah kalian baik. Cuma agak kurang sehat sedikit!" Darsih yang menjawab sambil mengulas senyum.
"Ayah sakit apa? Kenapa terlihat sangat kurus?"
__ADS_1
"Hanya pusing dan masuk angin saja. Maklumlah, pernikahan kami kan baru seumur jagung. Jadi seperti pengantin baru saja!" gelaknya. Tidak dengan Mirna dan Tony, mereka saling berpandangan, menaruh curiga pada setiap kata-kata yang dilontarkan Kadarsih.
"Ayah mau ke Rumah Sakit?" lagi-lagi Rokhim hanya menjawab dengan isyarat. Dia menggelengkan kepalanya.
"Ayah kalian baik-baik saja kok! Kalian berdua tenang saja! Jangan khawatir!"
"Baiklah, Bu. Jika memang seperti itu. Kami berdua permisi dulu!"
"Oya, Ini buat jajan anak kamu, Mir!" Darsih memberikan sepuluh lembar uang seratus ribuan. Dan menurut Mirna ini benar-benar sangat aneh.
"Baiklah, Bu. Kami permisi dulu! Tolong jaga Ayah ya, Bu!"
"Iya, Kamu tenang saja!" jawab Darsih.
Mirna dan Toni pun meninggalkan rumah ayahnya. Mereka masih sangat heran dengan sikap Darsih dan ayahnya.
"Mir, Kamu tadi lihat nggak sih, Bapak seperti orang linglung begitu!"
"Iya, Mas. Sangat aneh kan!"
"Mir, Ayah seperti mayat hidup. Hidup tapi seperti mayat! Tatapannya kosong!"
"Iya, Mas. Mirna juga berpikir seperti itu."
"Apa kita ke orang pintar saja, Mir?"
"Mirna takut Mas!"
"Jangan takut. Kasihan Ayah kamu jika dibiarkan seperti itu!"
"Memangnya Mas Tony punya kenalan orang pintar?"
"Tidak sih! Aku kan nggak pernah berhubungan dengan yang kayak begituan!"
"Terus bagaimana?"
"Kita ke rumah Mba Asih,"
"Baiklah, kita ke rumahnya sekarang!"
to be continued ...
☄️☄️☄️☄️☄️☄️
Baca juga karya Author yang romantis... " AMELIA "
Penggalan Cerita:
"Iya, Sayang," sahutnya sambil tersenyum.
"Kau sudah tidak waras ya?" marah Amelia, "Jadi, selama ini Kau dalang dibalik semua ini!"
"Bukan hanya itu. Aku juga yang sudah menyerempet mobil Thomas hingga masuk ke jurang!" ujarnya tanpa merasa bersalah.
"Tega sekali Kau, Diego!" marah Amelia.
"Lalu, Kenapa kau tega memfitnah Bram?"
"Karena Aku suka mengadu domba kalian," kekehnya.
"Kau memiliki dendam dengan ayah mertuaku. Jadi, tidak ada hubungannya denganku. Tolong lepaskan aku! Pergi dari sini!" suruh Amelia mulai ketakutan.
"Ha ... Ha .. Ha!" tawanya menggelegar.
"Kau takut?"
Jujur Amelia sangat ketakutan. Tapi, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan rasa ketakutannya di depan Diego. Dia berusaha untuk bersikap tenang. Karena di dalam juga ada kedua anaknya yang masih kecil.
"Ti-dak. Aku tidak takut kepadamu!" seloroh Amelia.
"Kau memang tidak ada hubungannya dengan semua itu. Tapi sayangnya aku jatuh cinta padamu! Kau menggantikan posisi Monica dihatiku. Dan aku harus mendapatkanmu!"
"A-pa Kau sudah gila! Kau menyukai wanita yang sudah bersuami!" kesal Amelia.
"Amelia! Ternyata kau belum bisa melepaskan kepergian suamimu! Mau sampai kapan hah?" bentak Diego. Membuat Amelia terkejut. Dia takut kedua buah hatinya mendengar.
"Aku mohon, Tolong lepaskan aku! Biarkan aku bahagia dengan kedua anakku! Jangan ganggu kami!" ujar Amelia.
"Sayangnya tidak bisa, Sayang! Aku terlalu tertarik denganmu!" gelak Diego, "Ikutlah denganku! Aku akan membuatmu bahagia! Bahkan melebihi Thomas membahagiakanmu!"
PLAKK ...
"Jaga ucapanmu! Aku wanita baik-baik!" teriak Amelia. Diego mengusap pipinya yang panas akibat tamparan wanita didepannya. Diego mendekat ke arah Amelia. Dia mendorong tubuh Amelia dan menindihnya, membuat wanita tersebut susah untuk bernafas.
"Sudah dua kali Kau menamparku! Tapi, tidak apa. Aku suka!"
"Le-pas-kan aku!"
"Ikutlah denganku! Aku akan membahagiakanmu dengan harta!"
"A-ku ti-dak sudi!" ucap Amelia terbata. Dia membuang mukanya benci menatap wajah pria itu. Melihat wanita cantik dibawahnya tidak berdaya, Diego bangun dari tubuh Amelia. Amelia menangis sejadinya.
"Ha ... Ha ... Ha." tawa Diego menggelegar di ruangan itu.
"Kau sangat lucu! Tapi aku suka!"
"Aku tahu Kau wanita yang cukup cerdas. Buktinya Kau bisa menghandle dua butik sekaligus," puji Diego, "Aku yakin Kau tidak mau terjadi sesuatu dengan kedua buah hatimu, yang sangat kau cintai itu!" Ucap Diego menunjuk pada dua buah hatinya yang mengintip di balik tembok.
"Ti-dak! Jangan sakiti anakku!" tangis Amelia.
__ADS_1
" Mommy," teriak Aska. Namun Sherly memegang tubuh adiknya supaya tidak mendekat.
"Kau mau ikut dan menikah denganku?" Amelia memandang wajah anak-anaknya yang polos sambil menangis.
"Aku saja bisa menyingkirkan ibu mertua dan suamimu. Apalagi hanya dua bocah ingusan itu!"
"Baik. Aku akan ikut denganmu. Tapi, ajak mereka juga. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka sendiri disini!" ucap Amelia memohon kepada Diego.
"Aku mohon!" Amelia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Baiklah,"
"Aku tunggu Kau diluar. Cepat bersiap-siaplah kemasi semua barang-barangmu!" seru Diego, "Dan ingat! Jangan macam-macam jika memang anakmu ingin selamat!"
"Iya,"
"Ayo, Nak. Kemasi barang-barang kalian!"
Amelia mengajak kedua anaknya untuk mengemasi semua barang-barang. Sambil mencari cara untuk menghubungi Dicky, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
"Apa yang harus kulakukan? Jika aku menelepon Dicky pasti akan lama. Diego akan marah dan dia bisa menyakiti anak-anak!"
"Ayo Amelia! Berpikirlah!"
Amelia menulis sesuatu di kertas, dan menyelipkan kertas tersebut di lipatan selimut yang ia letakkan di atas meja. Kemudian dia keluar dari rumahnya dengan menggandeng kedua buah hatinya.
"Ayo masuk mobil!" suruh Diego.
"Iya." Amelia sengaja menjatuhkan kunci rumahnya.
Diego menyuruh anak-anak Amelia untuk duduk di depan di samping Pak Sopir. Sedangkan Amelia dengan dirinya duduk di kursi belakang. Sherly dan Aska menurut, tanpa ada perlawanan.
Ternyata Diego sudah dikawal oleh beberapa bodyguard, yang mengekor tidak jauh dari mobilnya.
Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang perjalanan Amelia hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Dia membuang wajahnya kesal ke luar jendela. Dia benar-benar sangat membenci pria yang duduk disampingnya.
Selama satu jam perjalanan akhirnya mobil mereka sampai disebuah rumah mewah dengan cat berwarna putih. Memiliki gerbang dan pagar keliling yang tinggi. Rumah itu dilengkapi dengan penjagaan yang ketat. Banyak security dan bodyguard yang menjaga rumah tersebut.
Diego menyuruh Amelia turun dari mobil. Dengan mesra dia menggandeng lengan Amelia. Beberapa pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Mereka semua sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai penghormatan kedatangan sang majikan.
Diego memperkenalkan pelayan-pelayan itu kepada Amelia. Amelia berusaha untuk tersenyum manis, dan bersikap seramah mungkin.
"Dengarkan semua! Wanita yang berdiri di samping adalah calon Nyonya rumah ini. Jadi kalian harus memperlakukannya dengan sangat baik. Jangan sampai lecet sedikitpun. Jika itu terjadi, kalian tahu apa yang akan terjadi pada kalian?"
"Iya, Tuan. Kami mengerti!" jawab Mereka serentak.
"Lina!" panggil Diego.
"Lina?" kaget Amelia, "Jadi mereka bersekongkol!" batin Amelia. Lina berani menatap Amelia dengan menegakkan kepalanya.
"Lina akan tetap menjadi baby sister anak-anakmu!" ucap Diego.
"Apa yang kau pikirkan benar! Lina bekerja untukku. Dan dia sudah menjadi duri di keluargamu!" gelak Diego.
Amelia hanya menatap pria itu dengan rasa benci yang luar biasa. Dia tidak menyangka, semua sudah direncanakan dengan sangat matang. Bahkan pengasuh anak sekalipun, sudah ditata dengan baik untuk masuk ke keluarga Williams.
"Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya?" batin Amelia.
"Ayo kita masuk!" ajak Diego menggamit pinggang wanita cantik tersebut. Amelia menatap tajam ke arah Diego. Pria itu sudah berani memegang pinggang, tangan, dan besok entah apalagi.
Diego mengantarkan Amelia ke kamarnya. Awalnya, kamar Amelia akan dipisah dengan kamar kedua anaknya. Namun Amelia bersikeras ingin satu kamar dengan kedua buah hatinya.
"Bukankah kita akan menikah! Kalau begitu sementara biarkan aku tidur dengan anak-anakku. Setelah menikah, bukankah waktuku hanya untukmu. Jadi aku mohon!"
"Baiklah. Anak-anakmu boleh tidur dengan mu! Tapi, setelah menikah jangan harap! Kau hanya akan menjadi milikku!" ucap Diego.
"Aku setuju,"
"Mana ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan Kau tidak membuat rencana dengan seseorang! Aku tahu, Kau sangat pintar! Jadi, Maaf. Aku tidak percaya denganmu!" ucap Diego.
"Ini!" Amelia menyerahkan ponselnya.
"Baiklah. Beristirahatlah!" ucap Diego sambil mencolek dagu Amelia. Lagi-lagi Amelia membuang mukanya jijik.
"Mommy,"
"Mommy!" panggil Aska.
"Kenapa orang itu jahat?" tanya Sherly.
"Entahlah. Mommy tidak tahu. Jangan dipikirkan! Sekarang Sherly dan Aska mandi, ganti baju lalu bobo!" suruh Amelia.
"Tapi Aka takut," ucap Aska.
"Jangan takut! Kan ada Mommy! Mommy akan melindungi kalian, walaupun nyawa taruhannya!" isak Amelia sambil memeluk mereka.
"Mommy!"
"Mommy!"
__ADS_1
Hiks ... Hiks ... Hiks
to be continued ...