
"Mas, Kamu darimana? Tadi malam kok nggak pulang? Kamu tidur dimana?" tanya Mawar, memberondong banyak pertanyaan.
"Mas ketiduran di toko," jawab Wiranto.
"Ketiduran di toko?" Mawar nampak mencari pembenaran diwajah suaminya.
"Kamu jangan berbohong ya, Mas!"
"Aku nggak berbohong Mawar. Aku capek, jadi, Tolong jangan berdebat denganku!" kesal Wiranto.
"Tunggu aku, Mas! Aku belum selesai ngomong!" tercium bau busuk dibaju suaminya. Mawar mengendus pakaian yang sedang dipakai Wiranto. Membuat Wiranto beringsut ke samping.
"Ada apa sih?"
"Kenapa tubuhmu baunya seperti bangkai? Sebenarnya apa sih yang kamu lakukan ditoko?" tanya Mawar kepada suaminya.
"Ah, bukan urusanmu!" marah Wiranto.
Wiranto bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia mengendus pakaiannya sendiri, memang baunya sangat tidak enak. Bau bangkai.
"Iiiiiih serem. Kok aku bisa dipemakaman ya? Padahal seingatku, aku sedang di rumah Darsih. Dan malam itu, Darsih sangat cantik sekali," ucap Wiranto bermonolog sendiri.
"Aku ingat, Darsih membuka pakaiannya semua. Tubuhnya sangat seksi. Kulitnya putih. Wajahnya sangat ayu. Bahkan Mawar saja nggak ada apa-apanya," umpat Wiranto kepada istrinya sendiri.
"Ah, Darsih. Kenapa wajahmu selalu terbayang-bayang diotakku? Dan tubuhmu juga. Darsih, aku sangat mencintaimu!" monolog Wiranto sambil memegangi senjatanya yang menegang keras, hasil dari lamunan liarnya kepada sang mantan istri.
Tok ... Tok ... Tok
"Mas? Mas? Kenapa lama sekali?" tanya Mawar dari balik pintu. Membuat lamunan nakal Wiranto buyar.
"Sial!" umpatnya, sambil mempercepat kocokannya di batang yang berdiri kokoh itu. Wiranto membutuhkan pelampiasan. Semalam hampir saja senjatanya masuk ke dalam selongsong Darsih, namun naas bukan selongsong milik Darsih yang akan ia masuki. Melainkan makhluk yang membuat dirinya jatuh tidak sadarkan diri. Untungnya, dia tidak jadi bergumul dengan makhluk menyeramkan itu.
"Ada apa?" kesal Wiranto saat membuka pintu kamar mandi.
"Makanan sudah siap. Kenapa lama sekali di kamar mandi?" tanya istrinya.
"Aku sedang menikmati guyuran shower. Kenapa? Kau keberatan?" ketus suaminya.
"Nggak, Mas. Aku cuma mau mengatakan makanan sudah siap. Apakah Mas mau makan sekarang?"
"Iya, Aku mau ganti baju dulu!"
"Baiklah. Mawar tunggu dimeja makan," ucap istrinya, "Aneh. Kenapa Mas Wiranto sikapnya jadi berubah seperti itu?" batin Mawar.
"Ah, sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja!" Mawar menepis pikiran buruknya terhadap sang suami.
"Dar-no! Dar-no!" panggilan itu memekik ditelinga Pak Darno.
__ADS_1
"Dar-no! Dar-no!" terus dan terus, sampai berulang-ulang.
Pak Darno duduk sendiri. Tatapannya kosong. Dia sedang membayangkan bertemu dengan kekasih hatinya. Wanita yang sangat dipujanya. Wanita yang sudah mengisi hatinya, hingga ke relung jiwa. Darno tersenyum mengenang masa-masa bertemu dengan Kadarsih.
"Dar-no!" panggilan itu terdengar kembali. Darno seperti mayat hidup. Dia berjalan menuruti suara yang terus mengiang-ngiang ditelinganya.
Berjalan dikegelapan malam menuju hutan. Dia tidak mendengar apapun kecuali suara merdu yang mendayu-dayu memanggilnya. Suara yang penuh dengan cinta.
"Dar-no! Kemarilah!" suara itu menuntun Darno berjalan menyusuri perkampungan, perkebunan, dan persawahan. Kemudian dia berdiri pintu masuk hutan terlarang.
"Kemarilah, Sayangku, Cintaku, Kekasih hatiku! Datanglah kepadaku!"
Darno memasuki kawasan terlarang hutan ini. Hutan yang tidak pernah terjamah oleh tangan manusia. Sepi, gelap gulita, dan suasana horor sangatlah mencekam. Darno yang sudah dikendalikan oleh sebuah magnet penarik, dia terus berjalan dan berhenti disebuah gubuk reyot ditengah hutan.
Berdiri seorang wanita cantik dengan menggunakan pakaian adat Jawa. Wanita itu memutar tubuhnya, memberikan senyum termanisnya.
"Dar-no, Kemarilah!" lambai tangan wanita itu.
"Dar-sih, Aku mencintaimu," ucapnya, "Sayang, Aku ingin memilikimu!"
"Dar-no, Kemarilah duhai kekasih hatiku!" ajak Darsih melambaikan tangannya.
"Dar-sih!" panggil Darno.
"Dar-sih!" panggil Darno.
"Pah! Papah! Bangun, Pah. Ini Mamah," ucap Bu Darno, menggoyangkan tubuh suaminya.
"Darsiiiiiiiih!" pekiknya memanggil nama Kadarsih. Keringat dingin membasahi kening Darno.
"Pah, papah kenapa? Kenapa memanggil-manggil nama Kadarsih?" isak Bu Darno.
"Minggir Kau! Kau yang menyebabkan Kadarsih terusir dari sini! Kau juga yang memfitnah dia!" murka Pak Darno menatap tajam ke arah istrinya.
"Nggak, Pah. Bukan Mamah!" elak Bu Darno.
"Karena Kau Kadarsih pergi dari kampung ini. Sekarang, Ayo ikut aku ke Pak RT! Dan katakan yang sebenarnya kalau dia bukan penggoda! Aku juga akan jujur kepada Pak RT, bahwa siang itu aku memperkosanya! Ayo ikut aku!" Darno menarik tangan suaminya.
"Nggak, Pah. Jangan bawa Mama, Pah!" mohon Bu Darno.
"Ayo ikut!" tarik Darno. Dengan sekuat tenaga, Pak Darno menarik tangan istrinya. Namun tubuh Bu Darno memberontak. Dia tidak mau dibawa ke rumah Pak RT untuk bersaksi. Aksi saling tarik menarik terjadi. Tangan Bu Darno yang kebetulan meraih ulegan cobek, dia memukulkannya tepat di
bagian belakang kepala suaminya.
BUGH ...
__ADS_1
"Aaaaaauwww," pekik Pak Darno, memegangi kepala bagian belakangnya. Darah segar mengalir di bagian belakang kepala suaminya. Tubuh Pak Darno ambruk. Bu Darno berteriak ketakutan.
"Toloooooooong!"
"Toloooooooong!"
Seorang warga yang mendengar teriakkan dari arah rumah Bu Darno. Dia langsung masuk ke rumah tersebut. Suara Bu Darno semakin keras meminta tolong. Hingga warga itu menerobos masuk ke dalam. Betapa terkejutnya orang tersebut. Melihat Pak Darno terkapar dengan darah yang mengucur dari belakang kepalanya.
"Aswin, Tolong suami saya!" isak Bu Darno ketakutan.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Aswin. Nama laki-laki itu.
"E-e, itu!" Bu Darno takut untuk mengatakan sebenarnya, "Suami saya terpeleset," ucap Bu Darno sekenanya.
"Saya panggilkan warga yang lain," ujar Aswin.
"Cepatlah!" suruh Bu Darno.
Dengan menggunakan ambulans, Pak Darno dilarikan ke RS. Desas-desus terdengar dari mulut warga sekitar. Ada yang merasa iba, ada juga yang merasa aneh dengan kejadian tersebut.
"Eh, kalian merasa aneh nggak sih?" ucap Aswin.
"Aneh kenapa, Win?" tanya Wanto.
"Ada luka menganga di bagian belakang kepala Pak Darno. Biasanya kalau orang terbentur itu kan benjol atau retak. Tapi, kenapa darah yang keluar banyak sekali ya?" ucap Aswin.
"Iya juga sih. Memang sangat aneh!" ucap Ramli, pria yang berdiri disebelah Aswin.
"Apa Pak Darno dipukul sama Bu Darno
ketahuan selingkuh?" gelak Aswin.
"Hush, Jangan sembarangan kamu, Win!"
"Iya, nih, Aswin. Gimana kalau Bu Darno dengar? Bisa dibikin sate kita!" kekehnya.
"Ha ... Ha ... Ha!"
"Dok, Tolong suami saya!" mohon Bu Darno kepada Dokter RS.
"Ibu tenang ya! Saya akan berusaha semaksimal mungkin!" ucap Dokter.
Selama tiga jam lebih, Pak Darno sedang ditangani oleh tim medis. Bu Darno yang merasa khawatir juga ketakutan, dia hanya mondar-mandir di depan ruang UGD.
Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya Dokter keluar. Bu Darno yang melihat Dokter keluar, ia langsung mendekat ke arahnya.
"Dok, Bagaimana kondisi suami saya?" cemas Bu Darno.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Dengan berat hati, kami menyampaikan bahwa suami Ibu tidak bisa bertahan. Dia beristirahat dengan tenang disisi Tuhan," ucap Dokter. Seketika dunianya gelap, kepalanya berputar-putar, tidak mampu menerima kenyataan bahwa suaminya telah meninggal ditangannya sendiri.
to be continued ...