
"Mas, kamu kenapa?" isak Mawar. Wiranto seperti patung, tapi, lebih tepatnya seperti mayat hidup.
Sikap suaminya sangat aneh. Wiranto tidak sehangat dulu. Sikapnya sangat kasar, bahkan sudah berani membentak dan main tangan.
Seperti hari ini, Wiranto berdandan rapi. Sebagai seorang istri, Mawar ingin tahu tujuan suaminya pergi. Namun, bukan jawaban yang dia dapat, justru bentakan yang dia peroleh. Membuat Mawar berciut hati untuk menanyakan hal lebih kepada sang suami.
Rasa penasaran Mawar kepada sang suami membuatnya ingin tahu lebih jauh. Setiap malam, Wiranto selalu berdandan rapi. Mawar tidak tahu kemana perginya sang suami apabila malam menjelang. Mawar pun mengikuti Wiranto dengan motor matic nya.
Mawar mengikuti mobil sang suami keluar dari kota menuju desa, kemudian berbelok ke Selatan. Sepertinya sang suami menuju desa kelahirannya.
Dari kejauhan, Mawar mengikuti pergerakan sang suami. Hingga berhenti di tepi jalan, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mobil Wiranto berhenti di tepi jalan yang sepi. Kemudian nampak seorang wanita mendekat ke arah mobil Wiranto. Mawar tidak bisa melihat dengan jelas wanita itu.
Wanita itu naik ke mobil sang suami. Lalu, mobil itu melaju dengan kencang. Agar tidak tertinggal, Mawar melajukan motor maticnya dengan kencang juga.
Sekitar dua puluh menit perjalanan, mobile itu berhenti di tepi jalan, dimana kanan kirinya pohon-pohon pinus yang menjual tinggi.
"Mau kemana, Mas Wiranto? Kenapa mereka berhenti justru ditempat sepi dan hutan seperti ini?" gerutu Mawar dengan dirinya sendiri.
Dari jauh Mawar bisa melihat, suaminya dan wanita itu turun dari mobil dan masuk ke dalam hutan pinus. Ada sesuatu yang aneh, tapi rasa keingintahuan yang besar membuatnya harus mengikuti mereka.
"Siapa sih wanita itu?" kesal Mawar, "Awas saja sampai mereka selingkuh!" geram Mawar kepada suaminya.
__ADS_1
Mawar mulai mengikuti suaminya masuk ke dalam hutan. Hutan pinus yang tumbuh besar dan rimbun. Membuat kesan horor dibenak Mawar, ditambah suasana yang sepi dan gelap gulita. Mawar menyalakan lampu ponselnya sebagai penerangan.
"Mereka mau kemana sih?" gerutu Mawar lagi.
Mawar berada di tengah hutan, namun dia tidak mendapati suaminya di sana. Hutan yang semakin gelap dan suara-suara yang aneh terdengar di indera pendengarannya.
"Kok serem banget sih!" bulu kuduknya berdiri.
"Aku ada dimana sekarang? Kenapa sunyi sekali? Tapi aku yakin Mas Wiranto tadi masuk lebih dalam lagi!" gumam Mawar.
Mawar melihat sekelebat bayangan, kemudian menghilang. Dia tidak mau menyerah. Di dalam pikirannya, dia harus menemukan sang suami. Harus!
Dia tandai pohon tersebut dengan bata merah, yang ia temukan di bawah. Itu sebagai tanda agar saat dia kembali, pohon itu sebagai penunjuk jalan pulang.
Mawar kembali berjalan mencari Wiranto dengan wanita itu. Indera pendengarannya, mendengar suara banyak orang yang sedang bercengkerama. Cukup ramai, dan membuat bulu kuduk berdiri. Karena mana mungkin di hutan suaranya ramai.
Sayup-sayup suara itu semakin terdengar. Mawar mengikuti asal suara tersebut. Dia melihat bayangan dua orang ditepi sungai dengan obor sebagai penerangan. Ternyata itu adalah suaminya. Wiranto bertelanjang dada merendamkan diirinya di sungai. Dia juga melihat seorang wanita di dekat Wiranto. Sama-sama menyelam di sungai. Wanita itu juga memakai kain Jarit untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Setelah diamati, wanita itu sangat mirip dengan Kadarsih. Mawar sempat terperanjat. Dia tidak percaya, ternyata wanita itu adalah Kadarsih.
"Apa yang dilakukan Kadarsih dengan Mas Wiranto?" batin Mawar. Mawar mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia melihat mulut Kadarsih komat-kamit membaca sesuatu. Kemudian seperti kerbau dicucuk hidungnya, Wiranto menurut apa yang dikatakan Kadarsih. Menyelam kemudian muncul lagi ke permukaan. Lalu, menyelam lagi, dan muncul lagi. Seperti sedang melakukan ritual. Hingga malam itu mereka melakukan penyatuan di dalam air. Dan yang membuatnya sangat menakutkan, Darsih wanita cantik itu berubah menjadi makhluk yang sangat menakutkan.
__ADS_1
Mawar membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya bergetar, dia mundur dari tempatnya bersembunyi.
KRIEEETTT ..
Tanpa sengaja kakinya menginjak ranting kering. Mawar sangat ketakutan. Makhluk itu nampak mengawasi sekelilingnya. Bola matanya memerah. Menatap dengan sangat tajam. Keluar dari air, dengan Wiranto yang masih berdiri mematung di sana.
Makhluk itu berjalan mencari sumber suara. Dia mendekat ke arah Mawar. Berjalan pelan dan pelan. Mawar terus menunduk, sambil menangis dia membekap mulutnya sendiri. Makhluk itu menyilakkan tanaman-tanaman yang rindang, dan tidak ada apa-apa di sana.
Mawar berhasil lari. Dia berlari sangat kencang. Menelusuri hutan kembali, dan menjauhi sungai sebagai tempat yang tidak aman untuknya. Keringat mengucur deras di dahinya, dia sangat ketakutan. Pikirannya tidak sejalan, karena rasa ketakutannya. Hingga dia bingung ke arah mana dia bisa keluar dari hutan yang sangat lebat itu.
Mawar menangis saking ketakutannya. Dia ingin berteriak, tapi tidak bisa ia lakukan. Dia sangat takut kalau makhluk itu mendengarnya. Kemudian dia teringat, sebelum masuk hutan lebih jauh, Dia memberikan tanda di beberapa pohon. Mawar pun menelusuri tanda tersebut, hingga akhirnya dia bisa keluar dari hutan.
Mawar menemukan jalan keluar dari hutan tersebut. Tidak mau tinggal lebih lama di dalam hutan, dia segera pergi dengan motornya.
Disepanjang perjalanan dia mengebut. Dia ingin sampai cepat rumah. Dan mengunci pintunya rapat-rapat.
to be continued ...
Bantu like, Zeyeng. Ayo dukung karya ini!!!!!!!
__ADS_1