
"Satu Minggu yang lalu, Aku melihat sendiri Mas Wiranto dan Darsih melakukan ritual yang mengerikan di sungai,"
"Ritual apa?"
"Aku nggak tahu," ujarnya, "Anehnya, Kadarsih berubah menjadi sosok yang mengerikan! Serem banget!"
"Jangan-jangan Kadarsih bersekutu dengan iblis untuk membalas rasa sakit hatinya!"
"Jangan menakut-nakuti aku!" cebik Mawar, "Aku harus bagaimana?"
"Kita tanya ke guru ngaji aku!"
"Kamu yakin dia bisa menyelesaikan masalahku?"
"Insyaallah. Kita coba saja dulu!"
Selasih dan Mawar datang ke tempat pengajian Ustadz Abdul Yahya. Ustadz Abdul Yahya adalah guru ngaji selasih. Selasih juga baru mengikuti pengajian ustad tersebut beberapa pekan ini. Namun dia sering mendengar kalau Pak Ustadz juga pintar mengobati orang yang terkena santet, teluh atau semacamnya. Saat Mawar menceritakan masalahnya kepada sang Ustadz, nampak Ustadz tersebut mendengarkan curhatan Mawar hingga akhir. Dia manggut-manggut mendengarkannya.
"Kalian tahu apa itu syirik?" tanya Ustadz. Selasih dan Mawar menggeleng.
"Syirik adalah menyekutukan Allah Swt dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, asma' (nama-nama) maupun sifat-Nya. Jika seorang hamba meyakini bahwa ada tuhan selain Allah SWT yang berhak untuk disembah, meyakini ada sang pencipta atau penolong selain Allah SWT, Dan dosa syirik adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Dosa yang paling besar secara mutlak adalah syirik. Yaitu menyembah selain Allah, atau menyembah Allah dan menyembah selain Allah sekaligus. Begitu juga kufur, seperti tidak meyakini adanya Tuhan, melecehkan Allah, melecehkan Nabi, membuang mushaf Al-Qur'an ke tempat sampah dengan sengaja, dan lain sebagainya," tutur Ustadz Abdul Yahya.
"Lalu saya harus bagaimana, Pak Ustadz? Suami saya sudah bersekutu dengan Iblis. Berarti bukankah dia sudah syirik!" Ustadz nampak tersenyum.
"Dekatkan diri kamu dengan Sang Maha Pencipta. Meminta ampun lah kepada Zat yang Maha Pengampun! Renungi semua kesalahan mu kesalahan suamimu. Bertaubatlah. Insyaallah pasti ada jalan akan masalahmu!"
"Terimakasih, Pak Ustadz!"
"Jika suami saya belum sembuh, Apa yang harus saya lakukan?"
"Saya yang akan datang ke rumah kamu!"
"Baiklah. Kami berdua mohon diri, Pak!
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam,"
Mawar langsung pulang ke rumah. Anak-anaknya sudah menunggunya sedari tadi. Mereka semua menyambut kedatangannya dengan bahagia.
"Kalian sudah makan?"
"Belum, Bu," jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Iya, sudah. Ibu akan pesankan kalian makanan online. Jadi kita tidak perlu menunggu lama!"
"Asyik,"
"Dimana ayah?"
"Nggak tahu, Bu. Saat kami pulang, Ayah sudah tidak ada di rumah!"
"Kemana laki-laki itu?" gumam Mawar.
"Rini kamu tunggu makanannya datang. Dan bayarkan ini! Ibu mau sholat Dhuhur dulu ya?"
"Iya, Bu,"
"Tumben ibu sholat? Biasanya ibu juga tidak pernah sholat?" batin Rini.
Sebelum sholat, Mawar membuka jendela kamarnya. Beberapa hari ini, jendela tidak dibiarkan terbuka oleh Wiranto. Lampu juga tidak boleh dinyalakan. Mawar membersihkan semua sudut kamarnya, menyapu dan mengepelnya. Dia juga mengganti seprei dan selimut. Baunya sangat tidak sedap. Seperti bau melati bercampur bau busuk.
Setelah bersih, Mawar buang semua pakaian Wiranto yang bau anyir. Dia juga menyemprot kamarnya dengan bau buah-buahan yang segar.
Dengan khusyuk Mawar melaksanakan empat rakaat. Dan berdoa kepada Allah meminta pertolongan dan perlindungan dari orang-orang dzolim yang hendak berbuat jahat kepada keluarganya.
Selesai sholat, Mawar menemani keempat buah hatinya makan siang. Mereka nampak gembira saling bersenda gurau. Mawar tidak mau harus kehilangan senyuman-senyuman mereka sebagai pelipur hatinya.
"Biarlah mereka tidak tahu apa yang terjadi! Aku akan melindungi anak-anakku! Aku tidak akan membiarkan Wiranto merusak kebahagiaan kami!" batin Mawar.
Setelah menemani anak-anaknya tidur, Wiranto pulang ke rumah. Laki-laki itu mengetuk pintu dengan sangat keras. Mawar tidak mau anak-anaknya terbangun, dia pun membuka pintu tersebut.
Seperti biasa, Wiranto masuk tanpa mengucapkan salam dan tidak mengucapkan kata. Dia berlalu begitu saja, tanpa menoleh ke arah istrinya. Mawar hanya mengelus dadanya, dia ingat dengan nasehat Pak Ustadz. Dia harus lebih mendekatkan diri kepada Allah.
__ADS_1
Berkali-kali dia berdzikir di dalam hati. Membuat Wiranto tidak tenang dan gelisah. Dia pun duduk mengamati sekelilingnya dengan tatapan mata yang tajam. Entah apa yang sedang dicarinya.
Wiranto beranjak dari tempat tidur. Dia mendekat ke arah istrinya. Mawar nampak terkejut, tatapan Wiranto sangat tajam. Mawar sangat takut.
Tiba-tiba saja Wiranto mencekik leher Mawar. Mawar mundur hingga tubuhnya menghantam dinding dibelakangnya. Suaminya kalap, seperti mendapat bisikan Wiranto mencekik leher istrinya tanpa ampun.
"Ssssssakit, Mas!" pekik Mawar. Namun Wiranto semakin kuat mencekiknya. Di dalam hati, Mawar membaca surat-surat pendek yang dia hafal. Hanya surat-surat pendek itu perisainya. Namun ajaibnya, tangan Wiranto seperti terbakar. Dia melepaskan cengkraman tangannya di leher Mawar. Mawar sampai terbatuk-batuk dibuatnya.
Wiranto seperti orang ketakutan. Dia lari, keluar dari rumah. Berlari dengan sangat kencang entah kemana, Mawar tidak perduli. Yang ada di otaknya, anak-anak dan dirinya selamat. Dia langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
"Huft, Aku bisa bernafas lega!" batin Mawar.
"Mas Wiranto sudah keterlaluan. Dia seperti kerasukan jin. Aku tidak akan membiarkannya tinggal disini. Aku takut dia akan menyakiti anak-anakku!" gumamnya.
"Aku harus meninggalkannya. Bercerai adalah jalan terbaik untuk kami!"
Dia kembali mengambil wudhu untuk sholat tahajud. Dia masih belum tenang, dan masih sangat takut. Dengan berpasrah diri kepada sang Maha Pencipta, dia sedikit lebih tenang.
Keesokkan harinya, Mawar kembali datang ke tempat pengajian Ustadz Abdul Yahya. Namun kali ini dia datang sendiri. Selasih tidak bisa menemaninya.
Mawar menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada Ustadz Abdul Yahya. Pak Ustadz mendengarkannya dengan seksama.
"Sepertinya suami ibu sudah masuk ke dalam dunia gaib terlalu dalam! Lalu maunya ibu bagaimana?"
"Saya ingin bercerai denganya. Saya tidak mau dia kembali lagi ke rumah, Pak Ustadz! Tolong saya, bagaimana caranya?"
"Ibu yakin? Dia suami ibu lho?"
"Iya, suami yang saya dapatkan dengan cara yang salah. Saya merebut Mas Wiranto dengan cara yang salah. Sekarang, saya akan mengakhirinya! Saya sadar, ternyata anak-anak saya lebih penting dari urusan percintaan dan ego saya semata. Tolong Pak Ustadz!"
"Baiklah kalau begitu! Kita adakan pengajian di rumah Bu Mawar. Nanti saya bersihkan dari gangguan-gangguan jin dan iblis!"
"Terimakasih, Pak Ustadz!"
to be continued ...
Cerita ini hanyalah cerita fiktif belaka. Jalan ceritanya hanya sebuah imajinasi dari Author semata. Mohon maaf jika ada kejadian-kejadian yang kurang berkenan.....🙏
__ADS_1