Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )

Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )
Episode 27 : Bonus Readers


__ADS_3

"Mawar, kenapa justru kamu mengikuti perbuatan yang tidak baik? Itu salah Mawar!" hardik Selasih.


"Aku tahu, itu tidak baik. Aku salah. Sekarang aku harus bagaimana?" isak Mawar, "Aku takut."


"Apakah Mas Wiranto pernah bertemu Kadarsih setelah itu?"


"Tidak, sudah lama tidak bertemu. Tapi ... !"


"Tapi, Apa?"


"Satu Minggu yang lalu, Aku melihat sendiri Mas Wiranto dan Darsih melakukan ritual yang mengerikan di sungai,"


"Ritual apa?"


to be continued ...


☄️☄️☄️☄️☄️


Ayo teman-teman, baca juga novel Author yang lain berjudul "ISTRIKU BERBEDA"


Penggalan Bab:


"Apakah dosa Zina bisa dimaafkan, Kak?" tanya Nathan kepada Adnan.


"Tentu saja bisa. Asalkan Kau bersungguh-sungguh bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah. Insya Allah, Allah pasti memaafkanmu," tutur Adnan, "Semua orang punya kesempatan untuk kembali dan menjadi lebih baik. Maka akan saya tegaskan, Allah sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah," tandasnya.


Nathan menitikkan air matanya, pipi dan bajunya basah karena air mata. Entah kenapa apa yang disampaikan oleh Adnan, membuat tubuhnya bergetar hebat.

__ADS_1


"Selama ini aku sudah berdosa. Aku bukan hanya berzina, aku juga sudah menyakiti hati istriku sendiri," isaknya, "Suami macam apa aku ini?"


"Hiks ... Hiks ... Hiks." Adnan bisa merasakan kesedihan pria didepannya.


"Sabarlah, Bro. Kamu harus bertaubat dan instrospeksi diri kamu sendiri. Berusahalah untuk berubah sebelum terlambat. Dekatkan dirimu kepada sang Pencipta. Mohon pengampunan atas kesalahan dan dosa yang sudah kamu lakukan. Hanya Allah tempat kita mengadu dengan segala keluh dan kesah hambanya!" tutur Adnan lagi.


"Terima kasih banyak, Kak. Kakak sudah bersedia mendengarkan segala keluh kesahku. Terima kasih atas ilmu yang bermanfaat ini, Kak!" Adnan menepuk pundak Nathan agar dia bersabar dan bersyukur karena disituasinya sekarang ini, Michelle dengan ikhlas masih berada didekatnya.


Sudah lama juga mereka mengobrol dan saling berbincang. Hingga kedua perempuan cantik itu kembali.


"Mas, sudah sore banget. Ayo kita pulang, nanti Mustofa rewel!" ujar Amina. Adnan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata memang sudah sore. Mustofa kecil mereka titipkan dengan neneknya di rumah.


"Baiklah, Sayang," jawabnya, "Kami pulang dulu. Kalau ada kesempatan mainlah ke rumah sederhana kami,"


"Ah, Kak Adnan terlalu merendah. Oya, ini ada kue untuk si kecil Mustofa. Sampaikan salam ku untuk Mustofa dari Tantenya yang cantik," gelaknya. Semua orang di sana ikut tergelak.


"Ah, tidak. Kami yang merepotkan kalian!" kekehnya.


"Apaan sih? Kami senang kok bisa kesini? Iya kan, Mas?"


"Iya, Sayang!" sahut Adnan, "Seorang muslim yang baik, jika ada muslim lainnya yang sedang sakit, alangkah baiknya jika kita menjenguknya. Hukum menjenguk orang sakit adalah sunnah. Seorang Muslim yang melakukannya akan mendapat pahala di sisi Allah Ta'ala karena menaati dan meneladani Nabi Muhammad SAW. Menjenguk orang sakit juga dapat menguatkan ukhuwah, persaudaraan, serta solidaritas sesama," tegasnya.


"Terimakasih banyak, Kak Adnan, Amina. Kalian memang saudara muslim yang baik," jawabnya.


"Baiklah, kami pulang dulu. Jika, ada kesempatan kami akan kesini lagi,"


"Baik, Kak. Terimakasih sekali lagi!"

__ADS_1


Setelah berpamitan, suami istri itu pun keluar dari ruangan Nathan. Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di kamar itu.


Nathan memanggil nama istrinya dengan lembut. Dia menggenggam tangan Michie dan mencium punggung tangannya. Dia terisak, air matanya membasahi punggung tangan istrinya.


"Kenapa, Mas?" tanya Michelle.


"Maafkan aku," isaknya.


"Sudahlah, Mas. Jangan berpikir macam-macam dulu. Kamu harus sembuh dulu, Mas. Kamu harus semangat dan yakin bahwa penyakit kamu bisa sembuh!" tutur istrinya.


"Maukah kamu membantuku?" tanya Nathan. Michelle terdiam sejenak, dia bingung harus menjawab apa.


"Aku tahu jawabannya. Pasti, kamu tidak mau. Apalagi setelah yang aku lakukan kepadamu. Aku memang tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti kamu,"


"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan, Mas? Aku nggak ngerti!"


"Tapi, itu kenyataan Michie. Faktanya, aku memang sudah menorehkan luka terlalu dalam dihati kamu. Kamu berhak marah kepadaku. Kamu boleh memilih kebahagiaanmu !"


"Bukan, bukan itu, Mas," ucapnya.


"Lalu?"


"Jika memang kamu berubah. Dan menjadi suami yang bertanggung jawab dan imam yang baik untukku. Aku bersedia kembali denganmu, Mas!" ujarnya. Ada hawa segar yang menerpa perasaan Nathan. Ada rasa bahagia, terharu dan sedih.


"Benarkah? Jadi, kamu mau kembali kepadaku?" senangnya. Michelle menganggukkan kepalanya.


to be continued ....

__ADS_1


__ADS_2