
"Aku sudah menduganya, Mir. Bapak itu diguna-guna! Aku yakin Darsih itu pakai pelet!"
"Pelet?"
"Ya, pelet. Ilmu pelet yang membuat lawan jenis kesengsem kepada pemakai pelet itu sendiri!"
"Apa beda ya, Mba. Pelet sama Santet?"
"Iya beda lah, Mir. setahu Mba, Pelet, pemikat, atau mantra cinta itu sama. Dan itu adalah jenis ilmu gaib yang berfungsi untuk memengaruhi alam bawah sadar seseorang agar jatuh cinta kepada orang yang mengirim pelet tersebut!"
"Sedangkan santet setahu Mba adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Biasanya santet sering dilakukan orang yang mempunyai dendam karena sakit hati kepada orang lain."
"Oh, begitu, Mba. Ngeri ya? Terus Bapak gimana, Mba?"
"Itulah yang sedang Mba pikirkan."
"Kenapa kita nggak bawa Bapak ke Ustadz saja, Mba? Atau ke orang pintar?" seloroh Toni.
"Iya. Bapak memang harus dibawa ke orang pintar!"
"Tapi, Bagaimana caranya? Darsih saja ada di rumah. Dan dia tidak pernah meninggalkan Bapak sendirian di rumah!"
"Iya, juga. Bagaimana caranya ya?"
"Kalau seumpamanya kita bawa ustadz ke rumah Bapak, Bagaimana?" timpal Tony lagi.
"Kalau Kadarsih melarang kita?"
"Loh, itu kan Bapak kamu, Mir. Kita sebagai anak-anaknya berhak dong melindungi Bapak dari kejahatan Darsih! Ini namanya ilmu hitam lho! Bisa-bisa Bapak kehilangan nyawa ditangan Darsih!"
"Apa yang dikatakan Tony benar, Mir. Bapak adalah satu-satunya orang tua yang kita miliki. Bagaimanapun kita harus melindunginya. Bapak itu sudah kena guna-guna Darsih. Hingga lupa dengan anak-anaknya!"
"Baik. Kapan kita semua kesana?"
"Iya, Sekarang juga. Tunggu Mas Roby pulang kerja. Mas Roby dapat shift malam. Sebentar lagi pasti pulang!"
Satu jam kemudian, Roby suami Asih memang pulang. Roby heran karena semua iparnya berkumpul di rumah. Tidak biasa-biasanya mereka berkumpul.
"Bang, Ikut kami ke rumah Bapak! Kami berniat untuk menyadarkan Bapak yang terkena guna-guna Kadarsih!" ucap Asih istrinya.
"Kalian ngomong Apa sih? Kata siapa Bapak kena guna-guna?"
"Kami semua yakin, Bang!"
"Sih, kamu itu terlalu mencurigai ibu tiri kamu sendiri!"
"Mirna melihatnya sendiri, Bang. Dia melihat Darsih melakukan praktek perdukunan!"
"Iya, Mir?"
"Iya, Bang. Saya melihat sendiri!"
"Lalu kita ke sana mau ngapain? Darsih juga berhak terhadap Bapak. Dia kan istrinya!"
"Tapi, Bapak juga Bapak kami. Kami ingin menyadarkan Bapak. Abang nggak lihat sih, sekarang kondisi Bapak memprihatinkan!"
"Memangnya Bapak seperti apa sekarang?"
"Sekarang, Bapak tuh kurus. Tatapannya kosong. Seperti orang sakit-sakitan, Bang!"
"Oke. Abang ikut. Hubungi Gito juga!"
"Baik. Baik!"
Anak, menantu dan seorang ustadz datang ke rumah Rokhim. Mereka mengetuk dan menggedor pintu, agar Darsih membukanya.
Tok ... Tok ... Tok
__ADS_1
"Darsih, Buka!" teriak Asih.
Suara derap langkah terdengar dari dalam. Dengan buru-buru Darsih membuka pintu.
"Eh, Asih, Mirna, Gito. Kalian semua ada disini! Ada apa ya rame-rame begini?"
"Mana Bapak?" ketus Asih.
"Maksud kamu apa?"
"Bapak Mana?" bentak Asih.
"Kamu yang sopan ya!"
"Untuk apa saya sopan dengan wanita ****** seperti kamu!" Asih menunjuk Darsih dengan satu jari, "Kau menggunakan guna-guna untuk menjerat Bapak kami kan?"
"Maksud Kamu Apa?"
"Jangan sok lugu!"
"Saya benar-benar tidak mengerti."
"Mana Bapak?"
"Ada di dalam."
"Aku tahu kamu membuat Bapak sakit-sakitan kan? Kamu mau menjadikan Bapak tumbal?"
"Kamu salah paham, Sih?"
"Alah, nggak usah ngeles! Wanita ****** seperti kamu tuh tidak pantas hidup dengan kami!"
"Asih cukup!" teriak suara laki-laki dari dalam.
"Ba-pak!" Asih mendelikkan matanya.
"Pak?" Gito tercekat, melihat Bapaknya keluar dari kamar.
"Kalian apa-apaan sih?" bentak Rokhim.
"Bapak sehat?" tanya Asih mendekat ke arah Rokhim.
"Bapak sehat. Darsih menjaga Bapak dengan sangat baik!" ketusnya.
"Kenapa kau membawa ustadz?" tanya Rokhim lagi dengan ketusnya.
"Oh, Ini Pak. Ustadz Anwar yang akan menyembuhkan Bapak dari guna-guna Kadarsih!" ujar Asih.
"Guna-guna? Kamu sudah tidak waras ya, Sih? Siapa yang diguna-guna?"
"Kadarsih, Pak!"
"Kamu jangan berbicara sembarangan! Bagaimana kalau tetangga sampai dengar?" sentak Rokhim.
"Lho, Bapak selama ini kan sudah kena guna-guna Darsih. Kemarin Mirna lihat Bapak lemes dan seperti orang yang sakit!"
"Kamu jangan bicara ngawur! Bapak sehat-sehat saja!"
"Pak nggak usah bohong? Mirna lihat kok!"
"Oh, itu. Pas kamu kesini. Itu karena Ibu tiri kalian sedang hamil. Dan Bapak yang ngidam." gelak Rokhim.
"A-pa?" Asih, Mirna dan Gito terkejut, mereka saling lempar pandang.
"Dari kemarin Bapak muntah-muntah. Nggak nafsu makan. Makanya Bapak lemas." gelaknya lagi.
"Itu benar. Saya memang sedang hamil. Dan Bapak kalian yang ngidam," gelak Darsih, "Kalau kalian tidak percaya, kalian baca saja surat USG-nya!"
__ADS_1
Asih menerima surat yang disodorkan oleh Ibu tirinya. Dia terperanjat, pasalnya surat itu jelas tertulis kalau Kadarsih memang hamil.
"Sekarang kalian percaya kan kalau ibu tiri kalian memang sedang hamil. Jadi berhentilah menuduh yang tidak-tidak!"
"Jadi kalian salah menuduh orang?" tanya Pak Ustadz.
"Eh, bukan begitu, Ustadz. Saya yakin kok kalau Kadarsih memang mempelajari ilmu hitam?" ujar Mirna terbata.
"Saya melihatnya sendiri, di kamar sebelah sana, Kadarsih melakukan ritual!" tunjuk Mirna.
"Mirna, Berhenti menuduh ibu tirimu!" kesal Rokhim.
"Kalian boleh memeriksanya kalau tidak percaya!" timpal Darsih.
"Ayo, Pak Ustadz!" ajak Asih dan Mirna. Sedangkan para lelaki hanya duduk di ruang tamu.
Kamar itu pun dibuka oleh Kadarsih. Memang kamar itu digembok, karena jarang dipakai. Dan Kadarsih fungsikan sebagai gudang. Tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Pak Ustadz Anwar masuk ke dalam ruangan tersebut. Memang tidak ada yang aneh dan mencurigakan. Di dalam hanya barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Mirna sangat terkejut. Bagaimana bisa ruangan tersebut berisi barang-barang yang tidak terpakai. Padahal baru kemarin dia yakin, ruangan tersebut kosong.
Mirna menoleh ke arah Kadarsih. Kadarsih mengulas senyum manis.
"Tidak ada apa-apa kan?" ucap Darsih. Mirna dan Asih hanya tersenyum kecut.
"Iya sudah kalau tidak apa-apa. Lebih baik saya pulang!" ucap Pak Ustadz.
"Maafkan anak-anak saya, Pak. Mereka lancang sudah mengerjai Anda!" ujar Rokhim memberikan amplop putih ke saku Ustadz Anwar.
"Apa ini, Pak?"
"Untuk ongkos pulang. Mohon diterima sebagai permintaan maaf!"
"Baiklah. Terimakasih banyak Pak Rokhim."
Setelah kepergian ustadz Anwar, Pak Rokhim menatap tajam ke arah anak dan anak menantunya.
"Bapak nggak habis pikir kenapa kalian bisa bertindak seperti itu? Kalian benar-benar keterlaluan!" kesal Rokhim.
"Maafkan kami, Pak!" ucap Mirna dan Gito.
"Asih juga minta maaf!" ucap Asih.
"Sudahlah, Mas. Kita kan satu keluarga. Jangan marah-marah kepada mereka lagi ya!" bujuk Darsih.
"Tuh lihat. Bahkan ibu tiri kalian masih bisa membela kalian! Jika kalian tidak meminta maaf padanya. Bapak nggak akan memaafkan kalian!"
"Iya, Pak. Kami akan meminta maaf!"
"Darsih, Kami minta maaf. Tolong jangan marah kepada kami!" ujar Mirna.
"Saya juga, Sih!" ujar Gito.
"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan kalian!" jawab Darsih.
"Mas Roby, Ayo kita pulang!" ajak Asih. Tanpa permisi, Asih meninggalkan rumah Bapaknya dengan hati yang jengkel. Disusul oleh Mirna dan suaminya. Serta Gito dan juga istrinya. Mereka berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
Darsih tersenyum lega. Setelah mengetahui dirinya dinyatakan positif hamil oleh Dokter. Dia berhenti mempelajari ilmu peletnya. Semua peralatan yang dia gunakan untuk memelet, dia simpan rapi di gudang belakang rumah. Di simpan dalam kotak peti, dan ditutup dengan kain berwarna hitam. Tidak ada seorangpun yang tahu, karena gudang tersebut di gembok. Dan jarang ada yang menyinggahi tempat tesebut.
Bukan hanya tempatnya berdebu. Tempat itu juga sangat pengab dan berbau tidak sedap.
The End ...
☄️☄️☄️☄️
"Balas dendam memang dapat memuaskan hati, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik."
__ADS_1