Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )

Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )
Episode 26 : Perubahan Wiranto


__ADS_3

"Bu, kami berangkat sekolah dulu!" pamit mereka semua setelah mendapatkan uang saku.


"Baiklah, hati-hati, Sayang. Ingat, langsung pulang ke rumah!" tutur Mawar.


"Baik, Bu," jawab mereka serentak. Mereka pun berangkat menuju sekolahnya. Kebetulan Sekolah mereka tidak terlalu jauh. Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saja, mereka sudah sampai ke Sekolah.


Mawar ingin masuk ke dalam, tapi dia takut bertemu dengan sang suami. Apalagi mengingat kejadian semalam. Akhirnya, dia memutuskan langsung ke toko sembako dan mandi di sana.



Warung Mak Onah nampak ramai. Para pria berbincang-bincang di warung sambil menikmati pahit manisnya kopi. Ada juga yang sengaja datang hanya untuk mengobrol sambil merokok.


"Hey, Fuad, lama sekali Kau nggak kelihatan di acara pengajian?" tanya Usman, teman sebayanya yang tinggal di desa Sukaharja.


"Ah, aku baru pulang dari rumah Pakdeku di kota,"


"Lho kenapa? Apa ada hajatan di rumah pakde mu?"


"Hajatan apa? Orang aku sakit selama dua Minggu kok!" rungutnya.


"Sakit apa kamu, Fuad?" tanya Pak Baryan.


"Saya demam, Pak! Se-se ... !" jawab Fuad tergagap. Matanya celingak-celinguk, takut yang diomongin tiba-tiba muncul.


"Se-se Apa?"


"Setelah dari rumah Mba Kadarsih," jawab Fuad.


"Lho kok bisa? Kamu lihat setan?"


"Iya, Pak, betul!" Fuad mengiyakan ucapan Oak Baryan.


"Jangan sembarangan kamu, Fuad! Kalau didengar Darsih, bisa celaka kamu!" tutur Mak Onah.


"Fuad nggak bohong, Mak! Fuad lihat sendiri," ujarnya.


"Bagaimana ceritanya?" tanya Usman.


"Saat itu aku dibayar Mba Darsih buat menjaga rumahnya, karena saat itu Pak Rokhim sedang sakit. Mbak Kadarsih pergi ada urusan. Aku dengar di dalam rumah ada suara aneh. Aku hampiri saja, karena aku penasaran," terangnya sambil meneguk kopi yang ada didepannya, "Lalu, aku cari suara tersebut dikamar Pak Rokhim. Nampak Pak Rokhim sedang tidur pulas. Aku hendak keluar lagi. Tapi, suara aneh itu terdengar lagi, dan suaranya lebih kencang! Aku penasaran, aku pun mendekatkan telingaku ke pintu sebuah kamar. Tiba-tiba saja, daun pintu bergerak sendiri. Aku semakin penasaran. Aku ambil kursi, aku naiki kursi tersebut untuk mengintip dari arah fentilasi pintu. Tahu apa yang kulihat?" tanya Fuad kepada semua orang yang duduk di warung Mak Onah. Mereka pun menggeleng secara serentak.


"Aku lihat banyak sekali makhluk mengerikan disana. Mereka menatap tajam ke arah ku, dengan mata melotot dan merah menyala. Aku ketakutan, dan aku berlari sangat kencang, pulang ke rumah!" ucapnya sambil bergidik ngeri.


"Ah, jangan bohong kamu!"


"Serius, Mak. Semenjak itu aku sakit. Badanku demam tak kunjung turun, akhirnya aku dibawa ke kota," jelasnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan Darsih pesugihan," ucap salah satu warga.


"Ah, nggak mungkin. Orang Pak Rokhim saja sudah kaya. Mana mungkin dia pakai pesugihan!"


"Iya juga sih!"


"Apa mungkin Pak Rokhim atau Darsih sedang mempelajari ilmu hitam?"


"Entahlah, saya juga tidak tahu,"


"Ah, ilmu apa sih? Jangan pada mikir sembarangan deh!" ucap Pak Baryan.


"Iya, mungkin saja kan!"


"Ada-ada saja!"


Mawar pulang dari toko sembakonya. Dia langsung pulang ke rumah. Mawar tidak mau sampai anak-anaknya mencari dirinya. Dan benar saja, ternyata ke empat anaknya sudah berada di rumah.


"Kalian sudah pulang?" tanya Mawar.


"Sudah, Bu," jawab Rini.


"Bu, sini deh. Ada sesuatu yang aneh dengan ayah," ucap Rini.


"Ayah? Memangnya Ayah sudah bangun?"


"Aneh, bagaimana?"


"Ayah kayak orang pikun. Ditanya nggak menjawab," ujar Rini, "Wajahnya juga pucat, Bu!"


"Benarkah?"


"Iya, sudah. Kau jaga adik-adikmu. Ibu mau masak makan siang untuk kalian!"


"Iya, Bu,"


Mawar masuk ke dalam. Nampak Wiranto sedang duduk di meja makan. Pandangannya kosong, bahkan saat dipanggil, Wiranto tidak menyahut.


"Mas sudah makan?" tanya Mawar. Wiranto tetap tidak bergeming di tempat duduknya.


"Mawar masak dulu ya?"


Dengan cekatan Mawar mengolah bahan makanan yang dia beli tadi di supermarket. Ayam semur dan sambel kentang sebagai menu siang mereka. Mawar menghidangkannya di meja makan. Dia juga menyuruh anak-anaknya untuk mencuci tangannya terlebih dulu, lalu setelah itu makan. Dia juga mengajak suaminya makan siang bersama.


Ada hal yang aneh pada diri Wiranto. Wiranto makan dengan sangat lahap. Bahkan satu piring porsi tidak cukup baginya, dia meminta nambah, nambah dan nambah. Mawar dibuat terkejut dengan sikap suaminya hari ini.

__ADS_1


"Aneh? Tidak biasanya dia makan sebanyak itu. Itu bukan seperti Mas Wiranto," batin Mawar, dia juga mencium bau aneh pada tubuh suaminya.


Beberapa hari ini, Wiranto tidak keluar kamar, tidak juga mandi. Dia hanya berdiam diri di kamar, dengan tatapan kosong. Kamarnya dibiarkan begitu saja, tanpa penerangan. Korden juga dia biarkan tertutup rapat. Membuat ruangan menjadi pengap dan bau.


Mawar benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terlalu takut untuk menasehati suaminya. Dia sangat takut kena omel Wiranto. Karena suaminya akan menatap dengan tajam, apalagi tangannya sudah mulai berani untuk bermain kasar. Wiranto tidak bersuara ataupun berbicara, tapi jika marah dia tidak segan-segan mengangkat tangannya. Terkadang juga dengan tega, Wiranto membenturkan kepala Mawar ke tembok.


Mawar yang ketakutan seringkali dia berkeluh kesah kepada adiknya. Sambil menangis dan terisak dia mencurahkan segala isi hatinya.


"Mawar, sepertinya suami kamu kena pelet!" ucap Selasih, adik Mawar.


"Pelet,"


"Iya, pelet. Orang yang terkena pelet, dia seperti orang linglung. Tidak ingat kepada siapapun!" terang Sulasih.


"Lalu, siapa yang memeletnya? Aku tidak pernah mendengar Mas Wiranto menyukai seseorang atau dikejar-kejar seseorang," ujar Mawar.


"Apakah suamimu pernah menyakiti hati seseorang?" Mawar nampak mengingat-ingat.


"Darsih," ucap Mawar menyebut satu nama.


"Iya, Kadarsih! Mas Wiranto pernah menyebut-nyebut nama Kadarsih," ucap Mawar.


"Siapa Kadarsih?" tanya Selasih..


"Darsih adalah mantan istri Mas Wiranto. Demi aku, dia meninggalkan anak dan istrinya," terang Mawar, "Beberapa bulan yang lalu. Kami berdua datang ke rumah Kadarsih. Tujuan kami datang untuk meminta surat rumah. Dan Mas Wiranto ingin menjualnya. Dan rencananya, Mas Wiranto ingin membagi dengan istri dan anak-anaknya. Tapi, Darsih menolak dengan tegas. Dia tidak mau rumahnya di jual. Karena menurutnya, rumah itu adalah hak-nya dan kedua anaknya,"


"Lalu?"


"Satu Minggu kejadian itu, Mas Wiranto datang lagi ke rumah saat Darsih bekerja. Dan yang ada di rumah itu hanya kedua anaknya. Dengan paksa, Mas Wiranto masuk ke dalam. Dia mencari surat rumah dan mengambilnya. Setelah mendapatkan apa yang kami mau, kami pun pergi. Anak-anak Mas Wiranto mencegah kepergian kami. Mas Wiranto pun mengunci mereka dari luar,"


"Dua hari setelah itu, kami mendapat kabar bahwa rumahnya terbakar habis, dengan kedua anak Mas Wiranto yang masih ada di dalam rumah itu," jelas Mawar panjang lebar.


"Mawar, kenapa justru kamu mengikuti perbuatan yang tidak baik? Itu salah Mawar!" hardik Selasih.


"Aku tahu, itu tidak baik. Aku salah. Sekarang aku harus bagaimana?" isak Mawar, "Aku takut."


"Apakah Mas Wiranto pernah bertemu Kadarsih setelah itu?"


"Tidak, sudah lama tidak bertemu. Tapi ... !"


"Tapi, Apa?"


"Satu Minggu yang lalu, Aku melihat sendiri Mas Wiranto dan Darsih melakukan ritual yang mengerikan di sungai,"


"Ritual apa?"

__ADS_1


to be continued ....


__ADS_2