Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )

Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )
Episode 25 : Suara Derap Langkah Kaki


__ADS_3

Mawar menemukan jalan keluar dari hutan tersebut. Tidak mau tinggal lebih lama di dalam hutan, dia segera pergi dengan motornya.


Disepanjang perjalanan dia mengebut. Dia ingin sampai cepat rumah. Dan mengunci pintunya rapat-rapat.


Mawar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sepi dan gelap gulita. Dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Yang ada dibenaknya hanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah.


Sampai di rumah, Mawar langsung memasukkan motornya ke dalam. Dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya. Mawar masuk ke dalam selimut, dan bersembunyi di sana.


Tok ... Tok ... Tok


Suara pintu depan diketuk sangat keras. Mawar sangat ketakutan, dia masih bersembunyi dibalik selimut.


"Siapa itu?" takut Mawar.


Tok ... Tok ... Tok


Ketukan itu terdengar kembali. Mawar terlalu takut untuk membuka. Dia lebih memilih untuk meringkuk di bawah selimut.


Suara ketukan sudah tidak terdengar, berganti dengan suara derap langkah kaki yang diseret. Sepertinya suara derap langkah itu, berjalan mengitari rumah. Mawar memastikan semua pintu terkunci rapat. Kemudian dia kembali ke kamar. Namun, dia masuk ke kamar anak-anaknya. Mengunci kamar itu dengan rapat.


Mawar terduduk di ranjang anak-anak, dia terjaga karena rasa takut yang luar biasa. Hingga pukul 3 pagi, barulah dia bisa memejamkan matanya walau sebentar.


Mawar memiliki empat anak dari pernikahan sebelumnya. Suami pertamanya sudah meninggal. Dan meninggalkan 3 toko sembako untuk istri dari anak-anaknya.


Lima tahun menjanda, bukanlah hal yang mudah baginya. Apalagi ditinggalkan suami dengan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Bukan anaknya saja yang membutuhkan sosok ayah, dia juga membutuhkan sosok pria yang bisa menjadi sandaran hidup dan teman dikala susah dan sedih.


Bukan hanya sekedar sandaran hidup. Mawar juga membutuhkan seorang pria yang dapat menghangatkan tubuhnya disaat malam menjelang. Lima tahun menjanda, kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan. Terpaksa dia bermain sendiri dengan tangan lentiknya.


Datanglah Wiranto sebagai seorang karyawan toko dari desa. Pertemuan mereka setiap hari, membuat Mawar jatuh cinta. Mereka pun memiliki hubungan gelap, yang tidak diketahui oleh karyawan-karyawannya.


Lama kelamaan hubungan tersebut sampai tercium khalayak ramai. Apalagi banyak orang yang sering melihat Wiranto keluar dari rumah janda beranak empat itu, menjadi buah bibir yang hangat dibicarakan.


Gosip miring yang sedang hangat diperbincangkan sampai ke telinga Mawar. Hingga akhirnya Mawar meminta Wiranto untuk menikahinya. Jadilah mereka pasangan suami-istri sampai sekarang.

__ADS_1


Mawar mengerjapkan matanya kala sang buah hati yang paling kecil bernama Andre menggoyangkan tubuhnya supaya bangun.


"Ibu, Bangun! Andre lapar, mau sarapan!" ujarnya. Anak itu terus menggoyangkan tubuhnya agar bangun.


"Jam berapa sekarang?" tanya Mawar.


"Jam 6, Bu," sahut Rini, anak pertama.


"Jam 6," heran Mawar. Mawar beranjak dari tempat tidurnya. Dia bergegas untuk ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi. Selesai mencuci muka, dia bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan.


Telor mata sapi dan nasi goreng sosis sudah tersaji di meja makan untuk sarapan. Ke empat anaknya sarapan dengan sangat lahap. Mereka juga sudah rapi memakai seragam sekolah.


"Ayo makan!" ujar Mawar.


"Asyik," sahut Andre dan Amin. Amin adalah anak ke dua Mawar.


"Kalian pintar sekali. Sudah mandi dan rapi," puji Mawar.


"Kok Ibu tidur di kamar kami?" tanya Rini.


Seketika, Mawar teringat kejadian tadi malam. Dia beranjak dari tempat duduknya. Membuka pintu kamarnya, ingin memastikan sesuatu.


"Mas Wiranto?" Mawar sangat terkejut mendapati suaminya sedang tidur pulas di tempat tidurnya. Keringat dingin mengucur deras.


"Ada apa, Bu?" tanya Rini. Anak pertamanya heran, karena sang Ibu berdiri di ambang pintu melihat ke arah ayah tirinya yang tertidur pulas dengan wajah ketakutan.


"Bu!" panggil Rini. Membuat lamunan Mawar buyar.


"Eh, nggak ada apa-apa," jawabnya. Dengan perlahan Mawar menutup pintu kamarnya.


"Kapan Ayah pulang?" tanya Mawar ke Rini.


"Rini nggak tahu, Bu," jawab Rini, "Emang Ayah kemana?" Tini justru balik bertanya.

__ADS_1


Aneh? Itulah yang sekarang berkecamuk dipikiran Mawar. Jelas, semua pintu sudah ia kunci. Dari mana suaminya bisa masuk. Dia kembali ke meja makan untuk menikmati nasi goreng.


"Siapa yang membukakan pintu saat Ayah pulang?" tanya Mawar kepada anak-anaknya.


"Andre tidak, Bu," sahut Andre.


"Amin juga nggak," timpalnya.


"Ita juga nggak, Bu," timpalnya lagi.


"Lalu siapa?" batin Mawar.


"Ada apa sih, Bu?" tanya Rini penasaran.


"Nggak apa-apa. Iya nggak ada apa-apa. Kalian jangan khawatir!" ucap Mawar tergagap.


"Rini tidak boleh tahu. Kalau tahu, dia pasti ketakutan," batin Mawar.


"Bu, kami berangkat sekolah dulu!" pamit mereka semua setelah mendapatkan uang saku.


"Baiklah, hati-hati, Sayang. Ingat, langsung pulang ke rumah!" tutur Mawar.


"Baik, Bu," jawab mereka serentak. Mereka pun berangkat menuju sekolahnya. Kebetulan Sekolah mereka tidak terlalu jauh. Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saja, mereka sudah sampai ke Sekolah.


Mawar ingin masuk ke dalam, tapi dia takut bertemu dengan sang suami. Apalagi mengingat kejadian semalam. Akhirnya, dia memutuskan langsung ke toko sembako dan mandi di sana.


to be continued....


Ayo dukung karya ini Say.....🥰🥰


Gampang banget caranya, tinggal klik Like, kasih komentar, favorit, rate bintang lima, dan vote.


Bunga dan kopi juga boleh banget kok.....😂😂

__ADS_1


__ADS_2