
Mampir juga di novel teman, "SEKEDAR PELAMPIASAN" , Author : Weny Hida
Dijamin karyanya bagus-bagus. Nyesel kalau tidak membaca.
CUPLIKAN:
Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.
"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Sudah," jawab Luna singkat.
"Ayo kuantar pulang!"
Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.
Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.
"Terima kasih, Luna."
Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.
'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.
"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."
****
Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.
Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.
CLUP
Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.
"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.
"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.
Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.
"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.
☄️☄️☄️☄️☄️
Mampir juga di cerita author yang lain.
"Amelia"
Arga menatap tajam ke arah Amelia, ingin meminta sebuah penjelasan dan jawaban.
Amelia yang merasa ketakutan, dia hanya diam seribu bahasa, menundukkan kepalanya karena ketakutan yang teramat sangat.
"Katakan kepadaku! Apakah kau berselingkuh selama ini?" bentak Arga, menatap sangat tajam kearah Amelia, membuat Amelia terkejut karena teriakan suaminya.
"Hiks ... hiks ... hiks!"
"Tidak, Mas! Aku tidak pernah berselingkuh!" ucapnya.
"Bohong!" bentak suaminya, matanya memerah menatap sangat tajam, nafasnya tidak beraturan.
"Apakah kau mau menipuku?" bentak suaminya lagi.
"Tidak, Mas! Aku tidak pernah menipumu!"
"Aku mohon! Percayalah kepadaku!"
"Lalu bagaimana kau bisa?" ucap Arga, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Aku diperkosa, Mas!" ujar Amelia, merasakan ketakutan yang mendalam.
"Hiks ... hiks .... hiks!"
"Apa?"
"Sejak kapan?" marah Arga.
"Katakan! Sejak kapan kejadian itu terjadi?" bentak Arga mencengkeram erat tangan istrinya, membuat Amelia menangis tersedu-sedu.
"Empat hari sebelum pernikahan kita!" jelasnya.
"B**********sek!" Arga mendorong tubuh istrinya kasar, membuat Amelia terjerembab menyenggol meja.
"Kau mau menipuku selama ini! Kau mau menipu keluargaku!"
"Hah?" teriak Arga.
"Maafkan aku, Mas! Aku tahu, aku bersalah!"
"Aku menyesal!"
"Hiks....hiks....hiks!"
"Harusnya dari awal, aku jujur!"
"Harusnya dari awal aku membatalkan pernikahan kita! Aku benar-benar menyesal, Mas!"
"Hiks .... hiks .... hiks!"
Arga berjalan mendekat ke arah istrinya, dia mencengkeram erat tangan istrinya, menatap lekat manik istrinya.
"Aduh, sakit mas!" Amelia mengaduh kesakitan karena cengkraman kuat suaminya.
"Apakah orang tuamu tahu semuanya?" tanya Arga.
Amelia bisa melihat kemarahan suaminya, mata Arga memerah saat dia sedang marah.
Ini adalah pertama kalinya Amelia melihat seorang Arga marah.
"Iya, Mas! Mereka tahu semuanya!" ucap Amelia dengan bibir bergetar.
"Tidak, Mas! Aku hanyalah korban! Aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi! Aku mohon, maafkan aku, Mas!" ucap Amelia berlutut di kaki suaminya.
"Hah!" marah Arga membanting semua barang-barang yang ada di Villa, membuat Amelia berteriak semakin ketakutan.
"Jangan, Mas!" ucap Amelia ketakutan.
Arga menyambar bajunya, dan memilih pergi dari kamar itu entah kemana.
Sedangkan Amelia, merasa dirinya sangat berantakan. Dia memakai bajunya, dia menangis histeris.
"Ayah? bunda?" panggilnya.
"Amel sudah tidak sanggup!"
"Hiks ... hiks .... hiks!" tangis Amelia, hatinya benar-benar sakit. Pernikahannya hancur, dalam sekejap mata.
Dia menyalahkan dirinya, atas semua yang terjadi.
Amelia menunggu suaminya pulang, namun masih belum kembali.
Dia mencoba mendial nomer suaminya, ternyata ponselnya tidak dibawa.
Amelia merasa bingung, dia merasa gelisah.
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dia hanya mondar-mandir menunggu kedatangan suaminya, hingga karena lelah menunggu suaminya, Amelia tertidur di sofa.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Arga kembali ke Villa, dengan hati yang hancur.
Dia melihat istrinya tertidur di sofa, dia biarkan begitu saja. Rasanya begitu menyakitkan setelah mendengar kebohongan istrinya.
Arga merebahkan tubuhnya di kasur, dan mencoba untuk memejamkan matanya. Karena kelelahan, dengan cepat dia sudah berada di alam mimpi.
Keesokan paginya, Arga membangunkan istrinya untuk segera mandi dan bersih-bersih.
__ADS_1
Karena hari ini, dia ingin pulang ke rumah.
Tentu saja itu membuat Amelia sangat bersedih, ia pun menuruti keinginan suaminya.
Mereka sudah bersiap untuk kembali ke kota asal, mobil melaju meninggalkan Villa.
Sepanjang perjalanan suaminya hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut suaminya.
Sampai di kota asal, suaminya masih terdiam.
Mobil berhenti di sebuah rumah, rumah bertingkat yang cukup besar dengan kelengkapan fasilitas yang ada.
Mungkin ini adalah rumah yang dibeli suaminya, untuk tempat tinggal mereka setelah menikah.
Arga membuka kunci rumah itu, memasuki rumah tanpa berbicara apapun. Amelia mengekor di belakang suaminya, melangkah masuk ke rumah itu.
Arga meletakkan koper di kamar lantai satu, kamar yang cukup besar, bahkan tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya. Amelia masih mengekor di belakangnya.
"Singkirkan barang-barangmu!" ketus suaminya.
"Apa? Tapi aku istrimu, Mas!" lirih Amelia.
"Tapi aku jijik melihatmu! Wanita kotor sepertimu tidak pantas tidur di kamar bagus seperti ini!" hina Arga, membuat hati Amelia semakin hancur.
"Tempatmu di sana! Mari aku tunjukkan?" ucap Arga sambil menggandeng tangan istrinya, membawa ke sebuah kamar yang kecil, tidak sebesar kamar utama, namun masih sangat nyaman untuk ditempati.
"Kamarmu disini!" selorohnya.
"Tapi aku istrimu, Mas!"
"Kenapa kita tidak tidur di kamar yang sama!" lirih Amelia.
Arga menatap tajam manik itu, hatinya benar-benar sangat marah, kecewa dan hancur.
Wanita yang selama ini selalu menghiasi hari-harinya, wanita yang selama ini ada saat dirinya susah, sedih dan senang, telah membohonginya.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Aku benar-benar kecewa kepadamu, Mel!" ucap Arga.
"Tapi ini bukanlah kesalahanku, Mas! Aku korban! Aku tidak pernah mengkhianatimu, Mas!"
"Hiks .... hiks .... hiks!" tangis Amelia.
"Entahlah! Aku belum bisa menerima kenyataan ini! Rasanya begitu berat bagiku! Aku terlalu kecewa!" ucap Arga meninggalkan Amelia sendiri di kamar itu.
Arga menyambar jaket dan kunci mobilnya, entah pergi kemana.
"Huft!" Amelia menghela nafasnya panjang.
"Apakah cintamu hanya sebatas itu, Mas?"
"Hiks ... hiks ... hiks!" Amelia kembali menangis dan meratapi nasibnya.
Setelah mandi dan bersih-bersih, Amelia menata bajunya didalam lemari. Kamarnya tidak terlalu kecil, bahkan kamar ini lebih besar dari kamarnya. Ada lemari pakaian di sudut kamar ini, ada kamar mandi dalam juga.
Amelia menata bajunya di lemari, setelah selesai ia pergi ke dapur untuk memasak sesuatu, perutnya terasa sangat lapar. Bahkan sampai jam makan siang seperti ini, suaminya tidak perduli.
Amelia membuka isi kulkas, ternyata kosong. Ia mencari sesuatu yang bisa ia makan.
"Ada mie instan, lumayan!" batin Amelia. Dia pun membuat satu mangkok mie instan, untuk dirinya sendiri.
Selesai makan dan mencuci mangkoknya yang kotor, Amelia berkeliling rumah ini.
Setibanya di sini, dia belum tahu ada berapa kamar dirumah ini. Dia pun memutuskan untuk berkeliling, dan melihat-lihat isi rumah ini.
Rumah yang cukup besar, memiliki empat kamar tidur. Dua dilantai atas dan dua dilantai bawah, semuanya memiliki kamar mandi dalam. Kamar suaminya kemungkinan adalah kamar utama rumah ini, karena kamar yang ditempati suaminya sangatlah besar. Lengkap dengan fasilitas yang ada, serta tempat tidur ukuran big size.
Tiba-tiba saja Amelia bersedih, harusnya kamar ini menjadi kamarnya bersama suaminya, namun sekarang justru dia tidur di kamar lain.
Amelia keluar dari kamar suaminya, beralih ke arah dapur.
Dapurnya juga lumayan besar, ada ruang makan juga. Dan ruangan keluarga yang cukup besar juga.
Lelah berkeliling akhirnya Amelia duduk di sofa yang sangat empuk sambil menonton televisi.
Dia melirik ke arah jam dinding, sudah sore, namun suaminya belum kembali juga.
"Kemana mas Arga? sudah sore belum pulang juga!" Amelia berdialog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
to be continued.....