
"Lala."
"Eh. Iya?"
"Kamu hebat, ya."
Aku kemudian memusatkan perhatianku ke Yola. Cepat atau lambat aku tahu Yola akan mengajak aku bicara.
"Hebat? Hebat kenapa?" Aku bingung. Yola tampak serius kali ini. Yola tersenyum sinis.
"Saat pertama kali kamu masuk ke sekolah ini, kamu seperti orang autis."
What??? Yola bilang apa? Aku autis? Tapi aku mengerti kenapa dia bilang begitu. Aku mengakuinya.
"Aku nggak nyangka, kamu bisa bikin banyak kejutan di sini."
Oh, akhirnya si ratu Yola sadar juga dengan keberadaanku. Hmmm... dia mungkin terusik karena cahaya terangnya mulai meredup. Aku masih diam dan menunggu kelanjutan kata-kata Yola.
"Kamu suka Fadly?"
Pertayaan apa itu? Emang kalau aku suka, dia juga mau merebut Fadly? Dasar rakus!
"Nggak. Aku nggak suka Fadly," jawabku jujur.
"Berarti kamu suka Junot?"
DEGGG! Apa yang harus kujawab? Yola sepertinya ingin menjebakku dengan pertanyaan itu. Aku masih diam.
"Kenapa diam? Berarti..."
"Nggak! Kamu salah! Aku juga nggak suka Junot."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Biar sekalian cewek ini puas. Dan tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku melihat ke layar LCD Hp. Heh? Trian? Akhirnya ini orang muncul juga. Aku memandang Yola sekilas kemudian memencet tombol 'yes'.
__ADS_1
"Halo..."
"Halo Lala... Hey... sekarang aku di Semarang, lho."
"Apa?? Di Semarang? Di mana?? Aku mau ketemu!"
Tak bisa kubohongi aku senang banget Trian ada di Semarang. Aku penasaran sekali ingin melihat sahabat dunia mayaku.
"Apa? Di Bioskop? Film Paris Love Story?"
Aneh!! Ngapain juga kita harus ketemu di bioskop. Aneh-aneh saja si Trian ini. Hmmm... tapi nggak apa-apa, kan memang nanti aku mau nonton sama A'am, dan Fadly katanya mau ikut.
Setelah Trian selesai nelpon, aku melihat ke bangku sebelah, Yola sudah nggak ada. Yesss! Aku memang sudah nggak tahan dengan pertanyaaan Yola.
Kelas mulai ramai, Aku melihat Heina dan Pipin meloncat kegirangan karena mereka memenangkan kuis di radio dengan hadiah tiket nonton gratis 'Paris Love Strory'. Dan dari depan pintu aku melihat A'am mengacungkan dua tiket bioskop. Hebat! Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan itu. Aku senang banget karena berarti aku bisa punya banyak materi untuk diomongin dengan Gigi tentang flm ini. Dan aku juga seneng karena bakal ketemu Trian.
***
Aku baru tahu kenapa hampir separuh isi sekolah berniat datang ke bioskop sore ini. Ternyata pemutaran film ini akan dihadiri juga oleh pemeran utamanya, Cristian Prastyo. Hmm... pantas saja. Dan sama seperti yang lain aku juga penasaran melihat si Pras ini dari dekat. Pasti cakep.
"Trus ntar sore gimana?"
"Ng... kita ketemuan di sana aja. Mama pasti nggak ngijinin aku pergi sendiri." A'am mengangguk mengerti. Kemudian A'am pun pamit menuju tempat parkir motor dan berjanji bertemu di bioskop.
Baru saja aku hendak melangkah lagi, aku mendengar sebuah suara memanggil namaku. Aku berhenti saat Fadly dengan gesit menghadang langkahku. Oh no! Jangan harap aku mau diantar Fadly pulang. Aku kapok naik motor abnormalnya itu. Cukup sekali.
"Kuantar, ya."
"Nggak, aku dijemput Pak Ali."
"Siapa bilang Pak Ali mau jemput kamu?" Eh, aku mengernyit tidak mengerti. Wah ada kejutan apa lagi nih dari si Fadly.
"Aku sudah bilang sama Mamamu kalau aku yang akan nganterin kamu pulang. Dan ntar sore kita nonton bareng..."
__ADS_1
Fadly tersenyum tanpa merasa bersalah. Apa?? Bagaimana mungkin Mama dengan begitu saja membiarkan Fadly mengantarkan aku pulang? Ya Tuhan... Jangan-jangan perjodohan yang aku pikirkan kemarin sudah terjadi. Apaan sih, halu banget aku.
"Nggaak.. nggakk mau. Kamu pikir aku mau dibonceng dengan motor abnormalmu itu," protesku. Fadly tertawa geli mendengar aku kembali mengatai motornya kemarin sebagai motor abnormal.
"Kali ini kamu nggak usah takut nyonya Lala. Ayo ikut, kita pulang." Tanganku kemudian ditarik Fadly tanpa permisi. Dan kali ini kembali semua mata memandang ke arah kami. Dan aku bisa melihat Bunga dan beberapa temannya menatap ke arah kami dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Mungkin mereka pikir, cewek dari mana lagi yang diincar Fadly? Atau mungkin, Ya Ampunn... selera Fadly sekarang berubah, kenapa dia menggandeng cewek seperti itu?
Walaupun sedikit bangga dekat dengan orang seperti Junot dan Fadly, tapi hal ini sedikit membebaniku. Aku lelah. Capek. Lelah dengan segala omongan, cibiran dan gossip orang-orang.
"Fadly!!"
Alam bahaya berbunyi di telingaku. Fadly kemudian menghentikan langkahnya. Aku melihat Bunga mengahampiri kami, disertai tatapan penuh dukungan teman-temannya. Masalah lagi...
"Ada apa?" tanya Fadly tanpa beban, padahal aku bisa melihat raut wajah cantik Bunga setengah tegang. Dia tampak marah.
"Maksud kamu apa?" Bunga menatapku dan Fadly bergantian. Aku tidak suka dengan keadaan yang seperti ini. Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggaman Fadly. Tapi Fadly malah semakin menggenggam erat tanganku. Dan Bunga melihat adegan itu.
"Aku nggak nyangka." Bunga menatapku tajam, ujung bibirnya sedikit tertarik ke atas sehingga membuat senyum sinis.
"Kenapa kemarin kamu minta maaf sama aku? Apa kamu mentok nggak bisa deapetin Yola? Begitu?"
Fadly masih diam. Aku semakin ingin pergi dari sini.
"Terus apa yang bisa bikin kamu ngelihat dia?"
Aku terkejut dengan kalimat Bunga tersebut. Kejam sekali kata-katanya itu. Kenapa orang secantik dan seanggun Bunga bisa mengeluarkan kata-kata seburuk itu? Apa dia pikir dia terlalu hebat? Terlalu cantik? Dan aku nggak bisa dibandingkan dengan dia?
"Sudah selesai."
Akhirnya Fadly berkata sesuatu juga. Bunga hanya diam. Kemudian tanpa bilang apa-apa lagi, Fadly kembali melangkah dan aku hanya bisa mengikuti langkah-langlah kakinya yang lebar itu meninggalkan Bunga. Sekilas aku melihat mata Bunga berkaca-kaca. Hoaahh... kenapa aku harus terjebak dalam masalah seperti ini????
.
.
__ADS_1
.