
"Lala, ntar malam kita ke rumah Om Andrei." Mama masuk ke kamarku. Aku meletakkan komik Detektif Conan yang sedari tadi aku baca. Aku menatap Mama dengan tatapan tak mengerti.
"Om Andrei siapa, Ma?"
"Om Andre, Papanya Fadly, suaminya Tante Vivi."
Aku memukul jidatku, kok aku bisa lupa, sih.
"Emang ada acara apa lagi, Mam?"
"Lho, gimana sih. Kamu nggak tahu kalau Om Andrei sekeluarga mau pindah ke Sydney?"
"Jadi, ini acara perpisahan?"
"Ya, seperti itulah. Kamu ikut, kan?" Aku mengangguk cepat. Aku ingin ketemu Fadly. Aku heran juga kenapa Fadly nggak pernah menghubungiku. Tapi aku yakin ntar pasti tahu jawabannya.
Rumah Om Andrei sudah ramai. Mataku mencari sosok Fadly, dan aku menangkap bayangan cowok itu di sudut ruangan bersama seorang cewek, Bunga. Bunga tampak sedang menangis. Dan Fadly memeluknya. Aku tidak beranjak dan terus menyaksikan adegan itu.
"Lala, kenapa di sini, aja," Tante Vivi menyapaku.
"Oh ini Tante... nunggu Fadly."
"Oh gitu, Tante tinggal dulu, ya." Aku mengangguk dan tersenyum, Mataku kembali ke sosok Fadly. Tapi keduanya sudah menghilang. Aku kembali mencari dimana Fadly.
"La," tepukan di bahuku membuatku terlonjak.
"Fadly," aku tersenyum. Tapi aku tidak melihat Bunga.
"Kamu kemana aja sih selama ini?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku ngurus macam-macam nih sebelum pindah."
"Kok kamu nggak bilang-bilang kalau mau pindah?" kataku dengan perasaan agak kesal.
"Hmmm... habis aku bingung. Begitu banyak yang terjadi. Aku udah ngecewain kamu, Trus Cristian dan dengar kamu pacaran dengan Junot?"
"Pacaran? Siapa yang pacaran?"
"Ya karena itu, aku sepertinya sulit mencari waktu buat ngomong sama kamu. Sorry ya, La."
Kami berdua pun melangkah ke halaman belakang dan duduk di tepi kolam renang. Kali ini pestanya tidak diadakan di kolam renang, tetapi di ruang tengah. Rumah Fadly cukup besar untuk menampung sebuah pesta.
"Tadi aku lihat Bunga. Dimana dia sekarang?"
"Barusan pulang," jawab Fadly.
"La," sambung Fadly lagi, "sorry buat semuanya, ya. Aku tahu aku orang yang angkuh. Dan kejadian kemarin nyadarin aku, kalau apa yang aku mau ternyata nggak bisa selalu aku dapatin. Misalnya Yola, ternyata dia nggak cinta sama aku. Aku juga udah nyakitin Bunga tapi dia tetep sayang sama aku. Trus aku ngecewain kamu. La..."
Junot mengangguk, mengerti.
"La," Fadly meraih tanganku, "makasih ya, udah jadi teman aku, walaupun cuma sebentar. Kamu cewek yang baik, and good luck aja sama Junot."
"Keep in touch ya Fa, kalau udah jadi orang Sydney."
"Pasti!"
Hidup memang nggak pernah ditebak. Hubunganku sama Fadly yang kurasa sebagai hal yang mustahil untuk terwujud, malah berakhir indah seperti ini.
Beyy.... Fadly
__ADS_1
***
Gor SMAN 1 Semarang padat dengan penonton. Pada final ini, Pancasila berhadapan dengan tim tuan rumah. Semua siswa Pancasila berkumpul di kubu kanan. Sementara SMAN 1 di kubu kiri. Teriakan dan yel-yel membahana. Yola dan kedua dayangnya yang anggota cheers sedang beraksi di pinggir lapangan.
"Sayang, ya, nggak ada Fadly," seru Heina diantara teriakan yel-yel.
"Tapi untung ada si kapten Junot sama si lincah A'am, paling nggak kita punya harapan untuk menang," balas Pipin dengan setengah teriak. Aku hanya tersenyum dan terus berdoa di dalam hati.
"Eh yang no 3 itu keren, lho," jerit Pipin dengan wajah centilnya. Aku melihat cowok SMAN 1 yang bernomor punggung 3, dan memang cowok yang sedang bersimbah keringat itu cakep.
"Dasarrr ganjenn, lawan malah dipuji, tapi boleh juga selera kamu, Pin," seru Heina mulai ikut ganjen. Aku tertawa geli.
Pertandingan seru itu akhirnya dimenangkan Pancasila dengan angka tipis. Kami bersorak gembira, dan di tengah lapangan aku melihat A'am diarak teman-temannya karena kali ini A'am adalah kunci kemenangan Pancasila.
Junot segera meninggalkan lapangan dan menghampiriku.
"Cieeee... mesranya... didatengin Romeonya..." Heina mulai jahil. Aku kembali tertawa kecil dengan hati yang berbunga-bunga. Aku bisa melihat Yola kecewa karena lebih memilih menghampiriku. Hmmmm... kasihan juga.
"Selamat, ya..." ujarku.
"Thannks, pulang bareng, kan?" aku mengangguk. Kemudian aku berlari ke arah lapangan dan menghampiri A'am.
"Selamat yaa pahlawanku. Kakak A'am"
A'am menyambutku dan kami tertawa bersama.
"Tenaganya masih kuat buat lomba besok, kan?" kataku jahil. A'am langsung lemas dan berpura-pura mau pingsan. Aku tertawa. Besok lomba paduan suara. Dan A'am adalah kunci buat suara tenor. A'am memang hebat. And he's very bestfriend! And also, my superhero!!
.
__ADS_1
.
.