
Saat istirahat, aku segera menghampiri A'am karena ingin mendengar kisah tentang adiknya itu. Ternyata A'am punya adik angkat cewek. Tapi kecelakaan telah merenggut Rara.
"Aku sedih banget, La. Tapi aku sadar, hidup dan mati Allah yang nentuin." A'am tertunduk sedih.
"Tapi sekarang udah nggak papa. Hanya pas lihat fotonya aja kadang sedih. Tahu nggak, La, aku pengen banget punya adik cewek. Ke empat kakakku cowok semua, jadi kebayang kan aku sayang banget sama Rara. Tapi Allah punya rencana lain."
Aku nggak pernah lihat A'am terlihat sesedih itu. Orang yang nggak kenal A'am luar dalam pasti tidak menyangka kalau A'am pernah mengalami kehilangan yang begitu menyedihkan. Aku kagum dengan A'am, dia mampu menunjukkan seakan dia adalah orang yang paling bahagia dan tidak pernah punya masalah. Begitulah, kadang kita terlalu terpaku pada masalah kita sehingga kita akan menganggap masalah kitalah yang paling berat. Padahal masalah orang lain malah jauh berkali-kali lipat lebih berat dari masalah kita.
"La?" Aku dan A'am tersentak dan lalu menoleh ke arah sumber suara. Junot menatapku dengan tersenyum. Aku ingat kemarin hampir jalan-jalan dengan Junot tapi karena ada Trian jadi gagal. Oh ya, kemarin Trian bertanya siapa dua cowok yang berdiri di dekatku. Aku bilang mereka adalah Junot dan Fadly yang sering aku ceritakan kepadanya.
"Tapi dua cowok yang sama kamu kemarin emang pantas kok dijadiin idol sekolah. Mereka boleh juga, pantas aja kamu sampai patah hati seperti itu," goda Trian kemarin dan aku tersenyum sambil mencubitnya. Lalu kami tertawa.
Kehadiran Junot membuat A'am mengerti dengan situasi yang ada. Ia segera pamit padaku menuju kantin meninggalkan aku dan Junot.
Aku kembali merasakan debar jantung ketika berdekatan dengan Junot. Aku juga heran kenapa masih punya rasa sama cowok ini setelah disakitinya.
"Kemarin heboh banget, lho," Junot membuka pembicaraan. Aku tersenyum.
"Kamu udah lama kenal Cristian?" tanya Junot.
"Nggak juga. Dia tuh temen curhatku," lalu aku menceritakan kisah perkenalanku dengan Trian.
"Kamu suka sama Cristian?"
"Heh? Maksud kamu pengen jadi pacarnya gitu?" aku tertawa kecil. "Nggaklah, kenal aja udah seneng. Jadi sahabatnya aja udah seneng."
Junot mengangguk tersenyum.
__ADS_1
"La, masih mau jalan sama aku?" Junot menatapku penuh harap.
"Punya target baru?"
"Apa?"
"Ya kalau kamu ngajak aku seperti ini, mungkin aja kamu punya sasaran lain untuk dibuat cemburu."
Wajah A'am seketika berubah. Dia tertunduk. Aku sedikit menyesal dengan perkataanku barusan. Tapi sudah terlambat. Kalimat itu sudah keluar.
"Kok kamu mikir gitu?" Dia mengerdikkan bahuku, "La, sepertinya kamu belum maafin aku."
"Trus sekarang apa tujuan kamu ngajak aku keluar jika bukan karena itu?" tembakku langsung. Aku ingin tahu jawabannya.
"Ya, aku kan pernah janji sama kamu. Dan janji harus ditepati. Dan... Dan... ya hanya jalan-jalan"
Aku tersenyum, kata 'hanya' membuat aku sedih. Kenapa sulit sekali mengatakan alasan yang lain, alasan yang sejak lama aku harapkan. Sepertinya aku terlalu berharap lebih.
***
"Am, thanks ya buat editannya. Hmmm... menurutmu bagaimana?" aku menghampiri A'am yang baru tiba di kelas.
"Ceritanya lumayan menarik. Btw, pengalaman pribadi, ya?" A'am tersenyum jahil padaku.
"Hehe.. ya.. kamu tahulah."
"Terus kapan kirimnya?"
__ADS_1
"Hari ini, ntar pulang sekolah."
"Oh ya, La. Latihan terakhir paduan suara besok, lho. Dan pasti sampe sore gitu, jangan lupa bilang sama Mama kamu," A'am mengingatkanku.
"Iya... Kak.." jawabku sambil jahil panggil dia 'Kak' soalnya dia sering panggil aku 'Dek'.
Bayangan Yola dan dua dayangnya muncul di depan pintu. Kasihan Yola, dia tidak mendapatkan Junot maupun Fadly. Apa itu termasuk imbalan untuk cewek sombong yang selalu merasa menjadi pusat perhatian dan malah tidak mendapatkan apa-apa?
Ngomong-ngomong, sudah lama aku nggak melihat Fadly. Kemana anak itu, ya? Sejak kedatangan Trian aku tidak belihat batang hidungnya.
"La, kamu udah tahu kalau Fadly akan pindah?" Tumben hari ini Yola sangat ramah.
"Tidak. Memang mau pindah kemana dia?"
"Ke Sydney ikut ortunya."
"Ke Australi?" aku terkejut. Saking sibuknya aku sampai lupa dengan Fadly. Dan sekarang aku dengar berita ini, berarti dia akan melewatkan final basket dong? Padahal Fadly adalah salah satu kunci tim basket sekolah.
"Am, kamu tahu rencana kepindahan Fadly nggak?" Aku berjalan ke arah A'am dan menanyakan itu.
"Iya, emang kamu nggak tahu?" balas A'am. Aku menggeleng cepat.
"Hmmmm... kirain kamu udah tahu. Bukannya kamu deket dengan Fadly. Oh iya ding, aku lupa, sekarang kamu kan sama Junot," kata A'am dengan suara yang lantang.
"Ssstttt... A'aaam..." aku menyikut A'am. Tapi sepertinya sudah banyak yang dengar termasuk Yola. Tapi aku melihat dia tidak bereaksi. Mungkin dia sudah bisa menerima kenyataan.
.
__ADS_1
.
.