Kado Untuk Lala

Kado Untuk Lala
Dua Puluh Enam - Kejutan


__ADS_3

Aku belum sempat menjawab dua pertanyaan dari Fadly dan Junot ketika aku mendengar namaku disebut-sebut dari keriuhan sekolah. Fadly dan Junot sepertinya juga mendengar.


"Cristiaann!" Aku mendengar jeritan itu.


Degg...! Mataku melotot ke arah kerumunan yang mulai merangsek ke arahku. Fadly dan Junot juga kaget kenapa tiba-tiba di hadapanku sudah ramai dengan kerumunan. Dan di sana, seorang Cristian Prasetyo keluar dari kerumunan sambil tersenyum kepada para fansnya yang heboh didampingi satpam sekolah.


Cristian sekarang menatapku sambil tersenyum melambai. Aku merasa seperti berada di dalam film saat ini. Ini seperti tidak nyata, bagaimana mungkin aku sekarang berada di antara dua cowok yang digilai cewek satu sekolahan dan seorang cowok yang digilai hampir semua remaja di negeri ini. Benar-benar unbelieveable. Oh God! Aku seperti melayang.


Cristian berdiri di hadapanku sekarang. Aku masih tidak percaya. Sementara kehebohan mulai reda. Dan aku bisa mendengar celetukan-celetukan tidak percaya dari semua orang.


"Lalaa... Ya ampun kamu tuh pembohong tahu nggak." Heina menghampiriku. Aku menatap Heina dengan heran karena memang aku tidak mengerti.


"Katanya nggak kenal artis lainnya ternyata kenal Cristian. Kamu curaang," Heina berkata sambil tersenyum genit pada Cristian.


"Aku... " Aku menatap Junot dan Fadly bergantian. Mereka juga tampak terkejut.


"Sorry, La, nggak bilang-bilang dulu. Ternyata aku punya waktu beberapa jam sebelum ntar sore balik ke Jakarta. Jadi aku langsung kepikiran untuk ketemu kamu di sekolah. Tapi,  eh... Jadinya malah heboh gini. Sorry ya."

__ADS_1


Aku mengangguk mengerti. "Oh..  Nggak papa Tan. Aku kira kamu malah udah balik ke Jakarta dari kemarin."


"Ng.... " Cristian kemudian menatap Fadly, Junot dan Heina bergantian.


"Ng... Sorry, La. Ya udah, kita jalannya besok-besok aja, ya." Junot akhirnya meninggalkanku. Fadly juga. Sementara Heina masih tak lepas-lepas menatap Cristian.


"Kita jalan, yuk. Anterin aku keliling Semarang." Cristian kemudian menggamit tanganku dan menarikku tanpa peduli tatapan kecewa Heina. Aku hanya bisa melambai pada Heina sambil mengikuti langkah Critian. Di antara kerumunan itu aku bisa melihat dua wajah yang mungkin nanti akan pingsan setelah melihat kejadian ini. Yola dan Bunga. Itu mungkin pelajaran buat mereka agar tidak memandang rendah orang lain. Dalam hati aku tersenyum, kemudian menatap Cristian sambil tersenyum manis.


***


Aku menghabiskan waktu tiga jam yang menyenangkan bersama Cristian. Kami seperti sahabat lama yang baru ketemu. Awalnya aku memang agak canggung, tapi Cris... Eh, Trian meyakinkanku untuk bersikap santai padanya. Sahabatku Gigi pasti juga akan pingsan kalau dia mengetahui hal ini. Aku jadi nggak sabar untuk memberi tahu Gigi.


Selama berpakaian aku tidak tahu apa yang Mama dan Trian bicarakan. Yang pasti Mama tampak akrab dengan Trian. Huh, dasar Mama...


Dan siang itu aku menghabiskan waktu bersama Trian dengan makan-makan, jalan-jalan dan bercanda. Menyenangkan.


Saat aku turun dari mobil yang membawa kami jalan-jalan, Trian menyodorkan kotak mungil berwarna hijau. Dengan tersenyum aku membukanya dan tampak sebuah gelang perak cantik. Sepertinya tanpa sepengetahuanku Trian telah membelinya tadi.

__ADS_1


"Buat aku?" tanyaku pura-pura.


"Yaiyalah..."


"Thanks ya... Imut banget..." aku tersenyum senang.


"Sampai jumpa lagi, La."


Aku mengangguk. "Bey... Trian.  Terima kasih atas kejutan ini."


Aku mengantarkan kepergian Trian dengan senyum dan lambaian. Setelah itu aku masuk ke rumah dengan hati yang masih tidak menentu. Hari ini aku sangat bahagia. Tidak pernah terbayangkan kepindahanku ke Semarang akan menjadikan berkah yang amat luar biasa.


Tuhan, terima kasih.. 


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2