Kado Untuk Lala

Kado Untuk Lala
Dua Puluh Tujuh - Sahabat yang Egois


__ADS_3

"Halo Am, kamu kemana aja, sih? Kamu sakit? Kok nggak bilang-bilang aku," aku langsung menyemprot A'am saat cowok itu menelponku.


"Sorry, La, nggak sempet. Oh ya... Ng... Aku mau bilang sama kamu kalau hari ini aku nggak masuk karena di rumah ada acara."


"Acara apa kalau boleh tahu?"


"Hari ini 1000 hari adikku, La."


Aku langsung terdiam. 1000 hari. Bukannya itu acara untuk memperingati orang meninggal.


"Maksud kamu, Am?"


"Iya, hari ini genap 1000 hari adikku meninggal."


Aku terdiam lagi. Hatiku mendadak sesak. Aku merasa telah menjadi sahabat yang sangat buruk untuk A'am. Aku selalu cerita masalahku ke A'am tapi aku tidak pernah bertanya apa dia juga punya masalah. Aku merasa telah jadi orang yang egois. Tentu selama ini aku berpikir dalam hidup A'am selalu baik-baik saja karena sifatnya yang periang, mudah senyum dan konyol. Aku sungguh sahabat yang egois karena aku hanya mau didengarkan dan tidak pernah mendengarkan.


"Lala... Halo... Jangan tidur, La. "


"Am... Maafin aku, ya. Aku sampai nggak tahu kalau kamu juga punya masalah. Aku selalu cerita tentang masalahku dan..."


"Stt... Udahlah, La, nggak usah ngomong gitu. Besok deh aku ceritain."


"Tapi, Am... "


"Udah nggak papa. Lagian aku nggak pernah cerita, kan. Ya udah sampai ketemu besok, ya. Beyy Lala."


Setelah mendapat telepon dari A'am aku segera menuju tempat tidur. Aku melihat ke arah laptopku dan aku teringat waktu pengiriman novel semakin dekat. Dan novelku belum juga selesai. Aku segera mengambil laptopku dan menyalakannya. Aku tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Setelah genjatan senjata dengan Mama, sekarang aku lebih leluasa untuk melakukan hobi menulisku.

__ADS_1


***


Saat tiba di sekolah, aku merasa seperti seorang selebriti. Semua mata memandangku dengan senyuman dan menyapaku dengan hangat. Aku tahu ini dikarenakan kejadian kemarin siang yang sudah menghebohkan satu sekolah.


A'am menepuk bahuku dari belakang dan berjalan bersamaku ke kelas. Aku melilat A'am agak heran melihat situasi yang terjadi.


"Ada apa sih. Sepertinya aku cuma sehari nggak masuk, tapi aku merasa seperti ada yang beda," gumam A'am sambil melihat sekeliling, "apa lagi yang kamu buat, La?"


"Hah? Apa?"


"Apa kamu nggak lihat orang-orang pada liatin kamu dan..." A'am berhenti berkata saat Heina dan Pipin menghampiriku.


"La, kalian kemana aja kemarin? Ya ampun, La, kalian cuma berduaan aja, ya," kata Heina antusias.


"Ng... Sebenarnya bertiga, sama sopirnya," kataku.


"Kamu sih pakek nggak masuk segala. Si Lala kemarin kan dijemput sama Cristian Prasetyo," celetuk Pipin. A'am mengernyit kemudian mengangguk mengerti.


"Kemana aja kamu, La?" Heina bertanya dengan penasaran. Dan belum sempat aku menjawab, si nyinyir Sissy segera menghampiriku.


"Mmm... La, kamu bisa nggak hubungin Cristian biar bisa diwawancara sama team jurnalis majalah sekolah kita?" kata si nyinyir dengan mata penuh harap.


"Cristian sudah balik Jakarta, Sy," jawabku.


"Tapi kamu punya nomornya, kan? Bisa nggak wawancara pake telepon gitu?" desak Sissy.


"Aduh... Sorry, Sy. Aku nggak bisa asal ngasih nomornya. Dia kan artis jadi privasi buat dia itu penting banget. Ntar deh aku tanyain dia." Wajah Sissy berubah manyun. Dia pasti kesal dengan jawabanku.

__ADS_1


"Ayolah, La. Kamu bisa bujuk dia, kan? Biar majalah kita punya wawancara eksklusif gitu," rayu Sissy.


"Iya, nanti aku usahain."


Sissy tersenyum lega. Akhirnya setelah didesak Heina dan Pipin, aku bercerita juga tentang jalan-jalanku dengan Trian. Beberapa teman ikut gabung mendengarkan aku bercerita. Aku senyum-senyum dalam hati, aku kok malah jadi kayak pendongeng, ya. Sementara itu kulihat A'am hanya menggeleng-gelengkan kepala. Begitu juga dengan cowok-cowok yang lain. Hmmm... Mereka pasti merasa terintimidasi dengan sosok Cristian. Hihihi...


"Gelang ini dari Cristian, ya?" tanya Heina. aku mengangguk. Mereka bersorak bersama, lebih tepatnya bersorak cemburu. Hehehe...


"Ya ampun, La. Senengnya jadi kamu, bisa seakrab itu dengan Cristian. Bikin iri saja," si Vina nyeletuk. Aku hanya tersenyum bingung mau menanggapi gimana ini.


Setelah bel masuk berbunyi, kelompok dongeng kami pun bubar. Aku segera menuju tempat dudukku. Yola sama sekali tidak melihat ke arahku. Dan seperti biasa, aku hanya diam tanpa peduli padanya.


"Kenal Cristian udah lama?"


"Hah?"


Aku berusaha meyakinkan diri kalau Yola benar-benar berbicara padaku. Karena sudah cirinya kalau berbicara,  pasti dia nggak melihat ke arahku. Hmmm... Sombongnya.


"Nggak lama juga... Tapi juga nggak baru... "


"Oh iya, dimana?"


Hehehe, ternyata si Princess ini pengen tahu juga. Apa aku harus jujur sama dia kalau aku kenal Trian waktu chatting? Hmmmm.... Gimana ya? Untungnya aku nggak perlu jawab pertanyaan Yola karena Pak Abdul segera masuk kelas dan langsung menagih PR Biologinya. Untunglah....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2