
"Lala, kenapa kamu pulang dianterin sama temanmu pake motor? Kenapa nggak telepon Mama, minta dijemput Pak Ali?"
"Udahlah, Mam. Gitu aja diributin. Lala capek nih..." Aku langsung menaiki tangga menuju kamarku. Aku tidak mau mendengar ceramah Mama lagi. Lagian, aku tidak mau merusak suasana hatiku yang sedang cerah ceria ini. Aku mau cerita ke Gigi. Aku segera menyambar smartphone dan mencari kontak Gigi.
"Halo, Gi."
"Ada apa, La?" jawab Gigi dengan nada berbisik.
"Kamu kenapa?" tanyaku tak mengerti kenapa juga Gigi ngomong di Hp pakai bisik-bisik.
"Kalau mau ngobrol chatting aja, La. Soalnya kalau ketahuan aku ngobrol di Hp ntar Mama maksain aku ikut arisan keluarga. Aku udah bilang lagi ngetik banyak tugas."
Wkwkwk. Dasar Gigi!
"Ya udah cepetan ya. Pakai cara jadul aja ya."
Yang aku maksud cara jadul adalah pakai Yahoo massanger. Aku segera melesat ke depan laptopku. Mengaktifkan Yahoo dan sebelum aku meng-klik dua kali Gigichantyk@yahoo.com, ternyata dia telah lebih dulu masuk.
__ADS_1
Gigichantyk: Alloooww.... Whats up La?
Do_lala: Great news.. gw snng bnget. Gw udah lumayan punya tmn banyak, Gi.
Gigichantyk: Tuh kan. Gw blg jg apa. Lo pasti bisa :-)
Akhirnya mengalirkan ceritaku tentang A'am, Junot, Fadly, Yola. Tentang ajakan Junot. Dan lain-lain... Tapi tiba-tiba...
Trian_ozz: Hi Lala...
Aku terkejut, ternyata Trian masuk juga. Kemarin dia sombong banget pergi nggak pamit-pamit. Bodo! Kucuekin aja. Mending ngobrol sama Gigi.
Aku masih tetap cuek, meskipun nggak tega juga. Ah... Biarin aja! Dia aja tega kok sama aku.
Trian_ozz: Eh sorry kemarin aku cabut gal blang2. Soalnya internetnya error. Trus aku males masuk lagi.
Jadi karena internetnya error? Fiuuh... Kirain aku memang selalu jadi cewek yang dicuekin, tidak peduli di dumay sekali pun. Akhirnya aku membalas Trian dan terus dan terus...
__ADS_1
Gigi sudah cabut karena mau kelayapan sama temannya. Mumpung Mamanya lagi pergi. Gigi, sahabatku yang selalu membesarkan hatiku.
Aku tidak sadar kalau sudah hampir dua jam chatting sama Trian. Seandainya Mama tidak memanggilku, aku pasti masih ngobrol dengan Trian. Dalam dua jam itu aku tahu banyak tentang Trian. Dia lagi kuliah semester V, ambil jurusan arsitektur. Dia cerita kalau hobi gambarnya itu membuatnya menyenangi desain grafis. Aku juga cerita ke dia kalau aku suka menulis tapi Mama tidak suka dengan hobiku itu.
"Kamu harus bisa jelaskan ke Mama kamu, La, kalau hobi kamu itu bukan sesuatu yang tidak berguna. Penulis itu ditantang untuk memiliki wawasan yang luas. Bukan hanya jadi pengkhayal asal-asalan. Tapi pengkhayal yang punya imajinasi tinggi. Nggak semua orang lho punya daya imajinasi tinggi dan kreatif."
Hmmm... Boleh juga kata-katanya. Trian cukup membesarkan hatiku.
Selama dua jam itu juga tanpa kusadari aku telah banyak mencurahkan isi hatiku pada Trian. Awalnya tentu tentang ketidaksukaan Mama jika aku menulis, akhirnya semua aku keluarkan.
Aku tidak tahu kenapa aku seterbuka ini pada Trian. Benar memang, kalau kita tidak pernah berhenti berharap pada Tuhan, pasti selalu ada keajaiban. Ya, benarlah aku bilang ini sebuah keajaiban. Baru kali ini aku bisa bercerita begitu terbuka dengan orang asing yang sama sekali belum aku kenal.
"Kamu pernah dengar nggak La? Ada yang bilang kamu akan benar-benar jadi manusia kalau kamu bisa mengambil keputusan. Jadi intinya, semua kembali sama kamu karena kamu yang paling tahu yang kamu mau. La, Tuhan udah ngasih kamu talenta yang bagus seperti itu. Akan salah kalau kamu nggak mengembangkannya."
Aku merenungi kata-kata Trian. Dia benar! Semuanya tergantung pada diriku sendiri. Aku harus bisa mengambil keputusan untuk diriku sendiri.
Aku segera turun ke ruang tengah mencari-cari Kompas terbitan Minggu lalu. Ini dia! Aku tersenyum saat melihat sebuah iklan tentang lomba menulis novel remaja. Aku segera berlari ke atas menuju kamarku. Setelah cukup lama memahami persyaratannya aku mulai mencari-cari ide untuk novel yang akan kutulis.
__ADS_1
Aku membuka file flasdisk-ku mencari cerpen-cerpen yang pernah aku tulis sejak SMP, kali aja dari sini aku bisa menemukan ide untuk lomba novel ini. Aku harus bisa, tekadku dalam hati. Tidak jadi juara pun tidak apa-apa. Yang penting aku harus bisa membuktikan, paling tidak pada diriku sendiri, bahwa aku mampu melakukan apa yang kumau.