
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku saat kedua bola mataku bertatapan dengan sinar matahari pagi yang masuk menembus kaca jendela kamarku. Hmmm... aku menghirup napas dalam-dalam. Ini hari yang baru.
Pertemuan dengan Cristian kemarin seperti sebuah dongeng yang indah yang membuatku tak henti tersenyum. Aku dan Mama juga telah berdamai. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Terima kasih Tuhan.
Dan semalam aku berhasil membuat Gigi jantungan saat aku menceritakan pertemuanku dengan Trian. Dan bahwa aku bisa akrab dengan pujaan hati sobatku itu.
"Ngggaaakkk muuungggkiiinnn," jerit Gigi sampai-sampai aku harus menjauhkan hapeku sebelum jeritan si centil itu merusak gendang telingaku.
"Sumpeh lo, La. Ya ampun... gue masih nggak percaya. Gila lo, La. Gue gemetaran nih."
"Kalau lo nggak percaya nanti deh gue buktiin. Pokoknya tenang aja lo, Gi. Lo bakalan bisa ngobrol sepuasnya dengan Cristian Prasetyo," janjiku. Dan aku sukses membuat Gigi penasaran malam tadi. Ahh.. Gigi.
Kini aku melangkahkan kakiku dengan pasti menuju gerbang sekolah. Senyumku masih belum lepas dari bibirku. Ada suatu kelegaan besar dalam diriku. Aku harus segera memberitakan kabar gembira ini pada A'am.
"Lala!"
Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Dan aku tahu pasti suara milik siapa itu. Fadly! Karena rasa gembiraku yang luar biasa aku sampai lupa dengan 'sedikit' rasa kecewaku yang kemarin kurasakan karena melihat Fadly jalan bersama Bunga, padahal sebelumnya mereka seakan ingin mengatakan kepada dunia bahwa mereka adalah dua orang musuh yang sedang berperang,
"La, sorry ya kemarin. Aku benar-benar nggak bisa ikut soalnya aku harus ngantar..."
"Bunga," potongku, aku bisa menebak kalau kata selanjutnya dari kalimat Fadly adalah 'Mamaku'. Halah! Klise banget githu, lho. Kayak di sinetron saja. Nah tuh lihat wajah Fadly yang terkejut.
"Aku lihat kamu kemarin di Mall sama Bunga," kataku sambil tersenyum. Mungkin karena pada dasarnya aku nggak punya feeling sama Fadly jadi aku bisa mengatakan hal ini dengan sangat tenang. Mungkin tidak akan sama jika kalimat itu kutunjukkan pada Junot.
Fadly seperti buntu dan tidak tahu apa yang mesti dia katakan. Karena melihat cowok itu hanya diam saja, segera aku melangkah meninggalkannya.
"La, bentar dulu." Aku kembali menghentikan langkahku.
"Maaf... aku... '
__ADS_1
"Nggak papa Fa." Aku berbalik kembali melangkah.
"Bentar La..." tangan Fadly menahan langkahku.
"Ada apa lagi?"
"Kamu marah?"
"Marah? Marah untuk apa?"
"Ng..." Sekarang aku tahu makna semua ini. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Fadly.
"Fadly... aku nggak masalah kalau kamu manfaatin aku untuk bikin Bunga cemburu. Kita sama."
Uppssss...!!!
"Maksud kamu?"
Aku segera berlari kecil menuju kelas karena aku nggak mau lebih lama lagi bicara dengan Fadly. Aku sudah tidak sabar bertemu A'am dan menceritakan segalanya.
***
Aku kecewa karena saat masuk kelas aku tidak mendapati A'am di sana. Akhirnya, dengan langkah gontai aku menuju ke bangkuku. Aku sudah tidak sabar bertemu A'am tapi sejak tadi malam aku kehilangan dia. Di telepon maupun chatt hapenya nggak aktif.
Kelas mulai ramai, khususnya saat para cewek heboh mendengarkan cerita Heina dan Pipin yang kemarin baru saja ber-selfie ria bahkan dapat bonus mencium Cristian alias Trian.
Aku melirik layar poselku berharap ada pesan dari A'am atau mungkin dari Trian. Tapi nihil! Dan tiba-tiba Yola datang dengan menatapku tajam. Kenapa lagi dia?
"Aku mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
Aku melihat sekeliling kelas ternyata teman-teman lain masih asyik mendengarkan cerita Heina dan Pipin, Aku bersyukur tidak ada yang melihat ulah Yola.
"Ada apa?"
"Kenapa sih mesti kamu?" Yola bergumam. Aku semakin tidak mengerti. Ada apa dengan cewek ini?
"Ada apa?" tanyaku sekali lagi. Yola berkaca-kaca seakan hendak menangis. Aku jadi semakin bingung. Kemarahan yang tadi tampak jelas di wajahnya seketika berubah. Kemudian cewek itu duduk dan tanpa melihat ke arahku, dia berkata, "La, gue putus."
Entahlah... aku harus senang atau bersimpati kepadanya. Aku juga tidak melihat ke arahnya dan hanya memandang buku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa karena ini semua sudah tidak ada hubungannya denganku.
"Aku kira Junot mutusin aku karena kamu."
Nah, ini dia yang baru bisa membuat kepalaku menoleh ke arah Yola. Benarkah?
"Gara-gara aku? Aku tidak tahu maksud kamu."
"Kamu suka Junot, kan?" Yola melirik ke arahku. Aku terdiam. Ya, aku memang suka dia! Sayang dia! Sekaligus benci dia! Aku berseru dalam hati.
"Aku heran, apa sih yang mereka lihat dari kamu? Junot? Fadly? Apa mungkin Cristian Prasetyo pun terpikat sama kamu?" Yola berkata padaku dengan sinar mata yang menyelidik seakan sedang mencari-cari sesuatu yang mungkin menurut dia menjadi kelebihanku. Oh ya, tadi Yola menyebutkan Cristian, ya? Aku menebak dia akan pingsan kalau tahu aku bersahabat dengan Cristian.
"Yol, maaf, aku nggak mau dengar lagi. Menurutku itu masalahmu dengan Junot. Dan aku nggak ada hubungannya. Jadi, pliss jangan ngomong gitu lagi."
Aku masih ingat dengan kata-kata Bunga kemarin. Dia juga memandang rendah kepadaku. Bagaimana bisa seorang Lala bisa membuat cowok seperti Junot dan Fadly menoleh? Dan yang lebih menyakitkan, baik Junot maupun Fadly mau mendekatiku bukan karena mereka benar-benar 'mau' tetapi karena ada 'sesuatu'. Aku hanya alat bagi mereka yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri.
Kadang aku heran, mengapa Yola yang sudah diciptakan sedemikian sempurna masih memandang iri kepadaku. Hmmmm... manusia memang tidak akan pernah merasa puas, dan aku juga salah satunya. Kembali lagi aku harus belajar bersyukur dari semua ini.
Melihatku enggan berbicara lagi, Yola pun meningggalkanku dan berjalan keluar kelas. Di sana sudah ada dua dayangnya yang menyambutnya dan sesekali mereka melirikku. Mereka membenciku. Dan aku tidak peduli.
.
__ADS_1
.
.