
Aku melihat semua wajah ABG yang keluar dari bioskop tersenyum-senyum puas. Filmnya memang bagus. Cristiannya cakep! Touching banget! Romantis lho... begitu kira-kira komentar para ABG yang selesai nonton filmnya. Dan aku setuju dengan mereka. Ceritanya simpel, romantis dan banyak humornya.
Aku dan A'am menanti Cristian. Setelah agak sepi, Cristian dan beberapa orang yang nggak kukenal menuju tempat kami menunggu.
"Haloo, La. Aduh, sorry banget ya. Kita nggak bisa ngobrol soalnya habis ini ternyata ada wawancara dadakan. Nggak papa ya."
Cristian memperlihat wajah menyesal. Aku kecewa banget tapi aku harus mengerti kalau keadaannya memang harus seperti itu. Cristian kan seorang bintang, dia pasti sibuk banget. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, nggak papa kok. Aku tahu kamu pasti sibuk."
"Nanti aku telepon ya. Banyak yang harus kita obrolin. Oke, bye Lala."
"Bye Trian."
Aku menatap kepergian Cristian dan beberapa kru-nya. Akhirnya aku dan A'am meninggalkan bioskop.
"Kemana kita sekarang, La?"
"Makan, yuk."
"Yuk..."
Aku dan A'am segera pergi ke McD karena bayangan cheese burger kesukaanku semakin membuat perutku melilit. Aku ingat tadi siang aku tidak menyelesaikan makan siangku karena bertengkar dengan Mama. Mama! Ya ampun, aku segera mengeluarkan ponselku dan aku meihat 20 misscall. Dan semuanya dari Mama. Eh... salah... dua misscall dari Trian.
Aku memesan double cheese burger dan satu coca-cola, sedangkan A'am hanya memesan minuman karena aku tahu A'am adalah seorang Junk Food Haters. Setelah kenyang dengan burger, aku dan A'am jalan-jalan berkeliling mall.
"La, itu Fadly, kan?" Aku mengikuti arah pandang A'am dan benar. Di sana ada Fadly dan...
"Huh... dasar! Kemarin katanya mau pergi sama-sama, ternyata dia di sini lagi pacaran," A'am menggerutu.
"Dia sama Bunga..." gumamku. Aku hampir tidak percaya kenapa Fadly bisa sama Bunga setelah kejadian tadi siang di sekolah. Apa mereka kembali pacaran? Lalu apa artinya sikap dan kata-kata Fadly tadi siang? Aku bingung...
__ADS_1
Aku segera menarik A'am pergi karena aku tidak mau Fadly melihat kami. Dan aku juga merasa tidak tenang karena aku tahu Mama pasti marah besar kalau aku pulang nanti. Bisa saja aku dilarang Mama pergi kemana-mana, selamanya. Mati aku!
"Am, pulang, yuk! Kayaknya aku harus siap-siap kena semprot Mama," rengekku pada A'am dengan mata yang terus waspada pada sosok Fadly dan Bunga. Aku beneran nggak mau terlihat oleh dua orang itu.
Menurutku, apa yang dikatakan Fadly tadi siang bohong belaka, Buktinya, saat ini ia malah asyik pacaran dengan Bunga. Dan wajahnya tidak seperti seseorang yang sedang tertekan. Wajahnya seperti biasa, seorang Fadly yang pertama kali kukenal, angkuh! Tetapi menurutku mereka ini klop. Fadly orang yang angkuh dan dia hanya mau berteman dengan orang-orang tertentu. Dan Bunga adalah salah satu orang-orang tertentu itu. Jadi, ya klop aja.
"Lho, kok malah bengong. Jadi pulang nggak?"
"Hehehe. mauuu....." aku segera mengikuti langkah cowok paling berharga dalam hidupku sekarang. Tentunya selain Papa.
***
Aku melangkah masuk sepelan mungkin dan berusaha untuk tidak menimbulkan satu suara pun. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Hampir jam sembilan malam. Dari ruang tengah aku bisa mendengar suara TV. Pasti Mama dan Papa ada di sana.
"Mbak, Lala." Saking kagetnya hampir saja aku menjatuhkan vas bunga di dekat tangga. Aku menarik napas lega karena yang muncul dari ruang tamu ternyata Mbak jum, pembantu kami.
"Sssst... Mbak Jum. Jangan kenceng-kenceng," kataku memperingatkan Mbak Jum yang sudah pasang ancang-ancang hendak berkata lagi. Aku meletakkan jari telunjukku sebagai simbol agar Mbak Jum tidak bicara lagi.
"Ya ampuunn... Mak Lalaa..." eh malah ngomong juga. Dasar!
Whooops!! Itu suara Mama. Mampus aku!
"Dari mana saja kamu?!" Mama segera menghampiriku. Aku hanya terpaku di tempatku berdiri. Dari ekor mataku, aku melihat Mbak Jum buru-buru pergi sambil tertunduk. Mungkin dia merasa bersalah, gara-gara dia Mama tahu keberadaaanku.
"Dari nonton, Mam."
"Bukannya Mama udah bilang hari ini kamu nggak boleh ke mana-mana."
Aku terdiam.
"Lala!"
__ADS_1
Aku menatap Mama. Wajah itu tidak lagi tegang. Mata itu tidak menyala seperti biasanya. Hatiku yang tadi berdetak kencang perlahan kembali normal.
"Mam, Lala minta maaf," kataku lirih.
Aku melihat Papa menghampiri Mama dan memegang kedua bahu perempuan cantik itu. Aku melihat Papa membisikkan sesuatu pada Mama. Sekilas aku melihat mata Mama berkaca-kaca. Dalam hati aku sangat menyesal. Pastilah Mama sangat kecewa dengan kata-kataku tadi siang. Ya Tuhan, maafkan aku.
Papa memberi tanda padaku untuk cepat masuk ke kamar. Dengan perasaan yang tidak menentu aku meninggalkan Papa dan Mama. Aku masuk ke kamarku. Tidak lama kemudian pintu kamarku diketuk dan kemudian Papa masuk.
"Mama sudah cerita tentang semuanya." Aku mengangkat wajahku menatap Papa. Semuanya?
"Lala, maafin Papa karena selama ini Papa hampir tidak punya waktu buat Lala."
Aku terdiam. Akhirnya Papa sadar juga. Kemudian aku melihat sosok Mama ikut masuk ke dalam kamarku. Papa menggeser tempat duduknya untuk memberikan tempat untuk Mama.
"Lala, Mama nggak tahu kalau semua yang Mama lakuin ternyata salah di mata kamu. Mama nggak bermaksud seperti itu. Mama hanya terlalu sayang sama kamu. Mama mau kamu nggak kenapa-napa. Mama nggak pengen kehilangan kamu." Mata Mama kembali berkaca-kaca. Apa maksud Mama nggak pengen kehilangan aku?
"La, kamu anak satu-satunya Papa dan Mama. Seandainya Mama bisa memberikanmu adik. Seandainya saja." Air mata Mama semakin mengalir. Aku semakin tidak mengerti. Mataku ikut berkaca-kaca. Aku melihat Papa hanya diam.
"Lima belas tahun yang lalu, Mama sedang mengandung adik kamu. Dan usia kamu saat itu satu tahun lima bulan." Mama menghentikan bicaranya dan menghapus air matanya.
"Dan kecelakaan itu terjadi, La. Papa dan Mama kehilangan adik kamu. Mama rela rahim Mama diangkat tapi Mama nggak akan pernah rela kalau kehilangan kamu."
Ya Tuhan, jadi inilah alasannya Mama over protektif terhadapku. Mama takut kehilangan aku, setelah Mama kehilangan adik dan rahimnya. Aku mengerti sekarang.
"Tapi Mama baru sadar, La, kalau selama ini Mama justru menyiksa kamu secara tidak langsung. Cinta Mama yang besar justru membuat kamu tidak bisa bergerak bebas." Mama meraihku ke dalam pelukannya.
"Lala juga minta maaf Mam, Lala udah berkata kasar sama Mama. Tapi Lala janji bakal bikin Papa dan Mama bangga pada Lala."
Aku memeluk kedua orang yang paling aku cintai itu. Ternyata jawaban dari sikap Mama selama ini adalah seperti yang aku dengar barusan, karena Mama takut kehilanganku. Tuhan menjawab doaku sekaligus membuat aku mengerti bahwa semua yang terjadi dalam kehidupanku memiliki maksud tertentu. Aku ingin belajar menerima maksud Tuhan yang paling buruk sekalipun karena pasti akhirnya akan berbuah manis. Manis seperti keadaan yang aku rasakan saat ini. Saat aku dan Mama dan Papa berpelukan dan saling memaafkan. Indah sekali.
.
__ADS_1
.
.