
Aku lega karena Fadly tidak mengantarkanku pulang dengan motor abnormalnya. Kali ini Fadly dengan Mobilio birunya. Dalam perjalanan pulang Fadly hanya diam dan matanya benar-benar terpaku pada jalan di depannya. Aku sendiri juga tidak bergairah membuka percakapan dengannya. Aku masih kesal dengan kata-kata Bunga itu. Aku heran kenapa cewek-cewek cantik sepertik Yola dan Bunga punya sifat nyinyir seperti itu. Aku kira itu hanya ada di sinetron-sinetron. Tapi aku harap mereka tidak punya ibu peri jahat yang akan menyihirku jadi kodok karena telah merebut perhatian cowok-cowok cakep dari mereka.
Akhirnya, aku dan Fadly benar-benar jadi orang bisu karena sampai di depan rumahku pun kami tetap tidak bersuara.
"Thanks, ya," kataku.
"Tunggu, La. Sorry atas kejadian tadi, ya. Emmm.. Sorry juga. Aku nggak bisa ikut.."
"Nggak papa kalau kamu nggak bisa pergi sama aku. Aku bisa pergi sendiri kesana. Kan ada A'am juga," kataku seperti bisa menebak jalan pikiran Fadly.
"Maaf ya, La."
"Nggak papa kok." Kemudian aku melambai ke arah Fadly. Sedikit kecewa? Yup... Ada rasa kecewa. Maksudku, sebenarnya aku masih ingin terlihat bersama Fadly di tempat umum, khusunya di depan Junot dan Yola.
Hmmm.... ternyata aku tidak ada bedanya dengan Junot. Aku juga memanfaatkan Fadly untuk aksi balas dendamku. Dan juga aksi balas dendam terhadap keadaan diriku yang freak selama hampir 17 tahum. Sisi hatiku yang lain merasa bangga karena pada akhirnya aku bisa berjalan bersisian dengan cowok-cowok populer seperti Junot dan Fadly. Tapi aku nggak salah kan?
"Mam, Lala mau minta izin sore ini Lala mau nonton sama temen-temen. Boleh, ya?" kataku dengan hati-hati pada Mama saat di meja makan.
"Kamu boleh pergi tapi harus diantar dan ditungguin Pak Ali."
Ya ampun, kenapa sih Mama nggak berubah. Emang aku anak TK apa? Kalau cuma dianterin sih nggak apa-apa. Tapi masak harus ditungguin. Aduhh... Mama aneh-aneh saja. Lagian entar aku mau jalan-jalan sama A'am dulu. UGGHHH... SEBEELLL!!
"Lala nggak mau ditungguin, Mam. Kayak anak TK aja."
"Nggak boleh protes. Mama nggak mau kamu kelayaban."
"Emang Lala mau kelayaban kemana Mam? Mama nggak tahu sih, Lala sudah capek diatur -atur terus. Mama kan tahu Lala seperti apa. Lala udah jalanin semua keinginan Mama. Tapi tahu nggak, Mam? Lala bukan jadi orang normal. Lala malah jadi cewek yang aneh, yang nggak gaul, yang takut sama orang, yang selalu dicibir, itu semua karena Mama!!"
Aku membanting sendokku dan berlari ke kamar. Aku bersyukur punya Mama yang tidak sekejam Ibu tirinya bawang putih, tetapi kalau begini terus keadaannya aku juga nggak bisa terima.
"Lala..!! Lala..!!" jerit Mama, aku tahu Mama pasti nggak nyangka aku bakal berkata seperti itu. Tapi ini adalah puncak kekesalanku ke Mama. Aku mendengar pintu kamarku diketuk dari luar. Aku tahu itu Mama.
"Lala, dengar! Kamu sudah tidak sopan sama Mama. Dan Mama tidak tahu kamu belajar seperti itu dari siapa!"
__ADS_1
Aku tidak peduli dengan kata-kata Mama. Apa Mama tidak sadar kalau sikapku seperti itu karena perlakuannya yang sudah kelewatan. Maafkan aku Tuhan kalau misalnya aku nyakitin Mama. Tetapi aku mohon, ubah donk sikap Mama. Buat Mama mengerti. Pliss...
"Dan satu lagi. Kamu nggak boleh keluar sore ini," ultimatum Mama yang terakhir ini semakin membuat tangisku pecah. Bagaimana dengan A'am? Bagaimana dengan Trian? Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Nggak, aku nggak boleh hanya berdiam diri. Aku harus keluar. Aku harus membuat Mama sadar kalau sikap Mama telah membuatku tertekan. Aku bergegas berganti baju. Setelah siap, aku menelpon A'am untuk menjemputku di jalan raya.
Aku mengendap-endap menuruni tangga. Aku melihat di mana keberadaan Mama. Sepertinya dia ada di kamarnya. Aku segera ke pintu garasi dan berjalan pelan-pelan keluar dari halaman.
Sekali lagi, Maafin aku, Ma. Ampuni aku Tuhan, tetapi saat ini aku harus bisa keluar dari rumah. Setelah keluar dari gerbang aku bernapas lega. Aku berjalan dua ratus meter ke arah jalan raya dan menanti jemputan A'am di sana. Tidak lama kemudian A'am muncul di depanku, membuka helmnya dan tersenyum padaku.
"Kamu kabur, ya?"
"Udah ah... ntar aja ngomongnya, takut ketahuan." Aku segera menyambar helm dari tangan A'am. Dan kami segera melesat menuju bioskop.
Sesampainya di sana, aku dan A'am berusaha menerobos kerumunan orang-orang. Ternyata filmnya belum dimulai. Dan semua penonton yang sebagian besar ABG terlihat sedang terpaku melihat ke depan. Di sana sudah ada beberapa kru radio dan yang membuatku berdecak kagum, di sana, Cristian Prasetyo. Ya Ampunn... pantesan Gigi tergila-gila dengan cowok itu. Ternyata aslinya cakep banget.
Aku juga bisa meliha Heina dan Pipin yang menjerit-jerit histeris saat disuruh maju ke depan oleh MC dan berkesempatan salaman dan selfie bareng si Pras. Aku melihat tatapan iri dari sebagian cewek ABG yang melihat mereka.
"Lima belas menit kemudian pintu bioskop di buka dan kami semua tidak sabar untuk segera masuk. A'am menahan tanganku agar tidak terburu-buru.
"Santai aja, La. tempat duduknya kan nggak bakal ketuker jadi nggak perlu desak-desakkan." Aku dan A'am akhirnya memilih masuk terakhir biar lebih nyaman. Dan tiba-tiba ponselku berbunyi... Trian!!
"Halo, Tan... kamu di mana?"
"Hi, La. Kamu udah di dalam, ya?"
"Belum, aku masih di depan pintu." Di saat yang sama aku melihat sosok Cristian Prasetyo keluar dari salah satu pintu dadurat. Waahh... cewek-cewek nggak tahu kalau Cristian menyusup keluar. Coba kalau mereka tahu, habis tuh wajah Cristian dicium mereka.
"Depan pintu? Kamu yang pakai baju kuning, ya?"
Hah? Berarti Trian ada di sekitar aku sekarang. Aku segera melemparkan pandanganku ke sekeliling area bioskop. Aku mendengar A'am memanggil aku untuk masuk ke dalam bisokop.
Tapi... mataku terpaku pada sosok itu yang juga sedang berbicara di ponselnya. Aku hanya bisa melotot tanpa bisa berkata apa-apa. Mungkinkah dia??
__ADS_1
***
"Halo, Lala." Aku masih terpaku karena aku masih tidak percaya dengan penglihatanku. Benarkah dia Trian? Tapi bukannya namanya...
"La, Lala. Kamu kenapa? Hmmm... kamu kaget ya? Emang sih kamu nggak pernah tahu nama lengkapku dan aku juga nggak pernah pasang foto profil. Tapi di rumah aku biasa dipanggil Trian."
"Cristian Prasetyo..." A'am menghampiri kami dengan wajah nggak percaya.
"Lho, La... kamu kok nggak pernah bilang kalau kenal Cristian."
"Aku... Aku aja nggak tahu... Kalau.."
Cristian terkekeh kecil. "Haha.. Sorry ya, La."
"Eh... nggak papa."
Aku masih syok. Ini kejutan yang sangat.. sangat menyenangkan. Aku bisa berteman dengan Cristian Prasetyo?
"Ya udah kalian masuk aja dulu. Filmnya mau mulai. Nanti kita ketemu lagi sehabis nonton, ya. Bye..."
Cristian segera berbalik karena aku melihat ada seseorang menantinya di pintu darurat.
"Jadi itu..."
"Trian...." aku menjawab rasa penasaran A'am.
"Dan aku sama sekali nggak tahu kalau Trian itu Cristian. Ya ampun... aku masih nggak percaya, Am." A'am tersenyum lalu menarik tanganku untuk masuk ke dalam.
.
.
.
__ADS_1