Kado Untuk Lala

Kado Untuk Lala
Tiga Puluh (Tamat) - Kado untuk Lala


__ADS_3

Lomba paduan suara diadakan di gedung kesenian. Aku, Heina, Pipin dan A'am datang bersama. Papa dan Mama akan ikut menonton. Aku seneng banget.


SMA kami mendapatkan urutan ke-lima. Aku mulai deg-degan. Ini adalah penampilan pertamaku di depan banyak orang. Meskipun bernyanyi bersama 11 orang lain, penampilan ini membuatku gugup bukan main. A'am terus membesarkan hatiku.


"Udah, nggak usah gugup gitu, santai aja, La." aku mengangguk dan berdoa dalam hati.


"Lala!"


"Junot?"


"Semangat, ya!" Junot tersenyum dan memberi tanda kalau dia akan berada diantara para penonton. Aku mengangguk.


Saat kami selesai menyanyikan lagu-lagu yang kami bawakan, Indonesia Raya, Tanah Air, Berkibar Benderaku, Negeri di Awan dan ditutup dengan Flashligth-nya Jessi J, penonton bertepuk tangan meriah saat kami mulai turun panggung. Aku lega. Papa dan Mama menghampiriku dari belakang panggung lalu memeluk dan menciumku.


"Kamu hebat sayang." Aku tersenyum bahagia.


"Ma, ini A'am." Aku memperkenalkan A'am pada Mama dan Papa.


"Oh... ini yang namanya A'am. Oh ya Am... kalau boncengin Lala, nggak boleh ngebut, ya" kata Mama sambil tersenyum jahil ke A'am. Kami semua pun tertawa. Dan aku bisa menangkap bayangan Junot di belakang Papa dan Mama sedang mengacungkan jempolnya.


***


Malam harinya, Junot sudah berada d rumahku dengan penampilannya yang kasual dan dia sangat tampan. Junot menepati janjinya untuk mengajakku jalan-jalan. Dan setelah ijin Mama, kami pergi berdua. Setelah puas muter-muter Semarang, Junot mengajakku ke sebuah restauran.


Aku terperangah, ternyata Junot sudah reservasi tempat di restauran yang menurutku sangat rimantis ini. 


"Lala, i wanna ask to you."


Aku mengernyit heran. Junot mendadak sangat romantis

__ADS_1


"I love you."


Deg...


Apa?


Ini nggak bercanda kan?


"Do you love me?" kata Junot selanjutnya.


"Aku...." Setelah terdiam lama akhirnya aku berucap. Lala, apalagi yang kamu tunggu. Aku pun akhirnya mengangguk. Tanpa kusadari bibir Junot sudah menempel di keningku. Ya Tuhan, ini kado yang indah sekali. Terima kasih.


"Sorry ya, La, aku pernah nyakitin kamu. Aku emang ****, tapi selanjutnya aku nggak akan **** **** lagi," aku tertawa mendengar kata-kata Junot. Junot pun ikut tertawa.


***


Satu bulan kemudian....


"Halo, La... nggak usah kecewa ya," mataku memanas. Suara Junot malah membuatku pengen nangis.


"Haloo, La... jangan nangis dong..." aku segera menghapus air mataku.


"Nggak nangis, kok." bohongku.


"Yau udah, mandi gih, Ntar aku jemput, ya. Jadi kan?"


"Iya." Kali ini aku ada janji dengan Junot mau jalan-jalan sekalian ke toko buku.


Setelah telepon dari Junot, telepon dari Trian masuk.

__ADS_1


"La, aku mau ke Jogja. Ketemuan, ya."


"Kapan, Tan?"


"Besok."


"Ok."


Setelah telepon dari Trian, dua chatt muncul, dari Gigi dan A'am, mereka menanyakan tentang novelku. Hiiiiks... aku kembali merasa sedih.


***


Keesokan harinya, Aku, Junot dan A'am menjmput Trian di hotel. Kami berempat menghabiskan waktu keliling Semarang. Kami ke Bandungan, menikmati keindahan pegunungan, makan-makan dan mengunjungi Gua Kreo. Betapa bahagianya aku dikelilingi tiga cowok yang sangat berarti dalam hidupku. 


Setelah jalan-jalan, mereka mampir dulu ke rumah sekalian nganterin aku. Belum juga turun dari mobil Junot, Mama menghampiriku dengan wajah sumringah.


"La, coba lihat ini," Mama mengacungkan sebuah amplop putih. Aku segera mengambilnya. Ketiga cowok itu terlihat penasaran.


Novel Anda Masuk Dalam Kategori Penulis Berbakat Dan Akan Segera Diterbitkan...


Aku terpaku. Air mataku meleleh karena terharuh. Mama segera merangkulku.


"Selamat ya sayang, Mama bangga sekali sama kamu."


Ya Tuhan, terima kasih atas banyaknya Kado yang Engkau berikan padaku..


.


.

__ADS_1


.


.TAMAT.


__ADS_2