
Apartemen Jiaxin.
"Halo, nyonya apakah di apartemen no 299 ada kamar kosong?"
"Sebentar aku lihat dulu. Ada 1 kamar kosong di sana. Tapi yang tinggal di kamar tersebut perempuan dan kau laki-laki, lebih baik cari kamar lain saja."
"Aahh tidak bisa nyonya. Jadi begini, dia itu tunanganku dan kami sedang bertengkar. Jadi orang tuanya memintaku untuk tinggal bersamanya supaya kita bisa berbaikan. Emm begini saja, aku akan bayar 2 kali lipat."
"Baiklah, 2 kali lipat. Mari ku antar."
Apartemen 299
"Di sini. Silahkan masuk. Saya pergi dulu."
"Terima kasih nyonya."
"Ehh ini? Apa-apaan ini. Ini? Tidak ada kamar di sini mengapa dia ke sini."
"Siqi, bukankah kamar di sana masih kosong? Mengapa kau melarangnya. Lagi pula kalian sudah bertunangan, tidak baik jika bertengkar." (meninggalkan apartemen Siqi.)
"Hah? Bertunangan? Siapa? Ini?"
"Ahh, kecil sekali. Hmm di mana kamarku? Apakah di sini? Emm boleh juga."
"Heyyy, itu kamarku. Lebih baik kau keluar karena di sini tidak ada kamar kosong."
"Ini apa? Itu akan di tinggali oleh temanku. Ahh singkirkan barang ini. Aku capek, ingin istirahat." (mengeluarkan koper Jiaxin dari kamar.)
"Aduhhh, gimana sihh, Jiaxin kemana lagi. Ahh kenapa jadi gini sihh."
(Pintu terbuka)
"Jiaxin... Kau kemana saja,"
"Ahhh, aku barusan keluar sebentar untuk membeli makanan."
"Tapi Jiaxin, ini gawat. Kamarmu di tempati orang lain, dan dia nyebelin banget."
"Emm, tidak apa Siqi, Aku pergi saja. Lagi pula ini bukan apartemenku lagi."
"Tapii Jiaxin. Kau akan tinggal di mana? Lagi pula ini sudah malam."
"Aku bisa tinggal di mana saja."
"Di mana saja? Yang benar saja!!! Ayo aku bantu kau cari tempat tinggal."
"Tidak perlu Siqi, aku tidak ingin merepotkanmu."
"Jiaxin, kau wanita hamil. Tidak baik jika berkeliaran sendiri di malam hari, jadi biarkan aku menemanimu."
"Terima kasih Siqi."
"Emm. Ayo."
Mereka berjalan mencari tempat tinggal untuk Jiaxin lalu mereka bertemu dengan Dylan.
"Jiaxin, kau tenang saja. Aku akan membantumu, aku tidak akan membiarkan sahabatku kesusahan."
"Makasih Siqi. Kau sahabat terbaik yang aku punya." (Mereka berpelukan.)
"Ehhh, Chen Jiaxin. Kalian mau kemana? Mengapa membawa koper?"
"Jadi begini, kami sedang mencari tempat tinggal untuk Jiaxin."
"Tempat tinggal? Bukanlah kau tinggal di kediaman Wang? Mengapa masih mencari tempat tinggal."
"Dylan, aku pergi dari rumah Wang,"
"Ohh, apakah kau belum menemukan tempat tinggal?"
"Belum, aku sedang mencarinya."
"Aku punya satu apartemen kosong, jika tidak keberatan kau bisa tinggal di sana."
"Benarkah? Itu bagus sekali. Jiaxin, kau tinggal di sana saja."
"Tapi, akuuu."
__ADS_1
"Tidak ada tapi, lagi pula ini sudah malam. Kau ingin tinggal di mana?"
"Emm baiklah."
"Mari letakkan kopernya di dalam mobil."
(Saat mereka ingin pergi, tiba-tiba Xiyi datang.)
"Jiaxin tidak akan pergi bersamamu. Dia akan kembali bersamaku ke kediaman Wang."
"Xiyii, kauu..."
"Ayo pergi Jiaxin," (menarik tangan Jiaxin.)
"Xiyi, tapi Nenek."
"Nenek koma tidak ada hubungannya denganmu. Ayo kita kembali ke rumah."
"Dylan, maaf. Aku akan kembali ke rumah Wang."
"Tidak apa-apa, pergilah. Tapi, jika lain kali kau butuh tempat tinggal, apartemenku terbuka lebar untukmu."
"Terima kasih Dylan."
"Jiaxin, ayo kita pulang."
Rumah Besar Wang.
"Kau tidurlah."
"Emm. Selamat malam Xiyi."
Pagi hari.
"Xiyi, ayo sarapan."
"Baiklah, ohh iya. Aku akan ke Rumah Sakit apakah kau ingin ikut?"
"Baiklah, lagi pula kata Dokter Hao les kandungan masih jam 12 siang."
"Dokter Hao? Kau mengenalnya?"
"Ehh Jiaxin, bagaimana jika aku menemanimu Les kandungan nanti siang."
"Itu bagus Xiyi. Tapi, apakah kau tidak sibuk?"
"Tidak apa, demi Xiao Ximi."
"Terima Kasih Xiyi."
RS. Besar Shanghai.
"Selamat pagi Nek, apakah Nenek mendengarku? Kapan nenek akan bangun?"
"Jiaxin, kau temani nenek dulu. Aku akan keluar sebentar."
"Baik Xiyi."
(Xiyi menerima panggilan dari Anna.)
"Xiyi, mengapa kau tidak menelfonku? Apakah kau sangat sibuk?"
"Maaf Anna, aku memang sibuk akhir-akhir ini dan aku harus menemani Nenek di rumah sakit."
"Nenek sakit? Nenek sakit apa?"
"Nenek koma dan ia belum sadarkan diri."
"Xiyi, apakah aku harus pulang ke Shanghai dan menemanimu? Aku tau kau sedang terpuruk sekarang."
"Aaa pulang? Tidak perlu Anna, lagi pula kau sangat sibuk dengan latihanmu. Kau fokus saja di Paris. Aku tidak apa-apa, aku.. Aku baik-baik saja. Yaaa, aku baik-baik saja."
"Emmm baiklah, jaga dirimu baik-baik Xiyi. Aku tutup dulu. Bye bye."
"Iyaa, bye bye."
(menutup telepon)
__ADS_1
"Mengapa sikap Xiyi aneh sekali? Ia juga tidak seperti dulu. Tapi, ahh sudahlah aku terlalu banyak berfikir." (Anna mulai curiga pada sikap Xiyi, tegapi ia mencoba meyakinkan diri untuk tetap percaya padanya.)
Xiyi kembali memasuki ruangan pasien.
"Chen Jiaxin, bukankah kau ingin melakukan Les kandungan? Mari kita berangkat sekarang."
"Tapi Xiyi, bagaimana dengan Nenek?"
"Tidak apa-apa, sebentar lagi Bibi dan Zhengren akan datang."
"Baiklah. Nenek kami pergi dulu."
"Kami pergi dulu nek. Ayo Jiaxin."
RS. Kandungan Shanghai.
"Selamat siang dokter Hao."
"Ehh, Jiaxin... Sudah datang. Apakah ini suamimu?"
"Iya Dokter di suamiku."
"Kalian silahkan menuju ruangan latihan. Sekarang kau akan berlatih kelenturan tubuh ibu hamil. Bagus sekali kau membawa suamimu. Karena ini adalah untuk ibu dan ayah. Kalian masuklah, jika sudah selesai temui aku di ruangan."
"Baik dokter."
-Ruang Latihan.
Mereka berlatih dan Xiyi membantu Jiaxin. Dokter Hao melihat mereka dari jendela dan ia berpikir mungkin Wang Xiyi tidak seburuk yang ia kira.
"Ternyata ia masih peduli pada istri dan anaknya. Baguslah."
(Dokter Hao pergi menuru ruangannya.)
Setelah beberapa jam, latihan selesai. Wang Xiyi dan Chen Jiaxin pergi menemui Dokter Hao di ruangannya.
"Dokter."
"Ohh sudah selesai. Duduklah."
"Terima kasih dokter."
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada kalian. Khususnya untuk kau. Sebagai suami dan ayah dari anak ini, kau harus lebih memperhatikan istrimu. Sikap ibu hamil mungkin sewaktu-waktu berubah ubah dan itu dapat mempengaruhi bayi yang di kandungnya. Dan kau juga harus lebih memperhatikan pola makan istrimu. Karena apa yang di makan ibu, akan menjadi nutrisi untuk si anak."
"Baik dok, saya akan lebih memperhatikan istri dan anak saya."
"Bagus, sering-seringlah ajak istrimu makan makanan yang bernutrisi dan rendah minyak. Ya sudah itu saja dan untuk Jiaxin, aku harap kau jangan terlalu lelah. Karena itu mungkin akan mempengaruhi bayimu."
"Baik dokter. Kalau begitu kami pamit dulu."
"Iyaa."
(Mereka meninggalkan ruangan Dokter Hao.)
"Jiaxin, aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu Xiyi, lagi pula arah kita berbeda dan kau bukannya masih ada urusan?"
"Benar. Ya sudah kau hati-hati di jalan. Aku pergi dulu."
"Iyaa, bye Xiyi."
(Xiyi meninggalkan Jiaxin dan ternyata ia kembali menemui Dokter Hao.)
"Selamat Siang dokter."
"Kau lagi. Ada apa kau kemari? Di mana Jiaxin?"
"Dia sudah pulang, kedatangan saya ke sini untuk meminta anda menjadi juru bicara dari produk warisan kami. Saya harap dokter Hao bersedia membantu saya."
"Kau? Hah, ternyata kau memiliki maksud lain. Jadi kau sekarang menemani Jiaxin les kandungan hanya agar aku mau membantumu? Jadi kau hanya memanfaatkan Jiaxin saja? Hahh, tadi aku sempat berfikir bahwa kau tidak seburuk yang aku pikirkan. Tapi ternyata aku salah. Dan kau lebih buruk dari yang aku bayangkan. Kau tidak berhak mendapat bantuanku."
(ternyata Jiaxin dari tadi berdiri di depan pintu dan ia mendengar semua perkataan Dokter Hao, ia beprikir bahwa Xiyi hanya memanfaatkannya. Ia menangis mendengar semua itu.)
"Tapi dok, dokter..."
(Dokter Hao meninggalkan ruangannya.)
__ADS_1
Jiaxin juga pergi meninggalkan rumah sakit dan ia menenangkan diri di taman. Ternyata, lagi-lagi ia bertemu Dylan.