Kamu Takdir Cintaku

Kamu Takdir Cintaku
Episode 8


__ADS_3

Dylan menemani Jiaxin untuk bertemu klien dan menikmati musik. Ternyata... Siapa sangka bahwa Wang Xiyi akan cemburu di saat seperti ini.


"Chen Jiaxin, apakah kau juga akan mendengarkan musik?"


"Iyaa, tapi aku tidak tau harus bagaimana. Karena aku tidak pernah datang ke acara seperti ini. Ini pertama kalinya bagiku, aku takut akan tertidur."


"Ada aku, kau tenang saja. Lagi pula mendengarkan musik seperti ini baik untuk bayi."


"Aaa, benarkah? Apakah sungguh baik untuk bayi?"


"Tentu saja. Ehh Jiaxin, Xiyi juga datang. Tapi, mengapa kalian tidak bersama."


"Itu tidak mungkin Dylan, dia memintaku untuk berpura-pura tidak mengenalnya."


"Mengapa dia seperti ini? Bukankah kalian suami istri?"


"Dylan, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Pernikahan kami hanya kesalah pamahan saja."


"Hmmm, lupakan saja. Ayo kita ke sana." (Dylan memegang tangan Jiaxin dan Xiyi kesal melihatnya.)


"Apa yang sedang kalian lakukan? Chen Jiaxin, mengapa kau bersamanya?"


"Xiyi, apa salahnya aku menemaninya? Kau siapa?"


"Aku suaminya."


"Suaminya? Bukankah kau menyuruhnya untuk berpura-pura tidak nengenalmu?"


"Chen Jiaxin, kau...." (xiyi kesal dan meninggalkan mereka berdua.)


"Dylan, tadi ituu... Xiyi, sepertinya dia marah."


"Tidak apa Jiaxin, kau tenang saja."


"Tapi akuuu..."


"Ahh sudahlah, mari kita ke sana. Acaranya sudah akan di mulai."


*Dylan duduk di samping Jiaxin, Xiyi lagi-lagi kesal dan ia juga pindah duduk di sebelah Jiaxin. Jadi mereka bertiga duduk bersama.


"Mengapa kau duduk di sini?"


"Aku ingin duduk bersama istriku, apa salahnya?"


"Apakah kau sudah sadar bahwa dia istrimu?"


"Diam kau."


"Sudah, sudah. Berisik sekali."


Mereka terdiam dan alunan musik membuat Jiaxin tertidur, ia menyandarkan kepalanya di bahu Dylan. Lalu Xiyi memindahkannya di bahunya."


"Minggir kau, dia istriku."


"Hahhh, jangan pura-pura peduli padanya."


"Kau siapa? Kau tidak berhak menghakimi hidup ku."


Setelah acara selesai mereka pulang ke rumah.


"Jiaxin, bangun. Acaranya sudah selesai."


"Ehhh... Dylan, apakah aku tertidur?"


"Sudah, tidak apa. Mari ku antar pulang."


"Tidak perlu, Jiaxin akan pulang bersamaku."


"Emmm baiklah, Jiaxin jaga dirimu baik-baik."


"Terima kasih Dylan."

__ADS_1


-Rumah besar Wang.


"Chen Jiaxin, mengapa kau bisa mengenal Dylan? Dan mengapa kalian sangat dekat? Apakah ada sesuatu di antara kalian berdua?"


"Aku dan Dylan, kami hanya teman biasa."


"Bagaimana kau bisa mengenalnya?"


"Kami bertemu di Galeri Seni dan pada saat itu dia menolongku."


"Kedepannya jangan lagi berhubungan dengannya."


"Kenapa?"


"Chen Jiaxin, kau sudah mempunyai suami. Apa kata orang nantinya."


"Wang Xiyi, bukankah pernikahan kita hanya karena keslah pahaman? Mengapa harus memperdukikan perkataan orang lain?"


"Tapii... Ituuu, ahhh sudah lahh terserah kau saja."


(Xiyi pergi meninggalkan Jiaxin.)


"Ahhh, apa yang aku katakan, mengapa aku peduli tentang kehidupan Jiaxin. Ahhh lagi pula Dylan mengapa selalu saja menyebalkan."


(Xiyi kembali memasuki kamar untuk tidur.)


"Xiyi, kau tidur di kasur saja, biar aku yang tidur di sofa."


"Memang aku ingin tidur di kasur, lagi pula ini kasurku."


"Aaa, baiklah selamat malam."


Pagi hari.


*Pagi sekali Xiyi sudah pergi ke perusahaan. Dan hari ini adalah hari pertama Jiaxin melakukan pemeriksaan Nenek cemas karena Xiyi tidak ada, tetapi kebetulan Dylan berkunjung dan menyuruhnya untuk menemani Jiaxin.


"Jiaxin, mari makan dulu."


"Ehhhh, bukankah hari ini kau ada jadwal pemeriksaan kandungan?"


"Iyaa Nek, aku akan berangkat setelah sarapan."


"Dimana Xiyi? Minta dia menemanimu. Ini adalah anak kalian berdua."


"Tapi, Xiyi sudah berangkat ke perusahaan tadi pagi."


"Mengapa dia berangkat sangat pagi? Apakah dia lupa kalau kau ada pemeriksaan kandungan?"


"Sudah Nek, tidak apa. Aku bisa pergi sendiri."


(Tiba-tiba Dylan datang.)


"Pagi semuanya."


"Ehhh Dylan, kebetulan sekali kau di sini. Bagaimana jika kau menemani Jiaxin untuk pemeriksaan kandungan? Apakah kau tidak keberatan?"


"Ahhh, baiklah. Aku akan menemaninya. Tapi di mana Xiyi? Mengapa bukan dia yang menemani Jiaxin?"


"Xiyi sudah pergi ke perusahaan tadi pagi."


"Ohh, ternyata Manager Chen Jie sangat sibuk."


"Ahhh Dylan, sudahlah."


"Jiaxin, kau jangan terus-terusan membelanya."


"Jiaxin, benar kata Dylan, kali ini nenek setuju padanya."


"Sudahlah, mari kita pergi saja. Dylan, ayo."


"Ahh baiklah. Nek, kami pergi dulu."

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati. Aku titip Jiaxin."


-Rumah Sakit Kandungan Shanghai.


"Selamat siang Dokter Hao, Aku Chen Jiaxin."


"Ohhh, duduklah. Jadi kau yang membuat janji denganku, baiklah apakah sebelumnya kau pernah melakukan pemeriksaan kandungan?"


"Sudah, aku sudah pernah melakukannya di Pulau Huaniao, dan dokter bilang bayi ku sehat."


"Baiklah, apakah ini suamimu? Kau akan melakukan les kandungan seminggu sekali. Ingat, minta dia untuk menemanimu saat les kandungan."


"Aaa, tapi dokter, dia bukan suamiku. Dia temanku."


"Hahh? Teman? Lalu dimana suamimu?"


"Benar dokter, saya temannya. Saya menemaninya karena Ayah dari anak ini lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan Istri dan anaknya."


"Hufhhhh,, benar-benar laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ya sudah, kalian boleh pergi sekarang. Jiaxin, ingat untuk melakukan Les kandungan setiap hari sabtu jam 12 siang."


"Baik Dokter Hao, kami pergi dulu."


"Jiaxin, bagaimana jika kita pergi makan dulu."


"Tapi, aku sudah makan tadi di rumah."


"Aku belum. Dan sekarang aku sangat lapar, aku tidak sempat makan karena menemanimu melakukan pemeriksaan kandungan."


"Aaa Dylan, maaf, karena menemaniku kau jadi kelaparan. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji, ini terakhir kalinya kau menemaniku melakukan pemeriksaan kandungan."


"Jiaxin, bukan begitu, lagi pula aku senang bisa menemanimu. Dan aku tadi hanya bercanda agar kau mau menemaniku makan."


"Emmm baiklah, mari aku traktir kau makan."


"Chen Jiaxin, aku hanya meminta kau untuk menemaniku."


"Tapi Dylan...."


"Tidak ada tapi, Oke. Ayo kita pergi."


"Emmm. Ayo."


Saat Jiaxin dan Dylan sedang makan. Wang Qian Lin (bibinya) melihat mereka dan memotretnya.


"Ya ampun, itu kan Jiaxin dan laki-laki itu Dylan. Mereka, ahhh aku harus mengabadikan ini agar ibu membelaku dan tidak memihak pada cucu menantunya terus-terusan. hmmm ternyata seperti ini kelakuannya di belakang kami."


"Ahhh, sudah. Aku harus pulang sekarang dan memberi tahu ibu tentang mereka."


Bibi Xiyi pulang dan saat hendak ingin memperlihatkan foto Jiaxin dan Dylan. Ternyata Nenek Xiyi melihat laporan keuangan yang tercatat di kartu Wang Qian Lin.


"Buu, kau sedang apa?"


"Qian Lin, Ini apa? Ahh buu, ituu ituuu."


"Itu apa? Kau hanya tau menghabiskan uang saja."


*Tiba-tiba Nenek mendapat kabar bahwa rahasia perusahaan di bocorkan dan ia pingsan.


"Halo, ketua dewan, gawat rahasia perusahaan terbocorkan. Dan sekarang perusahaan sedang krisis saham."


*Nenek wang pingsan saat mendengarnya. Dan ternyata ia koma. Saat Xiyi menanyakan pada Bibinya mengapa Nenek nya pingsan. Ia mengatakan bahwa Nenek nya pingsan karena melihat foto Jiaxin Dan Dylan.


RUMAH SAKIT


"Bibi, mengapa Nenek bisa begini? Apa yang terjadi."


"Xiyi, maaf, maafkan Bibi. Ibu pingsan karena melihat ini." (Ia memperlihatkan foto Jiaxin dan Dylan makan berdua.)


"Mereka, di mana Jiaxin sekarang?"


"Aku tidak tau, tapi mungkin sudah di rumah."

__ADS_1


(Mendengar itu, Xiyi langsung pulang mencari Jiaxin.)


__ADS_2