Kamu Takdir Cintaku

Kamu Takdir Cintaku
Episode 5


__ADS_3

Jiaxin bersiap untuk perjalannya ke Bahama, ia bahkah membawa tespeknya karena takut orang lain mengetahuinya. Lalu Siqi memasuki kamar Jiaxin untuk membantunya merapikan pakaiannya, tapi ia menolak karena tespeknya berada di dalammnya.


"Jiaxin, mari ku bantu kau bersiap."


"Aaa tidak perlu Siqi, kau akan terlambat ke kantor. Sebaiknya kau berangkat saja sekarang. Ini akan segera selesai."


"Jiaxin, ini masih pagi. Mari aku bantu saja."


"Ahh Siqi kau bersiap saja untuk berangkat kerja."


"Emmm baiklah."


"Hufhhh aman." (dan setelah beberapa saat Siqi memasuki kamar Jiaxin lagi.)


"Ehhh Jiaxin, aku harus berangkat sekarang. Karena ada urusan penting di perusahaan."


"Aaa baiklah."


'Aiaa mengagetkanku saja.'


*Dingdonggg* Suara bel berbunyi, dan ternyata itu Wang Xiyi.


"Ehhh Xiyi."


"Sudah Siap? Bisa berangkat sekarang?"


"Aah iyaa baiklah."


Sementara itu, di rumah Wang Xiyi. Nenekya tidak sengaja melihat berita tentang Jiaxin Hamil. Dan ia langsung menanyakannya pada Dylan.


"Hahaha, memang benar kata pepatah, kalau anaknya sehat, ibunya baru akan muntah parah. Hahahaha,,,,, ahh tidak tau keluarga mana yang begitu beruntung. Seandainya saja cucu menantuku seperti ini. Ehh tapi, ini bukannya gadis yang kemarin di Galeri Seni? Aku harus tanyakan pada Dylan." (ia langsung mengirim berita itu pada Dylan, dan menelfonnya.)


"Halo Dylan, Apakah "Gadis Hamil Muntahan" benar gadis itu?"


"Iya benar Nek, kalau aku tidak salah tebak akhir-akhir ini Xiyi sedang membahas perceraian dengan si Gadis Hamil Muntahan itu. Dan itu ada hubungannya dengan Bahama."


"Aiaaa baiklah aku tutup dulu."


"Ahh ini tidak boleh terjadi, mengapa mereka harus bercerai? Aku harus hubungi Anson sekarang."


^Anson^


"Halo ketua dewan."


"Xiyi sore ini ada urusan apa?"


"Ketua dewan, Pak Wang sore ini memesan dua tiket untuk pergi ke Bahama."


"Baiklah, aku mengerti." (menutup telfon)


"Aku harus melalukan sesuatu, ini tidak bisa di biarkan." (Nenek Xiyi mencoba menghentikan mereka dan ternyata ia menemukan masalah di Pulau Huaniao.)


"Pulau Huaniao, hahahha aku akan melakukan sesuatu sekarang. Hahh Xiyii jangan harap kau bisa bercerai dengan cucu menantuku." (Nenek Xiyi menelfon Anson.)


"Anson, bagaimana keadaan di Pabrik Huaniao sekarang? Mengapa masih belum di bayar, Pihak Bank akan segera menuntut kita. Sekarang juga kau suruh Xiyi Pergi ke Pulau Huaniao."


"Baik, Baiklah ketua dewan, aku akan segera hubungi Pak Wang."


"Aiaaa, mengapa bisa begini? Aku harus segera hubungi Pak Wang sekarang juga." (Menelfon Wang Xiyi.)


"Pak Wang, ada masalah besar, Pabrik sabun di Pulau Huaniao belum di bayarkan dan pihak Bank akan menuntut kita. Ketua dewan memintamu kembali sekarang juga."


"Baiklah, aku akan kembali ke perusahaan sekarang." (Menutup telfon.)


"Xiyi, ada apa?"


"Jiaxin. Maaf, aku tidak bisa pergi ke Bahama sekarang, ada masalah di perusahaan, dan aku harus pergi."


"Lalu... Bagaimana dengan perceraian kita?"


"Kita bicarakan saja lain kali. Baiklah, akan ku pesankan kau mobil."


"Aaa terima kasih. tapi tidak perlu, aku bisa naik Taxi."

__ADS_1


"Baiklah aku pergi dulu."


*Sementara itu, Ibu Jiaxin menelfonnya dan memintanya pulang karena ia melihat laporan ATM nya yang mengeluarkan ribuan dollar. Dan kebetulan ibu jiaxin tinggal di pulau huaniao. Tetapi jiaxin mengira bahwa ibunya menyuruhnya pulang karena mengetahui bahwa ia hamil.


"Chen Jiaxin!!! Pulang sekarang juga."


"Ibuu, ada apa?"


"Ibu bilang pulang sekarang juga. Mengapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dari ibu? Pulang sekarang."


"Aaa baiklah." (menutup telfon.)


"Apakah ibu sudah tau bahwa aku hamil? Ahh bagaimana ini?"


Sementara itu di perusahaan Chen Jie.


"Anson, mengapa bisa begini?"


"Aku juga tidak tau bos, yang terpenting kita harus segera pergi ke pulau Huaniao sekarang juga."


"Baiklah."


*Pelabuhan Huaniao.


Ternyata Jiaxin dan Xiyi menaiki kapal yang sama, dan sebelum menuju pabrik, Xiyi mengikuti Jiaxin dan ternyata.


"Bos, sepertinya orang pabrik sedang menyambut kita."


"Anson, kau duluan saja. Aku akan menyusul."


"Ehhh, tapii."


"Cepatlah, aku masih ada urusan"


"Baiklah."


Xiyi mngikuti Jiaxin hingga ke rumahnya karena ibunya memarahinya.


*Rumah Jiaxin.


"Chen Jiaxin, mengapa kau lakukan ini? Haaa??"


"Ibuu maaf buu, jika ibu ingin memukulku ibu bisa pukul aku sekarang."


"Ehh Jiaxin, hanya menghabiskan uang mengapa harus berlutut seperti itu." (Kakak Jiaxin.)


"Haa? Menghabiskan uang?" (Jiaxin heran, karena ia kira ibunya tau bahwa ia hamil.)


"Iyaaa, kau menghabiskan ribuan dollar dalam beberapa bulan ini? Kau gunakan untuk apa uang-uang itu? Hah? Apakah kau menghambur-hamburkan uang?"


"Ibu, maaf kan aku."


"Sudahh jangan lagi kau ulangi itu."


Sementara itu. Tiancu kakak ipar jiaxin berteriak dari luar dan....


"Ibuuu.... Ibuuu..... Gawatt... Jiaxinn, Jiaxin muntah muntah karena hamil."


-Xiyi yang menguping di luar kaget mendengar bahwa jiaxin hamil.


"Haaa? Jiaxin hamil? Bagaiman mungkin? Apakah aku akan menjadi Ayah?"


"Heyy, Tiancu.. Sudah jangan bicara lagi, ibu mungkin akan pingsan."


"Aaa baiklah sayang."


"Jiaxinn, kauuuu, kauu hamil?"


"Buu,,, maaf, maafkan aku bu."


"Jiaxin, bagus ya... Kau berpacaran tidak memberi tahu itu dan langsung hamil." (Ibunya memegang sapu untuk memukulnya.)


"Buuu, maafkan aku, inii ini tidak di sengaja."

__ADS_1


"Apanya tidak di sengaja? Kau sudah hamil bagaimana mungkin tidak di sengaja? Jiaxin bagaimana ibu hanrus menghadapi masyarakat?"


"Bu maaf."


"Jiaxin, di mana lelaki itu? Dimana laki-laki yang menghamili kamu?"


"Ini sebenarnya bukan salahnya, aku tidak ingin menggangu kehidupannya."


"Apa? Bukan salahnya? Jika bukan salahnya bagaimana mungkin kau hamil? Jiaxin Sudah jangan membelanya."


"Kak, aku akan mengurus anak ini sendiri, aku tidak akan mengganggunya."


"Kau ingin mengurus anak ini bagaimana? Sudah begini masih membelanya. Chen Jiaxin, mengapa kau selalu saja di tindas. Jiaxin, aku ibumu, katakan padaku siapa laki-laki itu. Cepat katakan. Jiaxin cepat katakan. Kau tidak akan mengatakan?"


"Ibu, sudahh jangan memukulnya."


"Jiaxin, kau tidak akan mengatakannya."


Ibu jiaxin akan memukulnya dan Xiyi datang menyelamatkannya.


"Aku ayah dari anak itu."


"Ohh... Kauu, ternyata kau laki-laki brengsek itu."


"Xiyi, mengapa kau datang?"


"Jiaxin, sudah. Jangan melindunginya."


"Tapi buuu."


"Aiaa, kauu, kauu adalah Pak Wang pemilik dari perusahaan chen jie, ohh ternyata kau yang telah menghamili adikku. Sudah bu pukul saja dia."


"Bagaimana bisa kau menghamili anakku?"


"Katakan, heyyy katakan, kau tidak akan menjawab? Ayo katakan?"


'Sebagai Manager perusahaan ternama dan paling terkenal di Asia, saat mengalami kerisis apa saja, aku bisa menyelesaikannya tapi pada saat ini aku tidak tau bagaimana harus menyelesaikan maslah ini, dan aku tidak tau harus menjawab apa.' (ucap Xiyi dalam hati.)


"Aa akuu tidak tau."


"Haaa? Tidak tau? Kau anggap Chen jiaxin apa?"


(Xiyi berlari karena di pukuli.)


"Heyy, kemari kau. Tiancu, ikat dia."


"Baik bu."


"Temukan barang berharganya."


"Aaa ponsel"


"Cari kontak penting."


"Aaa Nenek."


"Heyy, jangan Nenek, itu bukan Nenek saya. Itu asisten saya. Nenek saya sedang berenang."


(Ibu jiaxin tidak mempedulikannya dan langsung menelfon neneknya.)


"Halo,"


"Halo, Xiyi... Ada apa kau menelfon Nenek."


"Apakah kau Neneknya?"


"Ahh iya, ini siapa?"


"Cucumu telah menghamili anakku, bagaimana kalian akan bertanggung jawab."


"Aiaaa, besan. Tentu saja kami akan bertanggung jawab bagaimana jika kita bertemu besok? Aku akan pergi menemui kalian besok."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2