Kamu Takdir Cintaku

Kamu Takdir Cintaku
Episode 4


__ADS_3

Jiaxin menceritakan semuanya pada Siqi. Mengetaui itu semua, Siqi terkejut dan sangat marah.


"Apa? kalian sudah tidur bersama? Jiaxin, ternyata kauu..."


"Siqi, ini di luar kendaliku, kami pada saat itu mabuk, dan tidak sadar, aku juga tidak tau dan saat aku terbangun kita sudah di satu ranjang yang sama dan tanpa pakaian."


"What!!! Tanpa pakaian? Jiaxin, jadi kalian..."


"Aku tidak tau."


"Jiaxin, bagaimana jika kau hamil?"


"Itu tidak mungkin. Lagi pula kami akan bercerai."


"Bercerai? Mengapa bercerai? bagaimana jika kau benar-benar hamil?"


"Karena dari awal ini hanya kesalah pahaman dan Wang Xiyi juga sudah memiliki pasangan. Aku tidak mungkin merusak kebahagiaan mereka lagi pula kami tidak saling mencintai."


"Tapi Jiaxin, bahaimana jika kau benar-benar hamil?


"Ahhh sudahlah, aku mandi dulu."


*Kantor Cabang.


*Xiyi pergi ke kantor cabang menemui pengacara dan melihat Jiaxin di tindas oleh atasannya.


"Pak Wang, pengacara Shen sudah menunggu, silahkan masuk."


"Selamat siang tuan Wang."


"Hmm, Ohh iyaa jadi begini, kemarin temanku mengatakan padaku bahwa ia ingin bercerai dengan istrinya karena pernikahan mereka hanyalah kesalah pahaman dan mereka tidak saling mencintai. Menurutku temanku ini harus bagaimana?"


"Kesalah pahaman? kesalah pahaman apa? mengapa mereka menikah jika tidak saling mencintai?"


"Jadi mereka menikah karena keadaan dan sekarang ingin bercerai. Menurutmu berapa lama perceraian ini akan selesai?"


"Apakah temanmu ini kaya? dan apakah alasan perceraian mereka?"


"Iyaa, temanku ini kaya dan alasan perceraian mereka karena tidak saling mencintai dan ini hanya kesalah pahaman."


"Apakah pihak istri mendapah hak atau warisan dari suaminya."


"Tidak, pihak istri tidak meminta apa-apa dan pihak suami ingin menceraikannya."


"Itu berarti temanmu adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab."


"Bukan, bukan begitu, dia juga bingung."


"Apakah yang kau maksud temanmu itu adalah dirimu sendiri?"


"Aaaa tentu saja bukan. Baiklah, bagaimana jika kita bahas saja ini lain kali aku pergi dulu." (Xiyi meninggalkan ruang pengacara dan melihat Jiaxin di tindas.)


"Jiaxin, mengapa kau subuk makan di saat jam kerja? Apakah pekerjaanmu sedah selesai?"


"Aaaa maaf maaf, sebentar lagi aku selesaikan."


"Jiaxin, bagus sekali, di tengah kesibukan di perusahaan kau bisa-bisanya mengambil cuti. Dan surat mu itu di tulis dengan sembarangan itu tidak dapat di terima."


"Ada apa ini? apakah seperti ini perlakuan kalian pada karyawan."


"Ahhh Tuan Wang, tidak ini tidak seperti yang kau lihat,"


"Baiklah, aku ada perlu dengan Jiaxin, bisakah dia pulang lebih awal?

__ADS_1


"baiklah Tuan, Chen Jiaxin, cepatla jangan buat Tuan Wang menunggu."


"Aaaaa baiklah." (Jiaxin mengikuti Xiyi meninggalkan perusahaan.)


" Xiyi, ada perlu apa kau denganku "


"Emm tidak ada, aku hanya kasihan saja melihatmu di tindas seperti tadi."


"Baiklah jika tidak ada apa-apa dan terima kasih sudah membantuku pulang lebih awal, karena hari ini aku ada urusan di luar, turunkan aku di depan saja."


"Urusan apa? Dimana? Mau aku antar?"


"Tidak perlu, Xiyi aku mohon padamu, tolong jangan terlalu baik padaku. Karena mungkin aku akan salah menganggap kebaikanmu."


"Ohhh baiklah." (Jiaxin turun dari mobil dan berjalan menuju galeri seni.)


*Saat di galeri seni, ia bertemu dengan Dylan dan Nenek Wang Xiyi. Itu adalah pertemuan mereka.


"Dylan, kau tidak salah membawaku kemari."


"Iya Nenek, di sini banyak sekali karya seni yang sangat indah. Dan terutama ini, lihatlah Lukisan Biru ini, Kelihatannya seperti pegunungan dan warnanya juga sederhana. Tetapi jika diperhatikan, setiap garisnya seperti alur pikiran dalam otak. Anak dalam lukisan itu terlihat kesepian, ia berjalan sendirian di tengah pohon ceri yang lebat. Di sini ada kesepian yang luar biasa. Dan pelukisnya adalah seorang anak autis yang keluarganya sedang kesulitan."


"Ahh baiklah, aku tidak akan mendengarkan semua alasanmu, aku akan beli saja lukisan ini."


"Nenek, jangan salah paham. Aku mengajakmu kesini bukan untuk memintamu membeli lukisan ini, tapi karena murni ingin melihat lukisan."


"Aiiiaaa, aku suka lukisan ini, ehhh tapi sudah terjual, mengapa cepat sekali?"


"Tentu saja cepat."


"Aiiaaa, ternyata kau pelakunya. Kamu membawaku kesini bukan untuk melihat lukisan, tapi untuk membuatku iri pada dirimu"


*Setelah Dylan dan Nenek selesai melihat lukisan Biru, Jiaxin melihatnya dan ternyata sudah terjual, lalu ia menuju pelayanan dan ternyata sketsanya juga habis terjual.


"Ahh maaf, baru saja habis terjual. Bagaimana jika kau melihat lukisan lain."


"Tidak perlu, aku hanya ingin lukisan Biru."


*Dylan dan Nenek kasihan melihat Jiaxin yang sangat menginginkan lukisan itu, dann pada saat yang sama, Jiaxin ingin muntah. Saat ia berlari menuju toilet, ia tidak sengaja menjatuhkan buku catatannya, dan Dylan memungutnya.


"Gadis itu sepertinya sangat menyukai lukisan ini, Hmm orang baik tidak mengambil barang yang diinginkan orang lain. Dylan, berikan ini saat bertemu dengannya nanti, Nenek pergi dulu."


"Nenek, bukankah kau juga menyukai lukisan ini? Mengapa kau langsung memberikannya pada orang lain? Aiiaaa, aku sudah tua, tidak pantas untuk melihat lukisan kecil seperti ini, karena lukisan yang besar lebih cocok untukku."


"Baiklah, sekarang lukisan "Biru" asli sekarang milikmu."


"Pintar, tapi jangan bilang aku yang berikan ini, oke"


"Baiklah."


*Dylan membaca buku catatan Jiaxin, dan pada saat yang sama Jiaxin pergi ke Apotek membeli tespek untuk mengetes apakah dia hamil atau tidak, ia smapai membeli semua jenis tespek. Dan saat Dylan membaca buku catatan Jiaxin, ia menemukan nomornya lalu menghubunginya dan mereka bertemu.


"Maaf membuatmu menunggu."


"Ini untuk kamu." (Dylan menyerahkan buku catatannya.)


"Terima kasih."


"Dan ini juga untukmu, awalnya aku ingin memberikannya di galeri seni, tapi kau buru-buru pergi."


"Aaa terima kasih."


"Kau sangat menyukai lukisan ini?"

__ADS_1


"Iya, karena lukisan ini membuatku berani untuk kesepian."


"Ahh ternyata kau sangat kesepian, bagaimana jika kita makan dissert dan minum kopi? Setidaknya kesan baik saat pertama bertemu."


"Baiklah."


"Ayo, aku bawa kamu ke tempat yang bagus."


*Sementara itu di perusahaan pusat Chen Jie.


"Boss ini apa? Apakah kau sudah menikah?" (Anson menunjukkan sertifikat pernikahan Xiyi dan Jiaxin.)


"Darimana kau dapatkan ini?"


"Di lembar dokumen pabrik."


"Ahhh sudahh, simpan itu baik-baik, jangan sampai orang lain tau."


*Cafe.


"Jiaxin, apakah kau ingin memesan yang lainnya?"


"Emm tidak, itu saja."


*Makanan sudah siap dan, saat Jiaxin ingin memakannya, ia ingin muntah, dan langsung lari menuju kamar mandi. Saat di kamar mandi ia mengeluarkan tespeknya dan ternyata, positif. Bahkan ia mengeceknya denga semua tespek dan hasilnya tetap positif.


"Aaaaaa, ini tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil." (Jiaxin berteriak di kamar mandi, dan setelah beberapa saat ia keluar. Saat ingin menuju tempat duduknya ia tidak sengaja menabrak seseorang dan terpeknya terjatuh. Pada saat yang sama ia muntah muntah dengan parah dan semua orang bahkan merekamnya.)


"Hoekkk, hoekkk."


"Wahh, ternyata dia hamil, pantas saja muntah-muntah begini. Semuanya ayo rekam agar dia menjadi berita hari ini."


"Benar-benar, dia gadis hamil muntah-muntah."


*Saat semua orang sibuk merekam, jiaxin berusaha keluar dari Cafe lalu dylan mengejarnya.


"Akan ada banyak live tentangmu, tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan membereskannya."


"Masih ada ayah, iyaaa masi ada ayah, masi ada ayah dari si anak. Tapi.... Bagaimana ini bisa terjadi?? Ahh mengapa bisa begini? Akuuu... Mengapa bisa tiba-tiba hamil? Bagaimana aku harus bilang padanya? Ya Tuhan, bukankah kita akan bercerai? Apa yang terjadi sekarang? Apakah aku sudah menjadi ibu?"


(Jiaxin panik dan mondar-mandir kebingungan. Dylan heran melihatnya.)


"Apakah anak ini terjadi dengan kainginanmu?"


"Apa? Aaa ayah dari anak ini adalah orang baik, Dia adalah orang baik, ini adalah kesalahan, kesalahan yang terjadi di Kapal Pesiar Bahama. Kami sudah mau bercerai, ada alasan yang kuat untuk bercerai."


"Aku ingat Nenek pernah bilang, kalau Xiyi pernah berlibur dengan Kapal Pesiar menuju Bahama." (Ucap dilan dalam hatinya.)


"Apakah ayah dari anak ini, adalah seorang pengusaha muda yang lumayan mapan?"


"Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?"


"Aku hanya punya firasat saja. Apakah kau benar ingin bercerai dengannya?"


"Aku bukanlah orang yang seharusnya dia nikahi, karena pada saat itu yang seharusnya menikah dengannya itu adalah pacarnya. Aku hanyalah sebuah malapetaka"


"Malapetaka? Ehhh Jiaxin, tunggu kau bukan malapetaka. Ini untukmu, simpanlah sebagai keberuntunganmu." (Menyerahkan kompas keberuntungan.)


"Ahhh baiklah, aku pergi dulu."


Setelah pulang dari Cafe, Jiaxin langsung pulang ke rumahnya. Dan Xiyi menelfonnya untuk mengurus perceraian.


"Jiaxin, kita harus ke Bahama besok untuk mengurus perceraian ini."

__ADS_1


"Aa besok? Baiklah."


__ADS_2