
-Kamar Pengantin.
"Malam ini... Bagaimana cara kita tidur?"
"Tentu saja kita tidak bisa tidur di tempat tidur yang sama."
" Xiyi, Maaf aku telah merepotkanmu dan tidak mengikuti rencana untuk bercerai di Bahama. kau tidur di kasur saja biar aku yang tidur di Lantai."
" Jiaxin, mengapa kau terus meminta maaf, ini bukan salahmu. Sudah, kau wanita hamil, kau saja yang tidur di kasur aku yang akan tidur di Lantai. kau tidur lah aku keluar sebentar mencari udara segar."
"Aku tau, ini semua salahku. Jadi, kau tenang saja. Aku jamin setelah anak ini lahir, aku akan pergi dengan tenang. Tidak akan pernah muncul di depanmu dan pacarmu, aku akan menghilang sepenuhnya dari kehidupannmu. Aku jamin."
"Aku keluar untuk berjalan-jalan."
- Xiyi keluar untuk mencari udara segar dan menelfon Anna. Tetapi... ternyata ia bertemu dengan ibu Jiaxin.
"Xiyiii, apakah kau belum tidur? Kau tau? Idolaku tadi menonton pentunjukanku dan aku senang sekali. Dia Dousen, Dousen melihat pertunjukanku. Aku senang sekali. Ehh Xiyi bagaimana kabarmu? Apakah kau merindukanku?"
"Anna, aku merindukanmu tapii..."
"Aaa Xiyi aku tutup dulu, sebentar lagi aku akan tampil. Bye bye."
"Haahhhh, bagaimana aku menjelaskannya pada Anna, aku sudah menikah dan memiliki anak. Apakah itu akan menyakitinya?" (Xiyi bingung dan tampak lesu.)
" Hei apa yang kau lakukan disini Mengapa kau tidak menemani istrimu? dia sedang hamil mengapa kau meninggalkannya sendirian."
"Ahhh ibuu.. Maaf Bu aku hanya mencari udara segar saja."
"Kau jangan coba-coba untuk menindas putriku. jika kau memperlakukan nya dengan buruk aku, jamin hidupmu akan sengsara dan aku akan mencarimu hingga ke Shanghai. Ingat itu."
"Aaaa bbb baik buu, baik. Aku akuu."
"Kembali sekarang."
"Iyaa bu iya, aku kembali sekarang."
Pagi hari.
"Nenek besan, maaf aku tidak bisa menerima maskawin dari kalian. Dan ini maskawin dari keluarga kami. Ini adalah Maskawin dari ayahnya jiaxin. Dan aku mohon kau menerimanya, karena kami tidak mungkin menyerahkan putri kami tanpa apa-apa."
"Ahhh, baiklah jika itu membuatmu lebih baik. Aku akan terima ini."
"Nenek besan. Aku titip Jiaxin padamu, dari dulu dia selalu di tindas. Aku hanya ingin dia bahagia dan baik-baik saja."
"Kau tenang saja, Jiaxin sudah aku anggap seperti cucuku sendiri."
"Terima kasih Nenek besan, aku percayakan Jiaxin padamu."
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu."
"Ibuuu, selamat tinggal."
"Jiaxin, pergilah. Semoga pernikahanmu bahagia dan kau baik-baik saja. Ibu selalu bersamamu."
"Buuuu." (berpelukan)
"Sudah sudah, kau pergilah. Jangan buat mereka menunggu."
"Selamat tinggal bu." (mereka pergi menuju rumah besar Wang di Shanghai.)
"Nenek, turunkan aku di rumah dulu. Aku harus mengambil beberapa barang yang tertinggal."
"Baiklah, Xiyi akan menemanimu."
"Tapi nek,"
"Tidak perlu Nek, aku bisa sendiri."
"Ahh begini saja. Kita semua ke rumahmu dulu kita akan menunggumu membereskan semua barangmu."
__ADS_1
"Tapi, apakah tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Iya kan Xiyi."
"Aaa iyaaa, iyaaa tidak apa-apa."
Rumah Chen Jiaxin.
"Xiyi, Nenek, kalian duduk dulu aku ke dalam untuk membereskan semuanya."
"Baiklah, baiklah."
-setelah beberapa menit, Jiaxin selesai membereskan pakaian.
"Aku sudah selesai,"
"Ayo kita pergi sekarang."
-Rumah Besar Wang
"Aaa Kalian sudah pulang."
"Iyaa bibi. Jiaxin ini Bibiku. Wang Qian Lin dan ini putranya Wang Zhengren."
"Hai kakak ipar, aku Zhengren."
"Halo bibi, Zhengren.Aku Chen Jiaxin."
"Ohhh, Jadi kau seorang penari. Selera Xiyi memang tinggi."
"Heyy Qiang Lin, kau siapkan saja makanannya."
"Aa iyaa bu iyaa."
(Jiaxin merasa bersalah mendengar perkataan Bibi Xiyi, ia sekali lagi merasa bahwa telah merebut Xiyi dari Anna.)
"Jiaxin, ayo kita masuk. Kau pasti lelah kan setelah perjalanan."
"Makanan sudah siap, mari kita makan dulu."
"Jiaxin, Xiyi. Ayo kita makan."
"Nenek, kalian makan saja. Masih ada urusan yang harus ku urus di perusahaan."
"Tapii, jiaxin kan baru datang, kau langsung ingin pergi ke perusahaan."
"Nenek, sudah biarkan saja. Mungkin Xiyi memang benar-benar ada urusan."
"Hmmm karena Jiaxin mengizinkannya, Jadi pergilah. Ingat untuk kembali nanti malam."
"Baiklah, aku pergi dulu."
-Setelah selesai makan.
"Jiaxin, Ikutlah. Nenek akan menunjukkan sesuatu padamu."
"Apa itu?"
"Kemarilah."
"Wahh, ini.... Ini Lukisan 'Biru' yang asli. Jadi waktu itu nenek yang meminta Dylan untuk menyerahkannya padaku?"
"Hmmm, Nenek lihat kau sangat menyukai Lukisan itu. Lagi pula Nenek sudah tua. Lukisan kecil seperti itu tidak bisa membuatku puas. Hanya dengan Lukisan besar seperti ini baru aku akan puas."
"Nenek, terima kasih. Kau baik sekali, kau sudah melalukan banyak hal untukku."
"Chen Jiaxin, kau sudah Nenek anggap seperti cucu nenek sendiri."
"Terima kasih Nek."
__ADS_1
-Pagi hari-
"Jiaxin, kau mau kemana pagi-pagi sekali?"
"Aaa Nenek, aku ingin pergi bekerja."
"Aiaaa, mengapa kau harus bekerja. Kau sedang hamil sekarang dan tidak boleh terlalu lelah."
"Tapi aku tidak apa-apa nek."
"Dengan siapa kau pergi ke tempat kerja?"
"Aku bisa naik Taxi."
"Apa? Naik Taxi?"
"Tidak boleh, Biar Xiyi yang mengantarmu. Xiyi, kau antar Jiaxin ke tempat kerjanya."
"Tapi nek, itu tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan Xiyi."
"Tidak apa, aku akan mengantarmu."
Di tengah perjalanan menuju Kantor Jiaxin, Xiyi berpikir tentang pekerjaannya, mengingat apa yang di lakukan atasannya terakhir kali ia merasa kasihan padanya. Dan pada akhirnya ia meminta Pengacara Shen untuk menjadikan Asistennya.
"Sudah sampai, aku pergi dulu. Jika ada masalah di kantor kau jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku."
"Baiklah, terima kasih Xiyi. Aku masuk dulu."
-Kantor Cabang
"Chen Jiaxin, Pengacara Shen memintamu pergi ke ruangannya."
"Aaa baiklah."
-Ruang Pengacara.
"Pak Shen, Kau memanggilku? Ada apa?"
"Ahh Jiaxin, jadi mulai sekarang kau menjadi Asisten pengacara. Dan kedepannya kau akan menghadiri pertemuan dengan klien, berarti kau juga mewakili perusahaan dan aku harap kau bisa merubah penampilanmu, itu akan di biayai oleh perusahaan."
"Aaa?? Mengapa bisa begini? Aku? Mewakili perusahaan?"
"Benar, dan sore ini kau harus mendatangi galeri musik dan bertemu dengan beberapa klien. Ingat untuk lebih merubah penampilanmu."
"Baiklah pak, aku akan berusaha semaksimal mungkin."
"Baiklah, kau bisa pulang dan bersiap untuk acara nanti sore."
"Baiklah pak, terima kasih."
-Rumah Besar Wang
"Chen Jiaxin, apakah kau nanti sore akan bertemu Klien di galeri musik?
"Iyaa, mengapa kau tau?"
"Aku juga akan pergi. Tapi kau harus ingatx saat di sana bersikaplah seakan-akan kita tidak mengenal."
"Baiklah, itu tidak masalah."
"Oke, aku pergi dulu."
Jiaxin bersiap untuk pergi menemui klien di galeri musih, dan kali ini penampilannya sedikit berubah menjadi lebih cantik.
"Emmm, aku harus tenang dan tidak boleh terlalu gugup. chen jiaxin, kau pasti bisa. Semangat!!!"
Jiaxin menuju galeri musik, dan saat tiba di sana, ternyata ia bertemu Dylan.
"Chen Jiaxin!!!"
__ADS_1
"Ehhh, Dylan. Kau juga di sini."