Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Bangkrut


__ADS_3

Pak Malik tertunduk lesu. Matanya berkaca-kaca, menahan pilu saat melihat Ira, istrinya, dan Kania, putri semata wayangnya. Usaha konstruksi yang dirintis sejak kuliah, terpaksa gulung tikar.


Pak Malik membaca selembar surat dari bank. Dia tak mampu lagi membayar pinjaman di bank. Sebagai agunannya, rumah yang ditempati dengan berat hati, diambil oleh bank. Belum lagi, utang kepada koleganya. Sebenarnya, Pak Malik sudah berusaha mencari pinjaman meskipun dengan bunga tinggi. Namun, jumlah pinjaman itu tak mampu menutupi utang yang sudah jatuh tempo.


Pak Malik merasa menyesal tak memercayai omongan Bu Ira, yang melarangnya bekerja sama dengan Gito.


Gito, sempat dianggap sebagai orang kepercayaan Pak Malik. Tangan kanannya, membawa lari semua keuntungan proyek pembuatan jalan.


"Coba kontak lagi si Gito. Siapa tahu tersambung, " saran Bu Ira.


Pak Malik mengambil ponselnya. Berkali-kali menghubungi Gito, tapi tidak ada jawaban.


Pak Malik menangis. Meraih tangan istrinya, "Maafkan aku, Mah. Seadainya aku dengar bicaramu waktu itu tentang Gito, tak akan begini ceritanya."


Bu Ira memeluk suaminya. "Papa gak salah. Papa gak salah. Sabar, Pah. Pasti ada jalan keluar. "

__ADS_1


Pak Malik mengambil segelas air putih dan meminumnya. Berpikir keras.


"Rumah, mobil, tabungan, dan perhiasan kamu. Semuanya ludes. 10 milyar. Ya Allah, dosa apa aku?! " ucap Pak Malik bernada putus asa.


"Kita hanya dikasih waktu 2 hari untuk mengosongkan rumah ini. Aku sudah tak punya uang lagi. Kita bertiga mau kemana! " teriak Pak Malik.


Bu Ira mendekati Pak Malik. Menahan tangis. Terlebih saat memandang Kania, yang terpaksa akan ikut menderita.


"Pah, aku masih punya uang 5 juta. Setidaknya, kita cari kontrakan. Biar sederhana, gak apa-apa. Sisanya, kita bisa usaha. Jualan nasi kuning, gorengan, nasi uduk, atau apalah. Jangan putus asa, Pah, " nasihat Bu Ira.


Kania turut menangis menyaksikan pemandangan pilu kedua orang tuanya. Usaha orang tuanya bangkrut dan jatuh miskin. Sesuatu yang tak pernah terlintas dipikiran atau dimimpikannya. Apalagi Kania terkenal 'tukang traktir' oleh teman-teman kampusnya. Namun, dia lebih menyayangi kedua orang tuanya. Bagi Kania, kedua orang tuanya adalah segalanya.


"Pah, sebaiknya kita dengarkan saran Mama. Omongan dan feeling mama selalu benar. Kita cari kontrakan. Kita berdagang kecil-kecilan. Gak apa-apa kita mulai dari nol lagi. Aku mau bantu kok, " kata Kania.


Pak Malik dan Bu Ira memandang Kania penuh kasih. Tak menyangka, putri tunggalnya sedemikian dewasa. Keduanya memeluk Kania, menangis bersama.

__ADS_1


"Asal papa jangan putus asa. Asal papa dan mama tetap jadi orang tua aku, aku mau nurut. Sekalipun harus tinggalkan rumah mewah ini. Sekalipun harus tinggal di rumah kontrakan. Sekalipun aku harus berhenti kuliah, " kata Kania.


"Jangan! " seru Pak Malik.


"Kania sayang, kamu gak boleh berhenti kuliah, " kata Bu Ira.


Kania menggelengkan kepala. Menolak saran kedua orang tuanya.


"Tidak, Pa. Tidak, Ma. Maaf, aku terpaksa cuti kuliah. Papa dan Mama lagi susah. Aku tak mungkin memberatkan dengan biaya kuliahku. Maaf, aku harus bantu Papa dan Mama usaha, " kata Kania menangis.


Mama memeluk tubuh Kania. Tangannya mengusap kepala Kania dan mengecup keningnya.


"Maafkan kami, Kania. Kami terpaksa membuatmu seperti ini, " ucap Bu Ira.


Pak Malik menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali, dia mengambil nafas panjang. Meredakan amarah dan menenangkan hati serta pikirannya. Dia mendekati Bu Ira dan Kania, "Kalau begitu, sebaiknya kita bersiap-siap. Kemasi pakaian dan surat-surat berharga. Kita pindah besok. "

__ADS_1


__ADS_2