Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Mendekati Kania


__ADS_3

Kania kembali bekerja. Bu Nadia begitu senang melihatnya lagi. Seakan tak pernah bersua berminggu-minggu. Tidak berjumpa sehari, seperti ada yang kurang di hati Bu Nadia.


"Tada ... Mami buatkan cake spesial buat kamu, " katanya. "Mami tuh kangen berat sama kamu, " lanjutnya.


"Miami ... aku cuma izin sehari tidak masuk. Ini berlebihan, " katanya terharu.


"Coba de cake coklat buatan Mami. Just for you. " Bu Nadia memberikan sepotong cake coklat dengan topping full coklat kepada Kania.


"Yummy ...." Kania mengacungkan jari jempolnya ke arah Bu Nadia.


Rommy mendengar suara Kania sayup-sayup dari dalam kamarnya. "Kania ...." katanya senang.


Rommy melangkah ke luar kamarnya, mencari dimana sumber suara Kania dan Maminya. Ternyata mereka di ruang makan. Sebenarnya, Rommy bingung cara menyapa keduanya. Untungnya ia melihat cake coklat itu.


Rommy tanpa izin hendak mengambil potongan cake coklat. Tangan Mami menepisnya.


"Buat Kania! " tegur Bu Nadia dengan suara lembut. Rommy mengurungkan niatnya. Ia menatap Kania, seakan minta izin menyicipi barang satu potong kue. Tatapan mata Rommy membuat Kania serba salah.


"Maaf, Mi. Kue ini terlalu banyak kalau harus aku habiskan sendiri. Kak Rommy boleh ambil, " ucap Kania.


"Mami sengaja buat cake coklat ini buat kamu, " jelas Bu Nadia.


"Makasih, " kata Rommy. Tangannya memasukkan sepotong cake coklat ke dalam mulut. Memang lezat kue buatan Maminya. Bu Nadia melotot ke arah Rommy dan putranya itu membalas dengan senyum lebar.


Kania berinisiatif membawa gelas bekas teh manis pelengkap cake coklat tadi. Rommy buru-buru membersihkan tangannya yang terkena noda coklat. Ia berdiri membantu Kania.


"Aku bantu ya, " kata Rommy. Ia membawa semua gelas dan piring kotor ke tempat cuci piring dan menyucinya. Kania tertegun melihat kelakuan Rommy yang tiba-tiba berubah.


"Rencana awal berhasil. Yes ...." Katanya dalam hati sangking senangnya.


Wajah Bu Nadia yang awalnya masam berubah ceriah. "Jangan-jangan, anakku mulai ada hati dengan Kania. Semoga saja, " katanya dalam hati.


Usai menyuci piring, Rommy kembali ke kamarnya bersiap-siap.


"Mau ke mana kamu, Nak? " tanya Bu Nadia.


"Mau ketemu Papi. Katanya ada yang hal penting mau dibicarakan denganku, " jawab Rommy.


"Oh ... itu. Berapa hari lalu Papi kamu telepon Mami. Dia ingin kamu terlibat aktif di perusahaannya, " jelas Bu Nadia.


Kania tak mau mendengarkan percakapan itu. Ia memilih ke dapur, siapa tahu ada yang ia kerjakan.


"Mami tidak mau ikut? " tanya Rommy.


"Tidak. Paling disana ada sekertaris kurang ajar itu, " jawab Bu Nadia.


"Jangan begitu. Papi ingin rujuk. Mi ... aku ingin Mami maafkan Papi. Aku ingin kalian rujuk kembali, " ucap Rommy.


"Tolong hargai keputusan Mami! " kata Bu Nadia. Dia meninggalkan Rommy sendirian. Rommy menenangkan perasaannya sejenak. Setelah itu ia pergi bertemu Papinya.


Wajah Bunga Masam. Keempat anggota gank nya yang bagai 'dayang-dayang' mencoba menghiburnya. Rommy tak menggubris telpon atau pesan yang dikirimnya.


"Jangan cemberut terus, nanti hilang cantiknya. " Canda Kiki.


"Tenang saja, pasti Bang Rommy akan menelpon. " Ujar Bella.


"Lebih baik kita cek persiapan pesta. Biar perfect, " saran Della, saudara kembar Bella.

__ADS_1


Bunga masih tak bergeming. Ia memandangi foto Rommy di layar ponselnya. "Kamu kok enggak kasih kabar sama aku, " katanya sedih.


Ketiga kawan akrab Bunga merasa simpati dengannya. "Aduh, Bu! Smile donk. Pesta ulang tahun kamu tinggal empat hari. Kita harus cek gaun pesta, kue ulang tahun, makanan, dan banyak lagi. Bisa berabe kalau belum siap salah satunya. " Saran Kiki.


"Ayolah ...." ajak Kiki lagi.


Bunga tak punya pilihan selain mengikuti keputusan ketiga kawannya. Meskipun hatinya galau.


Bunga ditemani ketiga temannya ke butik mencari gaun pesta. Sebuah gaun pesta warna merah menjadi pilihannya.


***


"Bagaimana kabar Mami kamu? " tanya Pak Arman, Papi Rommy.


"Baik, Pi. Mami membuat bisnis online. Jual kue. " Jawab Rommy.


Pak Arman mendadak berhenti makan. Kehilangan nafsu makan, meski di depannya tersaji aneka menu makanan yang menggugah selera. Wajahnya berubah sedih.


"Papi menyesal. Papi berulang kali menghubunginya, menawarkan bantuan. Tapi Mami kamu menolaknya. Bahkan tunjangan perceraian, ia tidak mau ambil. " Sesal Pak Arman.


Dada Rommy terasa sesak mengingat peristiwa buruk yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya. Terlintas di benaknya wajah seorang perempuan berkulit putih dan seksy, perempuan yang mencuri hati Papinya.


"Terlambat, Pi! Papi lebih pilih Sandra ketimbang Mami! " tukas Rommy. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Menghindari tatapan penuh penyesalan Pak Arman.


"Papi minta maaf. Papi dan Sandra sudah berpisah. Ternyata, ia tak sebaik Mami kamu, " katanya sambil memegang tangan Rommy.


Rommy melepaskan pegangan tangan Pak Arman. "Telat, Pi. Telat ...."


"Katanya Papi mau bicarakan tentang perusahaan Papi! " tegur Rommy.


"Ok. " Ucap Rommy singkat. "Mulai besok aku bantu Papi di perusahaan. "


"Aku rasa sudah selesai. Aku pamit dulu. " Kata Rommy mengakhiri makan malam dengan Pak Arman.


"Gawat tinggal tiga hari lagi pestanya Bunga. Aku belum ngomong sama Kania. Aku harus bisa dekati Kania, " Ucap Rommy sendirian di kamar.


Rommy berjalan ke ruang tengah rumah. Kania dan Bu Nadia ada di situ.


Ia pun duduk berbaur dengan mereka.


"Mau kemana, Mi? " tanya Rommy.


"Ke toko perlengkapan kue langganan Mam, " jelas Bu Nadia.


"Memang tidak jualan hari ini? " tanyanya lagi.


"Mau jualan oven panggang? Bahan-bahan kue Mami sudah pada habis, sayang" kata Bu Nadia.


Rommy tertawa mendengar jawaban Maminya. Itulah keistimewaan Maminya, humoris tapi tegas. Karena sifat humorisnya lah, Pak Arman, Papi Rommy, jatuh cinta dengan Bu Nadia.


"Sendirian?


" Enggak. Sama Kania, " jawab Bu Nadia.


"Naik taksi online? " tanya Rommy.


"Iya. Tahu sendiri deh, Mami gagap nyetir mobil, " ucap Bu Nadia.

__ADS_1


"Sini, aku antar Mami pakai mobilku. Jadi driver nya Mami, " candanya menawarkan bantuan.


"Tumben! Kamu tidak salah minum obat, " selidik Bu Nadia. "Atau kamu tidak lagi kesambet makhluk halus, " sambungnya.


"Mami ... ha ... ha ... ha ...." Rommy terpikngkal-pingkal. "Sekali-kali lah, " ucapnya Rommy.


Bu Nadia senang sekali dengan tawaran bantuan dari Rommy. Rommy mengeluarkan mobil dari garasi.


"Kania ... kamu duduk di depan, di sampingku, " kata Rommy. "Kalau ibu,-ibu duduk di belakang ya ...." guraunya lagi.


Bu Nadia tertawa kecil. Kania pun duduk di depan, sesuai permintaan Rommy.


"Kamu kuliah? " tanya Rommy.


"Iya. "


"Ambil jurusan apa? " tanya Rommy.


"Manajemen, " ucap Kania.


Bu Nadia memperhatikan tingkah Rommy. Senyum tipis tersungging di wajahnya. "Nah ... gitu donk. Saling kenal, Rom, " ucapnya.


Rommy berbalik sebentar ke kursi belakang. Melihat Maminya dan tersenyum.


Mereka tiba di toko perlengkapan kue langganan Bu Nadia. Bu Nadia segera berburu aneka bahan kue dan segala ***** bengek nya. Rommy yang tak mengerti tentang kue, hanya bisa pasrah menjadi tukang dorong stoler Bu Nadia.


Rommy memperhatikan kedekatan Maminya dengan Kania. Dia berhasil mencuri hati Mami. Sangking dekatnya, Bu Nadia melarang Kania yang hendak mengangkat belanjaan ke stoker,


"Rommy ... bantu Mami angkat ini ke kereta dorong! " perintah Bu Nadia.


"Siap, Bos, " kata Rommy.


Rommy menuruti perintah Bu Nadia. Keduanya pun selesai berbelanja.


"Kami antar kamu sampai rumah, ya, " kata Bu Nadia.


"Boleh. Lagipula, aku tidak naik motor ke rumah Mami, " ujar Nadia.


Mobil yang dikemudikan Rommy tiba di depan rumah Kania. Bu Nadia berterima kasih dengan bantuan Kania. Dan Kania pun pamit masuk ke rumah.


"Mi ... apa tidak sebaiknya Mami menambah satu atau dua kurir laki-laki, " saran Rommy.


"Maksudnya? " tanya Rommy.


"Gini, Mi. Kania kan perempuan. Kasihan kalau ia saban hari antar pesanan pakai motor. Apalagi dia kuliah. "


"Tapi, kalau bukan dia, siapa lagi yang bantu Mami bawakan orderan? " tanya Bu Nadia minta saran.


"Aku kenal baik dengan beberapa tukang ojek. Aku sudah tanya mereka, dan mereka mau bantu Mami, " jawab Rommy.


"Trus gimana Kania? Mami harus pecat dia? Enggak ah. " kata Bu Nadia.


"Kania bantu Mami siapkan kue. Dan pemasaran lewat medsos. Eh ... kita juga cari satu orang lagi yang bantu Mami di dapur kayak bantu cuci perabotan yang dipakai buat kue. "


"Tumben ... kamu perhatian banget sama Kania. " Ucap Bu Nadia. "Jangan-jangan kamu mulai ada sesuatu sama dia, " sambungnya.


Rommy tak menggubris perkataan Bu Nadia. Ia memacu mobilnya agar lekas tiba di rumah.

__ADS_1


__ADS_2