
Ponsel Kania berdering. Sebuah panggilan masuk dari Dessy, sahabat karibnya. Dessy kuliah satu jurusan dengan Kania. Kania enggan menjawab telepon Dessy. Karena ia sibuk m
membantu Bu Nadia mempersiapkan pesanan kue.
Ponsel Kania berdering lagi. "Hape kamu bunyi, tuh. " tegur Bu Nadia.
"Oh ... iya. " Kania hanya melihat sebentar ponselnya. Kemudian meletakkannya lagi. Bu Nadia memperhatikan gelagat Kania.
"Angkat saja teleponnya. Siapa tahu penting, " sarannya.
"Oh ... itu. Bukan siapa-siapa, Mi. Telepon salah sambung, " kata Kania berbohong.
"Wah ... orderan kue Mami hari ini banyak. " Ucap Kania mengalihkan pembicaraan.
Bu Nadia menaruh kotak kue yang sedang ia segel. Berhenti sebentar. Ia merasa ada yang tidak beres dengan 'putri angkatnya' itu.
"Kania ... sudah sebulan kamu bantu Mami. Awalnya, kamu datang jam tiga sore karena baru pulang kuliah, " ucap Bu Nadia. Ia berpikir keras, mencari kata yang tepat agar Kania tak tersinggung.
"Tapi makin ke sini, kamu malah datang lebih pagi. Jam delapan pagi sampai sore. Apa kamu enggak kuliah? " tanya Bu Nadia.
Kania terdiam mendengar pertanyaan ini. Hatinya bimbang apa ia harus jujur atau tetap berbohong.
"Aku malu harus jawab apa, Mi. "
"Cerita sama Mami. "
Kania menarik nafas dalam-dalam. "Kuliahku baik-baik saja. Minggu lalu, dosennya lagi riset keluar kota. Daripada aku ngumpul bareng dengan temanku, lebih baik langsung ke rumah Mami. " jelas Kania. Mencoba merangkai kebohongan kalau sudah seminggu ia bolos kuliah.
"Mami suka cara kerjamu. Kamu jujur, pekerja keras, disiplin, dan ramah. Tapi, Mami enggak mau kerjaan ini mengganggu kuliahmu, " kata Bu Nadia.
Hati Kania jadi tak enak dengan tanggapan Bu Nadia. Ia berbohong karena harus membantu mencari nafkah untuk kedua orang tua, biaya berobat Papa, dan buat uang kuliahnya. Ia juga menyuruh Mama Kania berhenti berjualan. Agar bisa fokus merawat Papa yang stroke.
"Selesai. Aku mau siap-siap dulu. Mana daftar nama dan alamat yang order hari ini? " tanya Kania.
Bu Nadia menyodorkan secarik kertas berisi daftar nama dan alamat yang dimaksud. Ia juga mengambil helm dan memakaikannya di kepala Kania. "Hati-hati, Nak, " ucapnya tulus.
"Mami, aku enggak kerja dulu hari ini. Jadwal kuliahku padat sekali. Besok baru bisa kerja lagi, " ucap Kania di telepon.
"Ok. Belajar yang rajin. Sampai jumpa besok. " Kata Bu Nadia.
"Huf ... selamat. Harus lebih hati-hati, " kata Kania.
Hari ini Kania kembali kuliah. Satu minggu bolos. Dessy, sohibnya, kegirangan melihat Kania datang ke kampus.
"Kemana saja, Bu? Kangen tahu, " kata Dessy. Ia memperhatikan Kania dari ujung rambut sampai ujung kaki. Baru Kania hendak menjawab pertanyaan Dessy, sohibnya itu sudah bertanya lagi.
__ADS_1
"Kamu kurusan? Sakit, ya? "
"Enggak. Aku sehat-sehat saja kok, " ucap Kania. "Aku enggak kuliah minggu lalu karena sibuk, " tambahnya.
"Sibuk? Enggak mungkinlah. Kekayaan orang tuamu itu tidak bakalan habis tujuh turunan. Kamu tuh anak sultan, enggak perlu kerja, " ujar Dessy.
Kania menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Perlu waktu untuk bicara jujur. Dan kadang ada ketakukan di hati Kania, kalau Dessy tak mau berteman lagi dengannya setelah tahu yang sebenarnya.
Sinar matahari begitu terik hari ini. Seakan menembus kulit tubuh. Dua sahabat itu pergi ke kantin. Mencari sebotol minuman dingin pereda dahaga. Dan penyejuk tubuh yang kegerahan.
Kania memilih meja paling ujung. Dessy melangkah ke kasir. Kasir itu tempat memesan makan dan minum, merangkap tempat pembayaran. Kania mengeluarkan headset. Mencolokkan di ponsel. Mendengar lagu kesukannya.
Seorang perempuan berambut pirang, bermata sipit, dan lekuk tubuh yang aduhai, menatap sinis ke arah Kania. Duduk di meja bagian depan kantin. Perempuan itu adalah Bunga. Bunga menganggap dirinya wanita tercantik se kampus. Dan Kania adalah saingan beratnya.
Kania sempat beradu pandang dengan Bunga. Ia tersenyum ramah ke arah Bunga. Namun, Bunga malah buang muka.
Dessy menghampiri Kania. "Aku sudah pesan. Bakso tanpa mie, es jeruk, dan gorengan. Sempurna, " katanya. "Lihat apa? " tanya Dessy karena Kania tak memperhatikan pembicarannya.
"Bunga. Dia duduk di depan. Ia perhatikan aku sedari tadi. Trus, aku senyum sama dia, eh ... buang muka, " jelasnya.
"Oh ... nenek lampir itu. Enggak usah ditanggapi. Ia yang paling senang kalau kamu enggak kuliah. Biar enggak ada saingan. "
Kania hanya diam saja. Dua mangkok bakso sudah di hadapan mereka. Baginya, lebih baik menikmati bakso ketimbang memikirkan Bunga.
Rommy masuk ke dapur. Ia hanya bertemu dengan Bu Nadia, Maminya.
"Boleh minta kuenya.Kangen brownies buatan Mami, " ucap Rommy.
Bu Nadia menghidangkan beberapa potong kue. Rommy melahapnya satu per satu, ditemani dengan segelas kopi hitam.
"Enak? " tanya Bu Nadia.
"Sangat enak. Tumben Mami kerja sendiri, " kata Rommy.
"Ehem ... enggak ada angin dan hujan, tiba-tiba kamu tanya Kania, " canda Bu Nadia.
Raut muka Rommy berubah kecut. Ia tak menyangka Maminya akan berkata seperti itu.
"Kamu tertarik sama Kania? Eh ... Kania itu anak yang baik lagi cantik. Mami suka sama dia, " ucap Bu Nadia.
"Mami ngomong apa sih? Aku kan cuma tanya Kania mana. Kenapa malah dituduh suka sama dia, " protes Rommy.
Bu Nadia malah tertawa. Wajah Rommy memerah. "Kadang cinta datang tanpa kita sadari. Tiap hari Kania ada di rumah kita. Wajar kalau kamu mulai ada hati sama dia, " ucapnya.
"Mami, jangan berpikir seperti itu, " tegur Rommy.
__ADS_1
"Daripada kamu dengan Bunga. Mami enggak suka dengan ia, " tegas Bu Nadia.
Rommy berhenti menikmati brownies. Hendak kembali ke kamarnya. Ketimbang mendengarkan omongan Mami.
"Rom ... Mami setuju kalau kamu sama Kania, " ucap Bu Nadia dengan nada serius.
Rommy pun kembali ke kamarnya.
Kania membantu Mama memasak. Setelah itu, ia menyuapi Papa. "Pa ... makan dulu ya. Habis itu minum obat. Biar cepat sehat, " katanya.
Kania bercerita tentang kuliahnya. Pak Malik senang mendengarnya. Suara Pak Malik belum begitu jelas akibat stroke. Meski begitu, Kania dan Mamanya mengerti apa yang dibicarakan Pak Malik.
Kania membawa piring kotor bekas makan Papa ke dapur. Bu Ira masih di dapur. Ia mengajak Kania duduk sebentar untuk bicara.
"Kania, kamu sebenarnya kerja apa? Tolong jangan bohongi Mama lagi, " ucap Bu Ira. Matanya menatap lurus ke arah Kania. Tatapan mata yang mampu membuatnya berkata jujur.
"Aku ... aku jadi kurir pesanan kue online, " kata Kania menduduk takut amarah Mamanya meledak.
"Kania! " marah Bu Ira.
"Maaf, Ma. Aku ingin bantu kalian. Aku tidak tega lihat Mama berjualan setelah Papa jatuh sakit, " bela Kania. Butir-butir air mata perlahan jatuh di pipinya.
"Kuliah kamu akan terganggu. Mama enggak mau, " ucap Bu Ira.
"Ma ... aku janji kuliahku tidak akan terganggu. "
Kania mengambil dompet dari dalam tasnya. Mengeluarkan sebuah amplop putih memberikan ke Bu Ira.
"Apa ini? " tanya Bu Ira penasaran.
"Buat Mama dan Papa. Upah kerjaku, " jawab Kania.
Bu Ira membuka amplop berisi uang itu. "Makasih sayang. " katanya.
Rommy duduk termenung. Bayang wajah Kania terlintas. "Dia cantik juga, " katanya pelan.
Gawai Rommy berdering. Panggilan masuk dari Bunga. Awalnya Rommy tak mau mengangkat telepon dari Bunga. Namun, Bunga gigih sekali. Menelpon berkali-kali. Telinga Rommy seakan mau pecah.
"Iya ... ada apa! " ketus Rommy.
"Sayang ... aku mau adakan pesta ulang tahunku. Acaranya Sabtu malam. Kamu datangnya. " Kata Bunga manja.
Rommy malas menanggapi undangan Bunga. Ia menggaruk-garuk kepalanya karena kesal.
"Sayang, " bujuk Bunga.
__ADS_1
"Iya. Aku usahakan datang ke pestamu. Satu lagi, kita belum jadian. Jangan panggil aku sayang! " ketus Rommy.
"Makasih sayang. Muaach ...." Bunga cium jauh lewat ponselnya.