Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Papa Sakit


__ADS_3

Bu Ira menatap dalam Pak Malik. Ditangannya ada sebuah dompet berisi sisa uang sewa kontrakan. "Mau dibuat usaha apa uang segini, Pak? tanya Bu Ira.


" Usaha apa? aku bingung, Ma, " ucap Pak Malik.


"Bagaimana kalau kita jualan nasi kuning dan gorengan di depan rumah. Toh ... modalnya tidak terlalu besar. Satu juta lebih dari cukup, " usul Bu Ira.


Tak lama Kania keluar dari kamarnya. Duduk bergabung dengan kedua orang tuanya. Rupanya sedari tadi Kania menguping pembicaraan mereka berdua.


"Jual nasi kuning dan gorengan? Kenapa tidak? Nasi kuning buatan mama itu terenak sedunia, " cetus Kania.


Bu Ira tersenyum manis mendengar pernyataan putri tunggalnya. Memang, tak sedikit orang yang bilang demikian. Bu Ira terampil memasak dan bikin kue.


"Yah sudah. Berati, kita jualan nasi kuning dan gorengan mulai besok. Kalau begitu, habis sarapan pagi kita siap-siap ke pasar, " ucap Pak Malik.


"Asik! " seru Kania kegirangan.


Mereka bertiga lekas menghabiskan sarapan pagi. Berganti pakaian dan pergi ke pasar.


Tiga buah kantong plastik merah ukuran besar ada di hadapan Bu Ira. Kantong plastik tersebut berisi bahan baku bakulan mereka.


"Berasnya mana? " tanya Bu Ira.


"Tadi ada sama Papa, " jawab Kania.


Tak selang lima menit, Pak Malik muncul membaca sekarung beras ukuran 25 Kg.


"Ini berasnya. Masih ada yang kurang? " tanya Pak Malik sambil memerhatikan semua belanjaan.


"Hari ini segini dulu. Tinggal kita persiapkan meja untuk jualan besok, " jelas Bu Ira.


"Tenang. Itu bagian aku. Kita istirahat dulu, " ucap Pak Malik.


Hari pertama berjualan. Bu Ira mengatur aneka dagangannya di meja yang dipersiapkan Pak Malik. Kania terampil menggoreng bakwan dan tahu isi. Bu Ira sedari dulu mengajarkan Kania memasak, meskipun kehidupan mereka dulu berlimpah harta.


"Ma ... bakwannya sudah jadi! " teriak Kania. Dia membawa sebaskom bakwan yang baru matang ke meja jualan.


"Bruk .... " suara baskom ditaruh di atas meja.


"Aduh ... pelan-pelan kalau kerja! " tegur Bu Ira. " Nanti kalau jatuh bakwannya gimana, " sambung Bu Ira lagi.


Kania malah tertawa melihat ekspresi Mamanya. Peluh membasahi baju Kania.


"Maklum, asisten koki baru ... he ... he ... he ...." canda Kania.


Pak Malik turut membantu mengeluarkan jualan yang masih ada di dapur.


"Sudah siap semuanya kan, Ma? " tanya Pak Malik.


"Sudah lengkap semua. Bismillah, " kata Bu Ira.


"Semoga hari ini dagangan kita laris manis, " doa Bu Ira.


"Amin, " sahut Kania dan Pak Malik bersamaan.


Bu Ira tersentak kaget. Matanya melotot ke arah Kania. Kania pun merasakan keanehan pandangan Mamanya itu.


"Kenapa, Ma?! " tanya Kania heran.


"Kamu enggak kuliah? " tanya balik Bu Ira.


"Oh ... itu. Bolos dulu, Ma. Aku mau bantu Mama dan Papa jualan nasi kuning dan gorengan perdana, " jawab Kania enteng.


Pak Malik menggelengkan kepala mendengar jawaban Kania. Dia merasa bersalah telah menyebabkan keluarga kecilnya menderita.


"Nak, kamu tak harus bolos kuliah karena membantu kami. Tetap kuliah. Dari subuh kamu sudah menolong kami mempersiapkan dagangan ini, " jelas Pak Malik.

__ADS_1


Kania menatap kembali mata Papanya. Tangannya memengang tangan Pak Malik.


"Dosennya enggak masuk mengajar, Pa. Nih, Kania baru terima WA dari Dinda. Makanya, Kania bolos, " ujar Kania.


Pak Malik dan Bu Ira tertawa mendengar penjelasan Kania.


Pembeli pertama pun datang. Tetangga kontrakan mereka.


"Baru pindah ya, Bu? " tanya si pembeli.


"Iya. Mau beli apa, Bu? " tanya Bu Ira kembali.


"Nasi kuningnya 2 bungkus sama bakwan 10 buah. Saya coba bakwannya, " jawab pembeli itu lagi.


Bu Ira menyiapkan pesanan si pembeli. Hatinya deg-degan saat wanita itu mencoba bakwan goreng buatannya.


"Em ... enak sekali. Aduh ... tambah lima lagi. Takut enggak kebagian sama orang rumah, " ucap si pembeli.


Bu Ira bersyukur karena si pembeli menyukai masakannya.


"Siapa namanya, bu? " tanya Bu Ira. " Maklum orang baru, " sambungnya.


"Saya, Bu Is. Mamanya April, " jawab Bu Is. "Kalau situ? " tanya Bu Is balik.


"Kenalkan, Saya Bu Ira. Dan itu Kania, anak saya, " jawab Bu Ira. Tangannya menyerahkan bungkusan nasi kuning dan bakwan goreng. Selembar uang lima puluh ribu diberikan ke Bu Ira. Ia pun memberikan uang kembalian.


"Alhamdulillah, penglaris. Laris manis! Laris manis! seru Kania kegirangan.


Satu per satu pembeli datang. Hanya butuh waktu dua jam. Dagangan Bu Ira pun ludes. Meski tubuh capai karena harus bangun jam tiga pagi mempersiapkan segalanya, namun keuntungan jualan telah menjadi obat capai.


Keesokan harinya, Bu Ira dibantu Pak Malik, suaminya tetap berdagang nasi kuning dan kue gorengan. Kania pun turut membantu.


"Cepat mandi. Siap-siap nanti telat ke kampus! " perintah Bu Ira.


"Siap, bos! " sahut Kania.


Kania mencium tangan kedua orang tuannya. Hari ini untuk pertama kalinya, ia naik angkot ke kampus. Dia memilih menggunakan transportasi online. Ketimbang naik bus kota, karena takut kesasar.


Kania berjalan cepat. Setengah lari. Takut telat. Mata kuliah pertama adalah Filsafat Sastra. Dan Pak Jayadi adalah dosen pengampuh mata kuliah itu, dosen ter-killer di Fakultas Sastra


"Woi! Buruan! " teriak Dinda.


Kania mempercepat langkahnya. Masuk kelas dan duduk di samping Dinda.


"Huf ... kayak mau copot jantung kalau mata kuliah ini. Telat sedikit tidak boleh masuk kelas, " keluh Kania.


Dinda menyodorkan tissu untuk mengelap keringat di wajah Kania.


"Dosen apa hantu, ya? Serem banget, " ucap Kania.


"Hus! " Dinda menaruh telunjuk kanan di bibirnya. Kemudian menunjuk ke arah depan kelas. Pak Jayadi sudah masuk ke ruang kelas. Suasana kelas berubah sunyi mencekam laksana film horor.


Kania menahan kantuk yang sangat. Dari jam tiga pagi, Dia sudah sibuk mempersiapkan bakulan mamanya. Diam-diam, ia membuka sebuah permen kopi dan memakannya. Jam pelajaran Pak Jayadi pun usai.


Kania, Dinda, dan teman-teman sekelasnya bisa bernafas lega. Terlebih dosen mata kuliah berikutnya tidak hadir, hanya memberikan tugas yang disetor via email. Itu pun waktu kumpul tugasnya minggu depan.


"Eh ... kita kerja tugas di rumahmu, yuk! " ajak Dinda. "Kangen masakan mama kamu. Jadi lapar berat nih." Tangan Dinda memegang perutnya, seakan memberi kode kalau minta diisi.


"Apa! " kaget Kania. Seribu satu pikiran berkecampuk dibenaknya. Malu, minder, dan terpaksa berbohong. Lebih baik berbohong ketimbang menjadi bulan-bulanan teman di kampus karena miskin mendadak.


"Jangan di rumahku. Lain kali saja. Bagaimana kalau kerja tugasnya di tempatmu, " usul Kania.


Dinda heran dengan reaksi Kania. Tak biasanya, ia menolak dirinya. Dinda kerap bertamu bahkan bermalam di kediaman Kania.


"Oke. Padahal aku kangen banget masakan mama Ira, " ucap Dinda kecewa.

__ADS_1


"Lain kali saja, say. Aku lagi malas terima tamu. Jadi tamu kamu dulu lah, " ucap Kania bercanda.


Dinda memonyongkan mulutnya. Namun, kepalanya terpaksa mengangguk setuju.


"Assalamualaikum, " sapa Kania.


"Walaikum salam. Kok telat pulangnya, nak, " tegur Bu Ira.


"Habis main ke rumahnya Dinda, Ma, " jelas Kania. " Ma ... Bolehkah kita berbohong kepada sahabat kita? " tanyanya pelan.


Bu Ira yang sedang memilih beras buat nasi kuning, berhenti sejenak. "Maksudnya? " tanya Bu Ira ulang.


Kania tertunduk. "Aku bohong sama Dinda hari ini. Dia mau main ke rumah, tapi aku tak menolaknya. Aku takut kalau dia tahu keadaan kita sekarang, dia tidak mau bersahabat lagi, " jelasnya.


Wajah cantik Kania menjadi sendu. Hatinya gundah gulana.


Bu Ira menggamit pundak Kania. "Dinda itu anak yang baik. Mama yakin. Apapun keadaanmu, dia akan tetap jadi sahabat karibmu, " katanya.


Kania memeluk tubuh ibunya. Tangis yang selama ini disembunyikan, tertumpah juga. Bu Ira mengelap air mata di wajah putih Kania dengan telapak tangannya.


"Jangan sedih. Kita harus kuat. Dan jangan sampai air mata ini dilihat oleh ... papa, " kata Bu Ira terbata. Kania mengangguk.


Pak Malik mematung melihat kejadian itu. Menahan langkahnya. Menyesali semua kekhilafannya. Berjanji dalam hati akan memberikan kehidupan yang lebih layak kepada kedua mutiara hatinya.


***


Sudah satu bulan Bu Ira berjualan nasi kuning. Langganannya makin banyak. Bukan hanya tetangga terdekat, malah dari lingkungan RT lain. Namun, selain karena ramah, banyak pembeli yang datang karena suka dan kagum akan kecantikkan Kania.


Kania begitu beruntung dianugerahi paras cantik, kulit putih, rambut panjang hitam legam. Bibir kemerahan laksana memakai gincu. Alis tebal yang terbentuk rapi alami. Ditambah kecerdasan dan sikap ramahnya.


Seperti biasa, hanya butuh 1-2 jam dagangan Bu Ira ludes. Tak terkira rasa syukur Bu Ira kepada Allah SWT. Demikian juga Pak Malik.


Bu Ira dan suaminya membereskan lapak dagangannya. Kania lagi-lagi bolos, membantu orang tuanya.


"Mama ngaso dulu. Biar papa yang bereskan semuanya, " kata Pak Malik. "Ayo Kania, bantu papa! " ajaknya.


Kania mengikuti ajakan papa. Membawa semua perabotan yang kotor ke tempat cuci piring. Menyucinya satu persatu.


"Pa ... aku ke depan lihat apa masih ada yang kotor, " kata Kania.


Kania kembali ke meja dagangan. Bersih. Dia pun mengelap meja itu.


."Brak! " suara kursi terjatuh dari arah dapur.


Kania dan Bu Ira refleks lari ke arah dapur. Pak Malik jatuh tak sadarkan diri di lantai. Stroke. Bu Ira berlutut menyoba membangunkan suaminya.


"Pa ... bangun. Bangun ...." pintanya. Mata Bu Ira berkaca-kaca, tak tahu apa yang harus diperbuat. Pikirannya kacau.


"Pa ... sadar! " panggilnya agak keras.


"Ma ... papa kena stroke. Jangan diguncang-guncangkan lagi tubunya. Aku keluar cari pertolongan, " kata Kania.


Kania pergi ke rumah pemilik kontrakan. Dengan sigap, mereka membawa Pak Malik ke rumah sakit.


Bu Ira duduk di samping tempat tidur Pak Malik. Netranya memperhatikan wajah suami yang dicintainya. Selang infus dan oksigen terpasang ditubuh lelaki paruh baya itu.


"Mama tunggu di luar saja. Biar aku yang jaga papa, " kata Kania.


"Mama tidak tega tinggalkan papamu. Papa kecapaian. Membantu kita berdagang, " ucap Bu Ira.


Kania memberikan sebotol air mineral ke mamanya. "Minum, ma. Biar lebih tenang. "


Bu Ira membuka tutup botol air mineral itu. Meminumnya dua teguk, cukup untuk membuatnya sedikit enakkan. "Makasih. Kayaknya malam ini, kita terpaksa nginap di sini. Kamu tidur duluan. Gantian, " katanya.


"Mama tidur duluan. Nanti, tengah malam gantian jaga papa dengan aku, " tolak Kania.

__ADS_1


"Baiklah. Mama istirahat dulu. Sekarang jam 8 malam. Kalau sudah jam 12 malam, bangunkan mama, " kata Bu Ira.


Bu Ira berbaring di kursi. Kania menggantikan tugas mamanya. Dia mencoba tegar. " Aku harus kuat. Demi mama. Demi papa, " katanya dalam hati.


__ADS_2